AJ#60 Simpel atau musibah?

1666 Kata
Jam berdenting dua kali, menunjukkan pukul 8 malam saat ini. Aku mengecek ke kamar kak Fincent, membenarkan posisi selimutnya dan memberikan kecupan di dahinya. Aku melirik ke arah monitor yang sudah terpasang lagi di tubuh kak Fincent, meski pun sekarang kak Fincent udah lebih baik tapi gak ayal kalau tubuhnya masih butuh beberapa bantuan alat. “Cepet sembuh kak, masih banyak rintangan yang mau aku lalui bareng sama kakak, kakak harus kuat dan dukung aku terus,” bisikku sebelum keluar dan berjalan ke ruang bawah tanah, mengecek kondisi dari kak Arya. Aku membuka pintu ruang perawatan, “Kak Anya gak pulang aja? Ini udah malem loh kak, biar aku yang jagain kak Arya sekarang. Kakak lagi banyak banget tugas proyek loh, sama kakak tuh udah beberapa hari gak pulang buat jagain kak Arya lagi.” “Ya ampun Al, aku di sini juga tidur gak gadang buat jagain Arya, sama kakak juga ngelakuin beberapa analisis buat proyek kakak. Di sini lumayan lengkap data-data yang kakak butuhin soalnya, jadi sekalian aja kan, menyelam sambil minum air kan.” “Asin dong kak kalau diminum,” kekehku pelan, “ya udah sekarang gantian aku yang jaga, sekalian mau ngecek kondisi kak Arya juga, soalnya harusnya kak Arya udah sadar dari beberapa hari yang lalu tapi anehnya malah belum sadar sampai sekarang kak.” “Kalau gitu aku ke luar ya, sekalian mau cari makan nih, laper banget abis nyari bahan buat besok persentasi ke profesor Ningrum, kalau ada apa-apa langsung kabarin kakak ya.” “Siap kak, makan yang banyak biasanya deg degannya yang bikin laper.” “Hadeh kamu, tapi emang bener sih hahaha.” Kak Anya mengusap puncak kepala dan berjalan keluar dari ruangan, meninggalkan aku dan kak Arya berdua. Mataku menatap ke arah monitor yang menunjukan grafik dari detak jantung kak Arya yang masih terpantau normal, mengecek selang infusnya yang terpasang di lengan kiri kak Arya. Beberapa luka juga terpantau udah mulai mengering dan tinggal meninggalkan beberapa bekas luka yang akan menghilang dalam waktu dekat ini. “Semua aman sih ini, bentar deh kayaknya dosisnya perlu aku tinggi ---“ aku menghentikan ucapanku, terpaku dengan pergerakan jari jemari kak Arya yang udah aku tunggu-tunggu, “kak Arya!” Kak Anya melipat kedua lengannya setelah berhasil melihat kondisi kembarannya dalam keadaan baik-baik aja. “Ya ampun Arya, kamu itu bikin aku senam jantung banget, mana kamu lama banget sadarnya,” omel kak Anya yang membuat aku menggelengkan kepala, bukannya dikasih selamat karena udah sadar malah kena omel maut dari kak Anya. “Hah... kak Arya udah sadar!” teriak Quera dengan nafas yang memburu, peluh membasahi pelipisnya. Lizy menyusul langkah Quera, “Selamat kak Arya, akhirnya kakak sadar juga.” “Kakak gak boleh banyak ngomong, soalnya ada luka di ujung bibir kakak yang cukup panjang. Udah dengerin aja kita-kita yang ngomong.” Aku memegang lengan kak Arya saat mulutnya siap terbuka. “Selamat berhasil lolos dari pulau terpencil, hebat banget kamu bisa lolos dari tempat kayak neraka itu. Ya meskipun lolos dengan keadaan tubuh yang penuh luka, tapi itu udah keren banget. Gimana rasanya tinggal di pulau terpencil dalam beberapa bulan? Di sana banyak ranjau gak?” Aku menyenggol lengan Joe, “Kamu apa-apaan sih, orang barus sadar juga, malah ditanyain kayak gitu, gak banget deh. Mending buat perayaan kak Arya sadar, besok siang kita makan-makan, gimana?” “Kalian pada kosong kan?” tanyaku lagi saat semua saling tatap menatap, firasat aku bilang mereka gak bakalan bisa sih ini, “kalau pada penuh jadwal, kita buat jadwal bareng aja biar pada bisa, dan ---“ “Panik banget itu mukanya, aku bisa kok,” sahut Arvian dengan kekehan di ujung kalimatnya, dia menyentil pelan dahiku dengan lengan kirinya membuat aku meringis memegang dahi. “Aku juga bisa kok, gak ada jadwal selain pemantauan ke desa Awan paginya, tapi kayaknya Zack sama Samuel gak bisa deh. Kalau gak salah mereka ada kunjungan ke dua negara dulu, biasalah buat nyari celah biar mereka nanti bisa pada masuk ke desa awan sama ngelist tempat buat mereka huni nanti.” Aku langsung bertepuk tangan, menatap bangga ke arah mereka. Aku kira rencana yang dulu kami buat secara mendadak itu gak bakalan berhasil, karena gak ada waktu lebih buat kita nyusun semua rencananya, tapi malah rencana dadakan ini yang jauh lebih berhasil dari yang dulu. “Obat-obatan gimana Al? Aman kan? Buat stok nanti juga aman? Terus peralatan medis gimana, mau yang mana aja yang kita bawa atau kita nyari kontribusi dari negara lain?” Arvi yang sedari tadi mendengarkan hanya bisa menggelengkan kepala, “Kenapa malam-malam kek gini pembahasannya berat sih, kasian tau kak Arya yang baru sadar harus denger ucapan seberat ini.” “Kalau aku sih karena tiba-tiba kepikiran,” jawab Lizy dengan acuh, “lagian biar kita bisa jaga-jaga, masalahnya waktu kita makin mepet, mana kita belum uji coba alat. Mau kapan ujib cobanya?” “Lusa kayaknya oke, kak Arya sama kak Fincet juga bisa liat karena kondisi mereka bakal jauh lebih baik dari sekarang, cuman kalau kak Arya harus tetep pakai alat bantu pernafasan biar gak terlalu susah nafasnya, karena dalam waktu dekat kak Arya harus melakukan operasi buat bikin pernafasannya jauh lebih baik, dan gak perlu pakai alat bantu lagi.” “Wis, lengkap banget Al,” Zack melirik dengan satu ujung bibirnya terangkat, “ya wajar sih, tiap hari selalu mantau perkembangan Arya, wajar jadi jauh lebih tau.” “Kamu kenapa kayak gini sih Zack,” sinisku, “di sini yang faham sama dunia medis itu cuman aku sama kamu doang, sedangkan kita tau kalau kamu harus pergi meninjau langsung ke desa Awan. Makanya yang ngerawat kak Arya sama kak Fincent, aku aku lagi lah.” “Udah udah, kenapa jadi debat kayak gini sih.” Lerai kak Anya, lengannya memegang lenganku yang mengepal kesal, entah perasaan aku aja atau emang Zack tiap hari selalu bikin ulah. “Kalian mau pulang aja atau mau istirahat di ruang istirahat aja? Biar aku bantu rapihin ruangannya.” “Al kamu bisa ikut aku sebentar?” ajak Zack dengan lengan yang terulur, “aku ada perlu.” Kak Anya mendekatkan kepalanya, “Udah ikut aja, ada yang perlu dia bahas sama kamu,” bisik kak Anya yang aku balas dengan anggukan. Aku gak menerima uluran tangan Zack, berdiri dan berjalan menuju ruangan diskusi lain, cukup jauh dari ruangan diskusi satu. Duduk dengan lengan yang terlipat di depan d**a, menatap malas ke arah Zack yang hanya terdiam, menatap ke arah depan. “Mau apa? Udah malem, aku mau tidur.” “Maaf,” ujar Zack setelah beberapa saat. “Maaf? Maaf buat apa? Emang kamu punya salah sama aku?” sindirku dengan halus. “Maaf buat semua yang aku lakuin belakangan ini ke kamu, aku yakin kamu pasti kesel.” Aku hanya balas dengan helaan nafas, “Maaf buat apa sih Zack? Maaf karena selalu kontra dengan ucapan aku terus? Maaf karena selalu mancing emosi aku? Maaf karena selalu bikin ulah belakangan ini? Atau apa Zack?” tanyaku dengan suara sepelan mungkin. Aku sekarang cape ngadepin sikap Zack yang belakangan ini selalu berubah-ubah gak jelas, kadang dia bikin aku ngerasa oke aku aman, tapi seringnya dia bikin aku pusing dengan sikap dia! “Buat semuanya, maaf karena aku gak bisa bikin kamu ngerasa aman sama aku. Jujur aja, aku sendiri sekarang lagi bingung sama diri aku Al. Aku gak suka liat kamu bahagia sama orang lain, perhatian sama mereka, dan acuh sama aku. Aku mau nyangkal sesuatu, tapi semakin aku sangkal, rasanya semua jadi lebih jelas buat aku. Sekarang mungkin waktunya, setelah aku pulang dari desa Awan. “Aku jadi sadar sesuatu, terlalu banyak kenangan yang aku buat bareng sama kamu dalam waktu singkat ini, dan tanpa aku sadar, aku selalu jatuh dalam satu pesona yang sama. Aku suka sama kamu Al, gak tau kapan dan gak tau kenapa, mungkin karena dari pertama kali ketemu, aku disambut dengan baik sama kamu, tanpa kamu bedain kalau aku itu dari negara Utara, tapi jujur aja aku gak tau alasan jelasnya karena apa. Satu yang aku gak mau sangkal sekarang, aku suka sama kamu, udah itu aja.” “Zack,” lidahku langsung kelu sekarang, pernyataan macam apa ini, aku harus apa? “Kamu gak usah ngerasa terbebani sama ucapan aku, di sini aku ngikutin saran dari Hiraka sama Alya biar aku ngerasa jauh lebih lega dari sebelumnya, dan ternyata bener. Aku sekarang jauh lebih lega udah ngutarain apa yang aku rasa ke kamu, dan kamu balas perasaan aku, cukup tau aja kalau aku suka sama kamu, sesimpel itu aja.” ‘Dari mana kata-kata yang Zack bilang itu simpel? Masalahnya ini udah malem, dan itu jadi beban sebelum tidur buat aku! Mana bisa aku tidur dengan nyaman sekarang! Sekarang aku harus ngapain?’ “Dari kata-kata kamu, gak ada simpel simpelnya Zack? Kenapa harus aku? Bukannya kamu lebih tertarik sama Hiraka dibanding sama aku yang panikan ini?” tanyaku dengan hati-hati. “Kamu kepikiran sama ucapan aku tempo hari? Ya ampun Alya, dengerin ucapan aku sekarang,” Zack menangkup kepalaku, “mau kamu panikan, mau kamu biang rusuh sekali pun. Aku tetep suka kok Al, aku bilang kayak gitu karena emang faktanya kamu itu panikan, beda sama temen kamu.” “Tapi tatapan kamu beda waktu natap Hiraka, kagum, khawatir, terus---“ Zack meletakan satu jemarinya di depan bibir aku, “Kamu tau gak kenapa aku bisa khawatir? Aku khawatir karena di sana kebanyakan cowok, sedangkan dia cewek. Aku khawatir karena dia kenal sama kamu, dia bagian dari kehidupan kamu dan aku gak mau orang-orang yang ada di deket kamu terluka. Apa kamu gak liat gimana khawatirnya aku sama kamu? Gimana paniknya aku waktu kamu minta buat datang ke tempat kerusuhan itu karena ada Joe? Kamu tau aku panik dan takut?” “Zack, maaf buat salah pahamnya.” Zack mengusap puncak kepalaku, memberikan jarak lagi diantara kami berdua, “Gak apa-apa Alya, sekarang kan udah jelas alasan aku ngelakuin itu waktu dulu, semua karena kamu.”
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN