Sesampainya di rumah, amarah Putra lamgsung dia lampiaskan ke Dimas. Pria paruh baya itu menunjuk wajah Dimas dan mendampratnya dengan kejam. "Sialan! Kenapa kamu bersikap begitu ke Papa? Kamu kenapa sepengecut itu di hadapan mereka? Dia itu adiknya Papa. Om kamu. Yang artinya kamu nggak boleh merendahkan Papa di depan dia?!" Dimas mengabaikan kata-kata itu. Dia berpura-pura tidak mendengarkan dan hanya ingin mengantar pulang mereka dengan selamat sampai rumah. Terlalu merepotkan jika dia sampai harus mendengarkan ucapan dan isi ceramah yang sama dari hari ke hari. Dia sudah berbali dan hendak pergi ketika tiba-tiba Sinta menahannya dengan kalimatnya. "Katanya kamu nggak mau pergi kemarin? Terus kenapa tadi kamu datang?" Dia sangat mengenal putranya sendiri. Tidak peduli seberapa buruk

