“Nah si Alya udah datang juga, oh iya gimana nih buat lanjutan perakitan alatnya? Semua kan udah dibawa ke desa Awan jadi di sini tinggal beberapa obat-obatan aja dan alat medis,” Quera menepuk bahu sebelah kanan saat aku sampai.
“Mau gak mau kita harus ke desa Awan buat perakitan akhir sebelum ada salah satu diantara kita yang berangkat ke dimensi lain, apalagi sekarang waktu kita gak banyak banget,” sambut Lizy dengan rinci.
Kak Anya maju beberapa langkah, “Tapi kita punya beberapa masalah baru sekarang, yang pertama adalah kita belum ngarahin orang-orang yang gak terlibat dalam pemberontakan sama pemerintah untuk mengungsi ke desa Awan, lebih tepatnya kota di bawah tanah. Kedua adalah kita masih harus ngerawat dua orang yang butuh penanganan khusus, gak bisa kita tinggal gitu aja. Terakhir adalah beberapa obat-obatan udah mulai berkurang, sedangkan kita butuh untuk mengumpulkan obat-obatan dan juga alat medis buat di kota bawah tanah.”
“Aku tambahin kak Anya, kita juga kekurangan beberapa energi untuk pemanfaatan di desa Awan, jadi pergerakan kita bakalan sia-sia kalau misalnya sumber energi yang menunjang semuanya gak ada.”
Untuk kesekian kali aku menghela nafas panjang, melihat ke sekeliling, memperhatikan raut cemas, khawatir, panik, dan putus asa di wajah mereka, apalagi ngedengerin penuturan kak Anya sama Arvian yang ngasih liat seberapa banyak permasalahan yang harus kita hadapi saat ini. Mungkin mulut mereka bisa bilang kalau mereka siap ngehadapin semuanya, tapi raut dan tatapan mereka gak bisa bohong kalau mereka sekarang panik.
“Satu permasalahan kayaknya bisa kita atasin dulu, aku pernah cerita tentang gua yang aku temui di desa Awan bukan? Gua keramat yang bisa mematikan, beberapa hari yang lalu Samuel sama Zack ke sana dan ngeliat apa penyebab itu semua dan mereka bilang kalau kita bisa menghidupi diri kita karena di dalam gua itu ada sumber energi yang cukup besar dan gak bakalan abis,” jelasku dengan senyum yang terpaksa, lengan Arvian terangkat setelah ucapanku selesai.
“Apa yang bikin kamu yakin kalau itu gak bakalan abis? Sebesar apapun sumber energi, mereka bisa abis kalau kita kuras terus. Jadi menurut aku, gak mungkin kita cuman ngandelin dari satu sumber energi, kita perlu persiapan energi yang lebih banyak dan lebih besar lagi!" Suara Arvian menggebu-gebu dengan lengan yang mengepal ke depan.
“Kalau sumber dari nuklir gimana? Sama satu lagi, dari hasil penelitian beberapa tahun lalu, aku pernah baca kalau kita bisa manfaatin beberapa sumber energi dari dalam bumi, ada banyak hal yang bisa kita manfaatin dari dalam bumi ini salah satunya energinya.”
“Nuklir berbahaya gak sih? Apalagi kalau kita salah melakukan penanganan, mereka bukannya malah bantu untuk kita malah jadi musibah yang ngehantui kita, gitu Zifra jadi belum tentu kita bisa manfaatin sekarang-sekarang ini apalagi situasinya darurat,” jawab Samuel dengan suara yang pelan namun tegas, tetap memberikan kesan berwibawa yang selama ini melekat.
Lizy tiba-tiba mendesah panjang, “Kalia pernah mikir gak, kalau misal aja para peneliti muda yang dulu bantu kita nyusun satu persatu penelitian ini gak milih buat mundur dan ngorbanin nyawa mereka. Gak mungkin kita sampai kelimpungan kayak gini, apalagi beberapa dari mereka terlihat punya potensi besar dalam penyusunan strategi ataupun dalam perakitan alat.”
“Gak usah menyesali semuanya Zy, sebenernya banyak yang mau bantu kita tapi mereka gak bisa lakuin secara terang-terangan saat ini. Terutama temen-temen kak Anya, mereka cuman bisa bantu dari belakang karena nama mereka sekarang berada dalam pengawasan ketat pemerintah yang tentu aja itu bakalan berbahaya buat semua hasil penelitian kita,” jawab Zifra dengan senyum miring dan kepala yang menoleh ke arah kak Anya yang sama-sama saling melirik.
“Emangnya temen-temennya kak Anya mau bantu kita? Gak usah halu deh kamu Zif!”
Zifra menggelengkan kepala dengan cepat, “Gak ngehalu Quera terhormat, tanya aja sama kak Anya. Mereka punya alasan kuat kenapa gak bisa bantu kita secara terang-terangan, apalagi setelah ada pengumuman kalau orang yang berniat buat memberontak harus ngorbanin nyawanya.”
“Betul banget kata Zifra, jadi temen-temen aku juga sebelumnya ada penelitian yang sama kayak kalian sekarang cuman harus terhenti karena ada satu dua hal yang gak bisa kita semua perbaiki,” ucapan kak Anya sama sekali gak menjawab rasa penasaran aku, “kalau kalian bingung kenapa Zifra sampai bisa tau bahkan cukup detail dengan apa yang terjadi. Soalnya dia salah satu tangan kanan temen aku, dan aku kenal jelas siapa temennya itu.”
“Baru aja mau nanya itu,” gumam Hiraka yang berada di sebelahku, “jadi sekarang gimana masalah pergerakan kita ini? Diem aja dan ngerakit apa yang ada dulu atau langsung kita gerak aja sembari kita nyusun rencana apa yang harus kita buat untuk ke depanya itu.”
“Aku suka sama ide Hiraka, dan aku pilih pilhan kedua karena itu yang bisa kita lakuin sekarang. Apalagi dalam pencarian sumber energi yang bener-bener kita butuhin sekarang ini, untuk kota bawah tanah dan alat-alat kita yang emang perlu sama sumber energi itu,” cetus Lizy dengan tatapan serius, menunggu jawaban dari yang lainnya.
Aku mengangguk setuju, itu satu-satunya cara yang bisa dilakuin di tengah kondisi ancur saat ini. Kak Anya ikut mengangguk setelah beberapa saat terdiam, lalu diikuti yang lain yang ikut setuju dengan keputusan yang diambil Lizy sekarang.
“Cara kita buat narik orang-orang ke desa Awan gimana? Penjagaan sekarang beneran ketat banget, bukan cuman negara Timur tapi hampir semua negara,” Quera mengangkat dagunya ke atas beberapa kali dengan tatapan bingung seperti anak kecil.
Zack langsung menepuk dadanya dengan bangga, “Udah yang kayak gitu serahin aja ke aku sama Samuel, kita udah biasa keluar dan masuk ke negara-negara lain.”
“Nah bener banget, aku sama Zack udah biasa hiling mudik keluar masuk negara, kita udah tau secara langsung gimana penjagaan negara di setiap perbatasan dan nyari celah buat bisa keluar nanti.”
“Ya udah kalau gitu, kita gak perlu panik lagi sekarang. Ada Samuel sama Zack yang urus itu, sekarang fokus utama adalah penyembuhan dua orang ini, karena mereka pasti punya informasi penting dari negara-negara lain. Terus dilanjut buat perakitan dan pencarian sumber energi terbesar yang deket sama desa Awan, ah iya aku baru inget! Oh iya jangan lupa buat pembuatan benteng yang kokoh di desa Awan, apalagi buat pendeteksi orang yang masuk dan keluar.”
Joe langsung menjentikkan jari dengan anggukan kepala, “Nah itu dia yang harus kita lakuin tanpa bantuan Samuel dan Zack sekarang, kita bagi untuk tugas-tugasnya dan yang pasti langsung gerak cepat tanpa ada komandonya! Kita bisa buat selamatin bumi dari pertumpahan darah lagi, gak ada yang namanya kehilangan keluarga dan tangisan dimana-mana!”
“Kak Joe tumben banget bijak, biasanya ngeselin,” celetuk Aura yang menggelengkan kepala, geli dengan ucapan dan tingkah Zack yang emang hari ini berbeda.
“Au! Gak bisa apa bikin aku terlihat berwibawa di depan mereka! Manusia gak peka!”
Aura menggerakkan jari telenjuknya, “Aku peka, makanya aku bilang kayak gitu. Udah ah, jadi bocah kak Joe kalau ada kak Alya! Sok berwibawa lagi, geli.”
“Ciri-ciri manusia polos ya kayak Aura, asal nyeletuk tanpa liat situasi dan kondisinya, emang harus sabar ngehadapin anak satu itu,” celetuk Hiraka pelan, takut terdengar dengan yang lain.
Aku mengadahkan lengan keluar dari jendela lantai satu, melihat sembari merasakan seberapa deras hujan yang turun hari ini. Ini menjadi hari yang buruk karena aku harus terjebak di gedung utama pemerintah setelah harus ikut rapat dengan beberapa petinggi, membicarakan mengenai kasus dan tinjauan alat untuk beberapa perbatasan kota.
“Hujannya bakalan awet kayaknya Al, mending kamu minta jemput ke kakak kamu atau siapa kek, daripada nanti harus bermalam di sini, itu lebih buruk.”
Aku membalikan badan, melihat perempuan dengan stelan kantoran berdiri di hadapan aku sekarang dengan lengan yang menenteng satu tas hitam.
“Loh kak Sonya ngapain di sini? Bentar lagi udah masuk jam malem loh kak, bukannya kakak harus udah pulang ya dari 1 jam yang lalu?” tanyaku berjalan mendekat ke arah kak Sonya.
“Harusnya gitu sih,” sahut kak Sonya sebelum berdaham, “cuman tadi ada beberapa permasalahan di divisi aku, makanya pulangnya agak ngaret mana pulang langsung dijaga sama hujan.”
“Tapi kakak ada yang jemput kan atau mau ikut sama aku?”
“Aku udah mau dijemput sama Arubi kok, tenang aja Al, makasih loh sebelumnya.”
‘Arubi? Itu yang departemen kesehatan bukan sih? Kenapa kak Sonya bisa tau tentang Arubi? Departemen mereka kan beda dari awal aku masuk sampai sekarang, duh malah jadi penasaran sama ada hubungan apa mereka ini!’