Malam di Hotel Mewah

928 Kata
Brian merasa cemburu untuk pertama kalinya dalam beberapa hari terakhir. Ia terus memeriksa ponselnya, berharap ada pesan manis dari Rachel, tapi hampir tak ada. Pikiran tentang Rachel terus menghantui, walau ia tetap fokus pada pekerjaan besar yang sedang ia tangani. Sementara itu, Rachel menjalani hari-harinya seperti biasa. Namun kali ini ia sengaja tidak mengejar Brian. Strategi tarik-ulur yang ia lakukan terasa menenangkan, walau hatinya tetap sedikit rindu. Hingga akhirnya, Brian menghubungi Rachel lebih dulu: “Lusa kamu libur nggak? Temani aku ke acara perusahaan, dong,” pinta Brian singkat. Rachel tersenyum tipis. “Bisa. Kasih tahu aja waktu dan tempatnya.” Hari H pun tiba. Brian menjemput Rachel, dan Rachel tampil memukau dengan gaun hitam mewah miliknya. Seksi tapi elegan. Di mobil, Brian terlihat agak gugup. “Eh… mobil ini? Punya kamu?” tanya Rachel sedikit canggung. Brian tersenyum kikuk. “Bukan… punya bosku.” Perjalanan terasa agak canggung. Brian bertanya, “Akhir-akhir ini kamu sibuk?” “Iya, lumayan sih,” jawab Rachel singkat. Brian menahan diri, sebenarnya ia hanya ingin tahu lebih banyak karena rasa cemburunya muncul lagi. Sesampainya di hotel tempat acara, Rachel tercengang melihat kemewahan ruangannya. Orang-orang elit dan pebisnis papan atas memenuhi ruangan. Rachel merasa sedikit kaku, tidak terbiasa dengan suasana seperti itu. Brian seperti biasa bersikap profesional, menyapa klien satu per satu. Rachel memutuskan berjalan ke meja kue yang tak jauh dari tempatnya. Tiba-tiba, seorang wanita cantik dan elegan menghampiri Brian. Namanya Karla, seorang pebisnis sukses yang terlihat bak dewi di tengah keramaian. Mereka tampak akrab, tertawa kecil, dan berbicara santai. Orang-orang mulai memuji pasangan Brian dan Karla sebagai pasangan yang serasi. Rachel tanpa sengaja melihat interaksi mereka. Hatinya tiba-tiba terasa sakit. Ia merasa kecil di hadapan dunia Brian yang kini begitu tinggi posisinya. Tanpa pikir panjang, Rachel memutuskan pergi ke belakang ruangan, mencari ketenangan. Brian yang baru menyadari Rachel hilang, mulai panik. Ia menelpon, “Kamu di mana?” Rachel menjawab singkat: “Maaf, kepala aku agak pusing. Lagi istirahat di kamar 114… Lanjut aja acara-nya dulu.” Tanpa menunggu lama, Brian berlari ke kamar Rachel. Pintu terbuka, Rachel duduk termenung di kasur, terlihat rapuh dan sedikit cemas. Brian panik, ia khawatir Rachel kenapa-kenapa. “Kamu kenapa? Serius, kenapa?” tanya Brian sambil meraih tangan Rachel. Rachel menunduk, suaranya lirih. “Aku… aku cuma pusing. Dan… mungkin HTS kita… cukup sampai di sini.” Mendengar itu, hati Brian hancur seketika. Ia pikir Rachel sudah mulai menjalin hubungan dengan orang lain. Namun perasaannya menolak kehilangan Rachel. Tanpa berkata banyak, Brian menggendong Rachel ke kasur, tubuhnya bergetar antara marah, cemburu, dan hasrat yang tak bisa ia tahan. Ia menempelkan bibirnya ke Rachel, ciuman yang mulai lembut namun semakin dalam, turun perlahan ke leher dan bahu Rachel. Rachel mencoba menahan, tapi Brian tetap melanjutkan, membiarkan perasaan mereka memuncak. “Maaf… aku nggak bisa menahan lagi,” bisik Brian di telinga Rachel, napasnya berat. Malam itu mereka menghabiskan waktu bersama, membiarkan perasaan dan hasrat yang tertahan meledak menjadi malam penuh cinta. Keesokan harinya, Rachel terbangun dengan perasaan campur aduk. Malam itu masih terasa hangat di tubuhnya, tapi pikirannya kacau. Ia sadar satu hal: hubungannya dengan Brian semakin rumit, apalagi setelah melihat Karla kemarin. Di sisi lain, Brian masuk kantor dengan mood yang tidak menentu. Pikirannya terus melayang pada Rachel, tapi ia harus tetap profesional menghadapi klien dan proyek besar. Saat istirahat, ia melihat Karla lewat, tersenyum manis. Sesuatu dalam diri Brian sedikit terguncang — rasa cemburu muncul kembali. Rachel memutuskan hari ini akan lebih fokus pada pekerjaannya, tapi sulit mengabaikan perasaan yang masih menggelora. Ia duduk di mejanya, menatap layar komputer sambil sesekali membayangkan malam kemarin. Tiba-tiba, Brian datang menghampirinya. “Rachel… tadi malam aku terlalu… keras, ya?” katanya, nada suaranya sedikit canggung. Rachel menatapnya, jantungnya berdetak lebih cepat. “Enggak… aku juga… terlalu gugup mungkin.” Mereka bertukar senyum singkat, tapi tiba-tiba Karla muncul di ruang kerja mereka. Karla tersenyum ramah pada Rachel, tapi ada sedikit nuansa menantang di matanya. “Hai, Rachel. Aku senang akhirnya bisa bertemu langsung,” sapa Karla, suaranya hangat tapi ada sedikit nada provokatif. Rachel tersenyum canggung. “Hai, Karla. Aku Rachel.” Brian berdiri di sisi Rachel, merasakan jantungnya berdetak lebih cepat. Ada sesuatu dalam cara Karla menatapnya yang membuat Brian merasa… ingin melindungi Rachel. Sejak pertemuan itu, Rachel merasa gelisah setiap kali Karla muncul di sekitar Brian. Hatinya campur aduk: ingin percaya pada Brian, tapi juga takut kehilangan dirinya pada dunia Brian yang elit dan penuh wanita cantik seperti Karla. Malam harinya, Brian menelpon Rachel. “Aku nggak bisa berhenti mikirin kamu,” bisiknya. “Mau nggak kalau aku datang ke apartemenmu?” Rachel tersenyum tipis. “Aku juga nggak bisa berhenti mikirin kamu… oke, aku siap.” Tak lama kemudian, Brian tiba di apartemen Rachel. Rachel sudah menunggu di ruang tamu, mengenakan pakaian santai namun tetap menawan. Brian tersenyum hangat, terlihat biasa saja belum ada kesan mewah atau status tinggi. Rachel terpana sejenak, hatinya kembali terbakar hasrat dan cemburu, tapi masih melihat Brian sebagai pria biasa yang ia kenal. Di apartemen, suasana menjadi lebih pribadi dan intim. Brian menempelkan tubuhnya ke Rachel, bibir mereka bertemu, ciuman kali ini lebih berani dan hangat, mengingatkan mereka pada malam sebelumnya. Rachel merasa nyaman dan aman di pelukan Brian, walau hatinya masih tersentuh rasa cemburu dan rasa rendah diri. “Kamu nggak perlu merasa rendah diri, Rachel,” bisik Brian di telinga Rachel. “Kamu tetap yang paling berarti buat aku.” Rachel tersenyum dan menunduk, hatinya mulai merasa lega. Ia belum tahu tentang status Brian yang sebenarnya, tapi ia bisa merasakan ketulusan dan kehangatan yang datang dari Brian.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN