Satu pukulan mendarat mulus di pipi Bara. Tangan kukuh dengan amarah tergenggam, sanggup membuat pria itu terpelanting jatuh. Sang ayah boleh saja berumur, tetapi amarah yang sudah di puncaknya berhasil mengalirkan kekuatan lebih dari biasa. "Papa kenapa tiba-tiba mukul aku?" Bara berusaha bangkit sembari meringis menyentuh bagian wajahnya yang dipukul sang ayah. Bara baru kembali setelah memastikan kondisi Hegar membaik, dan ayahnya justru menyambut dengan kasar. "Masih nanya kamu? Kamu melihat Heksa memohon, tapi kamu tetap memilih pergi meninggalkan dia. Ayah macam apa kamu?" Bara membuang pandangannya ke arah lain, kemudian menjawab, "Aku ada perlu." "Perlu? Kenapa? Nemuin istri sama anak kamu yang lain?" Sontak saja Bara melotot. Namun bukanya mengakui, lelaki itu justru melempar

