Benjiro menangkap tubuhku yang terasa tak bertulang. "Kamu kenapa?" Tampak dia mengkhawatirkanku. "Ayo kita pergi," ajakku pelan. Dia mengangguk Aku membuka kaca mobil, agar udara malam masuk ke rongga hidungku. Rasanya sedari tadi, sesak memenuhi. Benjiro tak bertanya apapun. "Maafkan aku, kau jadi tak bisa puas bermain," ucapku. "Its oke," jawabnya. "Besok akan kutransfer 100 jutamu," ujarku. "Tak perlu. Kamu membawa hoki. Aku tadi sudah menang 200 juta," jawabnya datar. Aku mengukir sedikit senyum. "Kamu kenal Miss Harram?" tanyanya. "Bukan hanya kenal. Dia kekasihku selama 2 tahun. Dan baru-baru ini, kami putus." Benjiro melirikku seperti tak menyangka. "Wow, sebuah kebetulan yang luar biasa!" serunya. Aku tak bisa menanggapi apa-apa. Masih sangat shock. "M

