AJ#11

1557 Kata
Aku menggigiti kuku-kuku jariku, menghilangkan perasaan cemas yang tidak ada abisnya, banyak orang yang aku kenal gak pernah berpikiran yang sama dengan aku, mereka malah mikir aku terlalu overthingking dengan kondisi sekarang. Menghela napas kembali, berusaha untuk berpikir santai dengan apa yang ada. Menghilangkan kata-kata dari Nayla, dan kalimat dari laporan junior yang tetap mengusik pikiran aku saat ini “Alya gimana untuk nanti?” tanya profesor yang cukup mengejutkan aku, dan sekarang beliau berjalan beriringan dengan stelan formal yang merubah tampilan menjadi lebih berwibawa. “Semuanya udah siap profesor Hangga, di sini ada beberapa data yang bakal jadi nilai plus buat kita saat nanti perundingan, pertama kita sekarang lagi mengembangkan alat-alat untuk dunia kesehatan yang mudah dan praktis, khususnya di daerah yang rawan terjadi bencana alam karena kasus kematian dari bencana alam terus meningkat. Ditambah saat ini kita sedang mengembangkan beberapa teknologi yang bisa membantu manusia dalam jejaring sosial, khusunya untuk mencari kabar terbaru antar negara,” jelasku yang membuka satu laporan hasil penelitian yang sudah jauh-jauh hari aku buat. Langkah profesor Hangga langsung terhenti, membuat aku mau tidak mau ikut menghentikan langkah kakiku, menatap bingung profesor Hangga yang menatap kesal ke arah aku. Aku berusaha menelaah kembali kata-kata yang baru aku keluarkan, dan baru sadar kalau penelitian kedua itu memiliki peluan besar untuk di tolak. “Alya kita semua tau kalau antar negara bagian dilarang untuk menjalin komunikasi kecuali para petinggi untuk kepentingan bersama, karena itu akan menjadi masalah besar kalau sampai mereka menyetujuinya. Alasan kita tetap bertahan selama 450 tahun ini, karena gak ada satu orang pun warga biasa yang bisa saling berkomunikasi.” Aku mengerutkan dahi, “ta-tapi profesor bisa baca dulu data yang sudah saya buat di sini, karena maksud saya di sini, gak sembarangan orang bisa menggunakan teknologi, karena tujuan utama teknologi ini di buat adalah untuk mempermudah setiap negara memberikan perkembangannya, apalagi jika sampai terjadi bencana, teknologi ada memberikan informasi agar setiap negara bisa turun tangan untuk membantunya.” “Saya tau ini demi kebaikan, tapi menurut saya teknologi saat ini udah cocok untuk kita semua, meminimalisir kemungkinan terburuk yang akan terjadi,” jawab profesor yang mulai merendahkan suaranya, tapi tidak merubah ekspresi wajahnya. “Bukan saya mau membantah anda, ta-tapi profesor Hangga. Teknologi saat ini masih banyak kekurangan, salah satunya kalau ada bencana maka seluruh jaringan di negara itu akan otomatis padam, dan itu mempersulit bantuan karena jaringannya akan pulih dalam waktu 3 sampai 5 hari profesor. Niat dari IM generasi 80 dan 81 adalah untuk mempermudah itu,” jelasku yang membuka satu laporan dari hasil penelitian ini, memberikan penelitian dari ketahan jaringan teknologi yang udah aku dan rekan IM buat selama 2 tahun terakhir. “Ini terlalu berisiko untuk dicontoh oleh masyarakat, apa kalian IM muda bisa memberikan jaminan kalau tidak akan terjadi kudeta dari apa yang kalian buat?” tanya profesor Hangga dengan senyum menyeringai, tatapan yang membuat aku terasa di kutub es, sangat dingin Ini bukan jawaban yang aku inginkan, aku belum siap dengan jawaban profesor Hangga yang memutar balikan hasil penelitian yang sudah aku dan yang lain buat. Memang tujuan awal adalah agar aku dan IM muda bisa berkomunikasi dengan IM muda di negara lain, saling bertukar informasi dan bisa saling membantu satu sama lain, tapi sepertinya itu hanya akan menjadi impian yang sulit untuk aku dapatkan. “Maaf profesor,” sesalku dengan lirih. “Kalian generasi muda, gak tau sekejam apa bencana besar kalau keinginan kalian terwujud. Saya tau ini adalah usaha kalian untuk membuat negara kita jauh lebih baik, tapi tolong pikirkan konsekuensi besar yang bakal terjadi. Jadi stop berpikir bisa menyatukan semua negara, Ini bukam novel yang kalian tau kisah akhirnya akan seperti apa, ini dunia nyata Alya yang gak bisa seenaknya kamu ubah!” jelas profesor Hangga dengan wajah yang sudah memerah, menahan amarahnya dengan sikap keras kepala yang sudah aku lakukan tadi. Aku merunduk, berusaha menyembunyikan air mata yang menggenang di pelupuk mata, membekap mulut yang dengan lancang mengeluarkan bunyi isakan tangis. Aku menghela napas, menatap langsung wajah profesor Hangga. “Baik profesor, maaf untuk penelitian yang tidak berguna. Sepertinya saya kurang bisa untuk ikut perundingan, saya belum tau bahasa apa yang bakal di pakai dan saya takut mengecewakan semua orang yang sudah percaya dengan saya,” ujarku dengan lamat-lamat. “Saya yang akan berbicara, kamu cukup jadi asisten saya di sana. Jangan terpengaruh dengan ajakan mereka, kita gak tau apa yang sekarang mereka incar, penelitian kita harus terus berjalan.” Aku mengangguk mengiyakan ucapan Profesor Hangga yang tidak bisa dibantah lagi, aku berjalan merunduk mengikuti langkah profesor Hangga yang lebar. Pertemuan rutinan ini selalu dilaksanakan secara bergilir setiap 20 tahun sekali, dan tahun ini negara bagian Timur yang menjadi tuan rumah. Aku memasuki ruangan khusus yang sudah di berikan penjagaan ketat, dan tentu saja hampir di semua ruangan terdapat pendeteksi alat-alat berbahaya yang akan berbunyi jika ada manusia di dalamnya yang membawa senjata berbahaya. “Hai..” sapaku saat tubuhku akan dilakukan pemeriksaan oleh Anita, salah satu teman kelas saat melakukan tes khusus untuk penempatan. “Tuh kan udah aku prediksi kalau Alya yang bakal maju ke sini,” ujar Anita yang menyerahkan 2 laporan yang tadi dia ambil, mencubit pelan pipiku dengan pelan, tersenyum manis. “Keknya sapaan yang sering banget aku denger saat ini, gak ada yang lain gitu?” guyonku dengan senyum simpul, aku menyenggol pelan bahu Anita yang tertawa kecil. “Gak ada Al, itu sapaan untuk manusia yang istimewa kayak kamu. Selamat menjalankan misi calon profesor muda pengganti profesor Hanggerya nanti.” “Wow cukup terkejut dengan pemikiran kamu yang terlalu berlebihan,” ujarku dengan mata membelalak mendengar nama profesor besar di negara timur. Bukan ingin menafikan atau menolak doa tulus dari Anita, tapi sepertinya sulit untuk menjadi sosok profesor Hanggerya yang memulai memajukan negara ini dengan teknologi-teknologi luar biasa, menopang satu persatu negara ini dari sisa-sisa peperangan. “Hahaha semua orang yakin kamu bakal seperti profesor Hanggarya yang berpengaruh di negara kita dari dulu sampai saat ini, mungkin kamu butuh 5 sampai 10 tahun lagi biar bisa sejajar dengan profesor Hanggarya. Aku udah jadi saksi bisu dari penelitian-penelitian yang udah kamu buat, gak ada satu teknologi yang gak berguna untuk umat manusia, bahkan buat pekerjaan yang seperti aku aja, udah pernah kamu buatin teknologinya, ” sela Anita yang menaik turunkan alisnya, dia memberikan senjata mini dari teknologi yang pernah aku kembangkan, gak menyangka akan membantu seperti ini. Pertemuan yang berlangsung selama 2 jam lebih berakhir impas untuk semua orang, menurut pengamatan yang sudah aku lihat selama ini, perjanjian kali ini adalah perjanjian yang luar biasa di luar nalar aku, karena baru tahun ini perjanjian akhir bisa menguntungkan semua negara. Cukup mengherankan, karena biasanya ada satu negara yang akan menjadi tumbal, tapi yang aku dapati sekarang? Berbeda dari prediksi yang ada, apa jangan-jangan karena surat dari perjanjian 20 tahun yang lalu? Apa ada hubungannya dengan teknologi berbahaya itu? “Alya kenalkan dia Samuel yang akan melakukan pertukaran untuk tahun ini sampai 3 tahun ke depan,” ucap Profesor yang berjalan bersama satu laki-laki yang berbadan tegap, wajahnya dingin, dengan bekas luka di bagian alis kiri. “Salam kenal Samuel, saya Alya yang akan menjadi pembina kamu selama melakukan pertukaran,” sambutku dengan mengulurkan tangan yang disambut oleh Samuel, dia tidak membalas senyumanku bahkan hanya hitungan detik dia berwajah datar lagi. “Untuk ke depannya semua perkembangan teknologi untuk negara selatan, akan langsung ditangani oleh Alya tapi seperti biasa Alya untuk pelaporan saya harap setiap dua bulan sekali ada di meja kerja saya sebagai arsipan,” perintah final profesor Hangga, prediksi yang lain ternyata benar, aku yang akan menjadi tumbal untuk ini semua! “Baik profesor, oh iya profesor Samuel ini apa udah mengerti bahasa kita, tadi kan aku bicara menggunakan bahasa internasional kita. Aku takut nanti susah berkomunikasinya,” ucapku yang menggaruk tengkuk belakang, hanya sambutan dan perkenalan singkat yang aku tau dari bahasa internasional itu. “Alya tenang aja, Samuel udah diberikan pelatihan untuk bahasa, bukan begitu Samuel?” “Benar profesor, saya faham dengan bahasa kalian semua, tapi mungkin pelafalannya sedikit aneh untuk di dengar,” balas Samuel yang tersenyum tipis, benar-benar tipis, bahkan mungkin itu gak bisa di sebut dengan senyuman. Kak Fincent berdiri di luar gedung SMA Argaraya dengan plastik berisikan cemilan kesukaan aku, dia merentangkan tangan, siap menerima pelukan, dan dengan semangat aku berlari menuju pelukan kak Fincent, menenggelamkan wajah di bahu kak Fincent. “Gimana tadi? Lancarkan? Gak susah kayak yang kamu bayangkan?” Aku mengangguk dengan semangat, apa yang di ucapin sama kak Fincent bener banget. “Bener banget kak, semua lancar dan sesulit yang aku bayangin kayak dulu. Kak kita langsung pulang kan? Aku mau istirahat dulu sebelum sore jadi tim penilai buat penelitian IM generasi 84, mereka baru di bebasin buat bikin penelitian soalnya,” ucapku yang masuk ke dalam mobil kak Fincent, menutup jendela mobil, melihat ke arah gerbang utama. “Itu profesor bareng sama siapa Al?” tanya kak Fincent yang melirik ke arah gerbang selatan yang terdapat profesor Hangga dan Samuel, orang yang baru beberapa menit lalu di kenalin ke aku. “Dia orang baru buat ikut penelitian di kita,” jawabku yang masih terfokus ke arah profesor Hangga, dari gesturnya, profesor Hangga kayak udah lama kenal sama Samuel, sikapnya juga gak kaku kayak biasanya, malah lebih terlihat manusiawi. ‘Sebenernya Samuel itu siapa? Kenapa kayak bukan orang asing di negri Timur?’
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN