BEBAN DI BALIK KEMEWAHAN

1312 Kata
Gedung pusat Baumann Pharma di pusat kota Zurich adalah sebuah pencakar langit perak yang seolah menusuk awan kelabu. Di lantai paling atas, di dalam ruang rapat dewan direksi yang dindingnya dilapisi kayu ek gelap dan kaca anti-peluru, suasana terasa lebih menyesakkan daripada badai salju yang mengamuk di luar. Sienna Baumann duduk di ujung meja oval panjang. Di bawah meja, tangan kirinya mencengkeram lutut kanannya dengan kuat, berusaha menyembunyikan tremor yang mulai menjalar. Di depannya, selusin pria dan wanita paruh baya—para pemegang saham dan direktur eksekutif—menatapnya dengan tatapan yang berkisar antara ketidakpercayaan dan pemangsa yang menunggu mangsa jatuh. "Angka penjualan untuk kuartal ini turun empat persen, Sienna," suara dingin itu datang dari seorang pria dengan rambut perak klimis di sisi kanan meja. "Dan proyek riset Neuro-Gen kita terus mengalami penundaan. Pasar mulai berbisik bahwa kepemimpinan Baumann sedang goyah karena masalah... kesehatan pribadi." Sienna menegakkan punggungnya, meski setiap saraf di tulang belakangnya terasa seperti ditusuk jarum es. "Proyek Neuro-Gen sedang dalam tahap kalibrasi akhir. Kita tidak bisa merilis obat saraf ke pasar tanpa kepastian seratus persen, Tuan Weber. Mengenai kesehatan saya, itu tidak relevan dengan performa perusahaan." "Benarkah?" Weber tersenyum tipis, sebuah senyum yang tidak mencapai matanya. "Kemarin Anda terlihat di Rumah Sakit Universitas bersama... suami Anda. Bukankah dia pria yang gagal menyelamatkan klinik kecil ayahnya? Kehadirannya di sisi Anda tidak memberikan kepercayaan diri pada investor, Sienna. Itu justru terlihat seperti tindakan putus asa." Sienna merasakan gelombang panas kemarahan di dadanya, namun segera diikuti oleh rasa lemas yang tiba-tiba. Wajah Marc Fischer terlintas di benaknya—pria yang tadi pagi berani menantang Dr. Ulrich. Ia ingin membenci Marc karena mempermalukannya di depan dokter, tapi di sisi lain, peringatan Marc tentang "jam sepuluh malam" terus terngiang seperti detak jam yang menyeramkan. "Marc Fischer adalah urusan pribadi saya," jawab Sienna tegas, meski suaranya sedikit parau. "Fokuslah pada agenda rapat. Kita akan membahas akuisisi laboratorium di Lyon." Rapat berlanjut selama tiga jam berikutnya. Bagi Sienna, setiap menit terasa seperti siksaan fisik. Kata-kata para direktur menjadi dengungan kabur di telinganya. Pandangannya sesekali mengabur, dan ia harus menggigit bagian dalam pipinya agar tetap sadar. Di balik kemewahan setelan jasnya dan jam tangan berlapis berlian, ia merasa seperti bangunan yang keropos dari dalam, menunggu satu embusan angin kencang untuk meruntuhkannya. Sementara itu, di sebuah taman kecil yang tersembunyi di dekat Limmatquai, Marc Fischer duduk di bangku kayu yang tertutup lapisan tipis es. Ia tidak mengenakan sarung tangan, namun tangannya tetap hangat, memancarkan uap tipis yang hampir tak terlihat. Ia sedang menatap aliran sungai Limmat yang jernih dan dingin. Pikirannya melayang jauh, menembus ruang dan waktu, kembali ke sebuah puncak gunung yang dikelilingi awan di kehidupan masa lalunya. Di sana, ia adalah Mu Rong. Ribuan murid akan berlutut hanya untuk mendapatkan satu petunjuk darinya. Ia pernah menyembuhkan seorang kaisar hanya dengan memetik senar kecapi yang dialiri qi. Hidupnya adalah tentang pengabdian pada keabadian dan keseimbangan alam. Ia memiliki segalanya—kekuatan, rasa hormat, dan pengetahuan yang melampaui batas logika manusia. Tapi di sini... Marc menghela napas, uap putih keluar dari mulutnya. Di sini aku hanyalah 'menantu benalu'. Seorang pria yang identitasnya ditentukan oleh siapa istrinya dan berapa banyak utang ayahnya. Ia merasa terbelenggu. Jiwanya yang luas seperti samudra kini terperangkap dalam tubuh yang sempit dan rusak. Ada rasa rindu yang menyakitkan pada aroma ramuan herbal yang dikeringkan di bawah sinar matahari pegunungan kuno, pada bunyi gemericik air suci di kuilnya, dan pada ketenangan batin yang tidak bisa ditemukan di tengah deru mesin dan klakson mobil di Zurich. Namun, di balik kerinduan itu, ada kemarahan yang membara. Mu Rong dikhianati oleh murid yang paling ia percayai—sosok yang meracuninya tepat saat ia hampir mencapai tahap Ascension. Pengkhianatan itu adalah noda dalam perjalanannya yang murni. Apakah reinkarnasi ini adalah hukuman atau kesempatan kedua? tanyanya pada diri sendiri. Ia memejamkan mata dan mulai menjalankan teknik pernapasan Sembilan Putaran Matahari. Perlahan, ia merasakan aliran energi tipis dari air sungai dan pepohonan di sekitarnya tersedot masuk ke dalam pori-porinya. Meski sangat sedikit, itu cukup untuk menghangatkan meridiannya yang beku. Tiba-tiba, Marc membuka mata. Ia merasakan gangguan dalam aliran energi di kejauhan. Itu adalah energi Sienna. Jarak mereka hampir dua kilometer, namun karena mereka telah terikat dalam kontrak—dan mungkin karena sedikit energi yang ia berikan pada Sienna tadi pagi—ia bisa merasakan bahwa kondisi wanita itu sedang memburuk dengan cepat. Beban yang ia pikul terlalu berat, batin Marc. Sienna Baumann mengingatkannya pada putri seorang bangsawan di masa lalunya yang bersikeras menjaga kerajaannya sendirian saat semua orang ingin mengkhianatinya. Ada kemiripan dalam keras kepalanya, dalam martabat yang ia jaga meskipun tubuhnya hancur. Marc bangkit dari bangku taman. Ia berjalan menuju apotek kuno di gang sempit Kota Tua. Ia tidak punya banyak uang, tapi ia memiliki pengetahuan tentang kombinasi bahan kimia yang bahkan tidak diketahui oleh apoteker paling senior di Swiss. "Saya butuh akar Valeriana, bunga Arnica kering, dan sedikit Magnesium sulfat murni," ucap Marc kepada pelayan toko yang menatapnya heran. "Tuan, itu kombinasi yang aneh untuk teh penenang," komentar pelayan itu. "Ini bukan teh," jawab Marc pendek sambil meletakkan beberapa koin terakhirnya di meja. "Ini adalah penunda kematian." Kembali ke kantor pusat Baumann Pharma, rapat baru saja berakhir. Ruangan itu kosong, menyisakan Sienna yang masih duduk mematung di kursinya. Kepalanya terkulai lemas. Keringat dingin membasahi pelipisnya. Pintu terbuka pelan. Asisten pribadinya, seorang wanita muda bernama Clara, masuk dengan wajah cemas. "Frau Baumann, mobil sudah siap di bawah. Anda terlihat sangat pucat. Haruskah kita kembali ke rumah sakit?" Sienna menggeleng perlahan. "Tidak. Bawa aku pulang ke rumah. Aku hanya butuh tidur." Saat ia mencoba berdiri, kakinya tidak memberikan respon. Sienna hampir tersungkur jika Clara tidak segera menangkapnya. "Panggil pengawal! Cepat!" Clara berteriak panik. Dua pengawal bertubuh besar segera masuk dan membantu Sienna duduk di kursi roda lipat. Ini adalah pemandangan yang paling dibenci Sienna—terlihat lemah di bawah cahaya lampu kantornya sendiri. Sepanjang perjalanan pulang di dalam mobil Rolls-Royce yang senyap, Sienna memandang lampu-lampu kota Zurich yang mulai menyala. Ia merasa seperti sedang melihat dunianya sendiri yang perlahan memudar menjadi hitam. Tiba-tiba, ia teringat wajah Marc lagi. Ia ingat bagaimana Marc tadi pagi menatap Dr. Ulrich dengan keberanian yang tidak masuk akal. Marc telah memperingatkannya tentang jam sepuluh malam. Ia melirik jam tangan berliannya. Jam 21:15. "Clara," panggil Sienna dengan suara lemah. "Ya, Madam?" "Di mana... Marc?" "Tuan Fischer? Dia sudah kembali ke rumah dua jam yang lalu, Madam. Menurut laporan Hans, dia menghabiskan waktunya di dapur untuk merebus sesuatu yang baunya sangat menyengat. Hans sangat kesal karena baunya tidak hilang dari lantai satu." Sienna memejamkan mata. Bau ramuan? Apa yang dia rencanakan? Sesampainya di kediaman Baumann, suasana rumah terasa tegang. Para pelayan berlarian kecil menyiapkan air hangat dan obat-obatan yang diresepkan Dr. Ulrich. Marc berdiri di puncak tangga, menatap ke bawah saat Sienna didorong masuk menggunakan kursi roda. Tatapan mereka bertemu. Marc tidak menunjukkan rasa kasihan, tidak juga ejekan. Matanya tenang, namun ada kedalaman yang membuat Sienna merasa seolah pria itu bisa melihat menembus tulang dan dagingnya, langsung ke arah jiwanya yang sedang menjerit kesakitan. "Kau terlihat lebih buruk daripada tadi pagi, Sienna," ucap Marc tenang. "Diamlah, Marc," desis Sienna sambil menahan nyeri yang mulai menjalar ke perutnya. "Simpan omong kosong medismu. Aku hanya ingin istirahat." Marc tidak membantah. Ia menyingkir dan memberi jalan saat kursi roda Sienna melewatinya. Namun, saat Sienna menghilang di balik pintu kamarnya, Marc melirik jam dinding besar di lorong. Empat puluh lima menit lagi, batin Marc. Ia kembali ke kamarnya, mengambil botol kecil berisi cairan hijau keruh yang baru saja ia rebus. Tangannya bergerak dengan presisi, memeriksa ketajaman jarum peraknya di bawah lampu meja. "Kau boleh membenciku, Sienna," bisik Marc pada keheningan. "Tapi malam ini, kau akan menyadari bahwa satu-satunya orang yang bisa menahanmu tetap berada di dunia ini adalah pria yang paling kau remehkan." Kegelapan malam di Zurich semakin pekat, dan di balik kemewahan kediaman Baumann, sebuah krisis besar sedang menghitung mundur detik-detiknya.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN