AJ#41 berbeda

1644 Kata
Aku menunggu Joe datang ke rumah, udah lebih dari setengah jam Joe belum datang dari janji awal dia ke aku. Aku melirik ke jam di pergelangan tangan, takutnya aku yang salah liat jam dan malah marah-marah waktu dia datang nanti, bukannya keren malah keliatan kayak anak kecil! “Ini emang udah jam 8 lebih kok, tapi kenapa belum datang sih,” ucapku mencuri-curi pandang ke arah pintu rumah, berharap Joe datang dan akhirnya, “Joe kemana aja sih! Janji jam setengah delapan malam ke rumah, aku udah masakin kesukaan kamu, tapi kok---“ “Kenapa gak dilanjut?” bukan Joe seperti yang aku pikirkan, malah kak Fincent dengan jas kedokteran yang ia taro di lengan kanan, “kenapa gak lanjut kakak tanya?” “Kakak ngapain ke sini, kenapa gak ngasih kabar ke aku dulu?” “Kakak nanya duluan, gak usah ngalahin pembicaraan,” aku meneguk ludah dengan susah payah, masalahnya hampir aja aku nanya progres pelemahan keamanan, untung masih ada lem ini mulut. “Iya iya, gak usah marah-marah elah,” gerutuku mencoba seperti biasa, “aku kira Joe, aku baru aja mau ngomelin dia soalnya bikin aku nunggu lama dan bikin masakan aku jadi dingin sekarang.” “Serius cuman itu?” tanya kak Fincent seolah ragu, aku mengangguk dengan mantap, “kamu gak biarin kakak kamu buat masuk gitu?” aku menggaruk tengkuk, salah tingkah sendiri. “Maaf-maaf kak, biasanya juga nyelonong masuk kan ke rumah Alya, ini make minta Alya silahkan masuk, beda banget sih kak,” ucapku menggeser tubuhku biar kak Fincent masuk, yang pertama kali aku dengar malah helaan nafas panjang dari kak Fincent, gak seperti biasanya. Kak Fincent meletakan tas dan jas kedokterannya di atas meja, aku meletakan satu gelas air putih hangat ke kak Fincent, kebiasaan yang sulit untuk aku hilangkan, seenggaknya dia yang selama ini selalu berusaha menjadi orang terbaik bukan? Meskipun sekarang menjadi terbalik. “Kakak ngapain ke rumah Alya malam-malam gini? Biasanya ngabarin dulu, kan biar Alya buatin masakan laut kesukaan kakak. Kebetulan dua hari yang lalu Alya pesen makanan laut, jadi ya---“ “Kakak ke sini karena kakak ngerasa kamu jadi semakin beda sama kakak,” ucap kak Fincent membuat debaran jantungku semakin menggebu-gebu, “bahkan sekarang udah lebih dari sebulan kamu gak nginjakin kaki di rumah sakit, biasanya kamu yang paling semangat datang ke sana.” “Ya ampun kak, kok sampe mikir kayak gitu sih?!” aku mengubah mimik menjadi tersinggung, “aku gak datang ke rumah sakit karena proyek penelitian aku lagi banyak, ini kakak gak bisa liat apa di bawah mata aku udah menggelap banget dari biasanya, ini udah dibantu sama produk perawatan.” “Ya kan kamu bisa ngeluangin waktu buat datang ke rumah sakit, ngobrol sama kakak atau seenggaknya ngasih kabar lewat telfon kamu atau email kamu, emang sesusah itu buat ngelakuinnya apa?” gerutu kak Fincent yang membuat aku mengerutkan dahi, “kenapa sih gak mau ngabarin kakak!” “Lah, kan biasanya kakak yang datang ke tempat aku buat nanya kabar aku atau seenggaknya bawain makan siang aku kayak biasanya. Itu kan yang biasanya kakak lakuin kalau tau aku mulai sibuk, kakak bakalan bawel datang sambil bilang ke aku buat jaga kesehatan di tengah kesibukan aku.” Kak Fincent bukannya menjawab malah langsung gelagapan, tingkahnya yang jauh berbeda membuat aku gak yakin kalau orang yang ada di depanku itu kak Fincent. Bahkan tanpa mengucap kata-kata perpisahan, kak Fincent langsung keluar dari rumah dengan gerutu yang gak jelas. “Tadi aku liat kak Fincent keluar dari rumah kamu deh Al, ngapain ke sini, kamu baik-baik aja kan?” Aku mengangguk dengan wajah linglung, "Kamu kenapa lama banget ke sini Joe? Aku nungguin.” “Al kamu beneran gak apa-apa kan?” Joe langsung berlari ke tempatku, melepas asal jaket yang ia kenakan, menangkup pipiku sembari menepuknya dengan pelan berulang kali. “Aku gak apa-apa Joe,” aku menyingkirkan lengan Joe, “aku masih heran sama kedatangan kak Fincent yang tiba-tiba di rumah aku, tanpa ngasih kabar kayak biasanya. Tingkah kak Fincent juga berubah, maksudnya sikap dia belakangan ini terlalu membingungkan, kadang berkata kasar dan memperlakukan aku seperti seorang yang bersalah, atau bahkan memperlakukan aku kayak putri.” “Udah Al, jangan buat pikiran kamu nambah karena sikap kak Fincent berubah,” ucap Joe yang mengusap pipiku, dia memberikan jarak, “daripada kamu mikirin kak Fincent, mending kamu---“ “Bentar dulu, ini mah kamu mau ngalahin aku buat ngomelin kamu kan?” dengusku yang tak ayal membuat dia tertawa pelan, “gara-gara kamu nih, aku sampai harus ketemu sama kak Fincent, terus aku tadi udah buatin kamu makanan sama minuman, tapi kayaknya udah dingin banget.” “Yah ketauan deh,” ucap Joe yang mengusap puncak kepalaku, “seriusan mau bahan itu aja? Gak ada yang lain gitu? Biasanya kan kamu cerota itu bener-bener lengkap dan apa ya? Gak bisa berhenti.” Aku mencubit perut Joe, membuat laki-laki itu meringis. Joe memberungut dengan tangan kanan mengusap bekas cubitan di perutnya. Aku memeletkan lidah, berdiri dan berjalan ke dapur. “Udah mulai berani ya sekarang, oke kalau itu mau kamu,” Joe langsung berlari mengejarku, lengannya melingkar dengan sempurna di perutku, aroma Joe menguar dan tercium di hidungku. Aku tersentak pelan, “Ihh Joe mah kebiasaan banget suka asal meluk orang, udah awas sana. Aku mau ngangetin makanan sebelum kita makan bareng, aku udah laper harus nungguin kamu!” “Hahaha ya udah, sini tangannya,” Joe mengambil paksa lengan kiriku, menggenggam dengan erar. “Dikira aku mau nyebrang apa, dipegangin mulu.” Hutan di bagian Timur sekarang jauh lebih sunyi dari biasanya, aku memeras kompresan yang entah keberapa hari ini. Kondisi Zack sekarang malah menurun, dia yang awalnya udah mulai menunjukan tanda-tanda positif malah menurun semenjak aku datang tadi sore. “Ya ampun ini suhunya gak mau turun terus!” gerutuku pelan, “kak Anya makanannya udah siapkan?” “Bentar Al, tunggu beberapa menit lagi ya baru mateng terus jangan langsung dikasih ke Zack,” peringat kak Anya yang mulai kembali terdengar perang alat masak di dapur. “Ayo cepet sehat Zack, katanya mau bantu buat melindungi aku dan bawa aku ke negara utara nanti, kok sekarang malah aku yang harus ngelindungin kamu biar gak terluka Zack.” “Kondisinya masih belum stabil lagi?” Quera datang dengan kompresan baru dan satu gelas minuman yang udah dikasih tetesan dari larutan obat biru, aku cuman bisa buat berusaha sekarang dan mengambil kesempatan sedikit pun untuk membuat Zack sadar. “Ini Al,” kak Anya meletakan dua mangkuk yang berisikan bubur dan nasi, “kamu makan dulu, nanti kamu malah ikutan sakit kan gak lucu kalau sampai itu terjadi Al, ayo makan dulu, aku bantu suapin.” “Kak, nanti aku bisa makan sendiri kok. Kakak sendiri udah maskan? Mending kakak juga makan, aku bisa makan sendiri, aku bukan bayi atau anak kecil loh kak.” “Hahaha ya udah, kamu makan pake makanan yang aku bawa, kalau aku bisa makan masakan yang di dapur Al, jadi kamu makan dulu ya sambil nungguin Zack siuman.” Aku mengangguk, mengambil makanan yang tadi dia bawa kak Anya. Sedikit tergiur saat tau makanan apa yang kak Anya bawa buat aku, masakan yang kata kak Anya itu susah buat dibuat saat ini, bahan-bahan dari masakan itu susah buat didapatin sekarang, lebih mahal dari harga mas. “Kalian tau gak sih kalau beberapa warga udah mengendus sikap aneh pemerintah?” tanya Quera yang membuka ponselnya, dia mengetikan sesuatu sebelum menggelengkan kepala, “aku dapat informasi bakal ada seruan masal buat nekan pemerintah, tapi itu ilegal kan?” “Ya seilegal-ilegalnya juga, tetep aja kalau ada yang mancing dan nutupin itu sebelum hari H dari pemerintah, pasti tetep berjalan lah Que, kayak gak tau kalau ada orang yang gak suka pemerintah.” “Kayak kita gini?” tanya Que dengan polos, “Kita kan juga gak suka pemerintah.” “Kita gak suka karena kebijakannya mulai melenceng, apalagi pemerintah di seluruh negara punya misi untuk menuntaskan orang-orang yang “gak berguna” dalam jangka waktu yang gak bisa ditentukan,” ucapku menggerakkan dua jari saat mengucapkan kata gak berguna. “Nah itu dia yang buat aku takut, rencana kita ke desa Awan harus lebih cepat, banyak pergerakan pemerintah yang gak bisa kita kontrol bahkan gak bisa kita prediksi bakal lakuin apa.” “Ta-tapi kok bisa?” ucap Quera dengan tatapan sendu, matanya menatap ke arahku dengan mata yang sebentar lagi akan mengeluarkan air mata, “ini udah berlebihan!” “Makanya Que, rencana kita mindahin alat dan warga ke desa awan harus secepatnya.” “Ada satu permasalahan sih,” ucapku menggaruk tengkuk, “kita harus membuat benteng dan sistem untuk memprediksi bakal ada serangan atau engga, kita gak bisa tau kan pemerintah bakal ngelakuin apa dan nyerang kita kayak gimana. Jadi ya satu-satunya cara untuk nyegah itu, kita buat benteng otomatis dan alat pendeteksi serangan baik dari darat, udara bahkan perairan di desa Awan.” “Alasan kita harus milih desa Awan kenapa?” tanya Quera, lengannya mengusap sudut matanya. Aku mengetukan jemari di dagu, “Apa ya?” gumamku pelan, “desa Awan itu terkenal dengan tempatnya yang luas, benar-benar luas karena tempatnya hampir ¼ dari luas negara Timur, bahkan waktu aku ke sana, mereka nyiptain desa bawah tanah untuk nyelamatin diri mereka sendiri kalau ada serangan. Itu bisa membantu kita nyiapin diri kalau ada serangan, jadi ya gitu, kita milih desa Awan.” “Tapi gak bisa disangkal juga kita pasti bakal minta bantuan dari desa yang lain kok, apalagi desa-desa yang deket sama desa Awan, ya biar bisa bantu kita nyiapin tempat nampung ribuan orang yang gak bersalah dari serangan pemerintah yang berotak.” “Satu lagi pertanyaan aku, alat untuk masuk dimensi udah aman kan?” aku dan kak Anya reflek saling tatapan, bingung harus memberitahukan kondisi alat-alat yang kita punya.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN