AJ#53 Ruang rahasia rumah sakit

1759 Kata
Aku memasuki lorong di sebelah Timur rumah sakit dengan pakaian yang tidak begitu mencolok, hampir sama dengan tim keamanan yang bertugas. Topi berwarna hitam dengan masker yang menutupi sebagian wajah, mataku berkeliaran mencari celah untuk bisa masuk ke dalam ruangan khusus yang ada di setiap lorong, ruangan yang hanya bisa dimasuki oleh petugas medis. “Cek cek, Alya denger suara kita gak?” tanya Lizy dari sambungan telfon yang terhubung ke alat pendengar yang baru aja dibuat secara mendadak, benar-benar mendadak. Aku mengangguk dengan reflek, “Aku denger Zy, kondisi di sana gimana? Aman atau ada kendala?” “Kita di sini aman kok Al, kamu gak usah khawatir, kalau kamu sendiri gimana? Udah nemu keberadaan kak Fincent?” sekarang suara Quera yang terdengar. “Itu masalahnya, aku belum nemu sama sekali Que. Hampir di setiap lorong ada tim keamanan, aku takut ketauan kalau gerak geriknya mencurigakan. Udah ada beberapa perawat yang ngeliatin aku dari tadi Que, ada Joe di sana?” tanyaku sembari mengganti topi dengan warna biru gelap. “Kenapa Al? Ada masalah di sana? Apa aku perlu ke sana?” suara Joe mulai terdengar khawatir. “Bukan, aku mau nyari tau gimana caranya buat masuk ke ruangan khusus medis Joe. Semua lorong ada tim keamanan yang ngejagain terus, aku gak bisa masuk sama sekali,” dengusku yang memilih untuk duduk di ruang tunggu, melihat lalu lalang dari tim medis. Suara orang ricuh di sana mulai terdengar, “Sebentar Al, aku bakal cari cara. Kamu di sana awasin pergerakannya aja, kalau ada sesuatu yang aneh langsung kasih kabar ke kita-kita yang ada di sini.” “Iya iya bawel, cepetan ya. Waktu kita gak banyak dan---“ aku berhenti sejenak untuk berkata-kata saat melihat di ujung lorong ada perawat yang membawa satu pasien yang mirip sama kak Fincent, “Joe kayaknya aku udah tau dimana kak Fincent sekarang!” “Hah? Maksud kamu gimana Al?” tanya Joe gak kalah panik dengan ucapan aku sebelumnya. “Sekarang kak Fincent jadi pasien di sini! Tadi aku liat ada perawat yang dorong kursi roda, dan pasiennya mirip sama kak Fincent, ternyata dugaan aku bener Joe! Kak Fincent dalam keadaan gak baik-baik aja di sini! Aku harus gerak cepat!” “Salah liat kali kamu Al,” ucap Arvi dari ujung sambungan telfon, “mungkin sekilas mirip aja Al, jangan panik meskipun aku tau kamu udah panik duluan tapi jangan panik, gitu deh.” “Apa sih Ar aneh banget sih! Jangan panik tapi panik, gak jelas!” “Que udah gak usah ngeledek apa,” lerai kak Anya yang aku dengar dari perdebatan dua manusia itu. “Alya kamu denger suara aku kan?” tanya kak Anya yang teredam suara ribut Quera dan Arvi, “HEI KALIAN BERHENTI BERDEBAT KEK ANAK KECIL! AKU MAU NGOMONG NIH!” “Ya maaf kak Anya, nih si Quera gak jelas banget orangnya, dih gak jelas.” “Heh seenaknya kalau ngomong, yang mulai itu tadi kamu ya! Dasar Arvi gak jelas! Manusia Aneh!” “Huft.. sekarang Alya denger suara aku kan?” tanya kak Anya dengan jelas, “ngomong dong Al.” “Baru juga mau ngomong kak, iya aku denger suara kakak. Kenapa kak? Kak Arya udah bisa kalian bawa? Atau ada kendala dan masalah baru di sana? Gimana kak? Aku di sini lagi mantau situasi, rada susah kalau sendirian ternyata, gimana jadinya kak?” “Kita lagi proses datang ke rumah sakit kok, Joe tadi baru ngasih info kalau dia udah dapat tandatangan dari petinggi jadi beberapa lagi siap-siap. Nanti Hiraka sama Joe yang ngawal kita buat ke sana, oh iya aku mau minta tolong ke kamu buat awasin di daerah ruangan Arya ya? Kamu bisa kan Al? Kakak punya firasat yang gak enak soal Arya sekarang.” “Aku usahain ya kak, lorong tempat kak Arya di rawat penuh sama penjagaan sekarang. Jadi gak bisa sembarang orang buat ke sana kak, kecuali Joe udah berhasil ngalihin pengawasan.” Suara ricuh kembali terdengar dari sebrang, “Ya udah ya udah, sekarang kamu hati-hati ya. Kita mau jemput Arya, kamu bisa ke lorong Arya dulu sebelum ketemu sama kak Fincent?” “Bisa kak,” aku mengangguk mantap, merapihkan tempat duduk dan menarik topi yang aku kenakan. Aku berjalan menuju awal lorong sembari menatap keamanan yang bergerak menjauh dari lorong tempat kak Arya di rawat. Senyum culas terpampang di wajahku sekarang, satu misi selesai! Sekarang daerah lorong kak Arya sudah mulai sepi dari bagian keamanan, sisa Hiraka yang berpura-pura menjadi tim keamanan yang mengawasi pergerakan perawat. “Kamu gak apa-apa kan Al?” tanya Hiraka saat aku sudah sampai di tempat rawat kak Fincent, semua CCTV sudah dimatikan secara bertahap, pertama dari lorong Timur dimana aku ngeliat kak Fincent dan terakhir dari lorong tempat kak Arya di rawat. Aku mengangguk, “Gak apa-apa, kalau keadaan di sini gimana? Ada yang curiga sama kalian?” “Untungnya gak kok, di sini kan ada kak Joe yang menjadi tim pengawas ceritanya. Tuh Lizy sama Arvian lagi dorong bangkar tempat kak Arya, sekarang kita udah aman. Kamu bisa lanjut nyari kak Fincent, semoga berhasil ya.” Hiraka menepuk pundakku, sebelum berjalan mendekat ke arah bangkar kak Arya, membantu Lizy dan Arvian yang berpura-pura menjadi perawat dan dokter. “Sekarang waktunya nyari kak Fincent!” Aku melihat ke kerumunan pasien yang membuat beberapa kegiatan terhenti di sana, aku memegang salah satu lengan perawat. “Ada apa ya mbak, kok di sebelah sana ricuh banget?” tanyaku ke salah satu perawat. “Itu mbak, ada pasien yang nyoba kabur, dia sekarang kan dalam pengawasan medis karena pulang dari negara lain. Udah ada dua dokter buat nyoba ngasih obat bius,” ucap perawat yang gak mengenali aku sama sekali karena panik. Sekarang dalam pikiran aku adalah kak Fincent, orang yang dimaksud sama perawat itu adalah kak Fincent. Aku harus bisa bergerak cepat, mataku menatap sekeliling, mencari celah untuk bisa berada di sekitar pasien itu. Sampai akhirnya mataku terfokus ke perawat laki-laki yang jauh dari orang lain, kayaknya bisa aku manfaatin untuk sekarang. “Mas permisi bisa tolong saya sekarang?” tanyaku yang mendekat ke perawat laki-laki, menaburkan obat bius di sapu tangan yang aku bawa, “di bahu saya kayak ada yang gerak nih.” “Ah yang mana mbak?” lenganku langsung menarik masker dan menutup mulutnya dengan sapu tangan yang aku bawa, beberapa kali perawat itu bergerak untuk melawan tapi bisa aku cegah dengan menyuntikan obat lumpuh sendi. “Huft.. jantung aku aman kan?” ucapku setelah menarik perawat itu ke gudang kosong, melepaskan semua pakaiannya untuk aku pakai, dan terakhir mengambil topi perawat. “Maaf ya mas, aku pinjem dulu pakaian perawat mas ya.,” aku menyelimutinya dengan kain panjang. Rambut panjang yang terurai digulung untuk aku tutupi dengan topi perawat, lumayan gak terlalu kebesaran pakaian perawat laki-laki itu, aku mematut tampilanku sebelum akhirnya keluar dari gedung. Mencoba mendekati kerumunan orang-orang yang bukannya semakin sedikit malah menjadi lebih banyak dari sebelumnya. “Permisi permisi, saya perawat yang bakal nanganin pasiennya,” ucapku mencoba untuk bisa masuk di tengah kerumunan manusia. Mataku menatap nanar pasien yang ada di depanku, gak salah lagi itu kak Fincent! Meskipun perawakannya banyak berubah, tapi aku masih ngenalin tanda di lengan kanannya. Sebenernya apa yang terjadi sama kak Fincent? Kenapa kondisinya gak berbeda dari kak Arya? Salah satu dokter mendekat ke arahku, “Kamu kemana aja? Pasiennya dari tadi udah ngamuk, gak liat apa sekarang kerumunan orang-orang semakin banyak!” “Ma-maaf dok, tadi susah untuk masuk ke tengah kerumunan.” “Alasan! Obat yang saya tadi minta udah kamu bawa?” tanya dokter lain yang membuat aku panik. “Obat bius yang saya minta udah kamu bawa?” tanya dokter itu sekali lagi, membuat aku mengangguk. Lenganku gemeteran menyerahkan satu dosis obat bius, “Ah iya dokter, ini. Em.. biar saya yang nyuntiknya gimana dok, lengan dokter kan udah megang pasien.” “Bener banget, cepet segera! Kita gak punya waktu lagi.” Langkahku semakin berat mendekati kak Fincent yang makin tidak terkontrol, wajahnya semakin tirus dengan kantung mata yang menghitam. Perasaanku tersayat melihat kondisinya sekarang gak baik-baik aja, sangat kacau! “Kak Fincent, ini Alya,” ucapku dengan mulut bergemetar, “Alya bakal bawa kakak pulang dari sini, kakak tenang aja ya. Kakak gak boleh panik, dengerin arahan Alya.” Kak Fincent yang semula bergerak tidak terarah sekarang langsung terdiam, matanya menatap cemas dan menyesal ke arahku sebelum kembali membuang muka. Lenganku bergerak untuk menyuntikan obat bius di lengan kiri kak Fincent, mataku gak lepas memperhatikan raut wajahnya. “Nah sekarang kita bawa pasien ke ruangan pemeriksaan, kalian para suster bawa pasien. Kami bakal meracik obat untuk luka-lukanya dulu,” ucap salah satu dokter sebelum melerai masa untuk bubar. ‘Kalau kayak gini, gimana cara aku bawa kak Fincent keluar dari rumah sakit?’ “Kasian banget ya dokter Fincent, dibawa paksa ke negara Utara, sekarang pulang kondisi gak baik-baik aja. Dikira tadi tuh udah gila, soalnya ngamuk-ngamuk terus.” Lenganku mengepal, menahan kesal ke arah 3 perawat perempuan yang merapihkan tempat tidur kak Fincent. ‘Bisa-bisanya mereka bilang kak Fincent gila! Dulu aja ngemis minta perhatian kak Fincent!’ “Kamu kenapa gak lepas maskernya? Di sini kita bebas lepas masker kali,” perawat yang berada di seberang sekarang memperhatikan gerak-gerik aku. “Ah itu, alergi aku sekarang lagi kambuh makanya harus pakai masker dulu.” “Ih kok bisa ya, tapi emang aneh sih sekarang sekarang tuh. Banyak banget pasien yang harus dirawat karena alergi, kamu hati-hati loh. Obat anti alerginya dimakan, jangan lupa buat jaga kesehatan.” “Ini seriusan kita mau nungguin pasien setengah waras ini?” Perawat yang paling kecil langsung mempoutkan bibirnya, “Duh males banget kalau harus nungguin, gimana kalau misalnya pasiennya bangun dan ngamuk-ngamuk lagi sebelum dokter dateng.” “Iya ya, gimana kalau bangung terus ngamuk, mana aku laper lagi. Mau ke kantin aja kita? Terus kunci deh ruangannya gimana?” “Eh gak usah, aku di sini aja. Kalau ada apa-apa terus kena marah dari dokter gimana? Mending aku yang jaga, kalian ke kantin aja, nanti pas pulangnya nitip roti aja oke?” “Sendirian gitu? Seriusan?” Aku mengangguk mantap, “Iya serius, kalian ke kantin aja. Kalau ada apa-apa aku kabarin.” “Ya udah, kita tinggal ya. Kamu hati-hati di sini.” Aku mendekati ranjang kak Fincent, mengusap luka-luka yang ada di wajahnya, “Kak Fincent mereka kurang ajar banget mau memperlakukan kakak gak bener! Tenang kak, sebentar lagi kakak bakalan pulang. Halo Joe, bawa aku sama kak Fincent keluar dari ruangan khusus ini sekarang?”
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN