PROVOKASI PAMAN URS

1333 Kata
Ruang makan keluarga Baumann di lantai dua adalah perwujudan dari kemewahan yang menindas. Lampu kristal raksasa yang menggantung di tengah ruangan memantulkan cahaya perak ke atas meja kayu mahoni panjang yang bisa menampung tiga puluh orang. Namun malam ini, hanya ada beberapa orang yang duduk di sana, dikelilingi oleh kesunyian yang tajam seolah-olah setiap denting sendok perak pada piring porselen adalah sebuah serangan. Sienna tidak hadir; dia langsung mengurung diri di kamarnya setelah pulang dari kantor. Hal ini memberikan panggung bagi sosok yang paling ditakuti di rumah itu setelah mendiang Kakek Baumann: Urs Baumann. Urs, adik dari ayah Sienna, adalah pria dengan postur tubuh tegap dan rambut yang disisir ke belakang dengan minyak rambut beraroma kayu cendana yang menyengat. Sebagai Direktur Medis di Baumann Pharma, dia memiliki pengaruh besar, namun matanya yang sipit dan selalu bergerak gelisah menunjukkan ambisi yang jauh lebih gelap daripada sekadar jabatan direktur. Marc duduk di ujung meja yang paling jauh, hampir menyatu dengan bayang-bayang. Di depannya tersedia sepiring Zürcher Geschnetzeltes—daging sapi muda dengan saus krim—yang hampir tidak disentuhnya. "Jadi," suara Urs memecah keheningan, berat dan penuh tekanan. "Aku dengar dari Dr. Ulrich bahwa keponakanku membawa seorang 'ahli medis' baru ke rumah sakit hari ini." Urs meletakkan pisau dagingnya perlahan, lalu menatap Marc. Tatapannya penuh dengan penghinaan yang tidak ditutup-tutupi. Beberapa sepupu Sienna yang hadir di meja makan menahan tawa, melirik Marc dengan tatapan mengejek. "Marc," panggil Urs lagi, kali ini lebih keras. "Kau dengar aku? Dr. Ulrich bilang kau mencoba mengajarinya tentang kegagalan jantung? Seorang profesor yang telah menerbitkan ratusan jurnal medis internasional dikuliahi oleh... siapa namamu tadi? Ah, benar. Menantu yang didatangkan dari klinik kumuh di pinggiran kota." Marc mengangkat kepalanya perlahan. Matanya yang biru jernih menatap Urs tanpa rasa takut sedikit pun. "Saya hanya menyampaikan fakta medis yang tertera di depan mata, Tuan Baumann. Fakta sering kali tidak peduli pada seberapa banyak jurnal yang sudah diterbitkan seseorang." Gelas anggur di tangan Urs berdenting keras saat ia meletakkannya kembali ke meja. "Keberanianmu luar biasa untuk seseorang yang hidupnya bergantung pada belas kasihan keluarga kami. Kau tahu? Keputusan kakekku untuk menjodohkanmu dengan Sienna adalah noda terbesar dalam sejarah keluarga ini. Kau hanyalah penghambat bagi kemajuan perusahaan." Marc tetap diam, namun jiwanya yang telah hidup ribuan tahun mulai mengamati Urs dengan saksama. Di mata Marc, Urs bukan sekadar paman yang pemarah. Ia melihat aliran energi gelap yang tidak wajar di sekitar tangan Urs—sebuah sisa-sisa residu kimia yang sangat spesifik. Bau belerang dan ekstraksi merkuri organik, batin Marc. Dia tidak hanya Direktur Medis. Dia adalah orang yang menyiapkan 'obat' khusus untuk Sienna. Taktiknya sangat kotor; dia merusak kesehatan Sienna perlahan agar bisa mengambil alih posisi CEO saat keponakannya itu dianggap tidak lagi kompeten secara fisik. "Kenapa kau diam?" Urs berdiri, melangkah mendekati Marc dengan gaya intimidasi yang biasa ia gunakan pada bawahannya di kantor. "Kau pikir dengan menikahi Sienna, kau punya hak untuk bicara di rumah ini? Kau hanyalah anjing penjaga yang kami beri makan agar wasiat kakek tidak dibatalkan oleh pengadilan. Begitu Sienna pulih—atau jika sesuatu yang 'buruk' terjadi padanya—kau akan kami buang kembali ke selokan tempatmu berasal." Seorang pelayan yang sedang menuangkan air gemetar mendengar ucapan Urs, namun Marc justru tersenyum tipis. Senyum itu sangat singkat, namun cukup untuk membuat Urs menghentikan langkahnya. "Kenapa kau tersenyum, pecundang?" geram Urs. "Saya hanya berpikir," ucap Marc tenang, suaranya bergema di ruang makan yang sunyi itu. "Bahwa orang yang paling berisik tentang 'sesuatu yang buruk' yang akan terjadi pada Sienna, biasanya adalah orang yang paling tahu kapan hal itu akan terjadi. Benar bukan, Tuan Urs?" Wajah Urs mendadak kaku. Otot rahangnya menegang. Untuk sesaat, ketakutan melintas di matanya sebelum segera digantikan oleh kemarahan yang meluap. "Kau... kau menuduhku?!" "Saya tidak menuduh," Marc berdiri dengan gerakan yang sangat anggun dan terkendali, membuat Urs secara insting mundur satu langkah. "Saya hanya sedang mengobservasi. Seperti yang saya lakukan di rumah sakit tadi pagi. Waktu terus berjalan, Tuan Urs. Dan beberapa rahasia tidak bisa disembunyikan selamanya, bahkan di balik laboratorium farmasi tercanggih di dunia sekalipun." Urs mengepalkan tinjunya. "Keluar dari sini! Hans! Bawa pria ini ke kamarnya dan pastikan dia tidak keluar sampai besok pagi! Aku tidak ingin melihat wajahnya yang menjijikkan ini lagi di meja makanku!" Kepala pelayan Hans segera muncul dari balik pintu, wajahnya menunjukkan kepuasan saat ia memegang lengan Marc. "Mari, Tuan Fischer. Anda sudah cukup membuat kekacauan malam ini." Marc melepaskan cengkeraman Hans dengan satu sentakan bahu yang halus—sebuah teknik pelepas sendi yang membuatnya tampak seolah Hans-lah yang terpeleset. "Saya bisa jalan sendiri, Hans. Dan Tuan Urs..." Marc menoleh di ambang pintu, menatap pamannya yang masih berdiri dengan napas memburu. "Jika saya jadi Anda, saya akan mulai menyiapkan penjelasan untuk dewan direksi. Bukan tentang performa perusahaan, tapi tentang kenapa obat-obatan eksperimental dari laboratorium rahasia Anda ditemukan dalam sistem saraf CEO Anda." Setelah mengucapkan kalimat itu, Marc berlalu, meninggalkan ruang makan dalam keheningan yang mencekam. Urs Baumann berdiri mematung, wajahnya pucat pasi. Bagaimana pecundang seperti Marc bisa tahu tentang laboratorium rahasianya? Bagaimana dia bisa menyebutkan 'obat-obatan eksperimental'? Marc berjalan menyusuri koridor lantai dua yang sepi menuju kamarnya. Ia tidak menuju tempat tidur. Sebaliknya, ia berdiri di depan jendela yang menghadap ke arah sayap kanan bangunan, tempat kamar Sienna berada. Ia mengaktifkan Penglihatan Mata Dewa, sebuah teknik ML tingkat tinggi yang memungkinkan jiwanya merasakan pancaran energi dari jarak jauh. Di matanya, dinding-dinding batu kediaman Baumann menjadi transparan. Ia melihat Sienna terbaring di tempat tidur besarnya, tubuhnya meringkuk seperti janin. Aliran energi biru di kaki Sienna mulai berubah menjadi ungu gelap, tanda bahwa racun kimia yang diberikan Urs telah mencapai puncaknya. Paman Urs adalah ular yang licik, pikir Marc. Dia menggunakan posisinya untuk menyuntikkan racun di bawah kedok vitamin penguat saraf. Dia tidak ingin Sienna mati seketika; dia ingin Sienna menderita kelumpuhan perlahan agar dia bisa menjadi pahlawan yang 'terpaksa' mengambil alih tahta. Marc mengepalkan tangannya. Di kehidupan sebelumnya, ia pernah menghancurkan seluruh sekte hanya karena mereka meracuni air sumur penduduk desa. Baginya, penyalahgunaan ilmu medis untuk mencelakai orang lain adalah dosa yang tak termaafkan. Ia melihat jam tangannya. 21:50. Sepuluh menit lagi menuju prediksi yang ia berikan pada Dr. Ulrich. Marc mengambil botol ramuan hijau keruh yang sudah ia siapkan sebelumnya dan memasukkannya ke dalam saku mantelnya. Ia juga memeriksa gulungan jarum peraknya. Kali ini, ia tidak akan menunggu izin. Jika ia menunggu sampai Sienna meminta tolong, semuanya akan terlambat. Tiba-tiba, ia mendengar suara gaduh dari arah kamar Sienna. Suara benda jatuh dan teriakan tertahan dari Clara, sang asisten pribadi. "Madam! Madam, bangun! Ya Tuhan, suster! Cepat ke sini!" Marc tidak berlari, namun langkahnya sangat cepat dan efisien, seolah ia meluncur di atas lantai kayu ek. Saat ia sampai di depan kamar Sienna, ia melihat Hans dan dua pelayan lainnya berdiri dengan wajah panik. Suster pribadi yang disewa dari agensi elit tampak gemetar sambil memegang tabung oksigen yang tidak berfungsi. "Minggir," ucap Marc dingin. "Tuan Fischer, Anda tidak boleh masuk! Instruksi Tuan Urs—" Marc tidak membuang waktu untuk berdebat. Ia meletakkan satu jari di titik saraf di leher Hans, membuat kepala pelayan itu seketika lemas dan terduduk di lantai tanpa suara. Pelayan lainnya ternganga, terlalu takut untuk bergerak. Marc menendang pintu kamar hingga terbuka lebar. Di dalam, Sienna sedang berjuang untuk bernapas. Wajahnya yang biasanya pucat kini membiru. Tubuhnya kaku, dan tangannya mencengkeram sprei dengan kekuatan yang luar biasa sementara dadanya naik turun dengan tidak beraturan. "Kram diafragma," bisik Marc. "Persis seperti yang kuprediksi." Clara menangis di samping tempat tidur. "Dia tidak bisa bernapas, Tuan! Saya sudah menelepon Dr. Ulrich tapi dia bilang ini hanya serangan panik!" "Ini bukan serangan panik," Marc mendekat ke tempat tidur, auranya mendadak berubah. Ia bukan lagi menantu yang terhina. Ia adalah Tabib Agung yang berdiri di puncak dunia. "Clara, pegang bahunya. Jangan biarkan dia bergerak. Aku akan mencabut kutukan ini sekarang juga." Marc mengeluarkan jarum perak pertamanya. Cahaya bulan yang menembus jendela membuat jarum itu berkilau dengan cahaya putih yang suci, siap untuk bertarung melawan kegelapan yang telah meracuni rumah ini selama bertahun-tahun.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN