Aku melepas handuk yang melilit di atas kepala, mengusap wajah dan beberapa kali menepuk pipi, berharap semua hal yang terjadi saat ini hanyalah mimpi dan ketika aku bangun aku ada di kasur dan menyambut hari-hariku seperti biasa. Sayangnya mau berapa kali aku menyangkal, aku tetap berada di kenyataan yang menyeramkan sekarang. Aku berfikir untuk merehatkan sejenak otak dan badanku, tapi baru juga memejamkan mata, pintu kamar udah diketuk dengan kencang.
“Alya!! Buka pintunya! Kamu mandi kok lama banget sampe dua jam lebih!”
Menghela nafas untuk kesekian harinya hari ini, “Bentar bentar, aku buka kuncinya.”
“Lama banget sih kamu buka pintunya Al!” gerutu Arvian, “ada kabar bahagia! Kak Fincent udah sadar dari biusannya, dari tadi dia nanyain kamu terus, sama ---“
“Kak Fincent udah bangun?” aku memegang bahu Arvian, menggeser tubuhnya dan berlari menuju kamar tamu yang hanya berjarak kurang dari 30 meter dari kamar tidur aku.
Aku membuka pintu kamar dengan kasar, pandanganku terpaku ke ranjang yang terdapat kak Fincent di sana. Dia terduduk dengan selang nafas yang masih menempel di hidungnya dan infus yang masih menancap di lengannya, tapi gak apa, ini udah menjadi kabar bahagia buat aku.
“Kak Fincent!” lirihku dengan mulut yang bergetar dan mata yang sudah merabun karena air mata.
“Sini,” ucap kak Fincent dengan lirih, lengannya menepuk sebelah kiri ranjang tidurnya.
“Kita semua pergi dulu ya, kalian berdua ngobrol-ngobrol dulu aja,” ucap Joe yang menepuk pundakku, berjalan keluar kamar disusul dengan yang lain.
Aku memegang lengan kanan kak Fincent dengan lembut, “Kakak gak tau apa segimana panik aku waktu tau kakak udah dalam kondisi kayak gini, aku ralat kalau aku udah panik banget setelah tau kabar kalau kakak dibawa ke negara Utara sama pemerintah! Kakak---“
“Aku kayak gini juga, kamu masih bawelin aku ya?” tukas kak Fincent dengan senyum kecil, senyum yang sekarang aku benci buat liatnya! Senyum yang bilang kalau dia gak apa-apa sedangkan kenyataannya dia ada apa-apa dengan tubuh yang penuh dengan luka.
“Aku bawel karena aku sayang sama khawatir sama kakak? Salah?”
“Bukannya kamu udah benci sama kakak karena ucapan kakak waktu di rumah oma? Maaf ya, kakak gak sanggup ternyata liat kamu nangis karena perlakuan kakak. Ngerasa banget kalau kakak ini gak ada gunanya buat kamu, malah bikin adik kesayangan kakak na—aw..”
Aku langsung panik saat kak Fincent memegang dadanya, lenganku langsung bergerak membuka kancing baju kak Fincent melihat seberapa banyak luka yang bersarang di tubuhnya.
“Kak..” aku cuman bisa mengucap lirih, “aku panggil Zack ya buat bersihin sama jait luka-luka di tubuh kakak, ini harus langsung ditanganin sebelum makin parah kak!”
Lenganku langsung ditahan sama kak Fincent, “Kakak gak mau diobatin sama orang lain, kakak maunya kamu yang ngobatin kakak. Kamu tau kan beberapa hal yang harus dilakuin.”
“Kak meskipun aku tau, aku gak bisa langsung ngelakuin itu di tubuh kakak! Aku bukan dokter yang bisa nanganin luka-luka yang sebanyak ini. Kakak ini dokter, harusnya---“
“Kamu yang obatin luka-luka kakak dengan arahan dari kakak oke? Kakak gak mau sampai dipegang sama orang lain, cuman keluarga kakak doang yang boleh, dan kamu itu keluarga kakak!”
Aku gak bisa berdebat sekarang, apalagi di tengah kondisi kak Fincent yang terluka cukup parah karena besetan benda tajam. Hal yang bisa aku lakuin sekarang cuman menganggukan kepala.
“Untung kakak sakit, kalau gak!” aku mendecih sebelum berjalan mengambil beberapa peralatan yang sengaja kak Fincent letakan buat berjaga-jaga kalau aku sampai terluka.
“Nah kayak gini dong, nurut sama ucapan kakaknya. Oke yang pertama kamu bersihin luka---“
“Kalau yang itu aku tau,” desisku dengan lengan mengambil kapas, meneteskan beberapa tetes alkohol sebelum mengusap ke bagian yang terluka, luka di bagian d**a cukup parah meskipun udah ada yang dijait tapi sekarang luka itu mulai terbuka lagi.
“Nah udah itu, aw.. Alya pelan-pelan ngolesinnya! Ini luka loh!” peringat kak Fincent yang aku abaikan, suruh siapa aku yang ngobatin disaat ada orang lain yang lebih berpengalaman ngelakuin ini.
“Udah aku bersihin luka-lukanya, sekarang apa?”
Aku melepas sarung tangan yang aku kenakan, mengambil tempat untuk merehatkan badan di sofa ruang tamu. Cuman 2 jam tapi rasanya kayak udah lebih dari itu waktu aku melakukan pengobatan di luka-lukanya kak Fincent, sedangkan pelakunya sekarang udah tertidur pulas setelah aku memberikan suntikan pereda nyeri yang terdapat obat bius.
“Cape banget kayaknya kamu,” koemntar Samuel yang mengambil tempat di hadapan aku.
“Lumayan cape juga ternyata, tapi gak apa-apa soalnya sekarang kak Fincent udah jauh lebih baik keadaannya meskipun belum sepenuhnya pulih. Oh iya gimana keadaan kak Arya? Kondisi udah stabil belum? Aku pengen liat kondisinya tapi dari aku pulang sampai sekarang, aku fokus sama kak Fincent.”
Samuel tertawa dengan ucapan aku, “Aku tau pasti itu cape banget, ya udah kamu istirahat dulu, tubuh kamu bukan robot yang bisa kamu paksain. Kalau kondisi Arya sih udah lebih baik, meskipun sampai sekarang belom sadar tapi dari detak jantung dan lain-lain udah lebih baik dari yang kemarin.”
Aku mengadah menatap langit-langit ruang tamu, “Sam kalau misalnya kita gak berhasil gimana? Sia-sia dong apa yang udah kita lakuin ini? Huft..”
“Kenapa jadi mikir ke sana sih Al? Nih ya, gimana pun nanti hasilnya, kita cuman bisa bersyukur aja, gak bisa kita paksain apa yang kita mau sama keadaan. Lagian juga, niat kita ini mulia terus lagi kita udah hebat bisa ada sampai di titik ini Al, jangan pesimis dong, aku yakin kita pasti bisa.”
“Kenapa kamu yakin kalau kita itu bisa? Aku aja pesimis apalagi di tengah kondisi kita sekarang.”
“Ya kan gak selamanya kita itu berhasil Alya, ada waktunya kita itu bakalan jatuh, gak selamanya ada di atas. Jadi nikmatin aja semua prosesnya, semua bakalan baik-baik aja.”
Aku hanya bisa mendesah pelan, rasanya aku sekarang gak bisa se-optimis kayak dulu, apalagi ngeliat sekarang anggotanya gak sebanyak dulu, mana mungkin bisa ngelakuin semua rencana yang dari dulu udah disusun serapih mungkin.
“Kenapa sekarang kamu gak yakin? Bukannya kamu biasanya paling percaya diri sama apa yang kita lakuin? Jangan karena ada satu atau dua masalah, akhirnya kamu malah gak yakin sama kemampuan kamu dan kemampuan temen-temen kamu sendiri, mereka itu hebat Alya.”
“Makasih ya dari dulu selalu ngedukung aku, ya meskipun gak bisa ilang rasa tengil kamu.”
“Hahaha itu jadi ciri khas Alya, biar gak tegang kayak kamu, sekarang kamu mau makan atau mau istirahat tidur nih? Mumpung ada waktu kan, kakak kamu udah tidur terus Arya juga udah stabil.”
“Kalau tidur, aku yang gak bakalan tenang Sam. Kak Fincent masih harus disuntik beberapa kali lagi sebelum akhirnya nanti dia bakalan minum obat langsung,” ucapku mengusap wajah, “jadi aku bisa buat tidur, gimana kalau kita masak makanan Sam? Kamu kan paling suka sama ayam kecap aku.”
“Pasti ada maunya ini sampe mau bikinin aku ayam kecap, kalau gak ada maunya, aneh banget. Aku aja harus sakit dulu baru kamu mau bikinin kalau gak, kamu baru mau buat kalau aku menang debat.”
Aku menggaruk tengkuk belakangku, “Ya gimana ya, males banget Sam kalau aku harus masak. Mendingan beli dan tinggal kasih uang, jadi aku punya waktu lebih banyak sama gak cape.”
“Nih ya Al, aku udah nyoba orang lain buat masakin hal yang sama kayak kamu dan berakhir aku pengen muntah, gak seenak buatan kamu dan gak sepas bumbunya kayak kamu,” ucap Samuel dengan ekspresinya yang membuat aku mau gak mau tertawa.
“Bisa sampai kayak gitu, udah sesuai sama resep yang aku kasih gak? Jangan-jangan ada bumbu yang kelewat sampai gak enak kayak gitu,” ujarku setelah meredakan tawa.
Samuel mencondongkan tubuhnya, “Udah sesuai semuanya Alya, bumbu bahkan sampai waktu masaknya udah sesuai kayak kamu Al, suhu kompor juga udah, tapi mungkin itu bukan kamu makanya gak bisa seenak buatan kamu.”
“Sebentar deh, ini kamu jadinya ngegombal ke aku gitu?” tanyaku dengan senyum, “belajar darimana sampai kamu berani ngegombal gitu? Oh iya Sam, kalau diinget-inget, dulu aku sampai nolak ke profesor Hangga buat jadi pengawas buat kamu, karena kamu orangnya tengil banget, kamu selalu ngelakuin sesuatu itu seenak kamu, gak sesuai sama aturan yang ada.”
“Karena negara ini terlalu monoton banget Alya, apa-apa harus sesuai, gak seru!”
“Ya kan ada peraturan itu biar kita lebih aman, biar gak---“
“Terlalu monoton Alya, kamu gak bebas berekspresi dan ngelakuin hal yang kamu mau pada ujungnya. Mending kamu bebas, sesekali ngelanggar peraturan kayak keluar negara Timur dan liat seberapa indahnya negara di luar negara Timur ini. Kamu bisa jatuh cinta sejatuh cintanya sampai kamu pengen kembali dan kembali lagi ke negara itu, kayak kemarin kita ke pantai sama tebing yang indah banget.”
Kadang ucapan Samuel itu ada benernya sih, selama aku di negara Timur, aku gak bisa ngelauarin semua ekspresi aku, semua eksperimen cuman bisa aku lakuin secara sembunyi-sembunyi dan gak bisa aku banggain ke orang lain kecuali mereka yang tau dan ikut langsung di eksperimen aku.
“Hayo sekarang mikirin apa? Tertarik gak tuh sama apa yang aku ucapin?”
“Apaan sih, siapa yang tertarik sama ucapan kamu!”