AJ#58 Salah Faham

1410 Kata
“Alya gak boleh ke desa Awan lah,” sela kak Anya saat semua tim peneliti sedang berdiskusi menentukan penempatan orang-orang untuk saat ini, “soalnya Alya bisa bikin obat-obatan untuk cadangan di kota bawah tanah nanti, sama ini juga, Alya faham masalah kesehatan meskipun gak faham banget tapi lumayan lah ditambah kak Fincent juga udah mendingan sekarang.” “Hm.. tapi alat-alat kita di sana juga butuh Alya kak, hampir seluruh penelitian sebelumnya itu peninjaunya Alya, kalau ada apa-apa kan bisa langsung dibenerin sama Alya,” Zifra semakin ngotot dengan pendapatnya, sedangkan aku yang diperebutkan mereka hanya duduk di sofa dengan lengan yang menangkup kepala, memperhatikan perdebatan yang gak ada abisnya selama 1 jam lebih. Quera memegang kepalanya sembari menggelengkan kepala, “Kalian mau kayak gini terus? Debat aja, kenapa gak nanya sama pendapat Alya? Kan yang dipermasalahin sekarang itu Alya, bukan yang lain. Aku yakin pilihan Alya itu pasti itu yang terbaik, sama satu lagi, kita harus bantuan orang buat tiap-tiap negara. Kalau kak Zack atau Samuel punya temen yang bener-bener bisa dipercaya ya, kita ajak ketemuan buat bahas lebih lanjut tentang rencana bawa warga ke kota bawah tanah bulan depan.” “Aku boleh ngomong?” semua langsung mengangukan kepala, “menurut aku sebelum kita bawa warga itu, kita harus pastiin alat perjalanan waktu itu berhasil. Kita gak boleh memperkenalkan alat itu ke warga dari semua negara, alasannya karena kita gak tau niat orang lain itu gimana dan kita gak bisa pastiin mereka gak lakuin hal yang aneh-aneh sama alat itu. Jadi ruangan penelitian itu cuman bisa diakses sama kita yang ada di sini, diluar tim peneliti ini, jangan ada termasuk tim keamanan.” “Loh loh kak Joe, kenapa? Gak apa-apa dong kalau misalnya tim keamanan pengen nyobain alat itu, anggap aja hadiah karena bantuin kita sampai kita bisa kayak gini,” ucap Lizy. Arvian memegang lengan Lizy, “Tapi ada benernya loh, kita gak bisa sembarangan ngasih akses termasuk ke tim keamanan, takutnya aja nanti mereka megang alat sembarangan apalagi alat-alat yang sensitif kalau gak pake alat steril, jadi berabe ke kitanya.” “Aku setuju sama ucapan Arvian, gimana pun juga kita itu ke desa Awan cuman berlindung karena tempatnya luas dan strategis buat masukin orang-orang ke desa Awan. Sama satu lagi, desa Awan itu banyak yang gak diekspor sama pemerintah baik dari negara kita atau negara luar.” Aku menganggukan kepala setuju dengan ucapan kak Anya, “Aku balikin ke Zack sama Samuel deh, mereka yang labih faham sama desa Awan dan satu lagi, mereka juga udah beberapa kali ke negara luar, berbanding jauh sama kita yang sama sekali belum pernah.” Pembahasan yang aku kira akan berakhir, malah semakin alot dengan perdebatan dari Zack sama Samuel yang berbeda pendapat. Tapi entah kenapa, aku malah kepikiran sama kak Sonya dan kak Arubi dari departemen kesehatan, kenapa kak Sonya bisa kenal sama kak Arubi ya? “Alya kamu gimana? Setuju sama pendapat yang mana?” tanya Samuel yang membuat aku gelagapan, aku melirik ke arah mereka dengan senyum kecil. “Setuju sama apaan ya?” tanyaku dengan ringisan, “tadi gak konsen aku, jadi gimana?” Samuel langsung memegang tanganku, “Kamu mikirin apa? Kayaknya raga ada di sini tapi pemikiran kamu gak ikut ke sini ya? Ada yang ngeganjel di hati kamu?” “Engga penting kok, jadi gimana Sam? Aku harus milih apa?” “Buat tim inti yang bisa masuk ke ruangan penelitian itu siapa? Sama ini juga, kamu mau milih buat yang pergi ke desa Awan atau tetep di sini buat bikin obat-obatan?” Aku mengangguk faham, “Aku milih tim ilmuwan aja biar gak berabe kalau misalnya ada masalah, kalau misal dari tim keamanan atau orang lain yang kita percaya pengen tau atau liat alat itu, ya boleh asalkan ada salah satu diantara kita yang ngedampingin. Kalau masalah aku harus ditempatin dimana, aku bebas sih mau ditempatin dimana juga, paling aku fleksibel aja, jadi bisa di sini atau di desa Awan juga buat bantuin kalian, jadi gak usah direbutin lagi.” “Bentar ini penting, aku mau nanya dong,” Lizy menarik perhatian kita semua yang ada di ruangan, “kalau di luar negara kita, bahas apa yang mereka gunain, nanti beda bahasa terus yang jadi permasalahan itu ke kita kalau ada apa-apa.” “Ho.. aku juga baru kepikiran,” sahut Arvi dengan anggukan kepalanya yang khas, “kak Zack sama Samuel gimana? Kalian pake bahasa apa di negara kalian?” Zack tiba-tiba mencondongkan tubuhnya membuat semua orang di dalam ruangan ikut mencondongkan tubuhnya, siap mendengarkan kata-kata yang keluar dari Zack, tapi bukannya berbicara yang terdengar malahan helaan nafas yang saling bersahutan satu sama lain. “Gimana Zack? Ini kenapa kalian pada diem semua deh?” Quera memundurkan tubuhnya, “Gak tau Al, aku ngikutin aja apa yang orang lain buat.” Quera menampilkan deretan giginya yang putih, dan diakhiri dengan garukan di tengkuk kepala. “Zack!” aku menekan suara aku, “gak usah bikin drama!” “Hahahaha aduh.” Zack memegang perutnya dengan tawa yang keluar dari mulutnya, “kalian malah ngikutin aja apa yang aku lakuin, dasar kalian.” “Tuh kan udah aku duga, emang dasar Zack suka jail!” “Duh duh duh, jadi gini guys!” Zack menghela nafas, “ada satu rahasia yang pemerintah gak mau kalian semua tau tentang ini dan menurut aku cukup fatal juga sih kalau sampai kalian tau, rahasianya adalah bahasa yang sebenernya semua negara pakai itu sama, gak ada yang berbeda.” Aku mengerutkan dahi bingung, mencoba mengingat pertemuan pertama aku dengan Zack, bukannya waktu itu Zack bilang kalau dia berusaha untuk menyesuaikan bahasa di negara Timur ini? Terus juga waktu itu, Samuel pernah bilang kalau dia belajar bahasa di negara Timur beberapa bulan. “Jadi selama ini aku dibohongin sama kalian gitu? Zack? Sam? Kalian bilang kalian udah belajar bahasa ini jauh-jauh hari, makanya kenapa kalian bisa sefasih itu waktu ngobrol! Bahkan 2 minggu yang lalu aku sempet nanya hal yang sama ke kalian, tapi kalian masih jawab hal yang sama juga!” aku menggeleng-gelengkan kepala, gak percaya sama apa yang sekarang aku dengar. Samuel langsung memegang lenganku, “Aku gak bisa bilang yang sebenernya dong, apalagi waktu itu kita belum sama sekali kenal dan aku masih harus hati-hati sama orang-orang yang ada di negara Timur ini, takut ada yang mengancam nyawa aku.” “Apa sampai sekarang kamu masih ngerasa harus hati-hati sama aku juga?” tanyaku dengan sarkas, “sedangkan aku sekarang udah percaya sepenuhnya sama kamu, apa aku juga harus ikut ngerasa hati-hati sama kamu dan Zack? Apa itu yang harus aku lakuin?” aku menatap nyalang ke arah Zack dan Samuel yang merunduk antara takut dan gak bisa mengelak. Joe yang ada di sebelahku langsung mengusap lenganku, “Mereka pasti punya alasan kenapa gak bilang, bisa juga mereka lupa ngasih tau ini sama kamu. Udah gak usah diperdebatkan lagi, sekarang kan mereka udah bilang yang sebenernya kan Al?” “Tapi Joe, aku ngerasa kayak mereka gak percaya sama aku sedangkan aku di sini udah percaya sepenuhnya sama mereka!” deru nafasku semakin memburu, “bahkan aku yang mereka temuin lebih sering dibanding sama yang lain, masih gak percaya sama aku, wow!” “Alya gak gitu maksud aku.” Zack berusaha mengambil lengan aku yang langsung aku tukas, “aku pengen bilang semua itu ke kamu tapi aku gak tau harus kapan bilangnya.” “Al kalau kamu ngerasa kecewa itu wajar, tapi kita berdua ada alasan kenapa kita gak bilang sama kamu. Pertama karena kamu selalu diawasin sama kakak kamu, salah satu orang dalam pemerintah. Kedua kamu selalu diikutin sama orang asing, yang setelah aku sama Zack cari tau itu orang yang sama kayak kakak kamu Fincent! Makanya kita berdua gak bisa bilang soal itu, berbahaya kalau kita bilang.” Aku menghela nafas panjang, berdiri dari kursi yang langsung ditahan oleh Joe. Tatapan Joe berubah serius, dia menggelengkan kepala biar aku kembali duduk di tempat. “Aku mau ke atas, mau ngecek kondisi kak Fincent dulu, kalian lanjut bahas aja tanpa aku.” “Alya,” Joe menekan ucapannya, “duduk lagi dan ikut bahas sampai selesai.” “Di sini cuman ada dua pilihan, aku tetep duduk di sana dan masih emosi atau aku ke atas buat ngecek kondisi kak Fincent dan nenangin diri. Aku bukan bocah yang marah tanpa alasan, aku butuh waktu dulu.” Aku menghentakan lengan yang dipegang Joe, berjalan menuju lantai atas rumah.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN