Aku menghela napas panjang, mendengar penuturan Zack tadi siang membuat isi kepalaku rasanya ingin pecah, apalagi tau fakta bahwa pemerintah udah mulai menargetkan desa Awan sebagai salah satu desa yang akan dihancurkan dalam waktu dekat. Aku memijat pelipis, rasa nyeri karena memaksakan untuk berpikir semakin terasa sekarang. “Kak, aku harus ngelakuin perjalanan baru lagi,” ucapku ke arah profesor Hangga, kak Fincent dan Joe, kamu berempat sedang berdiskusi untuk rencana selanjutnya terutama cara membawa para warga masuk secara bebas ke desa Awan tanpa ketahuan. “Kamu gila?” gebrak Joe tak terima, “dalam kondisi kayak gini, kamu mau melakukan perjalanan lagi? Otak kamu ditaro dimana Alya? Kita lagi dalam situasi genting saat ini, kita gak bisa main-main lagi Al. Coba kamu pikirin orang-

