“Alya aku udah di depan ruangan, kamu bisa bawa ranjang kak Fincent gak? Kalau bisa tutupin wajahnya dan semua alat yang sekarang di pasang di tubuhnya,” ucap Joe memberikan arahan.
“Tapi Joe kalau alat-alatnya dilepas, itu bisa bikin nyawa kak Fincent dalam bahaya! Ada ide lain atau engga untuk ini? Aku gak bisa asal lepas alatnya kak Fincent!”
“Al denger suara aku gak?” tanya Lizy dengan suara yang mengecil, “Al denger gak? Aku ada ide.”
“Iya aku denger suara kamu, gimana jadinya Zy? Apa ide kamu sekarang.”
Beberapa saat suara hening sebelum akhirnya suara ricuh terdengar, “Bentar-bentar, kondisi kak Arya lagi di posisi merah, bentar ya.. nanti aku sambungin lagi.”
Jantungku langsung berdegup kencang, kalau kak Arya ada di posisi merah berarti ada reaksi obat yang memicu degup jantung kak Arya jadi lebih cepat. Cuman satu cara, penyuntikan tambahan obat untuk meminimalisir itu, bakalan jauh lebih berbahaya kalau tubuhnya gak siap.
“Lizy ambil obat yang ada di ruangan Selatan, di ruangan yang kita buat khusus untuk persediaan obat-obatan, inget kan? Nanti di sana ada laci berwarna merah, di sana ada obat yang dikasih label A. Kemungkinan besar kak Arya ada di posisi merah, jantungnya belum siap dengan penerimaan obat dan itu yang buat kinerja jantungnya jadi lebih cepat.” Aku menekan alat di telingaku untuk memberikan informasi dan menyalakan mode aktif suara, lenganku ikut berkeringat, panik!
“Alya kamu masih aman atau engga?” tanya Quera sekarang, suaranya beberapa kali bergetar.
Aku menggelengkan kepala, “Engga Que, aku masih bingung gimana bawa kak Fincent keluar dari sini. Sebentar, kamu aktifin mode kamera dari arah sana. Aku kasih liat situasi di sini sekarang, biar kalian bisa ngasih arahan buat aku kayak gimana.”
“Sebentar sebentar, Arvian gak ada sekarang Al, dia yang tau sama alat ini soalnya. Aku cari dulu dia.”
“Al aku udah nemu obatnya, dosisnya berapa?” tanya Lizy dengan suara terengah-engah.
“Ambil dosis satu dulu, pasang alat pendeteksi jantung di tubuh kak Arya, cek tekanan darahnya juga, sama satu lagi pasang alat infus di tangan kanan, jangan tangan kiri soalnya ada luka di sana.”
“Dosis satu udah di kasih Al,” suara kak Anya yang sekarang terdengar, “grafiknya detak jantungnya masih dalam ambang normal tapi beberapa kali masih terdeteksi lebih cepat sekarang.”
“Tunggu reaksi obatnya buat 1 jam ke depan, kalau masih cepat tambah dosis lagi, terus cek lagi tekanan darahnya takutnya terlalu tinggi, soalnya kalau tekanan darahnya tinggi bakal ada reaksi baru sama obat itu. Oh iya kak Anya, bisa tolong cek monitor jantungnya, liat suhunya juga.”
“Sebentar aku ubah tampilan monitornya, kamu gimana sekarang Al?”
Aku menghela nafas panjang, “Masih sama kak Anya, aku nunggu Arvian dulu sekarang---“
“Al kameranya udah nyala, sekarang dengerin intruksi aku. Di tas kamu ada alat yang sama kayak alat pendeteksi jantung dan infus, tapi itu cuman bertahan dalam 1 jam setengah.”
Aku langsung membuka tas yang aku bawa, mengobrak-abrik isinya, mencari alat yang dimaksud sama Lizy tadi. Senyum bahagia langsung terpampang di wajahku, tanpa membuang-buang waktu aku langsung mencabut semua alat di tubuh kak Fincent dan menggantinya dengan alat yang aku bawa, mengatur dosis untuk obat yang aku bawa dan mengatur tekanan dari infus.
“Kamu mau ngapain hei?” tanya salah satu suster yang sudah masuk ke dalam ruangan,
Dia menatap bingung dengan apa yang aku perbuat sekarang, aku gelagapan tapi langsung bisa aku kendalikan langsung. Aku menarik ranjang kak Fincent, bersiap untuk keluar.
“Pemerintah pengen ngubah tempat perawatan dokter Fincent, itu di depan udah ada tim keamanan yang bakalan bantu aku. Mau bantu aku buat dorong? Ini lumayan berat soalnya.”
“Terus itu alat apa? Kok baru aku liat ya? Aneh banget bentuknya.”
Nafasku jadi sesak sekarang dan otakku buntu untuk dipakai berfikir, “Alya bilang aja kalau itu alat yang baru dibuat dan bakalan digunakan untuk keadaan darurat, contohnya kayak sekarang.”
“Em.. jadi gini, alat yang dipasang itu merupakan alat khusus dan masih baru, jadi ini pertama kali dipakai karena bakalan ada perpindahan tempat kan dan kita gak bisa bawa semua alat yang tadi terpasang di tubuh dokter Fincent. Makanya ada alat ini dan kedepannya sih sedenger aku bakalan dibuat lebih banyak, soalnya ini bagus banget kalau dalam keadaan darurat.”
“Oalah kayak gitu ternyata, ya udah ayo kita dorong. Bagian keamanannya ada dimana sekarang?”
“Di depan, tadi mereka sempet masuk buat ngasih tau aku. Ada beberapa hal yang harus diteliti katanya dari luka dokter Fincent,” ucapku.
“Kamu tau gak sih, kalau dokter Fincent katanya menjadi orang buangan karena mau bantu tim pemberontak gitu, makanya ditugasin ke negara Utara yang ada masalah sama pertempuran sedarah. Kasian tau, mana adiknya itu sering banget datang ke rumah sakit nanyain kakaknya, eh tau-tau kakaknya itu dibawa pergi ke negara Utara terus pulang-pulang kondisinya gak baik-baik aja,” ucap suster yang membantu aku mendorong ranjang kak Fincent.
Lenganku mengepal memegang ranjang kak Fincent, “Bisa kayak gitu ya ternyata, oh iya itu dia tim keamanan yang tadi datang, terimakasih udah bantu dorongin ini.”
Dari awal dia berbicara mataku melihat kondisi sekeliling, udah aman. Aku membuka masker yang aku kenakan dan tersenyum culas ke arah dia, wajahnya langsung panik, lengannya terlepas memegang ranjang kak Fincent. Tanpa basa-basi dan wajah penuh emosi, aku menyuntikan obat bius dan obat hilang ingatan yang aku racik.
“Kamu!” tangannya menggepal dengan mata yang menatap tajam ke arahku, sebelum akhirnya ia kehilangan kesadaran dengan tubuh yang terhuyung ke depan.
“Alya! Itu berbahaya!” kak Joe datang dengan muka panik, “kalau ada yang liat gimana?”
“Aman kan tempatnya? Kalau ada Joe, aku yakin tempat ini udah disterilkan dari orang-orang.”
“Kamu kenapa Al sampai nyuntik perawat ini?” tanya Hiraka yang mencoba gak panik, “tumben banget kamu sampai lepas kendali kayak gitu, dia buat masalah ke kamu?”
Wajahku langsung berubah datar, “Dia udah ngehina kak Fincent dari awal, dan aku mau ngelempiasin amarah aku sama pemerintah, daripada aku lukain orang lain, mending ke perempuan itu. Sekarang kalian bawa kak Fincent ke mobil, aku mau bawa orang ini dulu ke ruang istirahat perawat di pojok kanan sana. Gak apa-apa kan kalian dorong atau mau nunggu aku? Oh iya, tadi aman kan?”
“Kita nunggu aja, takutnya ada apa-apa sama kamu dan dari tadi lorong ini udah aman. Jadi gak boleh sembarang orang masuk dan kita udah nutup akses terawang jadi dari lorong lain gak bisa liat apa yang terjadi di lorog ini, CCTV sepanjang lorong udah Joe matiin dengan 1001 alasan Joe.”
“Ya udah bentar dulu, kalian tutupin wajah kak Fincent sama kain ini aja.”
Joe memegang lenganku, wajahnya masih sepanik awal, aku melepas pegangan lengan Joe. Memberikan senyuman untuk menenangkannya, aku baik-baik aja sekarang.
“Gak apa-apa, ini bentar doang kok.”
Aku menginjakkan kaki di ruang bawah tanah.
“Alya? Kamu beneran gak apa-apa?” tanya Quera saat aku sudah memilih merehatkan tubuh di sofa ruangan khusus istirahat, terasa lelah dengan apa yang udah aku lakuin dari tadi.
“Emang aku kenapa Que? Aku gak apa-apa loh,” jawabku dengan mata yang terpejam.
“Kamu gak bisa boong sama aku Al, kalau ke yang lain kamu bisa nipu sama wajah kamu, tapi kalau ke aku kamu gak bisa Al. Aku denger dan aku liat apa yang terjadi tadi di rumah sakit, kamu sakit hati itu wajar tapi jangan asal ngelakuin sesuatu apalagi kamu gak mikirin ke depannya gimana.”
Aku membuka mataku, yang pertama kali aku lihat adalah wajah Quera yang khawatir, lengannya bertengger di bahuku. Aku menjauhkan lengan Quera, tersenyum simpul.
“Aku ngelakuin itu karena aku udah mikirin apa yang bakalan terjadi Que, tadi aku liat kondisi lorong aman dan aku yakin pasti alat anti terawang udah diaktifin sama Joe. Sama satu lagi dua orang yang tadi aku bius udah aku kasih obat hilang ingatan untuk 1 sampai 2 jam yang lalu, jadi dia gak bakalan inget sama apa yang udah terjadi Quera, mungkin cuman ngerasa pegel-pegel doang beresnya.”
“Tapi jangan sampai kelepasan kayak tadi ya? Jangan bikin semua orang yang tadi liat kamu di layar monitor jadi panik gak jelas di ruangan, untungnya jauh dari ruangan kak Arya,” jawab Quera.
Aku tersenyum simpul lagi, “Oh iya kak Arya gimana sekarang kondisinya? Aman atau masih di posisi merah lagi? Aku belom bisa liat langsung keadaannya sekarang.”
“Aman kok, tadi sempet ada reaksi baru tapi bisa kita atasin berkat arahan kamu tadi sama bantuan dari Zack. Aku baru tau loh kalau Zack itu 11 12 kayak kamu, maksudnya bukan faham sama satu hal doang di penelitian, kayak ya udah aku faham di dunia perakitan alat tapi sampai faham ke obat-obatan yang bahkan gak kamu atau Zack racik langsung,” puji Qeura dengan senyuman bangga.
“Gimana ya, aku sama Zack bisa nyambung karena pembahasan kita itu bisa sama. Aku sama dia itu punya beberapa tujuan hidup yang sama, mungkin karena aku sama Zack berasal dari negara yang sama meskipun dibesarin di negara yang beda,” aku mengangkat kedua bahuku acuh.
Kak Anya dan Lizy berjalan mendekat ke arahku dengan lengan mereka yang membawa makanan dan minuman panas yang masih mengepulkan asapnya.
“Nih minuman sama makanan buat orang yang udah bikin satu ruangan panik sama kelakuannya,” ucap Lizy menyerahkan makanan yang dia bawa, “jantung aku hampir copot ngeliat kelakuan kamu tau, untung aja semua baik-baik aja. Emang paling bisa bikin semua senam jantung orang-orang.”
“Nih minuman coklat panasnya, itu dibuat khusus sama Zack katanya minuman kayak gitu bisa bikin kamu gak sepanik awal, jadi aku percaya aja.”
“Makasih kak Anya, Lizy. Maaf ya udah bikin kalian panik, cuman mungkin tadi aku lepas kendali aja.”
“Lepas kendalinya bikin serem, tapi gak apa-apa sih soalnya kamu keliatan keren!”