AJ#8 Penelitian yang mengancam

1616 Kata
Aku menutup semua jendela dari dalam rumah, melihat sekeliling sebelum menutup semua gorden rumah. Aku berjalan menuju ruangan bawah tanah, tempat yang secara diam-diam aku buat untuk penelitian di luar persetujuan pemerintah. Secara gak langsung ini penelitian ilegal aku bersama dengan teman satu frekuensi, 70% dari ilmuwan muda aku tarik untuk ikut bergabung di sini. “Semua bahan udah ada kan?” tanyaku yang mengenakan jas lab khusus dan alat pelindung wajah, sebelum ikut bergabung dengan mereka-mereka yang sibuk dengan bahan kimia. “Kita butuh sampel embrio dari hewan dulu kak, sebelum melakukan uji coba langsung ke manusia,” jawab Azriyal, junior yang paling bersemangat dengan penelitian yang aku lakukan. “Kak Alya, ada salinan berkas lama yang baru aku dapet dari ruang pemerintah tadi sore. Di sini ada kalimat asing, kemungkinan bahasa di luar negara kita.” Aku mengambil salinan yang Lucy bawa, berjalan menuju meja khusus untuk semua data dari penelitian dan pengumpulan data dari pemerintah. Aku dan mereka punya pemikiran yang sama tentang pemerintah, apalagi setelah peraturan yang mengekang ruang gerak kita. “Gimana sama berkas yang dibawa Lucy?” tanya Arvi di belakang tubuhku, dia mengambil salinan kosa kata dari beberapa negara yang secara diam-diam kami ambil dari pertukaran ilmuwan antar negara. “Ada kata baru di sini, Lizy kamu pasti tau kan ini?” aku memanggil Lizy yang baru datang dari pintu barat, ya ruangan bawah tanah ini terhubung dengan rumah-rumah mereka yang dekat dengan rumah aku, jadi tempatnya bisa lega seperti ini. “Aku bisa tau apa?” tanya Lizy yang mencepol asal rambutnya, mengambil alih berkas dari lenganku. “Kamu tau tentang Zyndra sama Zawle, aku cuman paham kalau pemerintah lagi nyiapin obat mematikan dari tumbuhan beracun, seperti bunga Black lily sama tanaman ilalang merah.” Lizy menggelengkan kepala, “Aku gak ngerti maksud ini apa, kalau yang aku rasa ini nama obatnya atau bisa jadi...” Lizy menatap ragu ke arah aku dan Arvi, “korban buat percobaan ini, tapi namanya bukan daerah perkotaan yang sering kita kenal, lebih ke nama dari negara utara.” “Gak bisa dibiarin kalau kayak gini caranya,” ucapku dengan kesal, “ini bisa jadi perpecahan buat negara kita sama negara lain.” “Tapi kayaknya engga deh, ini ada tanda tangan dari 8 negara bagian. Jadi sebenernya mereka udah mikirin ini dari lama, dan kita mau gak mau harus siap jadi kelinci percobaan mereka,” tambah Arvi yang melatakn berkas salinan itu di atas meja, memperlihatkan 8 petinggi dari setiap negara bagian sudah menandatangani ini semua. “Kak sekarang berarti semua warga di seluruh negara dalam bahaya? Gitu maksud kak Arvi?” tanya Cintya yang tiba-tiba menyerobot datang, ekspresinya terlihat tertekan dengan mata yang berkaca-kaca, “ini gak bisa dibiarin kak, sejarah yang lama gak boleh keulang lagi.” “Cintya kamu harus tenang oke, ini baru perkiraan aja dari kita bertiga. Sekarang fokus kamu adalah ke penelitian ini, kalau kita bisa buat bikin teknologi perjalanan waktu, mungkin kita bisa ngubah nasib ini atau seenggaknya bisa mempersiapkan diri buat kemungkinan buruk,” jawabku mencoba menenangkan Cintya yang mengangguk pasrah. “Kalau gitu aku bantu yang lain dulu kak,” pamit Cintya yang berlalu menuju ruangan 2, ruangan khusus untuk penelitian teknologi perjalanan ruang dan waktu, memang terdengar mustahil tapi bukan berarti itu gak mungkin bisa dibuat. “Halo halo semuanya, maaf baru bisa ke sini, tadi di tahan sama dokter Rey buat ikut penelitian obat terbaru di rumah sakit pusat.” Quera masuk dengan mata yang berbingkai kacamata bulat, dia masuk membawa bahan-bahan kimia yang sangat di butuhkan untuk penelitian kehidupan baru. “Sinta gak bareng sama kamu Que?” tanyaku yang menatap ke arah belakang, Quera menggelengkan kepalanya, dia meletakan bahan kimia di meja khusus untuk bahan-bahan kimia. “Jadi ada kabar terbaru?” “Sejauh ini kita dapet kabar kalau bakal ada bencana buat kita, dari data ini.” Lizy mengangkat salinan berkas ke arah Quera yang langsung di terima. “Zyndra sama Zawle? Ini bukannya penelitian dari IM generasi 78? Mereka lagi fokus neliti alat gitu, tapi aku kurang setuju karena kalau gagal, manusia bisa mati langsung dari benda kecil itu, kecuali mereka yang dapet pakaian khusus,” jelas Quera yang meletakan kembali berkas itu, dia dengan santainya menarik satu kursi di sebelah Arvi. “Kamu tau tentang penelitian itu?” tanya Lizy yang dijawab dengan anggukan, “kenapa gak ngasih tau kita semua? Ini bencana buat umat manusia.” “Lizy dengerin aku, kalau aku ngasih tau kalian langsung tanpa bukti dan fakta yang jelas, terus gak ada solusi buat permasalahan ini, itu bukan Quera namanya. Sekarang ini aku lagi nyoba deket sama kak Daniela yang ikut penelitian itu, satu-satunya cara biar kita bisa tau titik lemahnya, kita harus ngobrol sama yang nyiptainnya,” tutur Quera yang memang benar, kita gak bisa asal ngambil langkah buat sesuatu yang kita gak tau itu seperti apa. Arvi masih kurang setuju dengan ucapan Quera, “Terus sekarang kita harus gimana? Nungguin semua data masuk di kamu? Atau apa? Ini yang nyetujuin bukan dari negara kita, tapi semua negara!” tekan Arvi dengan menggebu-gebu. Quera membelalakan matanya, “Apa yang kamu bilang tadi? Semua negara ikut andil dalam ini semua? Bukan negara kita doang?” tanya Quera memastikan. “Iya bener banget, buat proyek teknologi ini semua negara ikut andil dalam persetujuan. Itu berarti mereka berniat buat musnahkan lagi umat manusia, atau bisa aja ini buat mereka yang gak ngedukung sama pemerintah. Sekarang kita gak bisa bergerak bebas,” jelasku yang membuat Quera mendesah kesal, seperti menahan amarahnya yang siap meledak kapan saja, “kamu emang gak tau tentang itu?” “Kak Daniela bilang ini proyek khusus negara kita, dan gak bakal di kasih ke negara lain, terus mereka bilang kalau mereka setuju karena ini untuk menjaga perdamaian, dan yang bisa—aku sekarang ngerti kenapa kak Veril keluar dari penelitian ini. Aku harus ketemu sama kak Veril!” Quera langsung berlari keluar dari ruangan, meninggalkan banyak pertanyaan dari ucapan yang baru dilontarkan dari Quera. Maksudnya apa ini semua? Aku menatap Lizy dan Arvi yang sama bingungnya, sekarang yang bisa dilakuin cuman menunggu kabar dari Quera. “Makin ribet ya tugas kita sekarang,” komentar Lizy yang bersandar di salah satu tiang. “Yang bikin aku bingung sampai sekarang, apa yang udah disembunyiin sama pemerintah dari kita selama ratusan tahun? Masalahnya, kalau kita salah gerak, salah ngambil keputusan, dan salah dalam membela. Bukan nama kita aja yang bakal tercoreng, tapi umat manusia di seluruh dunia berada dalam bahaya karena kita.” “Itu yang aku takutin juga Arvi, kita semua tau kan kalau kita gak bisa sembarang melangkah, apalagi sampai salah bikin teknologi dan ngasih ke orang yang gak tepat. Tugas kita gak sebatas bikin teknologi, tapi kita nyari keadilan buat semua orang.” “Aku jadi penasaran sama buronan yang dicari sama semua negara sekarang, dia berarti tau tentang apa yang disembunyikan,” ucap Lizy yang membuat aku teringat sama Zack, buronan yang dicari semua negara saat ini. “Kamu tau tentang itu?” Lizy mengangguk dengan semangat, “Dari kapan kamu tau?” “Kemarin beritanya secara terang-terangan di publish di televisi nasional, cuman sayangnya gak ada fotonya dan kata pemerintah, kalau ada yang ngerasa ketemu sama orang asing, mereka di suruh lapor ke pemerintah. Bisa jadi itu buronan yang di cari-cari, katanya bahaya soalnya banyak korban yang udah berjatuhan karena buronan itu.” Aku jadi keinget sama pertemuan dengan Zack waktu di hutan, sikap dia berbeda dari yang diberitakan selama ini, bahkan berbanding terbalik dengan berita itu. Zack itu baik, manis, dan juga penuh sama kejutan dari sikap dia. “Nanti aku boleh kasih tau kamu ke temen-temen aku yang punya tujuan sama kayak kita?” tanyaku ke Zack sebelum pergi keluar dari hutan timur. “Aku gak yakin sama mereka Alya, aku gak tau mereka bisa aku pegang ucapannya sama kayak kamu,” ucap Zack pelan. Aku memegang lengan Zack, “Mereka punya tujuan yang sama kayak kamu, mereka mau ngeberantasin semua ketidak adilan ini, kita pengen buat nyatuin lagi semua negara dan bikin apa yang saat ini dikekang tanpa kejelasan, bisa hilang.” “Kalau gitu, aku percaya sama mereka.” “Alya kamu malah senyum-senyum kayak orang gila aja,” ucap Arvi yang menggoyangkan lenganku. Aku menggeleng pelan, “Aku udah ketemu sama buronan itu,” ucapku pelan, takut ada yang mendengarkan ucapan aku tadi. “HAH? APA?!” Arvi dan Lizy dengan kompak berteriak di sisi kanan dan kiriku, membuat aku langsung menutup kedua telinga aku. “Iya aku udah ketemu, dan itu lagi-lagi gak sama kayak apa yang diberitain sama pemerintah, dia malah baik banget sama aku, terus dia emang tau tentang rahasia beberapa negara tapi gak semuanya. Makanya dia jadi buronan, dan lagi buat korban yang katanya ulah dari buronan, itu salah!” “Seriusan? Terus korban itu karena apa?” tanya Lizy yang mendekat ke arahku, “jangan bilang itu ulah pemerintah?” tanya Lizy dengan ekspresi yang lucu. Aku menoyor kepalanya Lizy, “Gak kayak gitu juga konsepnya lah, jadi korban itu adalah mereka yang gak sengaja terkena perangkap yang dibuat militer kita buat penjagaan, makanya ada beberapa bekas yang sulit di deteksi sama dokter, karena itu tujuan awal dari perangkap yang dibuat.” “Aku tambah yakin buat gak asal terima lagi berita dari pemerintah!!” “Suruh siapa!” ledek Arvi yang ikut menoyor kepala Lizy, aku tertawa pelan dan kembali fokus dengan berkas yang tadi di berikan, mencoba untuk menelaah dari kata-kata ini. “Aku dapet data baru sekarang, ini data yang bisa bantu kita!” Pintu ruangan penghubung tiba-tiba terbuka, menampilkan sosok Zifra yang masuk dengan peluh yang bercucuran dari wajahnya, deru napasnya juga memburu.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN