Tabrakan yang mengubah segalanya
Brakk!”
“Aduhh!”
Rachel hampir terjungkal ketika tubuhnya menabrak seseorang di lorong gedung perkantoran. Tas selempang pink miliknya bergoyang keras, membuat gantungan kunci Labubu kesayangannya ikut terhempas.
“Ya ampun… anak-anakku!”
Rachel langsung panik. Ia meraih gantungan kunci itu dan mengelapnya dengan tisu, wajahnya manyun.
“Kalau jalan tuh lihat-lihat dong… kan anakku mungil, sekarang jadi kotor,” gumamnya kesal.
“Maaf. Aku buru-buru,” ucap seorang pria dengan suara rendah namun tenang.
Rachel mendongak.
Dan…
waktu seakan berhenti.
Rahangnya sedikit terbuka, matanya membesar.
Astaga…
Ini orang manusia apa hasil pahatan dewa?
Pria di hadapannya berpakaian sederhana
Kemeja polos, celana hitam biasa. Tampak seperti pelamar kerja pada umumnya. Tapi wajahnya… terlalu tampan untuk diabaikan.
“Halo… maaf ya,” kata pria itu lagi, sedikit menunduk sopan sebelum melangkah pergi.
Rachel masih terpaku beberapa detik.
“Ganteng banget…” bisiknya lirih.
Ia sama sekali tidak tahu, pria yang barusan ia tabrak adalah Brian Arya Pratama
pemilik gedung tempatnya bekerja.
Hari itu, Brian sengaja datang ke salah satu perusahaan kecil miliknya dengan penampilan sederhana. Ia ingin melihat langsung kondisi perusahaan tanpa diketahui siapa pun.
Selama ini, Brian dikenal sebagai pengusaha muda sukses di bidang tekstil. Dingin, cuek, berkelas. Di usianya yang menginjak 28 tahun, ia belum pernah benar-benar tertarik pada wanita mana pun.
Ibunya resah.
Ingin cucu.
Dan itulah alasan Brian dijodohkan dengan Karla wanita elegan, sopan, berkelas, pewaris bisnis besar. Semua orang bilang mereka cocok.
Semua orang… kecuali Brian.
Tak lama setelah tabrakan itu, Brian melangkah masuk ke area kantor.
“Permisi…”
Rachel yang sedang berdiri di dekat meja resepsionis menoleh. Matanya kembali membesar.
Loh… mas ganteng tabrakan tadi?
“Kamu karyawan baru?” tanya Rachel spontan.
Brian terdiam sejenak.
“Uh… iya.”
“Ohh! Pantesan aku belum pernah lihat,” ujar Rachel ceria. “Santai aja ya di sini. Aku Rachel, senior kamu.”
Ia mengepalkan tangan kecilnya.
“Kalau ada yang bully kamu, bilang aku. Aku sikat.”
Brian menahan senyum.
“Ohiya!” Rachel merogoh plastik kecil. “Ini gorengan. Makan dulu. Tapi hati-hati, masih panas.”
Cerewet. Ramah. Aneh.
Tapi entah kenapa… menarik.
Brian tertawa kecil.
Untuk pertama kalinya setelah sekian lama.
Hari-hari berikutnya, Brian benar-benar menyamar sebagai karyawan biasa. Rachel selalu ada di dekatnya.
Saat ada rekan kerja yang meremehkan Brian
“Ah, kamu kan baru. Kerjaan gitu aja lama.”
Rachel langsung berdiri.
“Eh, santai dong. Namanya juga belajar. Kalau jago dari lahir, kamu udah jadi direktur kali.”
Brian hanya diam, tapi hatinya menghangat.
Saat makan siang
Rachel menyodorkan uang itu ke arah Brian.
“Kamu belum ambil gaji, kan? Nih, aku duluin.”
Brian menatapnya cukup lama, sedikit heran.
“Kenapa kamu baik banget?”
Rachel mengedikkan bahu santai.
“Soalnya kamu ganteng. Aku suka cowok ganteng.”
Brian tertawa kecil, agak kikuk.
“Hahaha… tapi aku cuma karyawan biasa.”
Rachel langsung menyahut, nada suaranya polos.
“Gapapa. Yang penting ganteng. Aku suka cowok ganteng.”
Ia tertawa lepas.
Brian ikut tersenyum, dadanya terasa hangat tanpa alasan yang jelas.
Sejak itu, jarak mereka makin dekat.
3 bulan berlalu...
Suatu sore, Rachel mendadak bicara serius.
“Brian…”
“Hm?”
“Kamu mau HTS nggak sama aku?”
Prak!
Brian tersedak kopi.
“Kamu… ngajak aku pacaran?”
“Bukan pacaran,” Rachel mengibas tangan dramatis.
“HTS aja. Bucin-bucinan. Kasihan gadis belia ini, 25 tahun masih jomblo.”
Brian batuk keras.
“Berarti… kamu mau?” tanya Rachel penuh harap.
Brian menatapnya.
Lalu tersenyum kecil.
“Oke.”
“HOREEEE!” Rachel melonjak kegirangan. “Mulai hari ini kita HTS!”
Brian hanya tertawa pelan.
Malam harinya.
Rachel:
Haloo… malem sayangg ✨
Brian yang sedang rebahan menatap layar ponsel.
Dadanya berdebar aneh.
Brian:
Iya, malam.
Rachel:
Loh, sayangnya mana?
Brian menghela napas, lalu mengetik.
Brian:
Iya… malam sayang.
Rachel mengirim foto.
Piyama lucu. Pose imut.
Brian:
Cantik banget… ini anak siapa?
Rachel:
Hihi, anak Pak Sobirin 🤣
Brian tersenyum lebar.
Untuk pertama kalinya, pria dingin itu merasa…
jatuh.