AJ#42 Profesor Ningmas

1642 Kata
Satu bulan kemudian, satu persatu rencana yang udah aku susun mulai bisa berlangsung, tapi sayang aku gak bisa memprediksikan pergerakan pemerintah sekarang. Satu hal yang masih membebankan pikiranku, kabar kondisi kak Fincent dan kak Arya sekarang. “Hayo mikirin apa?” Hiraka menepuk pundakku dari belakang, dia melepas mantel panjangnya dan menyampirkan ke kursi, mengambil minuman botolan yang ada di depannya. “Sejak kapan datang hei! Tadi katanya ada pelatihan milter tambahan, gimana sih,” ucapku “Mau ngasih kejutan ke temen aku yang lagi menggalau ini,” ucap Hiraka dengan santai, “eh gimana nih sama kelanjutan tugas kamu? Aku denger kamu mau ngambil pensiun dini jadi tim ilmuwan, kenapa hei? Kamu udah enak loh dapet banyak keuntungan jadi ilmuwan, kenapa malah mau pensiun. Nanti aku gak bakalan denger cerita-cerita hebat kamu,” protes Hiraka yang mempoutkan bibirnya. “Kamu bakalan dengerin cerita yang jauh lebih hebat setelah aku pensiun dini, lagian ya Hiraka, keuangan aku udah jauh lebih cukup untuk proyek selanjutnya, proyek untuk kepentingan banyak orang, nyelamatin ribuan orang di dunia ini,” ucapku dengan pelan, “kalau aku gak pensiun dini, aku gak bisa melakukan proyek besar itu Ka, sedangkan proyek itu impian aku.” “Ah iya, aku lupa kalau kamu punya puluhan proyek itu. Aku jadi pengen ikutan juga, dana aku udah cukup buat menghidupi diri aku sampai 20 tahun ke depan, lagian ya setelah aku pikirin. Kalau firasat kamu bener, perang itu bakalan jauh lebih besar dan mungkin bisa jadi tinggal 1/7 total manusia yang bisa bertahan. Inget sama prinsip rimba, manusia yang kuat yang bisa berkuasa, yang lemah akan menjadi debu untuk mereka yang kuat dan aku gak siap untuk itu.” “Berat sih, semakin lama kita ngeliat banyak orang yang datang bukan untuk membuat peradaban yang hebat tapi mereka mau berkuasa, memerintah orang-orang yang hanya bisa mengangguk.” “Oh iya, aku mau ngasih tau sesuatu sama kamu,” Hiraka menarik lenganku untuk mendekat, “pemerintah ada rencana besar sama pasukan militer, itu yang aku denger dari atasan aku kemarin.” “Rencana apa lagi? Terakhir kali aku denger kamu bilang kayak gitu berakhir dengan peledakan di gedung bekas yang ada di ujung kota dan memakan korban dua orang yang meninggal.” “Nah itu dia,” Hiraka mendesah, “aku gak tau pergerakan militer sekarang, kebanyakan yang diambil itu dari bagian laki-laki bukan perempuan kayak aku. Jadi aku gak bisa bantu ngasih informasi, kecuali kalau kamu langsung dapat dari atasan alias kamu bisa minta bantuan dari Joe.” “Joe ya?” gumamku, “nanti aku tanya dia deh, oh iya Hiraka. Ada yang ngeganjel di pikiran aku sekarang tau Hiraka, masalah aku gak tau kabar sama kondisi kak Fincent sekarang, aku udah nyoba ke rumah orangtua terus ke apartement kak Fincent juga tapi hasilnya gak ada.” “Mungkin sibuk di rumah sakit, pikirannya positif coba kalau gak di rumah temennya kayak biasanya.” “Ini gak biasa, hampir satu bulan dan setiap aku ke rumah sakit, temen-temen kak Fincent bilang kak Fincent gak masuk hari ini, aneh bukan? Kak Fincent gak biasanya kayak gitu loh, masa iya gak masuknya itu sama setiap aku datang. Kecuali---“ “Kak Fincent emang sengaja gak ada setiap kamu datang dan temennya bantuan kak Fincent, itu yang paling logis sekarang, atau paling buruk adalah kak Fincent menjadi tahanan pemerintah karena melakukan pelanggaran, tapi kalau iya, pelanggarannya semacam apa dan seberapa apa?” “Pelanggaran dan penahanan?” ucapku sepelan pelan, apa itu yang terjadi sekarang? Ucapan Hirakan mengganggu pikiran aku sekarang, apa iya kak Fincent menjadi tahanan dari pemerintah? Tapi kenapa dan bagaimana bisa? Kak Fincent bukannya menjadi anak emas di dunia kedokteran yang ada di negara Timur, gak mungkin dong kalau pemerintah sampai seberani itu apalagi kak Fincent aja berani buat lukain aku, adiknya yang selama ini selalu diayomi sama kak Fincent. “Udah gak usah dipikirin, nanti aku cari cara buat dapat informasi itu kebagian keamanan. Kamu kalau banyak pikiran nanti malah sakit terus droup dan berakhir harus di rawat Al.” “Iya iya Hiraka, aku cuman apa ya..” ucapku bingung sendiri, “entahlah, meskipun kak Fincent udah berusaha nyakitin aku tapi aku gak bisa benci Hiraka, kayak gimana ya, aku berusaha menolak kabar kalau kak Fincent dalang dalam kecelakaan aku waktu itu. Aku belum bisa nerima kabar itu, aku cuman mikir semua yang orang bilang tentang itu cuman kabar palsu yang cuman ngajatuhin namanya.” “Aku faham sama perasaan kamu,” Hiraka menggeser kursinya menjadi dekat, “aku juga mungkin bakal kayak kamu, siapa sih yang mau nerima kakaknya nyelakain kita, sedangkan selama ini dia yang bantu kita dan dia yang udah ada buat kita jadi kayak sebuah hal yang mustahil.” “Iya kan? Setelah aku nerima informasi itu, aku cuman mikir mereka tuh gak suka sama kak Fincent yang deket sama aku, gak suka kalau aku bergantung sama kak Fincent daripada mereka. Aku terlalu berpikiri baik tentang kak Fincent, aku lupa mungkin musuh aku itu yang paling deket sama aku.” Aku menangkupkan kedua lenganku di pipi, berusaha untuk kuat meskipun semakin lama aku malah ngerasa jauh lebih lemah, pertahanan aku semakin goyah. “Gak usah sedih Al, masih banyak orang yang mau membersamai kamu, kayak aku. Masa kamu gak nganggep aku ini sih, aku tau kok kalau aku sama kamu itu gak satu bidang tapi kan itu hebatnya persahabatan, hal yang beda aja bisa menyatukan kita berdua jadi sedeket ini.” “Makasih ya Hiraka, meskipun dulu aku gondok sama kamu karena kamu selalu laporin aku yang mau bolos kelas dasar dan kena hukuman sama guru-guru, tapi sekarang kamu yang maju paling awal.” “Itu gunanya sahabat, saling melengkapi dari kekurangan satu sama lain, jadi gak ada yang terlalu rendah atau dia yang terlalu tinggi, kalau dalam persahabatan itu semua sama.” Hiraka tersenyum sampai kedua lesung pipinya muncul, wajahnya yang terlihat manis menutupi kalau sebenernya Hiraka sangat jauh dari kata perempuan lemah, dia bisa kuat dan terlihat anggun dalam satu waktu. Satu hal yang gak bisa aku lupain, aku masih ada mereka yang hebat. “Hari ini aku mau traktir kamu, anggap aja sebagai perayaan persahabatan.” “Dih tumbenan banget, abis dapet apa kamu sampai mau traktir aku?” Hiraka tertawa, “abis dapat pencerahan buat pensiun dini, tinggal mikirin kapan keluarnya,” ucapnya dengan santai, “mas kita berdua mau pesen dua mangkuk besar mi panjang! Jangan lama ya!” Aku memasuki ruangan profesor Ningmas, menyerahkan pelaporan terakhir sebelum melakukan uji coba besok. Perasaanku berdebar, entah kenapa, tapi rasanya jauh menakutkan daripada harus menyerahkan laporan ke profesor Hangga. “Permisi profesor, ini Alya mau menyerahkan pelaporan terbaru dari tim ini,” ucapku mengetuk pintu. “Ah iya, masuk aja Alya. Saya gak kunci kok,” balasnya yang aku angguki tanpa sadar. ‘Gila, ruangannya bagus banget, tertata rapih dan wangi,’ ucapku dalam hati, menatap sekeliling ruangan profesor Ningmas, ini pertama kalinya aku menginjakan kaki di ruangan profesor Ningmas, biasanya aku baru menyerahkan kalau ada pertemuan bersama di ruang penelitian. “Kaget sama ruangan saya Al?” tanya profesor Ningmas yang membuat aku gelagapan, keliatan banget aku norak sama ruangan profesor yang rapih dan beberapa barangnya udah memakai teknologi. Aku tersenyum canggung, “Ruangannya bersih banget prof sama keren udah pake teknologi terbaru, jarang ada ruangan profesor yang kayak gini. Kalau bukan isinya buku ya paling koleksi penghargaan mereka tapi ruangan profesor berbeda jauh, penuh dengan teknologi dan enak dipandang.” “Kamu mau tau satu rahasia tentang saya?” ucap profesor Ningmas dengan serius, “saya aja heran kenapa saya bisa diangkat menjadi profesor, ya ngeliat rekor perjalanan saya gak terlalu lama. “Loh profesor merendah banget, profesor itu udah keren banget karena ya profesor nyumbang beberapa penemuan yang sekarang mempermudah ilmuwan lain ngembanginnya karena udah dasar, contohnya dalam beberapa obat yang diambil dari tumbuhan yang udah bermutasi, profesor emang muda tapi profesor punya banyak banget hal baru buat kita semua.” “Sama kayak kamu dong? Kamu baru 8 tahun ada di dunia penelitian tapi udah ngasih sumbangan yang banyak. Harusnya kamu juga diangkat jadi profesor bukan tetap menjadi ilmuwan biasa,” ucap profesor Ningmas dengan santai, lengannya dijadikan tumpuan untuk kepalanya, terlihat elegan. “Saya kan ngembangin dari profesor-profesor yang ada di sini, bukan bergerak sesuai kemauan saya.” “Hahaha kamu ini, tapi jujur ya kadang saya gak paham dengan pemikiran petinggi di pemerintahan di semua negara. Terlalu mengekang, kita gak seharusnya terkurung seperti hewan kan? Kita butuh mengeksplor semua hal yang ada di dunia, itu pasti bakal jauh lebih indah.” “Maksudnya prof? Bukannya profesor udah beberapa kali melakukan kunjungan di negara lain?” Profesor Ningmas mengangguk, “Emang beberapa kali saya pernah melakukan perjalana ke luar, dan saya menyayangkan sama keputusan petinggi yang memilih untuk mengurung diri daripada saling berbaur. Kamu harus tau, kalau kamu ngeliat dunia luar selain di negara Timur, kamu bakalan terpukau karena saking indah dan berbeda sama negara kita ini.” “Emangnya sejauh apa perbedaannya? Kalau profesor tau itu indah, kenapa profesor gak nyoba buat ngubah semuanya jadi kita bisa berkomunikasi, jalan-jalan ke negara lain gitu.” Profesor Ningmas menghela napas, tatapannya berubah jauh lebih serius bahkan lebih serius daripada saat pertemuan dengan tim inti. Aku meneguk ludah dengan susah payah, kayaknya pertanyaan yang aku lontarin tadi salah deh, gak harusnya aku mancing profesor Ningmas. “Kamu mau tau? Saya udah pernah ke dua negara, negara Barat dan negara Tenggara, dan dua negara itu keren dengan ciri khas mereka. Di sana gak ada pemisahan yang jelas anatar orang kota dan orang desa, jauh dari kita. Saya udah nyoba buat ganti peraturan ini tapi ditolak mentah-mentah.” “Apa prof---“ “Ya, saya termasuk orang yang kontra dengan kebijakan ini Al, banyak hal yang saya kurang sukai dari pemerintah di semua negara ini, salah satu pembatasan pergerakan kita.”
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN