“Obat jantung yang bulan lalu diteliti saat ini udah bisa digunakan prof,” ucapku menyerahkan beberapa kertas laporan harian di atas mejad profesor Hangga yang penuh dengan puluhan atau mungkin ratusan kertas yang benar-benar perlu perhatian khusus dari profesor Hangga.
Sedangkan beliau sendiri hanya membalas ucapanku dengan anggukan, sedikit menurunkan kertas-kertas yang dia baca, menampilkan mata yang berubah menatap khawatir ke arahku.
Profesor Hangga berdeham pelan, “Lingkar mata kamu terlihat menggelap, kamu istirahat dengan cukup kan? Atau tugas-tugas kamu banyak, mereka gak mau bantu? Saya bisa marahin mereka kalau kamu mau. Mending sekarang kamu istirahat di ruang kesehatan atau mau di ruangan saya?”
Aku menggeleng dengan cepat saat mendengar pilihan kedua yang dilontarkan profesor Hangga, apa-apaan dengan pilihan keduanya, gila! Otak profesor Hangga kemana sekarang?
“Profesor gak perlu khawatir, saya sudah istirahat dengan cukup dan semua rekan kerja saya juga adil dan mau membantu saya, jadi profesor gak perlu susah payah untuk menegur orang yang tidak bersalah. Untuk penawarannya, saya bakal istirahat di rumah aja soalnya masih ada beberapa jurnal yang harus saya rampungkan untuk pelaporan ke tim pengajar di pemerintahan. Apa cukup menjawab semua pertanyaan dan tawaran profesor? Kalau gitu saya pamit undur diri, terimakasih prof.”
“Alya,” panggil profesor Hangga saat aku menyentuh gagang pintu, “hati-hati dengan kondisi kamu. Kamu bukan robot yang bisa kerja tanpa perlu beristirahat sejenak, kamu manusia Alya, jadi istirahat.”
“Terimakasih untuk masukannya prof, saya tau sampai mana kapasitas diri saya kok jadi profesor gak perlu khawatir, semua pekerjaan saya sekarang masih bisa saya tangani kok Prof.”
“Ha Alya,” ucap Profesor Hangga yang memencet tombol di sebelah mejanya, aura di sekitar ruangan tiba-tiba terasa runyam, aku yakin sekarang aku dalam kondisi gak aman dan...
“Mau melarikan diri?” profesor Hangga melonggarkan dasinya saat melihat aku mencoba membuka pintu keluar yang ada di belakang tubuhku, menatap penampilanku dari atas sampai bawah sebelum kembali berdeham dengan seringai yang menakutkan, “kamu semakin menjauh sekarang Al.”
Aku menutup hidungku, aroma minuman keras menyeruak tajam di saat jarak antara aku dan profesor Hangga semakin dekat. Aku mencoba untuk mencari celah untuk melarikan diri, tapi sayangnya ruangan profesor Hangga bukan tempat yang mudah untuk ditebak celah melarikan diri.
“Kamu sebenarnya sadar gak selama 5 tahun terakhir saya mencoba mendekati kamu Al?” profesor Hangga mengangkat daguku, menyejajarkan antara kornea matanya dengan kornea mataku, “apa semua perlakuan saya ke kamu masih kurang jelas atau kamu ngerasa saya terlalu kolot? Ah.. kamu terlalu berharga tapi saya gak sanggup ngeliat kamu bahagia sama orang lain.”
“Prof minum minuman keras?” tanyaku dengan bodoh, bukan waktu yang tepat tapi aku gak tau harus melakukan apa di tengah kondisi saat ini! Apalagi mendengar ucapan profesor Hangga yang semakin melantur kemana-mana tapi anehnya beliau masih bisa menatap lurus ke arahku, tepat di kornea!
“Kamu gak suka saya minum minuman keras?” lengannya mengukung tempatku sekarang, menyudutkan aku di antara tubuhnya dan pintu masuk ruangannya, yang bisa aku lakukan hanya menahan tangis yang ada di ujung lidah, mataku semakin memburam karena air mata.
“Saya tanya kamu!” suara profesor Hangga semakin tinggi, “saya harus apa biar kamu liat saya hm? Apa kamu lupa sama laki-laki yang nyoba nolong kamu di pendidikan sains? Apa kamu lupa sama orang yang selalu kamu ajak diskusi ringan di taman? Ah iya, kamu pasti lupa, yang kamu ingat kan cuman bagaimana kamu bisa menjadi ilmuwan hebat yang diakui bukan?”
Lengan profesor Hangga mencengkram erat pipiku, sorot matanya menggelap, rasanya aku mau mati saat itu juga. Aroma minuman keras yang khas semakin menyengat keluar dari mulut profesor Hangga. Kenapa aku harus ada di situasi yang selalu buruk seperti ini! Gak Joe gak Profesor!
“Prof..” aku mengucap dengan susah payah, lenganku yang gemetar mencoba untuk memegang lengan profesor, mencoba keberuntungan untuk aku saat ini, meskipun itu kecil!
“Mencoba mencari simpati aku nona?” tanya profesor Hangga yang menarik lenganku.
Sikapnya yang tiba-tiba membuat jarak diantara kami berdua semakin dekat, lengan profesor Hangga yang mencengkram pipiku terlepas, berganti jadi melingkar di pinggang, kepalanya bersandar pasrah di bahuku dengan nafas yang memburu seperti habis melarikan diri.
“Saya takut untuk kembali kehilangan Al,” gumam profesor Hangga yang semakin merapatkan pelukan, “saya pernah kehilangan dan itu menyakitkan Al, saya gak mau kehilangan sumber cahaya saya saat ini. Saya masih bisa bernapas dengan tenang, hanya saat bisa melihat kamu ada disekitar saya, setidaknya saya bisa mendengar kamu masih ada di alam yang sama dengan saya.”
“Prof, ini gak baik posisinya, kalau ada orang yang masuk mereka akan salah paham.”
“Gak akan ada yang ganggu kita, cuman kamu dan aku sekarang yang ada di ruangan ini Al.”
Aku menelungkupkan tubuh di atas kasur, menggigit kuku-kuku jemari dengan pelan, mencoba berpikir di tengah sisa kewarasan aku sekarang. Bukannya ucapan mereka yang ada di bawah sadar selalu jujur? Jadi ucapan profesor Hangga tadi...
“Ini gila!” aku merubah posisi jadi terlentang, menatap langit-langit kamar, mecoba untuk mengingat masa-masa pendidikan untuk menjadi ilmuwan 12 tahun yang lalu.
“Sebenernya aku udah pernah ketemu profesor Hangga atau belum sih?”
“Dia memang selalu mengagumkan dari dulu,” ucapan profesor Hangga saat aku sukses membawa alat yang berhasil aku rangkai sendiri di tengah konferensi para ilmuwan tertua.
“Emang dari dulu sikapnya aneh sih tapi sekarang ini jauh lebih aneh, maksudnya, dia mau aku tau dengan cara menebak masa lalu yang bahkan sebagian besar udah aku lupain karena aku rasa itu gak terlalu penting, tapi ternyata sekarang aku ngerasa kalau itu salah! Salah besar!
“12 tahun yang lalu itu masih terlalu muda dan itu udah lama banget, mana bisa aku ingat sama semua orang yang pernah aku temuin waktu dulu, lagian seingat aku gak ada orang yang sama kayak profesor, atau sebenernya profesor Hangga melakukan operasi wajah aku sebenarnya gak bisa ngenalin lalu..”
Aku membekap mulutku untuk menahan tawa yang ingin keluar dari mulut saat pemikiran bodoh yang entah bagaimana bisa muncul tiba-tiba dalam otak aku. Aku mencoba berfikir jernih saat ini, aku masih penasaran dan pengen tau sebenernya profesor Hangga itu siapa sih? Kenapa rasanya profesor Hangga terlalu mendesak aku buat kembali inget sama kenangan di masa awal aku masuk ke dunia penelitian ini, sedangkan aku aja udah berusaha buat ngelupain dan hapus semua kenangan yang dulu aku lewati bareng temen-temen selama pendidikan waktu dulu.
Aku gak bisa menyangkal kalau kenangan 12 tahun lalu itu terlalu menyakitkan, awal mula aku harus kabur dari rumah, terus banyak hal yang gak sesuai dengan ekspetasi yang udah aku rancang dan yang pasti banyak hal yang cuman membuat aku merasa jauh lebih redah saat itu!
“Kalau dia ada di masa lalu aku, berarti dia sama kayak mereka yang cuman bisa ngehina aku, dan..” lenganku dengan reflek mengepal, “mereka semua udah di penjara Al, tenangin diri kamu.”
Tok.. tok..
“Sebentar!” teriakku dari dalam rumah, mengambil jepitan untuk mencepol asal rambut, “maaf agak lama, tadi---“ ucapan yang ada di ujung lidahku langsung tertahan saat tau siapa tamu aku sekarang.
“Hi Alya,” profesor Hangga berdiri di depan pintu dengan lengan yang menggaruk tengkuk belakangnya, “saya datang ke sini buat minta maaf sama perilaku saya ke kamu tadi, saya tadi mabuk berat dan gak sadar sama semua perlakuan saya ke kamu Al.”
Aku masih dalam mode terkejut sebelum gelagapan, memberikan jarak untuk profesor Hangga masuk. Aku sengaja gak menutup pintu rumah, berjaga-jaga jika ada hal yang gak diinginkan, dan semua perlakuan aku gak lepas dari tatapannya, dia mendesah pelan.
“Saya yakin kalau sikap saya bikin kamu takut Al, kamu gak perlu peduliin semua ucapan saya, itu cuman ucapan ngelantur saya dan---“
“Profesor sebenernya udah kenal saya dari kapan? Saya yakin buat saat saya di terima menjadi ilmuwan muda untuk pemerintah kan? Karena kalau kita baru kenal saat saya diangkat menjadi ilmuwan, itu baru sekitar 8 tahun yang lalu,” ucapku memotong pembicaraan profesor Hangga.
Profesor Hangga menghela napas panjang, menjeda ucapannya, “Saya kenal kamu itu udah lebih dari 12 tahun, bahkan sebelum kamu masuk ke dunia sains ini dan berusaha menjadi ilmuwan muda, saya udah lebih dulu kenal kamu. Mungkin kamu udah lupa sama kejadian di masa lalu, tapi gak bisa buat saya lupain kenangan bareng sama kamu, kamu terlalu menyita waktu saya Al.”
“Maaf Prof.” aku berusaha untuk mengingat dan rasanya jawabannya itu semua kosong dalam otak.
Lengan profesor langsung bergerak ke atas kepalaku, aku yang masih trauma dengan kejadian di ruangannya, reflek menjauhkan kepala dengan lengan yang melindungi diri.
“Saya malah membuat kamu takut ya,” ucapnya terdengar kelu, “kalau kamu mau menjauh dari saya, mungkin saya terima sekarang Al. Saya cuman bikin kenangan lama kamu kembali muncul ya. Kalau kayak gitu saya pamit ya, jaga diri kamu baik-baik.”
“Prof,” aku memegang lengannya yang beranjak menjauh, “sebenernya siapa prof? Saya bisa mati penasaran kalau profesor gak kasih tau saya sebenernya, siapa profesor?”
“Saya anak laki-laki yang datang ke sekolah umum, saya punya tugas pertama untuk memberikan pengarahan sebegai ilmuwan muda yang akan dilantik. Kamu pernah bilang, jadi orang yang bisa membantu banyak orang lain itu keren, terutama jadi ilmuwan yang tersohor namanya dimana-mana. Sekarang kamu inget?”
Aku memegang kepalaku yang berdenyut nyeri, semakin aku coba untuk mengingat, semakin sakit kepalaku, rasanya ada puluhan gajah yang menduduki kepala aku sekarang. Aku menegakan badan, deru nafasku semakin memburu, ini gila!
“Hangga Azwar, profesor itu kakak ilmuwan Azwar yang dulu saya temui kan? Laki-laki yang janji bakal ajak saya menjadi ilmuwan muda yang bisa dikenal banyak orang, itu kakak kan?”