Aku mengebungkan pipi saat mendengar rangkaian kata yang keluar dari mulut Hiraka selama 1 jam lebih ini, pembahasannya masih sama, ungkapan dari profesor Hangga yang gak terduga.
“Aku tuh bingung awalnya bund mau jawab apa, ya maksudnya ini tuh mendadak banget, orang kita lagi bahas tentang proyek terbaru, tiba-tiba gak ada angin gak ada ujan. Profesor Hangga ngomong kayak gitu sama aku, mana gak ada kesan romantis-romantisnya, datar banget.”
Hiraka mengetuk-ngetukan jemarinya di dagu, “Kamu pengennya profesor Hangga bilang dengan cara romantis gitu? Yang bertekuk lutut terus bawa bunga, sama apalagi sih.”
“Engga Ka, bukan kayak gitu, maksud aku tuh ---“
“Iya iya aku faham kok,” potong Hiraka dengan cepat, “tapi Al, kamu nanya gak sama profesor Hangga tentang peraturan gak boleh punya pasangan dalam satu divisi? Bisa bahaya kalau sampe pemerintah tau tentang kalian. Permasalahannya bakalan berat dan nyangkut sama nyawa kalian.”
“Udah kok, aku udah bilang kalau rintangannya tuh besar banget bukan masalah aku mau atau engga, tapinya masalah peraturan yang ngekang aku dan profesor Hangga. Peraturan konyol yang menurut aku kenapa harus ada, cinta gak bisa dipaksain gak sih? Harus ngalir gitu aja.”
Hiraka bertepuk tangan, “Aduh temen aku sekarang udah jadi pakar permasalahan cinta nih, gak kuat aku gak kuat. Apalah daya aku yang gak pernah ngalamin lika liku kayak kamu, lempeng banget hidupnya, gak ada bumbu-bumbu yang menarik.”
Aku mendengus mendengar semua ledekan Hiraka hari ini, tapi aku sendiri sekarang bingung, aku masih belum ngasih kepastian sama profesor Hangga, masih ambigu tanpa kejelasan.
“Jadi kamu jawab apa? Iya atau gak mau nolak nih,” ledek Hiraka semakin menjadi-jadi, “lagian ya, gak ada ruginya loh kalau kamu nerima profesor Hangga, udah ganteng meskipun dingin tapi baik tau! Sama satu lagi, dewasa banget nyelesaiin masalahnya, kayak wow, aku terpukau!”
“Kok malah kamu yang antusias banget Ka,” decihku dengan mata yang memutar, “sebenernya aku belom ngasih jawaban sama ungkapan kak Hangga, ya gimana ya. Dia itu petinggi, salah satu tangan kanan pemerintah, jadi agak ngeri kalau aku berhubungan langsung sama beliau.”
“Em... jadi sekarang panggilannya kak Hangga nih, dari yang dulu manggilnya profesor sekarang jadi kakak, emang ya, udah beda banget auranya semenjak profesor Hangga bilang tertarik sama kamu. Gak ada babibu langsung gas banget tuh profesor Hangga, laki banget.”
Aku menggaruk tengkuk yang terasa gatal, “Gak gitu Ka, itu tuh disuruh profesor Hangga buat bilang kakak daripada profesor. Katanya terlalu formal, dan dia maksa terus setiap ketemu.”
“Al aku rasa kamu lebih tertarik sama profesor Hangga ketimbang kak Arya, kamu inget gak waktu dulu kamu pernah cerita sama aku. Kamu dipaksa buat manggil nama aja sama kak Arya, dia maksa terus setiap ketemu sama kamu, tapi apa yang terjadi? Kamu gak lakuin itu, dengan alasan kamu ngehormatin dia meskipun usianya sama kayak Kak Joe.”
Ucapan Hiraka kali ini menampar aku, dia bener banget. Dulu aku gak mau ngelakuin keinginan kak Arya buat manggil cuman nama dengan alasan aku ngerasa gak enak, dia lebih tua dan lebih dewasa. Gak pantes rasanya kalau aku cuman manggil dengan sebutan namanya aja, kayak gak sopan.
“Eh Al, aku mau nanya deh alasan kamu gak mau manggil Joe dengan sebutan kakak? Dia kan sama usianya kayak kak Anya atau pun kak Arya, terus alasan kamu kenapa gak mau manggil nama juga kek kak Fincent? Kok aneh rasanya.” panggil Hiraka membuat aku gelagapan.
“Hah? Masalah itu ya? Sebenernya karena kebiasaan dari kecil aja sih, Joe itu di rumah ataupun waktu kumpul keluarga, gak pernah dipanggil kakak, meskipun ada yang lebih muda daripada dia, kayak aku contohnya, tapi dia lebih nyaman dipanggil nama aja. Beda sama kak Fincent yang emang di rumah ataupun waktu kumpul keluarga, lebih sering dipanggil kakak atau abang, jadi ke aku juga terbiasa manggil itu, ditambah aku yang emang paling bungsu di keluarga dibandingkan yang lain,” jelasku dengan panjang lebar, tersenyum simpul di akhir kalimat.
“Oh jadi kayak gitu, lebih ke pembiasaan sama pembawaan masing-masing orang,” Hiraka mengangguk-anggukan kepalanya, “Oke sekarang kita balik lagi ke pembicaraan utama kita tentang pengungkapan profesor Hangga. Menurut aku, profesor Hangga bisa tuh kita ajak ke tim kita.”
“Hah? Masuk ke tim kita? Duh jangan ngada-ngada deh kamu, dia itu tangan kanannya pemerintah loh Ka, gimana kalau dia masuk malah nyebarin semua rencana kita? Bakalan barabe ke kita loh, belum lagi nanti kalau ada drama, kalau misal dia gak setuju,” tolakku secara langsung.
Hiraka malah memajukan wajahnya ke layar ponsel, “Lah terus kenapa kamu mau ajak kak Joe gabung ke tim ini? Kak Joe kan tangan kanan pemerintah, dia juga sering banget ikut bahas masalah negara Timur bareng sama petinggi. Malah yang aku liat itu, kak Joe lebih dipercaya sama pemerintah.”
“Beda lah kalau Joe itu, dia bakalan berani jadi tameng aku. Kamu tau sendiri kalau pembebasan aku selama ini, selalu dibantu sama dia meskipun aku sendiri masih aneh kenapa Joe sampe gak ketauan sama pemerintah untuk masalah itu,” gumamku keheranan di akhir.
“Lah kan kak Joe mah manipulatif orangnya, banyak data-data pemerintah yang dia manipulasi buat menyukseskan keinginan dia. Bahkan yang paling parah itu, kak Joe pernah memanipulasiin data dari pertemuan besar dengan negara lain, gila gak tuh?” Satu ujung bibir Hiraka terangkat ke atas.
Kabar baru macam apa ini? Joe yang terlihat pro sama pemerintah bisa memanipulasi data tanpa ketauan? Udah berapa lama dia ngelakuin hal itu? Kenapa dia gak cerita sama aku? Sekarang banyak banget pertanyaan di otak aku tentang Joe, sebenernya dia siapa sih?!
“Kok kamu lebih tau sih Ka daripada aku? Aku kan sepupunya sedangkan kamu belo, wah sekarang Joe pilih kasih ya orangnya, sama sepupunya gak mau berbagi info.”
“Hahaha aduh aduh Alya, bukan kayak gitu Al. Jadi tuh, kak Joe mau nurunin cara dia ngeretas informasi dan memanipulasi data ke aku, orang yang menurutnya bisa dia percaya dan andalkan dari bagian keamanan, terus kak Joe cerita deh tentang dia yang sering memanipulasi data biar kamu selamat Al. Keren banget sih menurut aku, cara kak Joe nyelamatin orang-orang yang dia sayang.”
Aku terenyum kecut, “Tapi sedih aja kak, kenapa dia gak cerita aja sama aku, dia gak percaya gitu ke aku atau gimana? Atau dia ngerasa aku biang masalahnya?.”
“Kalau aku di situ, udah aku jitak pemikiran primitif kamu Al. Banyak sih alasan kak Joe buat milih gak cerita sama kamu, salah satunya biar kamu gak khawatir tentang kak Joe, soalnya yang dia lakuin itu bisa membahayakan banyak orang, termasuk kamu,” jelas Hiraka dengan senyum simpul.
“Ya udah deh, mau gimana juga pasti Joe tau mana yang terbaik buat aku sama dirinya.”
Hiraka mengangkat jempolnya, “Bener banget Al, sama satu informasi yang pengen aku kasih ke kamu. Jadi alasan kenapa aku bilang buat ajak aja profesor Hangga, karena kisahnya gak beda jauh sama Joe, dia itu pernah dapat hukuman pergi ke pulau terpencil, sama kayak kak Arya, bahkan dia bisa selamat buat keluar dari pulau itu, keren kan?”
“Loh Ka, bukannya orang yang bisa selamat dari pulau terpencil itu harusnya dieksekusi mati? Kan dia pasti tau satu atau dua catatan hitam pemerintah, kok Kak Hangga masih hidup sampai sekarang.”
“Dih pasti kamu lupa sama yang dijelasin sama kak Joe kemarin kemarin, jadi dulu itu setiap ada catatan hitam yang ditaro di pulau terpencil, pasti ada penjagaan yang ketat dari orang-orang yang udah bersumpah buat setia sama pemerintah, tunduk dan gak bakal neko kayak gitu. Makanya profesor Hangga engga dieksekusi mati. Entah beliau tau atau engga, tapi kemungkinan profesor Hanggsa sampai tau itu beneran kecil banget, karena emang sesulit itu untuk tau.
“Selain itu juga, profesor Hangga juga termasuk ke dalam calon petinggi dalam waktu dekat ini, sama satu hal lagi, beliau punya kartu As dari kejamnya pemerintah. Gak banyak orang yang bisa megang kartu As pemerintah, bahkan profesor Hangga itu punya banyak dedikasi buat negara kita, dari sistem medis, keamanan, bahkan sampai ke makanan pun ada uluran karya beliau. Jadi pasti sangat disayangkan kalau sampai profesor Hangga dieksekusi mati.”
Aku melongo mendengarkan penuturan Hiraka, ini dia cerita lengkap banget data tentang profesor Hangga. Hal yang bahkan aku sendiri gak tau tentang itu, luar biasa temen aku satu ini.
“Datanya lengkap banget ya? Kok kamu sampe tau sih sedetail itu tentang profesor Hangga, jarang loh orang dari bagian keamanan sampai tau tentang itu.”
Hiraka menepuk dadanya bangga, “Namanya juga Hiraka calon dari pengawas keamanan, aku bentar lagi dilantik untuk itu Al. Sebelum dilantik, aku udah dikasih beberapa data untuk pengawasan, awalnya aku gak terlalu tertarik sampai akhirnya ketua tim aku nyebut nama profesor Hangga, aku tertarik karena itu adalah salah satu laki-laki yang sering disebut sama temen aku.”
“Tapi emang tugasnya bisa dapet data sampai segitunya Ka? Itu lengkap banget loh datanya.”
Hiraka mengangguk dengan semangat, “Bener banget Al, aku dapat data itu sampai selengkap itu, banyak catatan dari rekor kinerja profesor Hangga. Bahkan ada list penelitian beliau, banyak banget, bahkan Al ada penelitian yang gak diterima sama pemerintah, gak hanya ada satu atau dua penelitiannya, tapi banyak banget Alya. Alasannya karena gak sesuai sama negara kita, atau gak bisa diproduksi karena terkendala biaya dan semacamnya.”
“Seriusan Ka? Banyak banget, terus penelitian alatnya itu sekarang dimana?”
Hiraka mengangkat bahunya, “Gak ada catatan untuk itu Al, masih jadi misteri alat-alatnya itu sekarang ada dimana, bisa jadi disimpan sama beliau.”