Dokter itu melenggang setelah Bevan memberikan persetujuan untuk melakukan tindakan langsung pada istri dan calon buah hatinya. Tak ada yang bisa ditahan saat perasaan dirundung banyak kekhawatiran, Bevan mengusap air mata yang bergulir di pipi begitu melihat banyak alat yang melekat pada tubuh Rosie, terutama monitor itu. Bevan pun melekatkan kening pada dinding ketika perawat menutup celah pintu ruang rawat inap. Luruh. Kedua kaki Bevan terasa lemas hingga ia tidak sadar sudah duduk di atas lantai, sambil meremas juga memukul-mukul kepalanya di dinding. Merasa tidak berguna itu pasti, saat mendengar pesan suara dari Rein saja Bevan menyesal karena ia harus tetap pergi bekerja hingga larut. Sambil menahan suara tangis yang Bevan sendiri tidak mampu membendung itu ia bangu

