AJ#55 Dibalik tragedi kak Fincent

1462 Kata
Aku menatap tubuh ringkih kak Fincent yang terbaring lemah di kasur kamar tamu, aku gak berani ngambil resiko besar kalau sampai membawa ke ruangan perawatan di ruangan bawah. Aku beberapa kali meringis saat melihat luka-luka yang cukup serius ada di tubuhnya, jauh berbeda kondisinya dengan terakhir kali ketemu sama aku. “Semuanya bakalan baik-baik aja,” ucap Joe yang baru datang ke kamar, lengannya merangkul bahuku “Baik-baik aja darimana Joe? Sekarang kak Fincent dapat luka yang separah ini, apa ini baik-baik aja?” “Pasti ada alasan kenapa kak Fincent bisa sampai dapat luka separah ini, lebih baik kamu liat kondisi tubuh kamu sendiri Alya. Kamu udah keliatan pucet, dari kemarin kamu mikirin semua rencana ini, bahkan sampai tengah malam, disaat yang lain tidur kamu masih mikirin gimana semua bisa berhasil, dan kamu berhasil Alya, semua rencana yang kamu susun berhasil.” Aku melirih ke arah Joe, “Gak usah memuji aku Joe. Sekarang lebih baik kita fikirin ke depannya kita harus apa, kalau pemerintah sampai tau kita ngambil dua pasien mereka. Bisa jadi kita dalam masalah besar Joe, kenapa kamu malah santai-santai aja sih?” “Ya karena emang buat apa aku panik Alya? Pemerintah gak bakalan tau karena bukan ini tujuan utama mereka sekarang, ada hal yang lebih besar yang sekarang lagi mereka persiapin Alya dan aku gak tau apa yang mereka rencanain. Cuman satu hal yang aku khawatirkan Al, pemberontak yang kita gak tau siapa dalang dibalik itu semua, sebelum dalang itu ketangkap itu jadi PR besar buat kita.” Aku menghela nafas panjang, rasanya isi otak kepala aku mau pecah dengan ucapan Joe tadi. Bukannya berkurang beban fikiran aku hari ini, tapi sekarang malah semakin bertambah banyak. Banyak nyawa yang harus aku selamatin sekarang, dan aku gak tau gimana caranya. “Alya kamu istirahat dulu deh, itu kantong mata udah item. Dua hari lebih kamu gak istirahat dengan bener kan? Mau aku siapin air anget dulu buat kamu mandi sebelum tidur atau apa? Coklat panas? Air s**u? Atau makanan buat isi perut kamu sekarang?” Aku mencubit pipi Quera dengan gemas, “Bawel banget sih temen aku ini, aku gak lapar Que, tadi kan udah makan di ruang istirahat. Paling aku mau mandi, kamu bisa tolong siapin air anget? Pemanas air di kamar mandi aku rusak dan belum aku panggil tukang buat benerin.” “Kadang aku ngerasa aneh sama kamu, ngerakit alat-alat hebat aja bisa, tapi masalah yang kayak gini, butuh bantuan orang lain, hadeh Alya Alya.” Aku mengedikan bahu, “Aku tetep perempuan yang males ngurusin alat kayak gitu, jadi tolong ya.” “Ya udah, Joe mau nitip sesuatu juga? Kalau mau makan, ada di ruang istirahat ya. Lagi pada makan bersama di bawah sekalian bikin plan untuk ke depannya gimana, cuman kita ada masalah untuk beberapa manipulasi penjagaan di negara kita yang sekarang lagi diperketat,” keluah Quera. “Udah masalah itu biar aku yang urus, sekarang kalian bikin rencana gimana caranya bawa orang-orang yang gak tau apa-apa ke desa Awan, oh iya sama ini. Perakitan benteng sama ruang bawah tanah aman kan?” tanya Joe membuat aku langsung teringat sama desa Awan. “Ruang bawah tanah udah bisa layak di huni sama manusia, untuk benteng itu masih ada penyesuaian untuk tuas dan lain sebagainya. Paling Zack sama Samuel yang bakal ngatasin, mereka lebih faham,” jelasku yang diangguki oleh Joe. “Kamu mau di sini dulu Al?” aku mengangguk tanpa mengalihkan pandangan aku dari kak Fincent, “ya udah aku tinggal ya, jangan lupa buat istirahat dan jangan banyak fikiran, nanti kamu tambah kurus.” “Nanti aku panggil kamu kalau airnya udah siap ya Al,” ucap Quera yang lagi-lagi aku angguki. Sekarang suasana di kamar tamu langsung hening setelah Joe dan Quera pergi, cuman bunyi monitor yang terpasang di tubuh Joe yang terdengar. Lenganku menggenggam jari jemarin kak Fincent, biasanya kak Fincent yang ada di posisi aku sekarang, biasanya aku yang bikin dia khawatir dengan kondisi tubuh aku yang sering melemah karena kecapean. “Kakak mau sampai kapan tidur hm?” lengan kiriku mengusap air mata di pipi, “gak mau liat adiknya ya sekarang? Kakak udah cape ya ngadepin sikap bebal aku? Atau kakak sebenernya gak suka liat aku kayak gini? Jadi kayak gimana kak? Jawab aku.” “Kakak masih mau gak dengerin cerita aku?” tanyaku yang hanya dijawab suara monitor. Aku berusaha tegar dengan bibir yang bergemetar, “Aku sekarang udah gak sepanik dulu loh kak, aku sekarang bisa ngelawan mereka yang nindas aku atau pun kakak. Meskipun bukan pembalasan yang setimpal, setidaknya aku nurut sama kata-kata kakak kalau aku harus berani buat bela diri aku.” “Kakak tau gak, waktu aku tau kakak sebenernya dalang yang ngerusak impian aku. Di situ aku ngerasa semua orang lagi bohongin aku, mana mungkin kak Fincent yang selama ini ngejaga aku berani ngelakuin hal yang membahayakan nyawa aku kan? Aku yakin mereka boong, tapi semakin aku nolak semakin banyak bukti yang datang ke aku kalau kakak yang ngelakuin itu ke aku.” Aku menarik nafas panjang, perasaan sesak yang dari awal gak berani aku keluarkan kalau kak Fincent sadar. Mana berani aku ngeluh hal yang sesensitif ini ke dia? Tapi karena kak Fincent gak sadar, seenggaknya itu memunculkan keberanian buat aku bicara kayak gitu. “Kadang aku sampai sekarang masih bingung, alasan apa yang bikin kakak ngelakuin itu ke aku? Salah aku apa? Apa karena aku bukan adik kandung kakak jadi kakak berani ngelakuin itu ke aku? Atau karena aku selama ini nyusahin, kayak ucapan kakak waktu itu?” Aku memegang dadaku yang terasa nyeri, bukan karena sakit jantung tapi karena terlalu sesak untuk berbicara fakta yang menurut aku terlalu menyakitkan. Orang yang aku percaya yang berani buat ngelakuin hal kejam buat aku, dan sampai sekarang aku gak bisa terima. “Alya!! Ini in-fo ter-pen-ting!” Arvi datang dengan peluh yang mengucur di tubuhnya, “sumpah Alya kalau kamu tau info ini, kayaknya kamu bakalan---“ “Arvi kebiasaan banget kalau ngomong selalu belibet kemana-mana, jadi apa infonya?” “Al, kamu gak bakalan percaya alasan kak Fincent sampai dibawa ke negara Utara!” sekarang kak Anya yang muncul dengan raut wajah yang ketakutan? Atau bingung? “Alasan kak Fincent? Bukannya emang di sana lagi dibutuhin tenaga medis ya? Bentar deh, mending kita pindah keluar, gak enak kak Fincent lagi istirahat.” Kak Anya dan Arvu mengangguk, “Ya udah ayo, penting banget soalnya.” “Jadi gimana?” aku menunggu mereka berbicara, lenganku terlipat di depan d**a. “Alasan lain kak Fincent di bawa ke negara Utara itu karena kak Fincent ngelanggar beberaoa peraturan yang ngekang dia, salah satunya adalah ngawasin kamu dan buat beberapa percobaan kamu gak berhasil sampai nyelakain kamu, itu tugas utamanya,” jelas Arvi dengan cepat. “Nah Fincent nolak itu Al, dia maunya ngelindungin kamu. Gimana pun kamu itu adiknya, karena dia nentang dan malah nyelamatin kamu dari kecelakaan beruntun waktu beberapa bulan yang lalu.” Aku masih belom bisa nangkap kesimpulannya, “Jadi hubungan sama kak Fincent dibawa ke negara utara itu apa?” “Ya karena nyelamatin kamu dan berontak dari pemerintah, gak setuju sama beberapa peraturan dan malah nyelamatin satu desa di negara Timur, itu bikin pemerintah murka dan langsung nyeret kak Fincent buat datang ke negera Utara. Sedangkan kita tau, kondisi negara Utara lagi gak baik-baik aja Al, di sana lagi ada bahaya karena pertumpahan darah.” Aku menutup mulu, merankai semua jawaban yang terangkai di otak aku sekaarang, jadi karena nyoba nyelamatin aku, kak Fincent sampai rela terluka kayak gini? Aku penyebabnya. “Alya? Kamu gak apa-apa kan?” Arvi menepuk bahuku. Aku menggelengkan kepala, “Kak Anya jadi aku penyebab kak Fincent terluka kayak gini? Aku penyebabnya kak,” mulutku terkatup langsung. “Bukan kamu Al, itu udah jadi pilihan kak Fincent sendiri. Kalau dia mau, dia gak bakal milih itu dan bakal hidup aman tentram aja, gak usah ngerasa bersalah Al.” “Tapi secara gak langsung, aku ini penyebab kak Fincent kayak gini Arvi! Aku jadi alasan yang buat kak Fincent kayak gini! Sedangkan aku beberapa kali nyalahin kak Fincent yang ngorbanin aku! Kamu faham gak sih Ar! Kamu faham gak kalau aku ini gak tau terimakasih sama kak Fincent!” “Alya!” kak Anya memegang bahuku, “bukan salah kamu oke? Jangan nyalahin diri kamu sendiri.” “Sekarang kamu udah tau kan? Aku yakin kamu bakal nyalahin diri kamu sendiri, makanya tadi aku gak yakin buat bilang ini ke kamu, tapi kamu perlu tau tentang ini biar gak benci sama kak Fincent.” Aku mengangguk memahami pilihan mereka, “Makasih ya sama maaf aku gak bisa ngontrol emosi aku sekarang, terlalu banyak fikiran aku sekarang, makasih kalian mau ngasih tau aku tentang ini.” “Ya.. sama-sama Alya!”
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN