AJ#6 Kedatangan Joe

1635 Kata
Aku berjalan tidak tentu arah di dalam hutan, masih enggan meninggalkan tempat yang memiliki berjuta pesona. Aisy tadi menjadi pemandu untuk sampai di desa azkry, salah satu desa di hutan barat, desa yang terkenal dengan bibit-bibit unggul untuk menjadi sosok penjaga. Miris sebenernya kalau di rasa, ingin hidup bebas tapi gak bisa, semua udah di atur sama pemerintah dan kita hanya perlu mengikutinya aja, gak bisa membantah sesuai kemauan kita. “Keliatannya kamu lebih seneng di sini daripada di kota,” komentar laki-laki yang dari awal menemani aku, dia melirik sekilas sebelum kembali fokus ke arah depan, jarak antara aku dan dia tidak terlalu jauh, bahkan semakin lama dia semakin mendekat. “Di sini lebih terasa jadi manusia daripada di kota, kamu bisa ngeliat banyak hal yang ternyata gak menyeramkan seperti yang di bilang pemerintah. Oh iya kamu kenapa bisa tau kalau aku ada di sini Joe?” tanyaku pada laki-laki yang selalu berhasil menemukan keberadaan aku, mau sejauh apa aku bersembunyi, Joe pasti berhasil menemukannya. Joe menghentikan langkahnya, memegang pudakku, menyampirkan jaket tebal yang menutupi tubuh, “Aku selalu tau kemana tempat yang bisa bikin kamu nyaman, dan pintu keluar dari kota yang dekat dengan cafe Sky itu cuman hutan ini, jadi kamu pasti ada di sini, dan ternyata tebakan aku benar,” ujar Joe dengan santai, raut wajahnya terlihat tenang, tapi siapa sangka kalau dia adalah orang yang paling cemas setiap aku dalam bahaya. Aku menghentikan langkah di depan batu besar yang langsung terkena sinar mentari, “Bisa untuk berhenti perhatian sama aku Joe?” tanyaku dengan mata yang terpejam, menikmati semilir angin pagi. “Kenapa aku harus berhenti perhatian sama perempuan yang udah sempurna di mata aku? Bukan sempurna, tapi perempuan yang bisa melengkapi aku, tau semua busuk-busuknya aku.” Aku langsung membuka mata, melirik sini Joe, “Kamu gak pernah ngasih kesempatan untuk mereka tau lebih jauh tentang kamu! Kamu harus sadar, kita ini sepupu. Apa yang bakal mereka bilang kalau kamu selalu ngikut---“ “Apa salah kalau aku cemas dengan kondisi kamu? Aku tau gimana kamu, aku tau bagaimana perjuangan kamu sampai bisa seperti ini Al. Jadi berhenti mendorong aku untuk menjauh, kamu butuh aku, dan aku juga butuh kamu!” Joe mengarahkan tubuhnya untuk menghadap langsung ke arahku, memegang kedua lenganku dengan lengannya, menatap nanar. Aku menggeleng lemah, melepas tautan lengan kami, “Kamu tau semua tentang aku, emang semua itu bener Joe, tapi kamu bukan tempat untuk aku berhenti. Kamu hanya salah satu alasan, kenapa aku masih berjuang di sini.” “Gak Al, kamu salah. Aku bakal jadi tempat untuk kamu berhenti, hanya ada aku sama kamu sampai kita tua nanti,” lirihnya terdengar seperti orang frustasi. Sekarang aku baru sadar kalau wajah Joe sudah pucat seperti mayat hidup dengan pandangan sayu, dia memegang wajahku dengan tangannya yang dingin, mengusap pipiku sebelum menarik masuk ke dalam dekapannya, dan aku merasakan tubuhnya melemas dan tidak bergerak lagi. “Joe kamu lagi bercanda kan sekarang?” tanyaku yang menggoyangkan lengannya. “....” “Joe?” panggilku lagi, berharap sekarang dia menjawab panggilan aku, “Joe jangan bikin aku takut sekarang, kita lagi di hutan!!” Aku menghela napas, mencoba untuk membaringkan tubuh Joe di rerumputan yang mulai mengering dari bekas hujan badai semalam. Di sini aku bingung harus melakukan apa sekarang, ini bukan ranah aku dalam pengobatan. “Gak ada Aisy lagi yang ngerti tumbuhan herbal lagi,” gerutuku yang menatap sekeliling yang ditumbuhi ilalang dan rumput liar, dan mungkin ada obat herbal di sana, tapi jenis apa? Bisa aku gunakan sebagai apa? Di sini aku gak tau apa-apa, kalau misalnya ada kak Fincent, mungkin dia bisa bantu aku harus apa sekarang di sini. “Alya!!” teriakan dari Zack terdengar menggelegar di dalam hutan yang sunyi, aku langsung berdiri mencari asal suara Zack tadi. “Zack aku di sini, Zack...” teriakku yang masih menatap sekeliling, mencari keberadaan laki-laki jangkung itu, Zack berlari dengan tas dari kulit hewan ke arahku. “Akhirnya,” lesuku yang terduduk ke tanah saat ada di hadapan Zack yang menatap khawatir kondisi aku sekarang, “Zack bantu aku sekarang, temen aku tiba-tiba gak sadarkan diri di dalam hutan.” “Kamu gak sendiri di sini?” aku menggelengkan kepala lesu, “dia sekarang dimana?” “Di sana Zack, aku gak tau harus kayak gimana. Mukanya pucat seperti mayat hidup, terus tubuhnya udah dingin Zack. Aku gak tau harus ngapain, aku takut dia kenapa-napa.” Zack menyentuh bahuku, “Kamu harus tenang sekarang Alya, jangan panik karena itu gak ada gunanya sama sekali oke? Sekarang antar aku ke sana, kita obati temen kamu.” Sekarang aku bisa bernapas lega saat Zack udah menangani Joe, ternyata ini efek dari serbuk tanaman beracun yang sempat di pegang Joe sebelum ketemu dengan aku. Sepertinya kemana-mana aku harus siap dengan penawarnya, aku gak tau ke depannya akan seperti apa. “Dia sebentar lagi bakal sadar mungkin setengah jam lagi, dan bisa aja dia bakal lupa sama apa yang terjadi dalam 3 jam yang lalu,” jelas Zack yang membereskan beberapa peralatan kedokteran, memasukannya ke dalam tasnya. “Emang tumbuhan apa yang bisa ngasih efek kayak gitu?” aku memegang lengan Joe yang masih lemah dengan erat. Zack menatap Joe yang sudah tertidur dengan deru napas stabil, “Aku kurang yakin, tapi ini salah satu tanaman yang gagal dalam percobaan untuk pengembangan setelah peperangan. Hasilnya parah karena tanaman ini berubah menjadi tanaman beracun, dan bodohnya mereka lupa dimana mereka menanam itu.” “Kalau berbahaya kayak gitu, harusnya kita musnahkan tanaman itu semua dong.” “Gak semudah itu Alya, tanaman itu beracun tapi juga sebagai tanaman obat yang harus diracik dengan benar. Hanya ada 3 orang yang berhasil menjadi tanaman itu sebagai obat, salah satunya aku sebagai cucu dari ilmuwan yang mengembangkan tanaman beracun itu. Kakek kasih nama tanaman itu Azryvrial, kalau kamu tanya kenapa namanya kayak gitu, aku gak ngerti sama asal usul namanya.” “Tanaman Azryvial itu banyak di bumi ini?” tanyaku penasaran, kalau bisa di tangan yang tepat, tanaman ini pasti jadi berharga! Zack mengangguk, “Hampir ada di seluruh negara, terutama di hutan yang memiliki kelembapan yang pas untuk mereka hidup, mereka berkembang biaknya juga cepat. Hitungan hari bisa menyebar kemana-mana,” jelas Zack yang mengikat kepalanya dengan kain bercorak indah. “Ini salah satu corak peninggalan perang kan? Kalau gak salah namanya itu batik bukan?” aku memegang ujung kain yang dimiliki Zack, selalu memukau corak-corak dari kain batik. “Kamu tau tentang batik?” tanya Zack seperti orang yang tidak percaya dengan apa yang baru saja ia dengar tadi, “gak semua orang kenal dengan kain ini loh.” “Kak Avyna pernah ngasih aku kain ini, katanya salah satu peninggalan keluarga yang masih di simpen dan dijaga sama kelurganya. Aku kemarin nyoba bikin kain ini dengan beberapa corak, lucu dan penuh arti lagi. Jadi penasaran sama budaya-budaya yang dulu beragam, kenapa sekarang sulit banget buat di temuin, contohnya kain ini.” Zack menoyor kepalaku, “Aku kan udah cerita, jangan nampilin tampang kayak orang bodoh dong, jelek banget muka kamu.” “Zack!!” Butuh waktu beberapa jam sampai akhirnya Joe bisa sadar dari pingsannya. “Ugh.. aku dimana sekarang?” Joe merubah posisinya menjadi duduk, memegang kepalanya, sebelum mengalihkan pandangannya ke arahku, “Alya kenapa kita ada di hutan?” “Akhirnya kamu sadar juga Joe setelah gak sadarkan diri dalam 2 jam, keadaan kamu gimana sekarang? Pusing atau mual?” tanyaku yang memegang dahinya “Cuman sedikit pusing, yang aku ingat tadi aku keluar dari perbatasan kota buat nyari kamu, dan sekarang aku ada di sini bareng sama kamu, aneh banget.” Aku hanya bisa tertawa pelan, bener kata Zack tadi, efeknya cukup buruk untuk daya ingat seseorang dari tanaman azryvial itu. “Udah gak perlu kamu inget, terpenting sekarang kamu udah baik-baik aja Joe. Em.. kita harus pulang sebelum langit berubah jadi gelap Joe, ta-tapi aku gak bisa untuk ikut Joe. Aku gak mau buat ketemu sama kak Fincent, apalagi sama---“ “Aku tau kok, kak Fincent khawatir sama kondisi kamu, apalagi kamu gak pulang tadi malam. Gerbang keluar dari kota juga udah di tutup, apalagi semalam hujan badai,” cerita Joe yang menyentil perasaan aku saat ini, pada ujungnya aku selalu bersikap semuanya hanya karena ini. Aku merunduk karena malu, “Kasih tau kak Fincent aku baik-baik, dia gak perlu khawatirin aku lagi. Besok aku pulang, lagian aku butuh persiapan buat hari Senin nanti.” “Alya, aku tau beban yang sekarang kamu ambil pasti berat, aku yang cuman sebatas sepupu kamu dan orang yang selalu kamu usahain untuk menjauh, hanya bisa bilang. Baik-baik aja ya, banyak orang yang sayang sama kamu,” ucap Joe yang mengangkat daguku, mengadu kontak mata dalam beberapa detik sebelum aku mengalihkan tatapan. “Kamu selalu jadi orang yang paling spesial dan tau aku kayak gimana, makasih.” Dia menyentil pelan dahiku, “Udah gak usah mellow kayak gitu, sekarang kita harus pulang dari hutan ini sebelum matahari tenggelam, tapi sebelumnya aku lapar, jadi---“ “Kita cari makanan di hutan, pasti bakalan seru.” Aku mengibaskan kotoran yang ada di celana katun, mengelurkan tangan ke arah Joe, berjalan menuju tempat awal kami bertemu. Beberapa kali Joe memberikan lelucun yang lumayan baik dari sebelumnya, dan aku masih yakin untuk memecah misteri yang selama ini tersembunyi. “Dah Joe, kabarin kak Fincent kalau aku baik-baik aja.” Aku melambaikan tangan, melepas kepergian Joe dari hutan. “Pasti,” balas Joe sebelum pergi berlalu dari hutan, meninggalkan aku sendiri di tengah hutan timur. “Apa ini tanaman bius jenis A? Cylantif, ternyata masih ada di hutan ini,” aku berjongkok, mengambil tanaman langka yang saat ini dicari oleh pemerintah, memasukannya ke dalam tas yang tadi di berikan oleh Zack sebelum dia pergi. “Sebenernya hutan apa ini?”
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN