Ssrrrt ... Srrrrtt ... Aku bergidik ngeri melihat monster ular ini meliuk-liuk santai dan tiba-tiba berdiri di depanku. Kali ini tatapannya ke arah apa yang sedang aku bawa. Dua ekor ayam hidup sudah di tanganku. Aku bingung, harus memasukkan ayam ini dengan cara seperti apa. Membuka pintu kerandang ini? Tidak. Aku bisa kencing berdiri. Kuputuskan membawa kedua ayam kampung itu kembali ke dapur. "Dek! Serius, seribu rius! Aku tak punya nyali kasih si abon makan!" "Apaan sih, Mas! Buka aja kandangnya, masukin terus ayamnya," ketus Luna mencuci piring. "Kenapa harus ayam hidup, Dek. Ngeri ih. Gak kasian kamu sama ayam-ayam ini," ujarku dengan wajah memelas. "Sama aja kayak kamu yang tiap hari makan ayam. Itu ayam sebelumnya hidup, Mas!" Aku merengut. "Iya, tapi aku gak makan ayam hid

