AJ#9

1624 Kata
“Alya kamu kan yang bakal ikutan di acara besok, inget sama rencana kita hari ini. Intinya rencana kita tergantung sama kamu bisa ngambil hati orang yang bakalan----“ “Maaf maaf nih ya Arvi, aku gak tau siapa yang bakal jadi penanggungjawab orang itu, lagian bakalan lebih ribet kalau misalnya aku yang megang orang itu. Gak mau kalau sampe aku yang bakal jadi penanggungjawab orang yang aku kenal, apalagi kalau misalnya dari negara lain,” aku mengangkat lengan sebelum Lizy menyela ucapan aku, “bukan mau mendiskriminasi, tapi serius itu bakalan jauh lebih ribet guys!! Tolong ngertiin kondisi aku saat ini!” Lizy mempoutkan bibirnya, “Ish kebiasaan banget deh Alya suka banget kek gini, tapi nih ya aku percaya kalau misalnya profesor bakal milih kamu. Gini aja deh, profesor itu percaya banget sama kamu buat ikut pertemuan besok, terus kemungkinan besar juga kamu yang bakalan kepilih.”                 Aku mendengus mendengarkan ucapan Lizy, bukan masalah gak mau berbaur sama orang baru, terutama dari negara lain, tapi aku mikirin kemungkinan terburuknya, kayak dia bisa aja mata-matain aku dan bongkar tentang penelitian ini!! “Kakak-kakak, maaf banget aku motong pembicaraan serius kalian tapi kita dari ruang khusus pengobatan, butuh bantuan buat di pantau. Ada kesalahan yang kita gak ngerti ada dimana, bisa bantu kak?” Azki datang dengan jas yang sudah kotor dengan tumpahan bahan kimia dan mungkin juga oli waktu perakitan alat. Aku memegang bahu Azki, “Emang sekarang kayak gimana? Bukannya tabung buat pertumbuhan embrio udah hampir rampung?” tanyaku yang diangguki oleh Azki, “terus masalahnya ada dimana?” Azki mengusap peluh yang mengucur dari pelipisnya, “Nah itu permasalahannya kak, kita bertujuh gak ada yang faham, letak kesalahannya dimana? Udah hampir setengah jam kita otak atik, dan alatnya malah hampir meledak.”                 Aku dan ketiga sahabatku langsung saling tatap, mengangguk dan berjalan menuju lorong sebelah utara, memasuki ruangan khusus untuk teknologi embrio. Seperti yang dibilang Azki, keenam junior aku sedang mengutak atik satu tabung berukuran sedang dengan cairan yang tumpah ruah dimana-mana, setengah ruangan sudah hampir tergenang oleh cairan berwarna biru. “Kenapa jadi kayak gini?” tanyaku yang mengambil alih alat penguci dari lengan Cantika, salah satu junior yang faham dengan teknologi yang akan kami buat. “Kita gak tau kak kenapa bisa kayak gini, kita udah coba dengan hasil penelitian terakhir kita, pas kita coba tambahin cairan, alatnya malah jadi bocor kayak gini. Daya tampung energinya jadi gak ke kontrol di monitor, dan embrio yang tadi di bawa sama Selbia juga langsung mati kak.”                 Arvi yang berada di sampingku, mengangguk-anggukan kepala, mencoba mengambil sisa cairan yang belum tumpah dari tabung sebagai sampel untuk diteliti. Mungkin akan terjeda penelitian yang udah aku tunggu-tunggu ini dalam beberapa waktu, semoga gak lama kayak alat bantu operasi yang bulan lalu baru diresmikan. “Jadi sekarang kita gimana kak?” tanya Azria, saudara kembar perempuan Azki, dia mengusap peluh dari pelipisnya dengan tisu yang baru ia ambil. Lizy mengambil pecahan alat ke dalam kantung pelastik dengan alat khusus, “Kalian harus istirahat dulu dari penelitian ini, mungkin 2 sampai 3 hari biar kita tau apa penyebabnya, kalian tau kan kalau alat dan bahan yang kita butuhin gak sembarang bisa kita dapet, apalagi buat embrio yang masih sulit buat kita dapatin. Jadi sekarang kalian tulis analisa yang udah kalian dapet, takaran buat pemberian dosis ke tabungnya juga jangan sampe salah.” “Yah kak, saking aku penasaran gimana sebuah embrio bisa hidup dan pada akhirnya bisa lahir ke dunia ini, kalau sampai berhasil, banyak pasangan di luar sana yang bakalan ke bantu.” Zifra tertawa dengan ucapan polos junior, “Juno kamu ini mikirnya terlalu jauh, kalau teknologi ini berhasil, bukan berarti bisa langsung di pakai, masih ada penelitian lanjutan sampai akhirnya bisa ke capai seperti yang kamu mau. Lagian yang mau kita buat ini, belum tentu cocok buat manusia, kita masih harus nyari hewan yang punya DNA yang sama dengan kita, apalagi setelah peperangan banyak DNA dari kita dan hewan, sedikit berubah.” “Kak Alya, aku mau nanya deh. Kan ini salah satu teknologi usulan kakak, emangnya kakak dulu berpikir kalau teknologi ini bisa di pake buat siapa? Target utamanya.”                 Aku tersenyum simpul, mencoba mengingat alasan utama aku memilih penelitian yang cukup berisiko untuk banyak hal, salah satunya struktur genetik dari mereka yang tumbuh dengan bantuan teknologi ini. Seinget aku, dulu aku pengen bikin ini karena buat alat bantu penyembuhan mereka yang terkena penyakit khusus, lebih ke pemulihan. “Dulu itu masih ada pemberontakan yang cukup besar di negara Timur, ada temen kakak yang kena racun yang bikin tangannya saat ini perlu untuk di amputasi, makanya kakak berniat bikin teknologi yang bisa bantu mereka yang lagi dalam masa penyembuhan,” tuturku yang diangguki oleh Zifra. “Tapi kok sekarang malah ke embrio? Gak nyambung dong sama niatan kakak.” “Nyambung lah,” tukas Arvi dengan semangat, “tapi emang gak perlu sejauh itu, cuman dari hasil data yang aku sama yang lain dapet, lebih cocok kalau kita mulai dari perkembangan embrio, jadi kita udah tau gimana perkembangan dari tubuh manusia itu, dan pada akhirnya kita milih buat teknologi ini.” ***                 Aku merebahkan tubuh di sofa ruang tamu, akhirnya bisa mengistirahatkan tubuh setelah 3 jam lebih berkutat di laboratorium. Kadang aku masih gak nyangka kalau pada akhirnya, aku bareng sama temen-temen aku bisa narik banyak junior buat bisa bikin teknologi secara diem-diem, meski pun pada ujungnya ada beberapa yang kita publish ke luar. Tok.. tok.. “Alya ini aku Quera!!” teriak dari luar, suara yang membuat aku mendesah pelan, waktu istirahat aku pasti terpotong kalau kayak gini caranya. “Benta Que, aku bukain pintunya.”                 Quera datang dengan senyum lebar, menyelonong masuk sebelum aku persilahkan, mengangkat tas yang dia kenakan, menyerahkannya ke arahku sebelum duduk di sofa single di dekat tanaman hias. Aku membuka tas yang dibawa Quera, tersenyum saat barang yang selama ini aku cari, akhirnya di dapat sama Quera. “Que jawab jujur, kamu dapet darimana buku yang isinya komik ini? Demi apapun aku udah lelah nyari di perpustakaan nasional!!” aku langsung emmeluk Quera, mencium komik dengan gambar yang sudah usang. “Sepupu aku dapet dari rampasan pemerintah tahun lalu, dia inget kalau kamu suka, jadi diem-diem dia ambil komik dengan judul apa itu, BORUTO? Iya kan?” Aku mengangguk dengan semangat, “Quera!!” aku langsung mengubah ekspresi wajahku, “gimana mau aku baca, tulisannya gak ada yang aku ngerti di sini!!” “Loh emang iya? Judulnya aja yang bisa aku baca, isinya engga,” ucap Quera dengan cengengesa, bukan gak bersyukur udah di bawain komik ilegal ini, tapi masalahnya huruf yang dipakai bukan yang digunakan di negara Timur atau di 7 negara lainnya. “Hahaha udahlah,” tawaku yang tetap memasukan komik itu ke laci ruang tamu, “kamu kalau baik kayak gini, pasti ada maksud tersembunyi, mau cerita tentang apa?” Quera menggelengkan kepala, “Buat kali ini aku datang gak dengan maksud apa-apa kok, cuman aku ke sini mau numpang makanan dari masakan kamu.” “Dih gak Arvi, gak Lizy, gak junior-junior juga, mereka datang dengan polosnya buat nyari makan!” “Gimana lagi ya, masakan kamu itu beda dari yang lain, maksudnya itu ada bumbu khas yang gak bisa aku jelasin lagi cita rasanya. Waktu makanan yang kamu bawain buat aku, bunda kan nyoba masakannya, terus kata bunda ini ada bumbu racikan yang sama kayak mendiang buyut buat. Resepnya gak sembarang orang bisa punya, bahkan tau bumbunya aja kayaknya buat sekarang bisa dihitung sama jari,” jelas Quera dengan alasan yang sangat masuk akal.                 Aku meletakan jari di depan bibir Quera, berjalan menuju lemari dapur yang berisi bahan makanan, mengeluarkan buku dari belakang persedian makanan, menyerahkan buku itu ke arah Quera yang dengan semangat melihat buku itu. “Aku dapet ini dari salah satu pasien kak Fincent, dia bilang ini salinan dari resep masakan dari keluarganya, kayak turun temurun gitu, dan di sini ada tulisan masakan nusantara. Jadi penasaran, waktu dulu negara mana yang punya kata nusantara, seseru apa bumi ini sebelum perang itu terjadi.” “Kamu adalah aku Alya, kata bunda dari cerita turun temurun, dulu tuh kebudayaan banyak banget, benderanya juga banyak, terus yang lebih asiknya lagi, ada konser musik besar-besaran. Coba liat sekarang, semua dibatasin sama pemerintah, hidup kita tuh kayak roboy yang di rancang sesuai program pemerintah,” ucap Quera yang membuat aku berkhayal kalau perang itu gak pernah terjadi, apa yang bakal terjadi sama bumi ini. “Makanya itu Que, aku pengen banget ngungkap apa yang selama ini di tutupin sama pemerintah, apa yang bikin pemerintah takut buat warganya saling berhubungan sama warga di luar negara kita, jangan di luar negara kita, di luar dari kota aja, kita gak di bolehin.” Aku mengangkat bahu, “Bahas yang kayak gini tuh bakalan panjang, oh iya tadi Zifra bawa surat kan tentang pertemuan besok, terus ada yang janggal di sana, karena di sana ditulis bakal ada peresmian dari hasil rapat 20 tahun yang lalu. Permasalahannya, apa yang udah mereka sepakatin dari dulu? Aku gak yakin kalau sekarang kita bakalan dalam keadaan baik-baik aja.” “Maksud kamu itu kayak teknologi yang dibuat sama IM generasi 78 gitu? Kayak Zyndra sama Zawle yang sekarang kita permasalahin?” Aku menganggukan kepala, mengeluarkan surat yang tadi diberikan Zifra, “Bisa jadi teknologi yang bernama Zyndra sama Zawle yang bakal di resmiin sama 8 negara, tapi mustahin juga, karena kalau itu terjadi pemerintah belum punya persiapan biar tetap hidup tanpa pakaian pelindung.” “Alya,” Quera memegang lenganku, “Bisa aja pemerintah sebenernya secara diem-diem udah nyiapin ini semua sebelum mereka bikin alat mematikan itu.” “Engga Que, itu mustahin bisa dilakuin.” “Gak ada yang mustahin buat tahun ini, pemerintah yang punya kendali.”  
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN