AJ#12

1593 Kata
Aku menulis laporan pertanggungjawaban untuk pertama kalinya dan juga surat rekomendasi untuk mengganti penanggungjawab Samuel, bukan karena bentrok dengan penelitian ilegal tapi karena dia sering membuat ulah, bukan sekali dua kali, tapi dalam 2 bulan terakhir ini, dia udah membuat ulah sebanyak 12 kali. Aku harus ngasih penghargaan karena pencapainnya ini, senakal-nakalnya orang di negara Timur, mereka gak bakal membuat ulah sebanyak itu. “Alya buat penulisan detail pembuatan teknologi yang kemari itu gimana?” tanya Samuel yang baru masuk ke laboratorium khusus, membawa satu map yang berisi tahap pembuatan alat. Aku mengangkat kepala, menghela napas, menggelengkan kepala melihat tingkah Samuel yang luar biasa membuat aku harus mengusap d**a, gak masalah kalau dia mau masuk ke laboratorium tapi yang jadi masalahnya itu dia dengan santai masuk ke laboratorium khusus tanpa baju khusus perlindungan, meski pun cuman ngasih laporan tapi harus sesuai prosedur yang ada! “Samuel!” kesalku yang menarik rambut pelan, “berapa kali aku harus bilang sama kamu buat tetep pakai alat pelindung diri, gimana kalau misalnya ada orang yang lagi bawa bahan kimia? Gak sayang sama tubuh kamu? Gak kasian sama aku yang udah kelimpungan karena kamu?” tanyaku dengan putus asa, memasang wajah letih karena sikapnya yang sulit di atur. Samuel hanya mengedikan bahu acuh, “Ribet banget kalau harus pake alat pelindung-pelindung kek gitu, lagian aku ke sini cuman mau nanya ini, handphone kamu gak aktif soalnya. Oh iya, lagian kamu udah tau kan kalau misalnya kamu itu penanggungjawab, jadi terima-terima aja sama tingkah aku yang kek gini,” jawabnya dengan santai, kata-katanya bisa memancing emosi orang ya? Aku melempar pulpen ke arah Samuel, mencoba untuk mengontrol emosi yang sekarang meletup-letup. “Udah sana kamu keluar deh! Emosi aku lama-lama kepancing terus, kemarin aku harus dipanggil sama bagian keamanan untuk ke 12 kalinya karena ulah bodoh kamu, tolong ya buat menghargai orang-orang di sini yang punya peraturan sendiri, jangan seenaknya dan semaunya kamu doang!” “Dih cupu banget kayak gini doang kamu udah nyerah, gitu aja udah kesel, gak ngerti kenapa profesor Hangga bisa percaya sama cewek selemah, secupu dan---“ Aku langsung berlari ke arah Samuel, berjinjit, menjewer telinganya dengan kencang sampai dia sedikit mengaduh kesakitan. Aku mendorong tubuhnya, tapi karena Samuel yang tiba-tiba menarik tubuhku membuat keseimbanganku langsung goyah, membuat aku terjatuh di atas tubuh Samuel. “SAMUEL!” aku berteriak di depan wajahnya, berdiri dan merapihkan kemeja yang sedikit tersingkap karena terjatuh di atas tubuhnya Samuel. “Hahaha gitu aja langsung jatoh,” ledeknya yang dengan santai keluar dari laboratorium. “Ya ampun aku masih mau hidup lama, gak marah-marah kayak gini!” aku menelungkupkan kepala di lipatan lengan di atas meja. “Alya kamu kenapa?” tanya Alyarn, aku mengangkat kepala, melihat Alyarn membuka pintu ruangan dengan lengan yang memegang obat yang berada di botol kaca. “Biasa, manusia aneh itu bikin ulah lagi, gimana aku mau fokus sama penelitian kita di sini sama itu, kalau hampir 24 jam aku harus siap sedia gara-gara ulah dia. Kemarin itu masalah paling rumit yang harus aku selesaian, dia sama sekali gak ngerasa bersalah udah bikin ulah kayak gitu Alyarn. Lama-lama aku bisa kena darah tinggi, sikap dia itu nyebeli banget.” “Sabarin aja untuk 3 tahun ke depan Al.” Alyarn tertawa pelan, berjalan ke arahku, mengambil tempat duduk yang langsung berhadapan dengan aku. Dia meletakan botol berisi obat-obatan yang baru akan di bawa ke proses lebih lanjut yaitu tahap pencocokan dengan genetik manusia. “Aku bukan mau ngeluh ya, tapi sikap dia tuh udah luar biasa bikin aku dalam masalah terus, kemarin dia mencahin tabung dari hasil penelitian IM generari 79, bukan mencahin tabung kosong tapi tabung yang udah berisi cairan untuk tempat penyimpanan obat-obat khusus,” jelasku yang memegang kepala yang berdenyut hebat, meneguk air minum di botol sebelahku sampai tinggal tersisa setengah. “Iya sih itu parah banget, kasian IM generasi 79 harus ngulang perakitan dari awal, saking alatnya itu tinggal tahap percobaan sebelum dipake di rumah sakit, dampaknya obat khusus jadi gak bisa di pake sedangkan kita tau kalau obat-obat khusus itu gak cuman sehari dua hari bisa dibuatnya, bahan-bahannya itu masih susah di cari,” tambah Alyarn yang memang benar adanya. “Makanya Alyarn gimana aku gak ngerasa pusing, kemarin obat langka malah dengan santai dia taburin di makanan ilmuwan muda bayangin banyak IM yang harus dirawat selama 2 bulan karena sikap sembronanya itu, aku bingung apa yang membuat dia ke pilih buat ikut pertukaran ini?” Alyarn menepuk bahuku, sama bingung dengan apa yang harus dilakukan, bukan hanya nyusahin aku tapi nyusahin Ilmuwan muda yang lagi penelitian, dari gangguan kecil sampai gangguan yang gak bisa di toleransi lagi. “Udah udah jangan di bikin pusing, IM generasi 80 siap bantuin kamu kok, tenang aja.” “Untung ada kalian, kalau gak ada,” aku mengangkat bahu, “udah gila ngurusin satu manusia itu.” Aku berjalan menuju ruangan profesor Hangga dengan dua map pelaporan tentang perkembangan Samuel selama 2 bulan ini, ruangan profesor Hangga berada di bagian selatan gedung utama sekolah Argaraya, satu gedung dengan para petinggi. “Kita harus secepatnya bergerak, negara bagian Barat udah bersiap dengan nuklir mereka, jangan sampai mereka melakukan pemborbadiran ke negara kita, terlalu berbahaya untuk warga-warga kita,” ucap suara perempuan yang cukup aku kenali, aku hanya bisa berdiri mematung mendengarkan percakapan profesor Hangga dengan prrofesor Astriya. “Masalahnya alat yang kita siapin belum sepenuhnya selesai, tapi bisa kita coba dengan obat yang udah Ilmuwan muda generasi 79 racik, salah satu cara untuk bisa menguasai negara-negara lain.” “Kalau kayak gitu, apa ilmuwan muda siap bantu kita? Maksudnya, apa mereka gak mempermasalahkan harus membuat hal-hal seperti itu? Sekarang kebanyakan dari mereka mempertanyakan penelitian yang mereka lakukan, sedangkan kita gak bisa ngasih tau tujuan utama dari penelitian yang udah mereka lakuin selama ini.” “Anda belum bisa menguasai mereka, kita semua di sini tau kalau mereka harus siap saat kita perintahkan untuk membuat alat ataupun obat-obat yang mematikan, karena mereka adalah alat untuk membuat negara Timur bisa menjadi penguasa, adidaya dari seluruh negara dan yang terpenting adalah kita bisa menjadi penguasa. Lagian mereka melakukan sesuatu harus sesuai persetujuan kita kan?” desis profesor Hangga yang membuat deru napasku sedikit memburu, aku mempertajam indra pendengaran untuk berjaga-jaga jika ada yang berjalan ke arah ruangan ini. ‘Mampus ada yang ke sini lagi! Belum semua aku dengerin!’ “Tenang Alya, sekarang kita masuk ke dalam,” bisiku sepelan mungkin, mencoba mengotrol emosi. Tok... tok... “Profesor ini aku Alya mau menyerahkan pelaporan, apa ada profesor?” Suara ricuh langsung terdengar, “Kita bahas ini lagi saat Alya pergi, kita gak tau dia ngedukung atau engga dengan usulan kita,” ucap profesor Zedna di tengah ricuh barang-barang. “Silahkan masuk Alya,” teriak profesor Hangga setelah suara hening dari dalam ruangan. Aku membuka pintu ruangan profesor Hangga, menatap sekeliling ruangan yang penuh dengan profesor-profesor yang sangat di hormati di negara Timur, mereka menatap sekilas dan tersenyum ke arahku, sedikit tidak menyangka kalau mereka ikut andil dari rencana itu. “Ma-maaf profesor, saya gak tau kalau anda dan profesor lain lagi ada kumpulan,” ucapku berpura-pura kikuk saat 8 profesor hebat ada di ruangan profesor Hangga. Profesor Zee memegang lenganku, “Gak apa-apa kok Alya, kita cuman bahas untuk penelitian lanjutan ilmuwan muda nanti, oh iya katanya sekarang kamu lagi fokus sama penelitian di bidang teknologi bagian medis ya? Gak salah kalau profesor Hangga membanggakan terus kamu.” “Iya profesor, selama 2 tahun ini Alya bakal fokus dengan teknologi bidang medis, soalnya ada beberapa kasus yang gak bisa menggunakan alat-alat lama, bahkan udah memakan korban karena telat penanganannya dari dokter. Sebuh kehormatan buat Alya bisa dibanggakan oleh profesor Hangga yang sangat hebat,” jawabku dengan senyum simpul. Profesor Zedna berjalan mendekat, “Kenapa penelitiannya tidak ke arah bidang persenjataan atau bidang lainnya? Teknologi yang kamu buat itu selalu di puji sama banyak orang loh, bahkan barang-barang itu udah banyak di pakai oleh semua negara.” “Sebuah kehormatan bagi saya jika alat yang saya dan rekan saya buat bisa membantu banyak orang, tapi untuk pembuatan alat seperti itu selalu memakan waktu yang tidak sebentar, paling sebentar itu 1 tahun seperti alat pendekteksi senjata tajam dalam ukuran kecil karena bahannya yang masih sulit untuk di olah dan di buat se-sederhana mungkin.” “Sangat di sayangkan kalau kamu gak mengembangkan bakat yang kamu punya di di banyak bidang,” ucap profesor Alvi yang duduk di sebelah kanan profesor Hangga, memegang cangkir berisi anggur merah yang cukup menyengat aromanya dari jarak yang tidak terlalu jauh. Aku hanya bisa membalasnya dengan senyum simpul, “Profesor Hangga ini laporan yang anda minta waktu, dan ini ada surat rekomendasi untuk pengunduran diri saya sebagai penanggungjawab dari Samuel, memang sebuah kehormatan bisa menjadi penanggungjawab untuk Samuel, tapi masih banyak tanggung jawab yang harus saya jalani. Itu semua memerlukan perhatian dari saya profesor, jadi mohon pengertiannya.” “Loh Alya kenapa gak megang aja, lumayan loh untuk tambahan sertifikat kamu dan lagi kamu bisa di ajak masuk ke negara bagiannya,” ucap profesor Zee yang mencoba meyakinkanku. “Benar kata profesor Zee, kamu bisa lebih jauh mengembangkan bakat luar biasa itu, seperti alat yang berbahan nuklir misalnya, kamu pasti bisa menciptakan alat yang luar biasa dari itu.” “Profesor Alvi bisa aja, saya tidak sehebat itu prof.” ‘Cih satu persatu muka munafik mereka terlihat dengan jelas di depan mataku, orang-orang hebat yang dulu menginspirasi aku untuk bisa seperti ini, ternyata sama seperti para petinggi yang rakus dengan kekuasaan! Bukan untuk kepentingan banyak orang, tapi untuk diri mereka sendiri!’
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN