Kembali ke Kampus

1771 Kata
AYU POV Seminggu berlalu setelah kepulangan ku dari Bali, ya aku melaksanakan rangkaian tugas akhir semester 6 ku di sana bersama teman kelompokku. Praktik Kerja Lapangan (PKL) yang melelahkan sekaligus menyenangkan. Banyak hal yang ku alami di sana, banyak pengalaman baru dan berjumpa dengan teman teman dari kampus lainnya. Kini aku sudah di penghujung semester yang beberapa bulan lagi akan segera Wisuda. Hari ini aku akan bersiap-siap menuju kampus, untuk bertemu dengan Dosen Pembimbing k., Dosen killer satu itu benar-benar menyebalkan, aku selalu mendapat celetukan yang tidak enak bila berhadapan dengannya. Sebenarnya simpel saja sih kalau ingin mendapatkan kelancaran bimbingan KTI (Karya Tulis Ilmiah) dengannya, cukup dengan berpenampilan menarik pasti sudah itu Dosen akan dengan senang hati membimbing dan memperhatikan mahasiswi nya. Tapi sayang aku yang sedari SMA sudah tomboy tidak bisa mengikuti saran dari Kakak Tingkat yang dulu pernah jadi bimbingannya. Sebelum berangkat ke kampus, aku melirik ponselku. Belum ada balasan, aku sedikit kecewa karena orang yang aku chat tidak memberikan balasan apa pun setelah malam itu. Ya dia sahabat singkat ku sebut saja begitu karena memang kita menjadi sahabat dalam waktu yang sangat singkat. Malam itu Ichal menjemput ku di pelabuhan Lembar, menungguku di sana. Aku tidak sengaja mengetahui kalau dia sedang ada di Lombok menikmati libur kuliahnya. Dia kuliah di salah satu universitas di Malang. Saat perjalanan pulang dari kos menuju Pelabuhan Padang Bai - Bali, aku langsung mencoba untuk berkomunikasi dengannya, dan alhamdulillah dia merespon. Singkat cerita dia mengiyakan untuk menjemput ku di pelabuhan Lembar. Deg deg an rasanya untuk pertama kalinya aku bertemu kembali dengan anak itu, setelah 3 tahun kita tidak pernah berkomunikasi lagi karena WANITA itu. Ish aku benci mengingat kejadian itu. Jam sudah menunjukkan pukul 00.00 WITA kapal mulai bersandar di pelabuhan Lembar, aku sudah tidak sabar ingin cepat turun. Setelah setengah jaman menunggu akhirnya semua penumpang diperbolehkan turun, aku bergegas dengan rombonganku membereskan barang bawaan kami lalu meninggalkan kapal tersebut. Teman-teman yang lain ada yang membawa kendaraan sendiri terutama yang cowok-cowok sehingga mereka bisa langsung pulang, sebenarnya sudah ada teman cowokku yang menawarkan tumpangan sebelum kami berangkat meninggalkan Bali tapi aku menolaknya. Aku mencari Ichal sesuai arahannya dari telpon, dan akhirnya setelah sepuluh menitan berjalan aku menemukannya. Temanku juga sudah meninggalkanku saat aku sudah berjumpa dengan abang ku itu, ya aku memanggilnya Abang. itu panggilan khusus ku untuknya. dia masih sama seperti dulu, senyumannya, wajah itu, sikap itu, tatapannya semua masih sama seperti dulu yang berbeda hanya badannya yang sedikit gendut dari waktu terakhir kali kita berjumpa 3 tahun lalu. Dingin sekali malam ini, ( ya namanya juga tengah malam ya dingin lah). Aku salah mengenakan pakaian malam itu, walaupun sudah menggunakan jaket, masih saja terasa sangat dingin dan angin malam dengan kasarnya serasa menusuk tubuhku. Sepanjang perjalanan pulang kami hanya diam, tidak ada satu kata pun yang terucap. Hanya suara angin yang berbisik di telingaku. Kencang sekali, entah kecepatannya di angka berapa Abang Ichal melajukan sepeda motornya, tubuhku sudah menggigil karena kedinginan. Aku hanya bisa mengeratkan pegangan ku pada jaketnya, aku canggung untuk menyandar di bahunya. Ya Tuhan ini benar-benar sangat dingin. dan akhirnya setelah dua jam dari perjalanan Lembar aku tiba di rumah. Bodoh sekali, kenapa aku tidak meminta kakak-kakak ku saja yang menjemput dengan mobil. aku tidak perlu semenderita ini. dan akhirnya malam itu aku pun tumbang sampai beberapa hari. Aku sakit, demam dan terus-terusan menggigil, seisi rumah jadi heboh dan panik merawat ku. Terutama kak Aichal dy sangat cerewet. aku tak tahan dengan celotehannya setiap dia memasuki kamarku. Sementara kak Agil terus-terusan bertanya di mana orang yang sudah mengantarku pulang berada. sedangkan kak Anul yang paling sabar menjagaku. Papa dan Mama juga tentunya. Ya Abang Ichal memang menghilang malam itu juga, menghilang bagai di telan bumi. Tanpa ada kata satu pun. ucapan terimakasih yang aku kirimkan padanya tidak pernah di respon sampai hari ini. Aku menghela napas panjang. Ya sudah lah, buat apa mengharapkan balasannya. Toh juga dia selalu seperti itu dari dulu, gumam ku. Aku sudah selesai dengan ritual ku pagi ini, semenjak di Bali entah kenapa aku menjadi feminim. Mulai memperhatikan penampilanku serta mulai berdandan. di Bali aku menghabiskan uang banyak untuk membeli pakaian di salah satu butik yang tak jauh dari tempat kos ku. Seperti sekarang, aku sudah siap dengan rok panjang dan lebar ku yang berwarna pink. Rok dengan corak bunga-bunga dari bahan kain seperti serat tisu ya aku menyebutnya begitu, entahlah kain apa namanya. Jilbab yang ku kenakan juga sama berwarna pink dan bercorak serta pinggirannya berenda pompom kecil yang imut sedangkan untuk bajunya aku mengenakan kaos lengan panjang polos yang ku masukkan ke dalam rok. Rapi sekali, sehingga tubuhku terlihat nampak indah dengan pakaian itu. Tidak lupa aku poleskan bedak dan sedikit lipstick berwarna pink kalem di bibirku. Sempurna. Dosen Killer itu akan berkomentar apa ya kali ini melihat perubahan ku. "Assalamualaikum, akak akak ganteng" sapa ku setelah berada di ruang makan keluarga. "Waalaikumsalam adik ku yang cantik" jawab ketiga saudara kembar ku itu. Aku berlari ke arah Mama dan Papa yang baru saja duduk di posisi mereka seperti biasa. aku memeluk mereka bersamaan karena jarak tempat duduk mereka hanya kurang dari setengah meter, mencium pipi mereka bergantian. " Jiaah, mimpi apa kamu dek. Kok hari ini kakak bagaikan melihat bidadari turun dari atas Genteng" Ledek kak Agil Aku langsung menoleh ke arahnya dengan tatapan tajam, aku menyipitkan kedua sudut mataku. kak Aichal dan kak Anul tertawa. Mama dan Papa hanya tersenyum melihat anak kembar mereka yang meledekku. "Aish, sudah berpenampilan mempesona begini malah dikatain." gerutu ku dengan wajah kesal. "Sudah gk usah manyun begitu sayang, Kakak kakakmu hanya bercanda. Gadis Mama selalu Inges*Cantik dipandang setiap waktu" hibur Mama tulus. "Iya dek, Mama benar Kamu satu satunya Gadis Tercantik dan Termanis yang kami banggakan." Lanjut Aichal. "Ya sudah , ayok kita mulai sarapannya' ujar Papa mengakhiri cerita pagi ini di ruang makan. Semua yang di ruangan itu menikmati sarapan masing-masing sebelum mereka beraktifitas. Papa beraktifitas seperti biasanya di kantor, Mama sekarang sedang disibukkan dengan Butik barunya. Sedangkan ketiga kakak kembar ku, mereka disibukkan dengan bisnis-bisnis mereka yang baru berjalan tahun lalu setelah mereka menyelesaikan S1 mereka di Jakarta. Kak Aichal dengan bisnis Hotelnya di Kuta-Lombok Tengah, Kak Agil dengan bisnis Cafe dan Rumah makannya yang tersebar di beberapa tempat. Sedangkan kak Anul dengan bisnis Properti nya. Sebenarnya bisnis-bisnis mereka sudah ada sejak mereka SMA dulu, tapi mereka tinggalkan beberapa tahun karena menyelesaikan kuliah S1 mereka. dan untuk beberapa bulan kedepannya mereka akan pergi lagi keluar daerah atau bahkan ke luar negeri untuk mengambil S2 mereka. Hanya aku yang betah berada di Lombok, melanjutkan kuliah di salah satu perguruan tinggi kesehatan negeri yang ada di Mataram ini. Hanya saja di sini belum ada program S1 nya, hanya sampai program diploma saja. dan aku memutuskan mengambil diploma III jurusan Gizi. Awas aja itu Abang, sampai sekarang nggak ada kabar. Aku tercampakan lagi. Aish. Aku melirik kembali jam tanganku, baru pukul 07.00 WITA. Masih pagi, masih ada waktu ke taman dulu sebelum berangkat. Aku membereskan piring-piring yang ada di meja makan. Mama sudah siap di wastafel, tangannya sudah mulai sibuk dengan spon dan sabun cuci piring. Untuk bagian ini biasanya aku dan Mama yang membereskan tanpa harus menyuruh asisten rumah tangga kami. Karena jam segini biasanya beliau sedang solat duha. " Dek yakin kamu mau ke kampus sendiri.? " tanya kak Anul yang masih dudu di meja makan. " Yakin kak, tenang aja adek mu ini sudah sehat kok" aku menoleh ke kak Anul sambil mengedipkan mata kananku. " ih centil kamu mah. kakak khawatir aja kamu kenapa kenapa ntar. Baru juga sembuh, malah mau naik motor lagi. Kakak anter aja ya. ! " "Nggak usah lah kak, Ayu bisa sendiri kok. Lagian nanti Ayu pulang sama siapa.? Masa harus nungguin Kakak jemput, Males deh" "Ya elah kakak bakalan nungguin kamu sudah di kampus, okay" pinta Kak Anul. "Halah bilang aja kak mau tebar pesona di sana. Moon maaf di sana wanitanya sudah bertuan semua" Mendengar ucapan ku Mama yang sedang berdiri di sampingku langsung melayangkan cubitannya ke arah pinggang kananku. "Au sakit Ma". "Kamu sih aneh aneh saja, kayak barang dagangan aja bilang bertuan. " protes Mama "Hihi Maaf, becanda Ma" aku cuma bisa cengengesan. Spontan aja aku mah jawabnya tadi "Kebiasaan makanya tuh, syukurin dicubit kan jadinya. Ya sudah kalau gitu kamu hati-hati aja ya. " kak Anul akhirnya meninggalkan meja makan. Tersisa lah aku dan Mama di dapur berdua. "Dek selesai wisuda ini rencana kamu kedepannya gimana?" tanya Mama tiba-tiba "Hah, kok Mama nanya gitu sih. Tumben banget. Hihi" jadi kaget kan akunya. "Iya Mama pengen tau aja dek." "Owh, belum ada Ma. Adek belum ngerencanain apa-apa. KTI nya adek aja belum kelar Ma, jadi belum kepirkiran wisudanya. Apalagi rencana setelah itu. Hehe" Kebiasaan kamu Mah. Adek itu seharusnya udah mikirin rencana nanti mau kayak gimana selesai kuliahnya. Gimana sih, tuh liat kakak kakak kamu. Mereka sudah punya planing masing masing lho dek. Bahkan buat beberapa tahun kedepan mereka sudah nentuin targetnya lho. " "Mulai dah Mama ini. Nanti lah Ayu pikirin Ma. Lagian kan Ayu bisa bantu bantu Mama dulu iya kan. " "Kamu harus punya tujuan sendiri dulu dek, Mama kan sudah ada yang bantuin. Masak kamu ngerjain Butik juga. " "Nggak apa-apa Ma, sekalian belajar kan bisa. Ya sudah Ma, Ayu Mau ke taman dulu ya. " Aku pun meninggalkan Mama di dapur dan pergi menuju Taman di belakang rumah. Taman kecil kecilan sih, aslinya halaman belakang yang di renovasi sedikit jadi sebuah taman. "Indah sekali taman ini. " Aku mulai menyirami semua bunga-bunga yang tertata rapi di taman ini. Bunga mawar merah dan kuning yang tumbuh di pinggiran kolam air mancur kecil dengan patung thinkell bell di tengahnya. Paduan warna yang pas, hijau dari warna baju thinkell bell dan merah dan kuning dari warna bunga mawar yang mekar. Bunga mawar putih juga tumbuh di sekeliling pagar pembatas taman. Belum lagi bunga Mawar Merah dan Merah muda yang bertengger dan mengitari tiang ayunan gantung itu. Ya ini lah taman mawar ku. Rose Garden itu lah namanya, taman ini adalah taman pemberian ketiga saudara kembar ku. Pikiran ini tidak bisa berhenti masuk ke masa lalu. Semua masih sama seperti 9 tahun lalu, waktu di mana taman ini sudah lengkap tertata rapi dengan mawar mawar itu. Tidak ada satupun yang posisinya berpindah sampai sekarang. Posisinya masih sama, dan tertata rapi serta terawat. Kalau ada taman yang mati atau layu aku langsung menggantinya dengan yang baru. Selain aku dan ketiga saudaraku tidak ada yang masuk ke taman ini. Kecuali sekarang ada tambahan Pak Ali yang bisa masuk ke sini, tukang kebun yang biasa membantuku merawat semuanya di saat aku tidak di rumah.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN