AJ#61 Mau jadi pacar?

1570 Kata
Aku mengambil bantal dari tempat tidur, bukannya langsung tidur dan merehatkan kepala dari semua beban yang sekarang memenuhi isi otak, aku malah memilih buat berjalan ke sofa yang menghadap ke arah jendela sembari berfikir tentang apa yang udah terjadi belakangan ini, tapi gimana bisa Zack kayak gitu? Maksudnya kenapa Zack sampai ada rasa sama aku? Aku kira dia itu gak bakalan ada, dia acuh bahkan kadang gak peduli sama aku. Bunyi dering dari ponsel menarik kesadaran aku ke dunia lagi, nama Hiraka terpampang di layar ponsel. Aku berdeham sebelum mengangkat panggilan video dari Hiraka, wajah khawatir Hiraka yang pertama kali aku lihat. Dia mengerutkan pelan sebelum menghela nafas, entah untuk apa. “Ya ampun Al, kamu bikin semua orang pada khawatir waktu gak kembali ke ruang kumpul tadi, tadi emang bahas apa aja sama kak Zack sampai kamu kayak gini?” tanya Hiraka seolah gak tau apa-apa. “Aku gak apa-apa Hiraka, cuman capek aja,” ucapku berdusta. Hiraka menggeleng pelan, “Kalau kamu bilang itu ke orang lain, mungkin mereka bakalan percaya, tapi aku udah kenal lama sama kamu, aku udah tau seluk beluk tentang kamu, jadi mau kamu bohong sekali pun aku tau! Jadi kenapa? Jangan bikin aku panik.” “Kamu ngomong kayak gini seolah-olah kamu itu gak tau apa-apa tentang persoalan ini, sedangkan udah jelas-jelas kamu sama kak Anya yang ngasih saran Zack buat bilang tadi ke aku!” aku memutar bola jengah, meletakan telfon di jendela, melipat lengan di depan d**a. “Aku kira dia gak bakalan bilang hari ini, dia dari kemarin tuh uring-uringan. Makanya aku sama kak Anya nanya, eh pas jawab, gak terduga kalau dia suka sama kamu. Kita saranin itu kemarin, tapi aku gak nyangka kalau bakalan bilang hari ini, dia gak bilang apa-apa sama aku. Maaf ya Al, aku yakin itu jadi beban buat kamu, udah gak usah dipikirin. Zack bilang itu kan ke kamu?” Aku mengangguk. “Iya dia bilang itu ke aku, tapi Hiraka mau aku gak pikirin pun, itu terus datang di pikiran aku. Maksudnya, kenapa bisa? Kenapa harus aku? Masih ada orang yang menurut aku bakal bisa bales perasaan dia, kamu sama kak Anya sendiri tau kalau aku itu sukanya sama kak Arya!” tekanku. Hiraka berdeham pelan, “Menurut aku engga tau Al, kamu bukan suka sama kak Arya. Kamu kagum dan kamu baru nemu sesuatu hal yang baru, laki-laki yang awalnya acuh banget sama kamu, jutek bahkan terkadang ngomongnya gak bisa kompromi, tapi tiba-tiba berubah begitu aja. Kamu kaget dan berfikir kamu suka sama dia, sebenernya menurut aku engga Alya. “Buktinya belakangan ini, kamu lupa kan sama kak Arya kan? Kamu emang selalu bilang ke aku, gimana kamu bangga sama kak Arya tapi yang lebih sering kamu ceritain ke aku, itu Samuel, profesor Hangga, kak Fincent, Joe, bahkan Zack. Kamu lebih tau tentang mereka dibanding kak Arya, dari hal yang disuka sampai alergi mereka. Kamu panik saat mereka gak ada kabar, sedangkan kalau kamu gak dapat kabar tentang kak Arya? Kamu masih baik-baik aja.” Hiraka menjabarkan semua yang ada dipikirannya dengan menggebu-gebu, nafasnya terengah di akhir kalimat. Aku terdiam sebentar, karena ucapan Hiraka bener. Aku gak seantusias itu kalau cerita tentang kak Arya, terkesan nyeritain hal yang semua orang pun tau. Sedangkan buat 5 laki-laki itu, aku tau segalanya, aku tau sesuatu hal yang bahkan orang-orang gak tau sama sekali, gimana sikap mereka, gimana mereka bisa kesel sama orang atau suka atau tertarik sama pembicaraan mereka. “Alya? Kamu gak apa-apa atau mau istirahat dulu? Aku---“ “Kayaknya bener deh Ka, aku cuman kagum dan baru nemu orang yang sebegitu kerennya kayak kak Arya, aku belum sepenuhnya suka sama kak Arya atau emang aku sebenernya gak suka sama kak Arya?” Hiraka tersenyum teduh, “Udah gak usah kamu pikirin lagi, semua itu bukan jadi prioritas kita sekarang. Cuman sekarang kamu udah lebih baik kan? Maksudnya udah terbuka pikirannya gitu.” “Iya Ka, jauh lebih baik dari sebelumnya, jauh lebih terbuka dan ngerasa lebih plong juga. Emang ya, masalah yang aku laluin bisa jadi lebih baik kalau aku cerita sama kamu.” “Apaan sih, kamu yang keren dalam hitungan menit langsung bisa nyari solusi untuk diri sendiri, udah malem loh ini. Istirahat gih, masih ada hari esok yang harus kamu jumpai. Aku matiin ya, selamat istirahat ilmuwan muda kerenku! Dadah..” Hiraka melambaikan sebelum panggilan videonya terputus. “Jadi selama ini aku suka sama siapa? Samuel yang nyebelin tapi peduli atau Zack yang diem tapi dewasa dan satu negara sama aku? Atau profesor Hangga yang diem-diem suka dan peduli sama aku?” aku memegang pelipis, rasanya ingin pecah kalau mikirin itu semua. “Dahlah, mendingan tidur, emang itu yang terbaik.” “Pagi Alya, tidur kamu nyenyak?” Suara kak Fincent terdengar semakin mendekat ke arahku. Aku mengusap mataku, mengerjapkan mata beberapa kali karena cahaya yang menyilaukan dari jendela. Aku terduduk, masih mengumpulkan nyawa sembari mengusap wajahku. “Jam berapa kak?” tanyaku yang beberapa kali menguap, aku butuh waktu tambahan untuk tidur! “Jam 9 pagi Alya, kamu ada acara sama profesor Hangga jam 10, lupa?” aku masih belum sadar sama ucapan kak Arya sebelum akhirnya mataku membulat sempurna. “Ya ampun aku hampir telat kak!” aku berteriak sembari loncat dari atas kasur, berlari menuju lemari pakaian, mengambil satu dress untuk aku kenakan hari ini. “Makanannya udah kakak buatin, ada di atas meja ya!” teriak kak Fincent yang samar-samar aku dengar, bodo amat lah sama apa yang kak Fincent bilang hari ini, aku telat! Waktu yang biasanya aku habisin selama sejam lebih untuk persiapan, bisa aku ringkas jadi 25 menit dan semua udah siap tinggal sarapan yang harus aku bawa ke taksi yang sekarang ada di depan. “Aku berangkat dulu ya kak, kalau ada apa-apa kakak langsung bilang sama aku oke? Aku gak lama kok, kalau lama juga paling sampe jam 3 sore aja. Kakak jangan lupa makan obatnya, sama satu lagi kalau mau ganti infus minta tolong sama Zack atau Joe oke? Mereka udah faham cara ganti infusnya, lengan kakak masih dalam tahap penyembuhan, jangan ngeyel!” ucapku sembari mencium kedua pipi kak Fincent, berlari keluar rumah dengan d**a yang bergemuruh. “Pak bisa lebih cepet lagi gak?” pintaku yang melirik ke jam tangan yang melingkar di lenganku, “saya buru-buru banget nih pak? Atau bapak tau jalan pintasnya?” “Duh engga non, ini saya cepetin lagi ya. Semoga gak telat ya nonanya, masih lama kan non?” “Bentar lagi sih pak, tapi makasih ya pak.” ‘Semoga profesor Hangga telat juga,’ harapku yang entah kenapa rasanya mustahil. Akhirnya aku nyampe juga setelah perjalanan selama 10 menit yang rasanya berjam-jam! Aku masuk ke dalam lobi, berjalan ke arah selatan untuk masuk ke taman ruangan, tempat pertemuan antara aku sama profesor Hangga untuk proyek medis selanjutnya. “Maaf sa ---“ aku gak melanjutkan ucapanku saat melihat profesor Hangga menelengkupkan lengannya di atas meja, dia ketiduran ternyata. Aku meletakkan tas yang aku bawa di atas meja, tepat berhadapan dengan profesor, menjadikannya sebagai bantalan untuk kepala, memperhatikan wajah profesor Hangga yang tertidur pulas. Baru kali ini, aku gak bosen ngeliat profesor Hangga dari jarak yang deket. Lenganku gatal pengen bergerak menyentuh alisnya yang ternyata tebal, apalagi bulu matanya yang lentik banget. “Mau seberapa lama lagi kamu mau perhatiin saya Al?” aku langsung gelagapan, membenarkan posisi dudukku, memundurkan tubuh untuk memberi jarak antara aku sama profesor Hangga. Aku melihat dari ujung ekor mataku pergerakan profesor Hangga, dari saat dia membuka mata, menatap sekilas ke arahku dan mengambil buku di sampingnya. Entah kenapa ucapan Hiraka kembali terngiang di kepala aku, kenapa rasanya jadi aneh gini sih? “Ayo kita bahas proyek barunya, kamu bawa yang saya minta kan?” aku menganggukkan kepala. “Bawa kok prof, beberapa data dari hasil ---“ kata-kataku langsung tertahan saat profesor menarik lenganku untuk mendekat, “prof?” ‘Jantung tolong jangan disko disaat kayak gini?!!’ “Wangi kamu enak, saya suka sama aromanya.” “Hah?” mulutku langsung ternganga, mataku mengerjap beberapa kali. “Wanginya jangan diganti ya, saya suka kalau ngehirup aroma tubuh kamu, nenangin.” “Prof mending kita bahas aja proyeknya, jadi dari data yang saya dapet, ada beberapa kendala kalau kita mulai ngerakit alat-alat itu prof, salah satunya dari bahan energi yang akan sulit kita dapat, kecuali kita udah siap dengan sumber energi alat pendeteksi penyakit bagian saraf,” jelasku yang menyerahkan beberapa lembar kertas yang sudah aku tulis dari beberapa hari yang lalu. “Alya,” panggil profesor Hangga dengan pelan, “Kamu mau jadi pacar saya?” ‘deg’ “Pa-pacar? Sa-saya sama prof? Ta-tapi prof, itu kan bakal melanggar peraturan dari pemerintah kalau setiap ilmuwan senior yang udah diangkat jadi profesor gak boleh ---“ ucapku terbata-bata. “Omong kosong tentang peraturan, saya suka sama kamu udah dari lama, dan saya gak mau kehilangan momen dalam hidup saya tanpa kamu, mau seberapa banyak perbedaan diantara kita, bahkan tentang pemerintah. Saya siap jadi tameng kamu, dan melanggar peraturan itu semua demi kamu. Hidup saya gak ada artinya, saya gak punya keluarga dan saya pengen buat keluarga bareng sama kamu, udah itu aja.” “Bukan kayak gitu,” aku balas menggenggam lengan profesor Hangga, “masalahnya ini berurusan dengan nyawa saya ataupun profesor, kayak gitu.” “Saya udah bilang, saya gak peduli untuk itu semua. Saya cuman mau kamu, jadi apa jawaban kamu?”
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN