Part 1

1020 Kata
Pria yang baru saja keluar dari dalam kamar mandi dengan handuk yang melilit di pinggang nya itu bernama Leonardo Green Sadewa, pria yang memiliki tinggi 185 centi meter dan berusia dua puluh tujuh tahun itu merupakan pewaris dari Sadewa Grup. Pria itu memasuki ruang ganti di dalam kamarnya. Semua yang dia butuhkan berada di sana. Setelah mengenakan setelan jas, dia membuka laci kaca dan mengambil jam tangan berwarna hitam dengan merek terkenal. Leo begitu dia sering di sapa, keluar dari kamarnya lalu berjalan menuju di dapur, duduk di meja makan kemudian mengambil selembar roti lalu mengolesinya dengan selai kacang kesukaannya. Setelah menghabiskann dua lembar roti dan secangkir kopi, Leo meninggalkan meja makan.  "Selamat pagi, Pak," sapa Arnold asisten sekaligus tangan kanannya. Pria itu membuka pintu mobil untuk Leo.  "Pagi, Ar," balas Leo seraya memasuki mobil. Butuh waktu tiga puluh lima menit menuju kantornya kalau saja jalanan lancar. Namun pagi ini jalanan terlihat sangat padat. Mereka sudah dua puluh menit berada di jalan raya, namun setengah jalan pun belum mereka lalui. Leo merogoh tas kerjanya dan ternyata dia lupa membawa air minum. Kebiasaannya sejak kecil yang selalu membawa botol minum kemanapun terbawa hingga dia dewasa.  Leo turun dari mobil saat dia melihat minimarket berada di sebrang jalan. "Saya beli minum sebentar," kata Leo pada asistennya itu. Leo membeli tiga botol air mineral dalam kemasan.  Leo keluar dari minimarket dengan menenteng plastik putih. Saat dia hendak menyebrang tiba-tiba tubuhnya di tarik dari belakang.  "Belum lampu merah, Mas," kata wanita yang menariknya itu tadi. Kalau saja wanita itu tidak menariknya mungkin Leo sudah terbaring di jalanan karena tertabrak motor yang melaju cukup kencang. Leo melihat ke arah lampu lalu lintas dan memang benar masih lampu hijau.  Leo menepis tangan wanita itu yang masih berada di bajunya. "Saya tidak pernah mengijinkan orang miskin menyetuh saya. Tapi karena niat mu baik, maka saya memaafkann kamu," kata Leo angkuh seraya menepuk-nepuk bajunya bekas dari tangan wanita itu.  "Terima kasih."  "Sama-sama," balas Leo dengan cepat. "Maksud saya, harusnya kamu mengucapkan kata 'terima kasih'. Bukan menghina." Wajah wanita itu memerah menahan marah. "Saya tidak minta di tolong," balas Leo acuh. Dia lalu langsung melangkah saat lampu lalu lintas sudah berubah merah meninggalkan wanita dengan wajahnya yang kesal.  Leo masuk ke dalam mobil lalu kembali memandang wanita itu masih berdiri di trotoar. Tatapan wanita itu masih tertuju kearahnya. Leo mengulum senyumnya, dia merasa wanita itu sangat lucu dengan wajah marahnya. Leo yakin wanita itu bekerja di perusahaannya. Hal itu terlihat dari seragam yang di kenakan wanita itu. Leo juga sempat membaca logo The Fhasion House berwarna hijau di baju wanita itu. The Fhasion House, adalah toko pakaian yang berada di bawah naungan Sadewa Group. Ada lebih dari lima ratus outlet yang tersebar di seluruh Indonesia dan dilihat dari seragam wanita yang menolongnya tadi. Bisa di pastikan kalau dia bekerja sebagai SPG. Seragam berwarna merah muda dengan logo berwarna hijau itu di peruntukkan kepada mereka yang bekerja sebagai SPG. Sementara Manager toko, memakai seragam berwarna hijau dengan logo toko berwarna kuning.  "Perhatikan wanita itu," kata Leo seraya menunjuk wanita yang menolongnya tadi. "Cari tahu dia bekerja di cabang mana, berikan dia bonus satu bulan gaji," kata Leo lagi. Mungkin sikapnya tadi  memang sedikit kasar tapi, dia bukanlah orang yang tidak tahu terima kasih.  "Baik, Pak," jawab Arnold patuh.  *** Selina mendengus kesal, niatnya yang baik malah berujung penghinaan. Dia memang miskin, tapi dia bukanlah kuman yang menyebarkan penyakit. Rasanya  dia menyesal telah menolong pria tadi. Harusnya dia biarkan saja pria itu tertabrak motor lalu mati bersama dengan keangkuhannya itu. Selina menghentakkan kakinya, sungguh dia sangat menyesali tindakan spontannya tadi. Bahkan hingga sampai di tempat kerjanya pun, Selina masih di rundung rasa kesal.   Selina menarik napasnya panjang, dia berusaha mengembalikan moodnya. Selina kemudian memasuki toko pakaian yang menjadi tempat kerjanya selama tiga tahun ini. Tiga tahun lalu, Selina masih gadis kampung yang dekil dan hitam. Saat baru pertama  tiba di Ibu Kota, dia bahkan tidak berani menyebrang. Sekarang meski tidak banyak berubah setidaknya Selina sudah lebih baik.  Kebiasaan Selina saat ingin memulai kerja adalah memandang foto keluarganya. Dia berharap bisa bertemu dengan mereka segera. Sejak dia merantau ke Ibu Kota, belum pernah sekalipun dia pulang ke kampung halaman. Bukan karena tidak mendapat jatah libur, tetapi karena dia tidak memiliki uang. Setengah dari gajinya selalu dia kirimkan kepada orang tuanya. Adik keduanya juga memasuki sekolah perguruan tinggi sejak satu tahun lalu. Selina semakin tidak bisa berkutik mengenai keuangan. Namun dia tidak mengeluh, ini adalah jalan yang dia pilih  sejak awal. Perjalannya masih sangat jauh, dia bertekad agar kedua adiknya mendapat pendidikan yang tinggi tidak seperti dirinya yang hanya tamatan SMA.  Sepanjang hari, toko sangat ramai. Selina dan pegawai lainnya hanya mendapat jatah istirahat selama tiga puluh menit , di hitung dengan waktu makan. Sebenarnya itu bukanlah masalah, karena setelah ini, sudah bisa dipastikan kalau mereka akan kebanjiran bonus dari pendapatan toko yang melebihi target.  Toko tempat Selina bekerja terletak di lantai dua salah satu mall besar di Jakarta. Selina tersenyum pada wanita yang terlihat kebingungan memilih pakaian. "Ada yang bisa saya bantu, Mbak?" tanya Selina sopan. Wanita menoleh pada Selina lalu ikut tersenyum.  "Menurut, Mbak, bagus mana?" Wanita itu mengangkat dua buah gaun dengan warna yang  sama dan model yang berbeda.  "Yang kiri," jawab Selina. Dia kemudian menjelaskan kelebihan gaun itu dan membandingkannya dengan gaun satu lagi.  "Balik lagi ke Mbaknya. Mbak, suka yang mana," ucap Selina mengakhiri penjelasannya tentang produk toko mereka. Wanita tersenyum puas.  "Saya ambil dua-duanya," kata wanita seraya memberikan kedua gaun itu untuk  di bawa ke kasir. Setelah wanita itu selesai membayar, dia menghampiri Selina. "Saya pilih yang kiri tadi," katanya, "karena saya sudah terlanjur membayar keduanya, maka yang satu ini menjadi milik kamu, Mbak," tambah wanita itu lagi.  "Eh, tapi."  "Jangan di tolak, Mbak. Saya merasa kita akan sering bertemu nantinya." Selina merasa tidak  enak hati menerimanya.  "Nama saya Lea. Senang bisa bertemu dengan kamu... Selina," kata wanita bernama Lea itu setelah membaca name tag Selina yang berada di dadanya bagian kanan.  "Terima kasih, Mbak Lea. Sebenarnya ini tidak perlu." Selina masih mencoba untuk menolak. Lea hanya menepuk tangan Selina lalu pergi tanpa mengatakan apapun lagi.  Bersambung... 
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN