“Jadi gimana kondisi Arya Al?” tanya Joe saat pintu rumah baru dibuka, bukan sapaan hi atau tanya kabar kayak biasanya, ini malah nanya kondisi orang lain!
“Dia masih belum siuman kata kak Anya, masih perlu tindakan medis juga buat kak Arya, prediksinya sih besok atau lusa baru bisa siuman. Kalau misalnya engga siuman, kak Arya bakal dilakukan pemeriksaan lanjutan, takutnya ada saraf dari bagian otaknya yang bermasalah. Oh iya Joe, aku kan kemarin bawa kak Arya ke rumah sakit pusat, tapi selama aku di sana. Aku gak ketemu sama kak Fincent loh, harusnya kan sekilas ketemu kayak biasanya, kemarin engga sama sekali loh.”
Joe langsung terdiam, mulutnya terkatup rapat, “Kamu belum tau kabar terbaru kak Fincent?” aku langsung menggelengkan kepala, “Kak Fincent dipindah tugasin ke negara Utara karena tim medis di negara sana kurang banget, sedangkan di sana lagi dalam kondisi gak baik-baik aja.”
“Kenapa aku gak percaya ya sama omongan kamu Joe, kamu gak sembunyiin sesuatu kan?”
Joe menggeleng, “Aku gak nyembunyiin sesuatu dari kamu loh, aku punya surat tugasnya juga.”
“Ya udah aku percaya,” aku meneliti tubuh Joe sebelum kembali menatap wajah Joe, “kondisi kamu baik-baik aja sekarang? Hiraka gimana? Baik-baik aja juga kan? Kalian berdua bikin aku khawatir banget sih. Mana kamu gak ngasih tau langsung kondisi setelah aku pulang, aku panik sampai nangis.”
Bukannya simpati atau apa, Joe malah tertawa dengan satu lengannya mengusap puncak kepala aku. Tawanya renyah, membuat aku sedikit lega, dia gak terluka parah.
“Aku udah denger dari Hiraka kemarin kemarin,” ucap Joe setelah tawanya mereda, “malahan Hiraka gak kuat nyeritain gimana kamu panik waktu itu, apalagi ngeliat kondisi Hiraka yang keliatan gak baik-baik aja. Aku kemarin mau langsung nemuin kamu, tapi ada yang lebih penting, yaitu pelaporan ke pusat kalau ada pemberontakan di perbatasan. Aku juga kemarin harus istirahat total karena pemberontakan kemarin, aku kurang waspada sampai bahu aku kena tembakan.”
Joe membuka kancing kemejanya, memperlihatkan perban yang melilit bahu bagian kanan. Pantes aja dari tadi yang gerak tangan kirinya terus, ada luka baru ternyata di situ.
“Kamu ngomong kayak gitu, seolah-olah itu cuman luka gores dari pisau. Kamu kena luka tembak, itu berbahaya apalagi sampai telat penanganan. Kapan sih kamu, kak Arya, Samuel, Zack, Hiraka, kak Anya, sama kak Fincent gak bikin aku khawatir. Kalian emang udah biasa kayak gini, tapi tolong jangan buat aku khawatir sama kalian, jangan gegabah!”
“Udah bawelnya?” tanya Joe membuat aku kesal, “aku aja gak nyandar kena luka tembak, waktu udah sampai ke pusat baru kerasa dan orang-orang panik, bahu kanan aku udah ngeluarin darah.”
“Ceroboh!” cemoohku, “kamu itu ceroboh sama diri kamu sendiri!”
“Emang kamu engga?” tanya Joe membalikan pertanyaan, “siapa yang sering bikin panik dan ngerasa jagoan? Aku rasa bukan aku atau orang-orang yang kamu sebut tadi, malahan kamu yang sering bikin khawatir orang. Kamu yang suka ngerasa takut nyusahin orang lain, sampai gak peduli sama nyawa sendiri, coba sekarang siapa yang sering kayak gitu? Aku atau kamu?”
“Kenapa sekarang aku juga yang kena? Aku lagi ngomongin kamu loh Joe!” dengusku tak terima.
Joe mengangkat kedua bahunya, “Tapi aku di sini lagi ngomongin fakta, jadi siapa yang sering bikin khawatir orang-orang Al? Aku atau kamu selama ini?”
“Heran gak mau ngalah sedikit pun sama aku! Pengennya debat terus sampai aku kalah.”
“Hei, kamunya sih suka ngada-ngada. Intinya sekarang kamu gak usah panik dan khawatir lagi sama aku, mending khawatirin Arya deh. Soalnya aku punya firasat gak enak dengan kembalinya Arya ke sini, bukan gak seneng tapi pemerintah pasti nyari cara buat ngilangin Arya dari negeri ini.”
Aku mengerutkan dahi, bingung dengan pola fikir pemerintah yang kayak gini. Kenapa gak seneng ada warganya yang selamat? Apalagi kak Arya salah satu ilmuwan yang diiming-iming akan menjadi petinggi negara karena banyak sumbangsihnya buat negara.
“Alasannya karena apa? Masa cuman karena kak Arya itu berhasil lolos dari pulau terpencil, makanya pemerintah pengen kak Arya gak ada, lucu banget,” ujarku dengan tawa di akhir kalimat.
“Emang karena itu,” tawaku langsung berhenti, “karena Arya berhasil lolos dari pulau terpencil, dia pasti tau seenggaknya beberapa catatan hitam dari setiap negara dan itu pasti membuat negara kita ngerasa terancam, mau gak mau Arya pasti bakal dibunuh Al.”
“Sebentar sebentar, aku masih belum faham. Emang ada apa sama pulau terpencil? Kenapa Joe tau kalau mereka yang lolos dari lolos dari pulau terpencil, pasti tau beberapa catatan hitam negara?”
“Aku pernah ke sana untuk eksperimen kenegaraan, ada satu tempat yang dijaga ketat sama militer karena ada catatan hitam di sana, tapi untuk sekarang biar gak membuat curiga, gak ada lagi pengawasan dan mereka yang dibuang ke pulau terpencil itu, bisa aja tau.”
“Kalau misalnya kayak gitu, ngapain pemerintah buang kak Arya sampai ke sana kalau di sana ada catatan hitam yang bisa aja ditemuin sama kak Arya kan?”
Joe menghela nafas, “Di sana itu tempat pembuangan bom dan racun-racun gagal dari semua negara, kemungkinan untuk selamat itu sangat kecil Al, dan itu yang menjadi nilai plusnya. Negara gak perlu ngotorin tangan mereka untuk membunuh, cukup buang karena nyawa mereka gak bakal selamat.”
“Joe..” panggilku dengan lirih, “sekarang aku takut nyawa kak Arya sama kak Fincent gak selamat.”
“Kok kak Fincent juga bikin aku khawatir?”
Aku mengendikan bahu, “Dari terakhir kali aku ketemu sampai sekarang, firasat aku gak enak buat kak Fincent, kayak ada sesuatu yang buruk yang bakalan terjadi ke kak Fincent Joe.”
“Terus kamu sekarang curiga sama apa?”
“Rumah sakit Joe! Aku curiga sama tempat itu sekarang,” jawabku tanpa ragu, menatap lurus Joe.
“Kamu mau ke tempat itu sekarang? Tapi berbahaya, soalnya sekarang ada penjagaan ketat di sana.”
“Kecurigaan aku makin kuat, kamu bisa bantu kan Joe?” tanyaku tanpa basa-basi.
Joe mengangguk mantap, “Apapun bakal aku lakuin buat kamu Al, hati-hati oke?”
Aku memasukan beberapa potong baju ke dalam tas, entah kenapa firasatku makin gak enak tiap harinya. Setelah berembuk dengan Joe, Zack dan jangan lupa Samuel, aku meyakini mereka kalau aku bakalan berangkat malam ini juga. Sekarang udah gak ada waktu lagi untuk berleha dan menyusun strategi, sekarang kita cuman ada waktu untuk bergerak langsung dan nerima semua resikonya.
“Kamu yakin mau berangkat malam ini? Kalau terjadi apa-apa gimana sama kamu Al? Kita gak bisa langsung bantu karena pengawasannya makin ketat sekarang, paling Joe yang diam-diang ngawasin.”
Aku hanya bisa mendecih, “Kenapa jadi pada khawatir sama aku sih? Percaya aja sama aku kalau aku bakal pulang dalam kondisi baik-baik aja oke? Kalian gak perlu khawatir. Sekarang aku minta kalian yang datang hari ini, buat rapihin semua peralatan kita untuk dibawa ke desa Awan hari ini.”
“Hari ini? Malam ini kita bawa ke desa Awan? Gak bikin curiga gitu Al?” tanya Lizy dengan panik.
“Engga sih menurut aku,” jawab Hiraka yang duduk di samping Zack, “kita bisa ngalihin beberapa perhatian dari penjaga buat bawa semua alat ini ke desa Awan, kita cuman perlu main cantik.”
“Tapi ngalihinnya gimana? Ini mendadak banget loh, kita gak nyusun strategi,” tukas Arvian.
Quera dengan acuh malah melempar gulungan kertas ke arah Arvian, “Mau nyusun selama apa baru gerak? Menurut aku kalau kita bergerak langsung, tapi masih mikirin resiko, itu lebih baik daripada kita cuman nyusun terus entah kapan bakalan gerak.”
“Gini deh,” Azria yang menjadi tim keamanan mengintrupsi perdebatan kami, “kan di sini yang berasal dari bagian kemanan itu ada 5, dan yang lebih faham mengenai sistem keamana itu kita. Jadi nanti semua tim keamanan bakal ngasih tau kondisi kemanan sekarang kayak gimana, nah nanti sisanya gerak waktu kondisi aman dan bawa semua alat-alat yang ada di sini sekarang.”
“Ide yang bagus tuh Azria,” sahut kak Anya dengan cepat, “cuman tiu caranya, tapi Arya gimana?”
“Mau gak mau kita harus nyari cara gimana cara ngeluarin kak Arya dari rumah sakit,” sahutku, “soalnya sekarang kita tau kondisi rumah sakit dalam keadaan gak baik-baik aja.”
“Tapi gimana? Arya ada di ruangan khusus pemeriksaan kan dari pagi?” jawab kak Anya panik.
“Joe, sekarang cuman kamu yang bisa kita andelin di sini, kamu harus buat surat palsu tapi jangan sampai orang lain pada tau itu surat palsu oke?”
Arvi langsung memegang lenganku, “Alya itu terlalu berhaya, kalau sampai ketauan, Joe bisa dalam bahaya. Mau gimana pun, Arya itu salah satu tangan kanan pemerintah, dia berperan penting di pemerintahan Al. Kalau sampai mereka tau itu surat palsu---“
“Inget gak sama surat penugasan palsu, jadi kita buat rekayasa kalau salah satu petinggi yang menandatangani surat itu. Jadi Arya bisa aman dan Arya juga bisa selamat,” ucap Quera.
Itu membuat kenangan lama kembali teringat, waktu tim IM muda 81 membuat surat penugasan palsu dan merekayasa kalau petinggi yang nyuruh kita buat ngelakuin hal yang kita mau.
“Jadi gimana?” tanya Zack pada akhirnya, mungkin pusing melihat perdebatan tanpa ujung.
“Jadi nanti kita burat sunat tugas, dimana kak Arya akan dipindahkan perawatannya. Nah di sini peran penting Joe, gimana caranya biar peninggi nandatanganin jadi nama Joe aman dan bersih,” jelasku.
“Resiko besar kalau sampai surat yang kita buat udah ketauan terlebih dahulu sama orang lain, jadi di sini peran penting kita. Gimana caranya surat itu gak sampai tau, oh iya kak Joe, kakak ada surat tugas terbaru yang harus ditanda tanganin sama petinggi gak?” tanya Hiraka.
“Ada, penugasan untuk patroli, nanti disitu kita bisa tambahin dengan kata-kata perawatan dari Arya di rumah sakit pusat akan dipindahkan oleh tim perawat khusus, jadi siap buat main peran di sini?”
“Asik! Aku mau dapet peran sebagai dokter! Gak mau tau,” sahut Lizy dengan semangat.
“Tim jadi apa aja sih, yang penting ada peran aja. Kalay kayak gitu, hati-hati ya Al.” Aku mengangguk dengan senyum simpul.