AJ#10

1609 Kata
Aku membuka jendela kamar, membiarkan angin pagi yang masih segar memenuhi kamar. Sekarang adalah hari yang udah aku dan yang lain tunggu, hari pertemuan dengan 8 negara bagian setelah perjanjian lama di 20 tahun. “Alya kamu harus semangat, inget banyak orang yang udah naro kepercayaannya sama kamu,” rapalku sebelum bersiap untuk pergi ke SMA Argaraya, SMA paling bergengsi di negara Timur. Flashback Tahun 2870 terpampang dengan jelas di kalender sekolah SMA Argaraya, pemandangan pertama saat aku memasuki ruang kelas sains 10. Aku mencoba untuk bisa menguasai diri karena hari ini adalah hari tersulit dan bersejarah untuk seluruh negara, bukan karena apa-apa tapi karena perjanjian 8 bagian dunia akan dibicarakan kembali setelah 20 tahun berlalu dengan cepat, dan itu bukan hal yang biasa untuk semua manusia yang ada. Apalagi setelah 500 tahun dari perang besar umat manusia, perang yang menyebabkan perubahan yang sangat signifikan untuk dunia. Aku mengambil tempat duduk di sisi kiri dekat dengan jendela yang menghadap langsung ke arah lapang utama SMA Argaraya, ini tempat paling enak menurut aku, pas karena di sini aku bisa menikmati cahaya langsung dari matahai dan pastinya melihat pemandangan dari luar jendela. Aku mengeluarkan buku untuk pertemuan nanti, 1 jam dari jam 10 pagi ini. “Huft sedikit menyebalkan,” ucapku yang menggaris bawahi beberapa hasil data yang masih sedikit ambigu, meralatnya dan mengganti dengan kata-kata yang lebih logis. “Alya jangan lama-lama di ruangan ini, profesor udah nyariin kamu buat bantu perundingan bagian kita. Jangan sampe kita malah jadi korbannya sekarang, ilmu pengetahuan sangat dibutuhkan dan gak ada satu negara bagian pun yang bisa bertahan tanpa 4 momok penting dunia,” ucap perempuan yang berdiri dengan jas putih di lengannya, beberapa kali dia membenarkan letak kacamata berbingkai bundar di ujung hidungnya. Aku mengangkat kepala, melihat jam yang berada di dinding kelas, sekarang udah jam 10 lebih 30 menit, secepat itu waktu berlalu? Perasaan aku baru aja benerin satu laporan junior untuk presentasi mereka yang pertama kali nanti sore. Aku menghela napas, “Makasih loh udah ngingetin aku Nay, tapi emangnya harus aku ya? Aku yakin masih ada yang lebih pantes buat ngedampingin profesor. Nay, jujur aja aku takut salah ngambil keputusan kayak bagian Utara kemarin saat perjanjian 20 tahun yang lalu. Gimana pun, kita semua tau kalau ini bakal berefek besar buat kita selama 20 tahun sebelum perjanjian ulang kembali.” Aku mengadah menatap wajah Nayla yang sama tegangnya dengan aku sekarang, semua orang tau bukan perkara mudah memutuskan sesuatu untuk kepentingan semua umat manusia. Dari dulu sampai sekarang aku masih gak ngerti dengan pola pikir mereka yang terdahulu, kenapa sekarang bumi harus dibagi dengan 8 bagian dan gak ada negara-negara yang berjumlah ratusan seperti sebelum peperangan terjadi. “Alya dengerin kata-kata aku yang pasti udah sering kamu denger, kalau profesor aja percaya sama kamu buat dampingi, berarti kamu emang udah cocok dari segala sisi buat nemenin profesor.” “Tapi aku sekarang aku gak lagi baik-baik aja Nay, banyak yang aku pikirin dan,” aku menghela napas pendek, “takut perfoma aku gak sebaik biasanya.” Nayla mengangkat daguku agara tatapannya sejajar dengan mataku, “Aku tau kamu gak baik-baik aja, apalagi waktu kemarin kamu cerita tentang masalah keluarga kamu, tapi Alya yang aku kenal gak selemah itu, dia kuat karena dia setangguh karang.” “Mau ketawa sama ucapan kamu, tapi gak lucu,” ucapku dengan mata yang berkaca-kaca. “Dasar ini anak,” desis Nayla yang mengusap pipiku, “Alya kamu harus inget jangan ngorek masa lalu kayak waktu itu,” peringat Nayla dengan nada tegas, matanya menatap tajam ke arahku, “kamu sendiri tau kan konsekuensi yang bakal kamu dapet setelah mengorek masa lalu itu? Bisa aja cuman dipenjara selama 3 bulan kayak waktu itu, atau bahkan hukumannya bisa lebih dari itu, aku gak mau sahabat aku yang pinter ini, kembali melakukan kesalahan yang bodoh itu.” Aku meletakan pena yang aku pegang, “Nay menurut kamu logis gak kalau sekarang kita hidup selalu di awasin pemerintah, sekarang aja para guru besar itu orang-orang yang mereka pernah terjun langsung ke 8 negara bagian, dan mereka jadi aneh setelah melakukan perjalan itu kata orang-orang yang satu zaman dengan mereka, terus aku penasaran sama 1 bahasa khusus untuk perundingan, cukup aneh dan terkesan sulit untuk di pahami sama kita.” “Kenapa kamu harus mikirin yang kayak gitu sih? Itu bukan ranah urusan kita sekarang, gak ada hubungan sama semua yang kita lakuin di sini. Udahlah, gak perlu ikut campur sama urusan pemerintahan, pasti mereka udah berusaha ngasih yang terbaik buat kita.” “Kalau misalnya bukan itu tujuan mereka? Kamu mau bilang apa?” tanyaku dengan tatapan tajam. “Alya itu cuman konspirasi-konspirasi dari pemikiran yang udah kamu buat sendiri.” “Engga Nay, itu bukan konspirasi tapi itu semua udah sesuai dari data yang aku cari, kamu harus nyoba buat lakuin penelitian itu. Gak ada gunanya otak yang kamu punya, kalau kamu gak bisa mikir sampai ke arah sana. Coba kamu liat, udah berapa banyak orang yang neriakin keadilan malah berujung penangkapan dari pemerintah!” Nayla memutar bola mata jengah, “Al aku gak mau berantem sama aku, cukup dengan pemikiran konspirasi gila kamu, sekarang yang harus kamu pikirin adalah tentang perundingan nanti.” Nayla mendorong tubuhku yang tadi aku condongkan ke arahnya dengan jari jemarinya, membuat aku mendecih kesal, kenapa harus Nayla, sahabat aku, yang malah ngebela pemerintah? Berbeda sama aku yang berusaha mencari satu persatu rahasia yang pemerintah sembunyikan. “Aku tau kok apa yang harus aku lakuin sekarang dan aku juga gak mau berantem sama kamu hanya karena hal ini, tapi emangnya hanya dengan cara ini kita bisa damai? Kita bisa hidup damai tanpa perlu takut setiap 20 tahun sekali, kita gak perlu ngerasa di peras atau memeras negara lain, kita pasti ngerti sama perasaan antara satu manusia dengan manusia lain,” ucapku yang menekan setiap kata dari ucapan yang keluar dari mulutku. “Entah berapa kali aku harus bilang sama manusia batu kayak kamu, kita hidup bukan di tahun sebelum peperangan besar umat manusia. Sekarang banyak hal yang gak sama kayak dulu lagi, dan udah jelas berbeda dari tahun yang kamu agung-agungin itu. Buat contoh nih, negara kita gak bisa buat nanam tumbuhan pangan, saking udah banyak cara yang kita lakuin tapi sayangnya sisa dari efek peperangan itu masih ada sampai sekarang. Bukannya tumbuh sama tanaman pangan, yang ada tanaman beracun yang harus kita olah dengan suah payah biar bisa kita makan atau gak di jadiin obat. “Aku tau kok, pemikiran aku ini pasti keliatan banget parnonya, tapi menurut aku pemerintah udah ngasih yang terbaik buat kita. Ngorek masa lalu, bukan berarti kita bisa hidup lebih aman lagi, bisa aja itu malah awal dari perpecahan dan perang lanjutan, kita gak ada yang tau.” Aku mengangguk mengerti dengan pemikiran parno Nayla, “Aku tau kok, tapi aku bener-bener penasaran kenapa semua bisa terjadi, terus apa faedah dari perjanjian ulang setiap 20 tahun sekali? Kamu tau sendiri kan kalau negara bagian timur laut itu bener-bener berbahaya, dia punya pusat nuklir di bumi yang bisa kapan aja dia ledakin di negara bagian orang lain dan ujung-ujungnya, kita yang kena imbas bukan mereka yang cukup berkuasa.” “Ya aku tau untuk masalah yang cukup pelik, tapi sekarang yang perlu kamu pikirin adalah negara bagian kita itu fokusnya cuman di bidang teknologi, jadi negara-negara bagian yang lain itu gak terlalu penting buat kita urusin. Kita gak perlu mikirin, gimana dapetin makanan, dapetin ikan atau makhluk laut, kita juga gak perlu mikirin senjata kita dapet dari mana, itu gak perlu Al kita---“ “Tapi pendidikan yang lainnya juga penting, kita harus tau semua ilmu pendidikan yang ada di bumi ini, kita bisa kenal banyak hal dan faham sama banyak hal juga, tanpa perlu keliling dunia. Kita bisa tau kalau kalau ribuan tahun yang lalu, ada makhluk besar yang hidup di bumi dan sekarang cuman ada tulang belulang yang gak utuh karena hasil perang besar,” tukasku dengan cepat dengan berapi-api. “Tapi dari itu semua, semua negara butuh sama negara kita,” potong Nayla yang sangat salah. “Bukan kayak gitu konsepnya Nay! Kita semua saling butuh antara satu negara dengan negara lain, terus sekarang kayak gini deh, kita bukan bagian dari negara penghasil senjata, jadi gimana caranya kita bisa mikirin buat mempertahanin negara kita, bisa aja negara lain nyerang dan negara kita kekurangan seja,” tambahku dengan suara yang perlahan mulai merendah. Nayla langsung menoyor kepalaku dengan lengannya, dia menggelengkan kepala mendengar ucapan aku yang mungkin gak masuk akal bisa terjadi saat ini, di saat kehidupan katanya sudah damai dan gak perlu untuk takut, tapi gak ada salahnya bukan kalau kita mikir sampai ke sana? Ya gimana lagi, semua bisa jadi kemungkinan saat ini. “Nih manusia yang terlalu banyak belajar, mikirnya kayak gini kan? Ini tuh gak logis banget Alya, inget nih ya kita udah hidup damai selama 450 tahun dan gak ada satu kemungkinan buruk yang terjadi kayak ucapan kamu tadi. Karena kita semua tau kalau sampe itu terjadi, bukan hal yang gak mungkin kalau kudeta besar-besaran itu bakalan terjadi dan itu lebih berbahaya untuk semua umat manusia yang saat ini udah hidup damai tanpa perlu mikir kayak kamu.” Aku menghela napas panjang, mengedikan bahu acuh. Mengambil dua buah laporan yang akan jadi bahan perundingan nanti, aku melambaikan tangan sebelum keluar dari dalam ruangan. Mengambil napas dalam-dalam, mencoba untuk tidak memikirkan ucapan Nayla yang logis untuk saat ini, kudeta besar yang ditakuti semua manusia mungkin aja bisa terjadi. Aku berhenti berjalan di depan perbatasan sekolah dengan ruangan khusus, mengambil laporan junior untuk mengisi waktu kosongku, mengerutkan dahi saat ada satu kalimat dari laporan yang janggal, apa maksud dari permohonan pertolongan?
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN