Delapan bulan terlewati, kandungan Aijo semakin besar. Dia berhenti menjadi tim King. Hyusa semakin terlatih untuk menggantikan posisinya. Suatu ketika, Hyusa duduk di bangku taman markas Dolphin ketika beristirahat dari latihannya. Napasnya terengah-engah dan bulir keringat membasahi seluruh tubuhnya. Aijo yang sedang berjalan-jalan ke markas karena bosan di rumah, melihatnya sendirian. Dia pun menghampirinya dan duduk di sebelah pria itu. Sontak Hyusa pun bangkit untuk membungkuk memberi salam sebelum kembali duduk di sebelahnya. “Hyusa, kau sangat hebat. Apa ayahmu yang mengajari teknik-teknik itu?” tanya Aijo. “Yah, begitulah. Sejak aku umur enam tahun, aku sudah dididik dengan keras oleh ayah. Aku harus menjadi yang paling kuat untuk melindungi adik-adikku, tapi sekarang ….” Hyusa

