70. Selamat Tinggal Kesedihan

1510 Kata

Aruna mendengar pintu kamar rawat inapnya berderit. Sekarang pukul sembilan pagi. Petugas kebersihan dan petugas medis sudah menyelesaikan tugasnya masing-masing di kamar ini sejak lima belas menit yang lalu. Bu Agil saat ini sedang ada di dalam kamar mandi. Aruna menunggu dengan gelisah siapa orang di balik pintu kamar tersebut. Setelah sosok itu berada di dalam kamar dan sedang menutup pintu kembali, jantung Aruna berdetak lebih kencang dan napas tampak turun naik saat melihat Cantika sedang berjalan mendekat ke arahnya. Wanita itu tersenyum culas pada Aruna. Ia meletakkan rangkaian bunga di atas brankar saat berdiri di samping ranjang pasien. Menatap Aruna dari ujung kaki sampai ujung rambut. “Kamu yang sekuat rumput liar atau orang suruhan saya yang tidak tega padamu. Benar-benar

Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN