AJ#59 Profesor Hangga

1448 Kata
Satu minggu berlalu, kegiatan harianku gak berubah begitu banyak, terkadang aku masih harus bolak balik ke pusat untuk pelaporan kinerja Samuel yang sebentar lagi waktu menetap di negara Timur bakalan berakhir. Bahkan sekarang aku jadi orang sibuk yang harus bangun sebelum matahari terbit untuk pengecekan beberapa obat-obatan yang sedang dalam masa peracikan, belum lagi harus nyiapin semua keperluan dua manusia yang masih berada dalam masa pemulihan. “Siang Alya, buat makan siang ini kamu mau makan sama saya?” tawar profesor Hangga saat aku menyerahkan laporan mingguan seperti biasa. Aku mengusap tengkuk belakang, “Em.. gimana ya prof, hari ini saya ada jadwal makan bareng sama sepupu saya, Joe, yang dari bagian keamanan. Sekalian ada pembahasan terkait beberapa alat yang bakalan kita kenalin ke masyarakat dalam waktu dekat ini, jadi maaf banget prof, saya belum bisa, tapi kalau makan malam ini, mungkin bisa.” Aku menampilkan senyum kecil saat melihat tatapan sendu dari profesor Hangga, setelah kejadian tempo hari, sikap profesor Hangga berubah sangat jauh dari biasanya. Beliau lebih nunjukin gimana perasaannya sama aku dibandingkan sebelumnya, apalagi sikap permintaan maafnya yang membuat aku mau gak mau bisa maafin sikapnya meskipun gak bisa sepenuhnya lupa sama kejadian tempo hari, salah satunya sikap profesor Hangga yang kayak gini. “Yah, malam ini saya ada pertemuan dengan para petinggi, pembahasan tentang pemberontakan yang semakin marak terjadi belakangan ini, kamu hati-hati ya. Jangan berpergian sendiri, apalagi kalau ke tempat yang gak ramai orang,” ucapnya dengan lengan yang melepas kaca mata, memberikan kontak mata yang membuat aku jadi salah tingkah, tapi bukan karena malu, cuman tatapannya itu loh, jadi salah tingkah sendiri! “Ya udah prof, berarti saya---“ “Harus berapa kali saya bilang ke kamu buat panggil nama saya aja, jangan ada gelar yang kamu panggil!” ketusnya yang membuat aku menahan senyum, “saya gak lagi ngelucu ya!” “Mukanya yang lucu, seorang profesor Hangga yang terkenal jutek, bisa kayak gini juga ternyata,” ledekku semakin menjadi, senang waktu liat mukanya yang biasanya kaku malah bisa banyak ekspresi kayak gini, dari cemberut atau natap aku dengan tatapan memohon, lucu! Profesor Hangga menekan tubuhnya di meja dengan lengan, mencongdongkan tubuh sampai deru nafasnya bisa aku rasakan dalam jarak yang cukup dekat. Tatapannya semakin intens, salah satu lengan profesor Hangga mengusap pipiku sebelum.. “Aw!!” aku meringis, menjauh dari profesor Hangga dengan lengan yang mengusap pipi, bisa-bisanya aku terkecoh sama tatapan profesor Hangga dan mengorbankan pipi aku. “Kak Hangga nyebelin,” rajukku dengan tatapan kesal, “udah berapa kali pipi aku jadi korban kekejaman tangan kak Hangga, bisa-bisanya au ketipu sama tatapan kakak!” Bukannya minta maaf, profesor Hangga malah kembali ke tempat duduknya, “Nah kayak gitu kek dari tadi Al, gak usah ngomong pakai gelar, pakai kata kakak aja kayak gini. Lebih enak buat saya denger daripada yang tadi, ya udah sana keluar, katanya mau makan sama sepupu kamu.” Aku menghentakan kaki, “Iya iya ini juga mau keluar, kalau mau ngusir bilang aja langsung!” dengusku. “Hahaha salah faham lagi, sini bentar.” Lengan kananku ditarik profesor Hangga, mengikis jarak kami. ‘Cup’ Aku memegang pipi sebelah kanan yang baru aja dicium profesor Hangga! Bentar! Ini aku gak salah kan? Beberapa detik yang lalu, tangan aku ditarik paksa dan pipi aku.. “Ya ampun!” aku memekik pelan, “Ih apa-apan sih prof! Saya permisi” Aku langsung berlari keluar dari ruangan profesor Hangga, emang gak pernah bener setiap aku masuk ke ruangan itu! Dari mulai kejadian tempo hari, perdebatan sengit antara aku sama profesor Hangga, bentakan profesor Hangga waktu aku revisi sampai tingkahnya yang gak bisa aku tebak sama sekali kayak tadi! Tapi harusnya yang panas itu pipi sebelah kanan doang kan? Tapi kenapa pipi bahkan panasnya merambat sampai ketelinga juga! “Abis ngapain kamu di ruangan profesor Hangga? Itu muka udah kayak kepiting rebus aja.” Kak Anya keluar dari ruangan sebelah dengan tangan yang menenteng beberapa berkas. “Biasa suka diledek sama profesor Hangga, eh iya kakak abis ngapain dari ruangan sebelah, mana bawa berkas banyak banget kayak gini. Ada proyek lagi atau gimana?” “Oh berkas-berkas ini,” kak Anya mengangkat berkasnya, “aku harus ngurusin beberapa penelitian yang kemarin sempet ada masalah dari proyeknya, dilempar ke aku sama profesor Ningrum, buat anggotanya aku gak yakin bakal ada sih, soalnya proyek ini udah 70% rampung.” “Bakalan sibuk dong ke depannya kak, eh mau ikut aku ketemu Joe gak? Mau bahas proyek baru nih, sama masalah itu.” Aku mengedipkan mata kanan dengan senyum kecil, dibalas dengan alis yang diangkat sama kak Anya, proyek baru menanti. *** Keluar rumah dalam keadaan matahari yang baru aja muncul, dan sekarang pulang dalam keadaan matahari yang siap kembali ke singgasananya. Aku keluar dari mobil Joe yang mengantar aku pulang karena Joe kira aku bakal sampai larut malam ke rumah, ternyata malah jauh lebih cepet dari perkiraan. Aku membuka pintu rumah, menghirup dalam-dalam aroma rumah sebelum melangkah. “Sore kak Fincent!!” sapaku dengan riang, berlari menuju kursi roda kak Fincent, “gimana kondisi kakak hari ini? Udah enakan gak? Masih pusing karena obat-obatan atau gimana?” “Harusnya kakak yang nanya gak sih ke kamu, bukan kamu yang nanya ke kakak yang 24 jam cuman ada di rumah doang. Kamu baru pulang, mau kakak buatin makanan?” “Jawab dulu pertanyaan aku!” gerutuku yang memeluk tubuh kak Fincent, jauh lebih berisi daripada sebelumnya yang kerasa cuman tulang doang. “Kondisi kakak baik-baik aja Alya, kamu liat kan kakak udah bisa keluar dari kamar hari ini. Oh iya obat yang kamu kasih, kayaknya perlu dinaikin dosisnya deh, soalnya gak terlalu ngaruh buat ngilangin rasa sakit kakak. Sama satu hal , kaka pengen nanya sejak kapan ada obat kayak gitu Al? Perasaan selama kakak kerja di rumah sakit, kakak gak pernah liat ada obat kayak gitu deh.” Aku mengangkat bahu dengan senyum lebar, “Kek gak tau aja sama adiknya ini, aku kan suka sama dunia medis meskipun gak mau kalau di suruh jadi dokter atau perawat atau apoteker gitu. Aku suka dunia medis yang bikin alat-alatnya atau seenggaknya aku bikin obat kayak gitu, obat-obat di rumah sakit itu udah banyak yang menurut aku perlu di upgrade buat lebih baik kinerjanya, kayak ini.” “Hati-hati Alya, udah berapa kali kakak bilang buat jangan nyusahin orang lain. Gak semua orang bisa bantu nyelamatin kamu, kakak gak masalah kalau yang harus kena masalah karena kamu itu kakak, tapi kalau orang lain,” kak Fincent menggeleng, “kakak gak mau sampai mereka bilang kamu pembawa sial karena ulang yang kamu perbuat, kamu itu keajaiban.” “Kenapa sih kak, kakak harus nutupin kebenaran kalau kakak sebenernya peduli sama aku,” nafasku jadi sedikit memburu, “aku sempet benci sama kakak, nolak semua fakta yang bilamg kalau kakak itu punya rencana buat bunuh aku, aku anggap gak pernah ada fakta tentang itu, tapinya kak. Semakin aku nolak fakta itu, semakin jelas kenyataan kalau kakak yang emang niat jahatin aku.” “Salah satu alasan kenapa kakak pengen kamu gak tau fakta itu, karena kakak pengen kamu itu benci sama kakak. Kamu gak perlu nyari tau alasannya karena apa, cukup kamu tau aja kalau ---“ “Aku gak bisa kak,” air mataku mulai mengumpul di ujung mata, “aku gak bisa untuk gak nyari tau alasannya kak, bahkan meskipun kakak nutupin dengan rapih, aku bakalan cari tau sampai ke akarya. Bahkan sebelum aku nyari tau lebih lanjut, ada orang-orang yang sukarela ngasih faktanya. Maafin aku yang dulu sampai kemakan fitnah tentang kakak, dulu aku ngejauh karena takut kakak bunuh aku.” “Gak nyangka Al, kamu sampai mikir kayak gitu. Mana berani kali kakak ngebunuh kamu, liat kamu nangis aja, itu udah gak sanggup kakak liat, apalagi sampai ngebunuh kamu.” Aku merubah posisi, berpindah mejadi duduk di hadapan kak Fincent, menatap serius ke kornea mata kak Fincent. Meskipun aku tau fakta kalau kak Fincent bukan yang nyelakain aku, tapi aku sampai sekarang belum tau motif utama mereka mau bunuh aku karena apa. “Mikirin hal berat lagi?” kak Fincent mengusap rambutku , “udah gak perlu Alya, daripada mikirin hal yang kayak gitu mending kamu nyicipin masakan yang kakak buat, sup jagung ala Fincent.” “Kakak masak? Kapan? Kok bisa?” “Kakak bosen di kamar terus jadi kakak coba-coba bikin sup yang sering kamu buat kalau kakak sakit, ternyata emang susah ya buatnya, emang gak semirip masakan yang kamu buat sih tapi seenggaknya masih layak lah buat dicoba sama mulu.” Kak Fincent mendorong kursi rodanya, masuk ke dapur dan menyerahkan satu mangkuk yang masih mengempulkan asap-asap tipis. “Keliatannya sih enak banget ini, bentar aku coba!”
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN