AJ#7 Saudara macam apa? Pilih kasih!

1603 Kata
Aku berjalan menelusuri jalan setapak seorang diri, banyak genangan air karena hujan badai kembali datang tadi malam. Aku merapatkan kain syal yang tadi Zack berikan sebelum keluar dari hutan, sedikit membantu untuk mengurangi kemungkinan aku bisa terserang flu. “Seru ya kabur dari rumah? Kasian Fincent harus nyariin anak bandel kayak kamu! Gak tau diuntung banget, harusnya bersyukur kamu masih hidup, kenapa gak mati di hutan aja!” Langkah kakiku terhenti, laki-laki dengan stelan kantoran sudah berdiri di depan pintu gerbang menuju kota. Di sampingnya ada perempuan manis dengan rambut yang dibiarkan terurai dengan jepitan rambut berwarna pink yang menambah kesan manis, dia menatap ogah ke arahku, melipat kedua lengannya di depan d**a. “PULANG SEKARANG!” tekan kak Adrian yang mencekal lenganku cukup kencang, aku meringis merasakan lengan yang masih terasa ngilu karena genggaman Zack kemarin kembali terasa sakit. “Sa-sakit kak, aku bisa buat jalan sendiri!” gubrisku, melepas cekalan tangannya yang meninggalkan bekas luka kemerah-merahan. “Kamu ngadu apa sama kak Fincent? Sekarang kak Fincent ngejauh dari aku? Emang ya sodara gak guna kamu! Cuman bisa bikin susah kerjaannya, harusnya cuman aku yang lahir bukan bareng sama orang kayak kamu!” ucap Aurel cukup untuk menyayat perasaan aku sekarang. Aku berusaha untuk tersenyum, “Kalau kayak gitu, ngapain kalian susah-susah ada di sini? Gak ada gunanya bukan? Lagian aku juga gak butuh kalian, aku bisa hidup tanpa sepersen pun uang dari kalian. Apalagi kamu Aurel, sekarang aku nanya. Kerjaan kamu itu apa? Masih nyari-nyari doang kan? Ngabisin uang kak Adrian sama kak Fincent doang, coba liat aku sekarang. Rumah udah punya, kerjaan udah tetap bahkan bentar lagi aku----“ Plak... Aku memegang pipi kiri yang terasa panas seketika, menatap kak Adrian yang sudah menatap tajam dengan napas yang memburu. Baru kali ini, tangan kak Adrian berani nampar aku di luar rumah, harusnya aku cukup tau dan gak naruh harapan lebih dengan kedatangan mereka. “Alya kamu gak apa-apa?” teriakan kak Fincent menarik perhatian aku, dia berlari dengan setelan kerjanya ke arahku, mendorong tubuh kak Adrian untuk menjauh. Kak Fincent memegang pipiku yang pasti sudah memerah, “Gak apa-apa?” “Kalau aku jawab gak apa-apa, udah jelas kan itu bohong.” Aku memegang lengan kak Fincent, menggelengkan kepala saat melihat tatapan khawatir dari sorot matanya. “Kak Fincent,” panggil Aurel dengan takut-takut, rahang kak Fincent langsung mengeras, sorot matanya juga berubah jadi tajam. “Sebentar ya, kakak hukum mereka dulu,” kak Fincent mengusap kepalaku, “udah jelas kan apa yang aku minta tadi ke kalian berdua?” suara kak Fincent sangat mengintimidasi, membuat suasana berubah menjadi horor seketika. “Aku kelepasan, gitu juga sama Aurel tadi. Bukan maksud aku buat ngomong kayak tadi,” bela kak Adrian yang membuat aku mendecih kesal dengan 1001 alasannya. “Bisa-bisanya kalian, udah gak usah nyari pembelaan terus kayak gin. Kalau aku tau ujungnya bakalan kayak gini, nyesel aku ngasih kesempatan buat kalian!! Mulai sekarang, gak bakal ada uang tambahan buat kamu Aurel, dan kamu Adrian jangan sampai aku bocorin ke ibu sama ayah gimana perilaku kamu setiap malam di belakang mereka!” Kak Fincent langsung menarik lengan kiri yang tidak terlalu terasa nyeri, melewati dua manusia yang sudah mematung mendengar kata-kata mutlak dari kak Fincent. Kadang aku ngerasa kasian sama mereka, gimana pun juga mereka masih saudara kandung sama aku, sikapnya aja yang bikin aku harus extra sabar. Kak Fincent mengajak aku masuk ke salah satu rumah masakan cepat saji yang cukup terkenal, memesan ruangan khusus untuk aku dan kak Fincent makan siang bersama, memesan dua porsi burger keju dengan minuman soda dan jus mangga. Beberapa kali aku mencuri pandang ke arah kak Fincent yang ekspresinya gak berbeda jauh dengan tadi, sepertinya jadi beban pikirannya lagi, menyebalkan. “Kak gak berlebihan gitu ucapan kakak tadi? Kasian sama mereka, gimana juga mereka masih adik-adiknya kakak yang perlu diperhatiin sama kakak.” Kak Fincent berhenti mengunyah makanannya, “Gak ada yang berlebihan Alya, itu udah pantes mereka dapatin. Mungkin kamu bener tentang mereka, kakak terlalu naif dan maksain diri kamu buat nerima mereka, tanpa kakak sadari kalau mereka yang harusnya bisa nerima kamu.” Aku memegang lengan kak Fincent, tersenyum setulus mungkin meskipun sudut bibir kananku terasa nyeri karena bekas tamparan kak Adrian, “Aku gak papa kak, sekarang aku harus bisa hadapin semuanya, gak selamanya kan semua harus sesuai dengan ekspetasi aku.” “Setelah nemu udara segar, kamu jadi lebih dewasa dari sebelumnya, kakak makin sayang sama kamu, ade kakak yang luar biasa,” ucap kak Adrian mengusap puncak kepalaku, senyumnya sama kayak aku, bedanya di lesung pipi yang sama kayak kak Adrian dan Aurel dan yang pasti kayak ibu. “Kakak percaya gak kalau aku ketemu sama gadis desa di sana, terus kita ngobrol banyak hal dan ---“ “Kamu gak terluka kan? Mereka gak ngapa-ngapain kamu kan? Bilang sama kakak, jangan takut.” Kak Fincent langsung bangkit dari kursinya, menarik aku untuk berdiri, memeriksa tubuhku yang masih memakai pakaian yang sama dengan hari itu dari atas sampai bawah. Aku mendorong tubuh kak Fincent menjauh dari tubuhku, “Kakak apa-apaan sih! Kenapa malah ngomong kayak gitu? Maksud kakak mereka bahaya?” kak Fincent dengan polosnya mengangguk, “Kakak harus tau kalau mereka gak kayak apa yang kakak pikirin, mereka itu baik, bukan cuman baik tapi ramah sama aku. Bahkan kalau orang desa itu gak ada, aku mungkin udah mati karena bunga Zywey. Kakak pasti tau kan, bunga beracun itu?” “Kamu gak di paksa buat bicara kayak gitu kan Alya? Kalau mereka maksa kamu, kakak bakal---“ “Berhenti berpikir negatif tentang mereka, kakak sama yang lain salah besar nilai mereka. Mereka lebih manusiawi daripada kalian semua,” sinisku dengan raut wajahku kesal, menghempaskan lengan kak Fincent yang akan memegang bahuku. “Oke maafin kakak yang udah keterlaluan ini, kakak cuman khawatir kamu kenapa-napa. Apalagi kamu pergi dan gak pulang selama dua hari, pikiran kakak terlalu khawatir.” Kak Fincent menyerah untuk mendekat ke arahku, dia memberi jarak dengan kembali di kursinya, aku menghempaskan tubuh di kursi, bersandar, berusaha untuk kembali tenang. Sekarang aku sadar, kata-kata dari pemerintah itu bener-bener bisa nyuci otak manusia, bahkan seorang kak Fincent yang aku tau jelas gimana orangnya, bisa berpikir seburuk itu tentang orang-orang desa. “Kakak berpikir sama otak kakak yang pinter itu, gak semua ucapan pemerintah itu bener, salah satunya kayak gini. Aku udah liat langsung, ketemu sama 4 orang desa yang ramah, bahkan nolongin aku sama Joe waktu di hutan. Beda sama apa yang selama ini digaungkan sama pemerintah,” ucapku dengan nada serendah mungkin, takut kalau ada mata-mata pemerintah yang denger ini, urusannya akan jauh lebih panjang lagi kalau gitu. “Tapi gak bisa dipungkiri kalau pemerintah mau kita hati-hati, mereka itu asing buat kita.” Aku menggelengkan kepala dengan cepat, “Engga kak Fincent, mereka gak asing, mereka itu sama kayak kita ini. Kitanya aja yang gak sadar, bikin semua berbeda-beda.” “Udah udah, gak bakal beres bahas yang kayak gini. Kamu harus pulang, istirahat, dan bersihin diri kamu. Jangan terlalu banyak pikiran,” tukas kak Fincent, menyerah untuk berdebat langsung dengan aku yang sama keras kepalanya. Aku mengeluarkan ponsel yang sengaja aku tinggal, mengecek ratusan pesan yang masuk dari grup dan pesan lainnya yang membuat aku merasa bersalah. Ratusan mucul di grup ilmuwa muda, mereka yang seumuran dengan aku. IM generasi 80 Lizy : Alya masih gak ada kabar?? Arvi : Belom ada sama sekali, bahkan rumahnya masih ke kunci. Udah nanya ke tetangganya tapi mereka bilang Alya belum pulang dari kemarin. Quera : Aku dapat kabar penting dari Joe!! Dia udah ketemu sama Alya, kondisinya baik-baik aja, sekarang ada masalah keluarga dulu, jadi maklumin aja oke??” Arzka : Ya ampun, syukur Alya gak kenapa-napa. Aku takut dia kenapa-napa, takut kalau diem-diem dia milh itu kan. Arvian : Mau dibunuh dengan cara apa Arzka? Di santet mau? Quera : Bahasanya jadul ya, pake santet segala hahaha Zifra : Udah deh, jadi sekarang kita nunggu Alya buat kelanjutan penelitian kan? Data aman kan buat Senin nanti? Alyarn : Tenang gak perlu di pikirin, aku udah siapin semuanya. Data dari hasil perbandingan juga udah aku masukin, semoga lolos ya kita... Lizy : Harapan aku saat ini, kita bukan jadi negara yang kena kayak bagian barat kemarin!! Arvi : Semua datang ke laboratorium biasanya ya, ada yang perlu kita bahas. Jam 4 sore aku tunggu, telat datang bakal ada konsekuensinya sendiri. Me : Hai guys, maaf udah bikin kalian khawatir dan nelantarin tugas aku sendiri, oh iya makasih buat kalian ngertiin aku dan udah bantuin aku ngerjain tugas aku. Maaf ya aku kayak anak kecil yang senengnya lari dari kenyataan yang ada, harusnya aku harus bisa jadi lebih dewasa bukan kayak gini Lizy : Ih akhirnya Alya pulang, gak apa-apa kok. Kita malah seneng bisa bantuin kamu dengan kemampuan kita, lagian kita faham sama kondisi kamu itu gimana. Kamu gak sendiri kamu, masih ada kita yang siap sedia bantuin kamu. Arvi : Yup itu bener banget, jangan negrasa gak enak gitu Zifra : Mendengar kamu gak apa-apa udah bikin kita seneng banget kok, percaya deh. Quera : Kangen bangetttt Aku gak bisa menyembunyikan senyum lebar, masih banyak orang yang peduli sama aku, mereka emang bukan keluarga tapi lebih dari itu. Aku gak bisa leha-leha sekarang, 2 hari tugas aku bisa ditangani sama mereka semua, sekarang giliran aku, tapi aku penasaran sama isi surat yang tadi aku temuin. Aku mengeluarkan tanaman bius dan tanaman obat yang aku bawa dari hutan, dan satu buah surat yang di tutupi dengan plastik dari dalam tas. “Minta tolong? Siapa yang harus aku tolong? Dan ini sebenernya surat dari siapa?”
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN