AJ#39 Bukit kematian

1619 Kata
Aku memasuki ruangan yang akan aku dan Zack jadikan sebagai ruangan tempat penelitian, aku tersenyum bangga saat melihat beberapa tempat yang aku desain sendiri sudah hampir rampung 100% dengan kemiripan hampir menyentuh 90%. Desa Awan terlalu terpencil dan gak terlalu mau nerima barang-barang dari luar desa mereka, itu yang membuat aku sulit membuat ruanganku sendiri. “Jadi apakah ini udah sesuai kemauan kamu?” tanya salah satu warga desa Awan yang cukup dekat dengan aku selama kurang lebih 2 bulan, semenjak aku menangani kasus putri Athya, namanya Ertyo, aku biasanya manggil dia tuan Er, dia tinggi besar dengan wajah yang cukup sangar. Aku hanya bisa mengangguk, “Cuman ada beberapa interior yang bakal aku bawa dari kota, biar lebih nyaman aja apalagi kalau lagi harus neliti kan? Oh iya dua ruangan di sebelah selatan sama utara untuk alat-alat penelitian udah siap kan? Aku baru cek di bagian barat doang tadi, kurang tempat buat alat pendingin sama alat pembeku organ dan penelitian embrio.” “Hah?” wajah yang biasa terlihat bringas, seketika lucu, bingung tapi mencoba memahami. “Iya, jadi tempatnya perlu ada yang diubah biar bisa buat alat-alat yang aku sebutin tadi, apalagi alat pembeku organ dan alat buat neliti embrio itu cukup riskan banget buat penempatannya. Jadi mungkin waktu kalian mau bagi-bagi ruangannya, aku harus liat biar gak salah dan ngerusak alatnya.” “Emang sesusah itu buat alat? Kan tinggal masang-masang aja, gak lama mungkin, cuman 1-2 hari.” Aku terkejut mendengar ucapan yang terlontar dari Ertyo, terlalu polos dan apa ya, dia gak tau sesusah apa aku harus ngerakit satu alat apalagi kalau alat itu berhubungan dengan obat-obatan dan dunia medis lainnya, butuh waktu dan uji coba yang cukup lama. “Ya gak semudah itu, tapi juga emang gak susah. Contohnya aja alat yang aku bawa pertama kali ke desa ini, alat buat meriksa tuan putri Athya kemarin. Alatnya kecil dan keliatan gampang buat ngerakit, tapi masukin informasi ke alat itu cukup lama, ada sekitar 3-4 bulan karena data penyakit itu banyak dan kalau di rumah sakit itu alatnya besar dan cukup rumit, gimana sama alat sekecil ini.” “Kayak gitu butuh waktu lama?” Aku mengangguk, “kamu selama ini ngabisin waktu cuman buat itu?” “Ya kurang lebihnya kayak gitu, aku udah tertarik sama dunia perancangan alat dan penelitian ini dari umur 5 tahun. Keren aja liatnya, mereka keliatan bebas masuk ke pemerintahan, terus mereka juga keliatan dengan jas lab mereka yang kadang ditenteng di lengan mereka. Aku juga mikir, hampir 80% negara ini bergantung banget sama hasil penelitian, jadi menurut aku itu keren.” Ertyo mengangguk faham, “Emang keren tapi kamu gak bisa bebas, hidup kamu bakal terkurung di tempat itu, gak bisa bergerak bebas meskipun gak aku sangkal kalau pasti ada 1 atau 2 orang dari ilmuwan itu yang nyeleneh, alias gak sejalan dengan penelitian negri ini. Kadang aku iri, karena yang punya peluang besar untuk dapat itu, cuman mereka yang lahir dan tumbuh di kota. Sedangkan aku dan teman-teman desa, gak punya peluang besar. Kita bisa jadi seperti kalian, tapi lebih banyak ditindas dan dijadiin b***k sama orang-orang kota, gak sedikit dibunuh kalau kerjanya tidak sesuai.” Satu lagi fakta mengerikan yang aku dapat, aku baru tau kalau orang-orang desa kayak Ertyo gak punya kesempatan besar jadi kayak aku atau yang lainnya. Mereka gak punya pilihan selain tetap menjadi orang desa yang terkenal bringas dan gak tau sopan santun. “Maaf tuan Er, aku kira kalian yang gak mau seperti kita, ternyata itu faktanya.” Ertyo bukannya marah, dia malah tertawa sembari merangkul bahuku, “Gak apa-apa nona Alya, aku malah bahagia bisa menjadi orang desa, hidup bebas tanpa perlu terikat seperti kalian. Terlalu berat dan banyak resiko yang kita ambil bukan? Nona Alya mau seperti ini saja sebuah hal yang luar biasa.” “Tuan mau kan bantu saya buat nyelamatin ribuan nyawa? Saya gak mau liat pertumpahan darah kayak perang dunia 3, jangan sampai terjadi, ngebayangin aja, saya masih takut. Bekas perang itu masih kerasa sama kita, dan sampai sekarang banyak hal yang harus kita benahi.” Tuan Ertyo semakin merapatkan rangkulannya, “Nona Alya saya punya sebuah fakta yang entah akan membantu nona atau engga, tapi ini adalah salah satu bekas perang yang masih membekas.” “Maksudnya kayak gimana tuan? Bekas dari perang memang belum sepenuhnya bisa ditangani, banyak hal yang harus diteliti apalagi buat beberapa tumbuhan yang kebanyakan berevolusi menjadi tumbuhan yang beracun karena 1 dan 2 hal dari sisa-sisa perang. “ “Pemerintah gak melakukan pemeriksaan secara menyeluruh, di desa Awan ini ada satu tempat yang menjadi tempat yang berbahaya, beberapa orang pernah mati karena menyentuh langsung benda itu tapi kebanyakan bisa selamat karena mendapat penanganan dari tabib desa.” “Emangnya apa? Berupa tumbuhan? Air atau apa?” Ertyo menggeleng dengan cepat, dia melepas rangkulan, berjalan menuju ruangan yang akan menjadi tempat istirahata, membuka laci dan mengeluarkan satu lembar kertas dan satu pulpen. “Ini namanya bukit kematian, bebatuan di sini berbahaya karena bisa aja longsor karena kemiringan bukit yang cukup curam, tapi di dalam bukit ini ada semacam trowongan yang indah bagaikan surga tapi mematikan karena bebatuan yang ada di dalam sangat berbahaya, kalau kita menyentuhnya secara langsung, tangan kita akan terasa seperti tersengat dan kebas, lalu kita ngerasa sesak dan akhirnya nyawa kita yang menjadi taruhannya. Tempatnya tertutup oleh ribuan hutan yang mengeluarkan cairan yang berbahaya sekaligus menjadi obat kalau tabib yang meraciknya.” “Apa trowongan itu ngeluarin cairan di dinding-dinding bebatuannya?” Ertyo mengangguk, “kalau untuk bernapas apa perlu menggunakan alat bantu atau engga?” “Engga nona, kita bisa bernapas dengan bebas tapi beberapa kali kita mencium bau yang menyengat dan membuat kerongkongan kita terasa perih dan panas dalam satu waktu.” Aku mengangguk mengerti dengan kondisi bukit itu, “Kemungkinan ada cairan berbahaya dimana pasti ada sumber dari cairan itu, makanya kita perlu buat nyari sumbernya, lalu untuk aroma yang menyengat itu, bisa jadi dari cairan itu yang sewaktu-waktu mengeluarkan gas beracun.” “Untuk hal ini, apa nona Alya bisa bantu kami? Di trowongan itu ada tumbuhan yang kami anggap sebagai dewa, karena tabib kami biasa meracik menjadi ramuan untuk menyembuhkan kami, tapi yang seperti nona tau, kalau kami mau mengambil bagian dari tumbuhan itu, taruhannya nyawa.” Pikiranku jadi gak bisa fokus dengan permasalahan mereka, harusnya kalau ada cairan berbahaya bahkan sampai megeluarkan gas, yang aku tau akan sulit tumbuhan hidup, kalau pun ia mereka bisa hidup, hanya ada satu pilihan yaitu menjadi tumbuhan beracun. “Saya bisa membantunya tapi tidak dalam waktu dekat ini, masih banyak hal yang harus aku atasi sekarang, dari pemandian kalian yang mengandung beberapa zat berbahaya sampai tugas saya datang ke sini untuk membantu penyembuhan tuan putri Athya. Jadi bersabar aja ya, tuan Ertyo.” Aku mengeluarkan makanan dari kulkas, memasukannya ke microwave sembari mengatur waktu dan suhu untuk memanaskan makanan. Sekarang hari libur, aku harus mengecek kondisi Samuel yang cukup membaik, sebenarnya udah membaik tapi aku harus melihat jangka panjang penggunaan obat biru dalam cairan di tubuh Samuel. “Jadi sekarang tugas kamu bertambah gitu?” tanya Samuel yang meletakan dagunya di atas pundak kanan dengan kanan yang melingkar di sekitar pinggang, itu menggelikan dan aku gak bisa protes! “Ya seperti yang tadi aku ceritain Sam, beban aku bertambah dengan tugas di desa Awan, tapi kan tugas itu gak punya jangka waktu kapan aku harus selesai, jadi aku anggap itu sebagai selingan.” “Yayaya terserah kamu deh, gimana kabar Zack sekarang? Kondisinya udah membaik kan?” Aku menggeleng pelan, 2 hari yang lalu aku nemuin Zack di hutan yang biasa aku jadikan sebagai tempat pertemuan bareng Zack. Bukannya mendapat hal yang bahagia, aku malah nemuin Zack dalam kondisi gak sadarkan diri dan suhu tubuh yang panas. “Semalam dia pingsan lagi, tapi aku gak bisa ngerawat dia dengan bebas Sam. Aku gak sebebas itu keluar masuk antara kota dan desa, pemerintah bisa curiga kalau gitu. Sebelumnya, gimana kabar pertemuan pertama kamu sama Joe? Aku belum dapat kabar apapun tuh dari kalian.” Sam langsung melepas pelukannya, berjalan ke arah tempat santai, “Ya seperti seharusnya, aku ngobrol sama dia, jelasin maksud aku dan gimana rencana kita itu, dan selesai.” “Masa?” aku mengangkat alis, tidak percaya kalau cuman sesingkat itu, “kalian kan kalau ketemu dalam satu acara suka banget ribut, bahkan dari hal yang kecil, pasti aja diributin.” “Gak juga, jangan melebih-lebihkan deh Al. Aku sama dia itu bukan anak kecil yang perlu ribut, kita udah sama-sama dewasa jadi bisa langsung kena ke poin yang harus kita bahas, dan kayak yang udah aku bilang, kita perkenalan, bahas rencana dan selesai tanpa ribut seperti yang kamu pikirin.” Aku berusaha percaya tapi gak bisa, “Aku mau percaya tapi tangan kiri kamu gak bisa boong Sam, kalian pasti ada adu kekuatan kan? Joe itu gak semudah itu langsung iya-in ucapan orang lain, apalagi kalau sebelumnya kalian pernah berantem beberapa kali.” Sam mendecih pelan, “Kayak yang kamu pikirin Al, kemarin Joe marah karena aku selalu bawa kamu dalam bahaya, selalu bawa kamu dalam permasalahan yang gak pernah selesai-selesai dari awal aku datang sampai detik ini kan? Tapi ya gak separah yang kamu pikirin, kita gak berantem sampai satu koma di rumah sakit, kita berantem sebagai sambutan pertemanan, udah gitu aja.” “Sambutan?” aku membeo, “sejak kapan kegiatan berantem itu sebagai sambutan buat pertemanan? Kamu kalau gila gak usah sampai kayak gini Sam!” “Cowok itu beda Alya, kita lebih seneng adu fisik daripada cuman jabatan tangan, perkenalan dan selesai, gak ada kesan apa pun kalau kayak gitu.” “Ha...” aku mengembuskan napas panjang, “terserah kalian, emang gak waras kalian tuh!”
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN