bab 1
1. PERNIKAHAN DINI
Bab 1 . Kedatangan Guru
Penulis: Lusia Sudarti
"Lita, kamu mau lanjut kemana nanti," tanya Sumi disaat kami sedang sibuk mempersiapkan acara untuk perpisahan kami.
"Enggak tau Sum, kita lihat aja nanti, dimana saja Rayon dan Subrayon kita." aku menoleh kearahnya.
"Kalau kamu kemana Sum?" aku balik tanya.
"Eeuumm aku sekolah yang dekat aja Lit, dari sini bisa naik sepeda, banyak teman lagi." ia sudah memilih Sekolah rupanya.
"Haii, lagi ngobrolin apa sih?" Sutri tiba-tiba ikut nimbrung dengan kami.
"Enggak ada kok, cuma ngobrol tentang sekolah nanti," jawabku.
"Oh, kamu udah memilih sekolah belum Tri," tanyaku balik, dan Sumi pun ingin tau.
"Kayaknya aku didekat sini aja, lagian nilaiku kan enggak masuk untuk sekolah negri," Sutri menjawab dengan wajah sedih.
"Iya aku juga Lit," sahut Sumi
"Iya Lit, kalau kamu kan juara satu, baik nem atau pun kelas, jadi enak bisa milih sekolah, dan juga gampang untuk memindah rayon," jawab Sutri lagi.
"Ayo ah cepat, nanti ditunggu mau dipasang," aku mengalihkan pembicaraan, takut kalau nanti terlalu lama, kami sedang membuat hiasan untuk dekor perpisahan nanti.
"Iya nih, udah banyak yang jadi bunganya," sahut Sumi, ia mengumpulkan bunga-bunga dekor untuk ruangan kelas yang akan digunakan untuk perpisahan kami esok lusa.
"Lita, masih banyakkan bunganya," teriak Yani.
"Iya masih banyak Yan, sini donk bantuin," aku melambaikan tangan kepadanya untuk membantu. Ia berlari-lari kecil menghampiriku.
"Lit, selamat ya, kamu mendapat juara satu lagi," Yani menjabat tanganku erat.
"Makasih Yan, semoga kelak kamu juga mendapatkan nilai terbaik juga," aku memberi semangat juga kepadanya.
"Ah, mana mungkin Lit, otak aku kan beku, ha ha ha," ia malah tertawa terbahak-bahak.
Otomatis aku pun ikut tertawa.
"Kamu ini Yan, ha ha ha,"
Itulah keseruan waktu menjelang perpisahan kami.
???
Namaku Lita Merianty, duduk dibangku sekolah menengah pertama(SMP) kelas satu.
Aku Anak kedua dari tiga bersaudara."
Kakak Pertamaku hanya tamat sekolah dasar, dan tidak melanjutkan kejenjang berikutnya.
Beliau memilih untuk membantu orang tua mencari nafkah.
Tinggal aku dan Adikku yang masih mengenyam pendidikan.
"Adikku masih duduk dibangku kelas tiga ekolah dasar (SD).
Usaha orang tuaku selain pemborong bangunan, juga berkebun dan dirumah Ibuku membuka warung kecil-kecilan.
Juga warung bakso, pecel, lontong dan minuman dingin atau panas sebagai penyambung hidup.
Sedari kecil aku sakit-sakitan dan tiap hari mengkonsumsi obat medis mau pun herbal.
Saat itu Bapak ku merantau. selain berkebun profesi Bapak tukang bangunan(borongan membangun rumah).
Beliau merantau mendapat borongan membuat perumahan di pedesaan. Tiga ratus buah rumah sederhana dari material kayu.
Itu membutuhkan waktu berbulan-bulan lamanya. Itu Bapak lakukan demi cita-citaku yang setinggi langit.
Sejak kecil aku cenderung manja kepada Bapak. jika dalam satu minggu tidak bertemu Bapak aku selalu sakit, disinilah awal deritaku.
Bapak kerja berbulan tidak pulang kerumah, disamping aku juga kelelahan.
Flash back on
Karena menempuh perjalanan dari sekolah berjalan kaki dan jarak yang lumayan jauh.
Keadaanku fisikku memang lemah, jika hari senin saat upacara.
Aku selalu tak sadarkan diri, saat terbangun aku sudah berada diruang UKS.
Tubuhku terasa hangat, entah balsem atau minyak kayu putih telah dibalurin keseluruh punggungku.
Begitu pun jika pulang sekolah, menempuh perjalanan dengan berjalan kaki berkilo-kilo meter jauhnya.
Matahari sedang terik-teriknya diatas kepala. Belum lagi perut lapar, haus juga.
Jalan beraspal menambah panas udara disiang hari.
Berbeda dengan teman-temanku, mereka semua naik sepeda gunung atau pun sepeda motor. Kadang-kadang ada juga yang berbaik hati mengajakku, jika kebetulan bertemu dijalan. Pernah suatu hari jumat, aku melangkah dengan sedikit gontai karena lelah. Tiba-tiba aku mendengar suara panggilan dengan menyebut namaku, hatiku merasa bahagia, karena hari ini aku dapat tumpangan lagi.
"Lit, litaa, tungguuu," teriakannya menggema diarea perkebunan sawit yang kulalui.
"Iya Mbak, apa?" jawabku yang juga berteriak.
"Tungguuu,"
Aku pun menunggunya, suara itu milik Mbak Marwiah yang suka memberiku tumpangan.
Aku menunggu seperti permintaannya.
Satu menit, belum juga tampak, sepuluh menit, masih belum muncul.
Sementara matahari mulai meninggi, aku gelisah takut kesiangan, perjalanan yang aku tempuh hampir dua puluh kilo jauhnya.
Kecewa, sedih sudah pasti kurasakan.
Dan yang pasti aku takut kesiangan dan telat kesekolah.
Akhirnya aku memutuskan mengambil langkah seribu.
Kedua kakiku rasanya begitu nyeri karena lari begitu tiba didepan gerbang, kulihat Pak satpam menarik gerbang.
"Pakk, tunggu," aku berteriak dengan kencang, seraya berlari.
"Lho kok tumben kesiangan neng?" ujar beliau.
"Iya Pak, makasih ya Pak!" Aku berlari kembali menuju ruang kelas, karena hampir lonceng.
Ketika lonceng istirahat berbunyi, semua teman-temanku berhamburan kekantin, sedangkan aku membawa buku keperpustakaan untuk mengulangi pelajaran yang diberikan tadi.
Aku tak punya uang banyak seperti yang lain, karena rumah Ibuku jauh, aku menempati rumah Budhe yang kosong bersama Bapak, beliau bekerja membuat rumah.
Ketika aku sedang asyik membaca, Mbak Marwiah yang tadi memanggilku melintas didepanku seraya tersenyum dan menyapaku.
"Hai Lit," sapanya.
"Hai juga Mbak, oh iya Mbak, tadi Mbak manggil aku ya diblok E?" tanyaku kepadanya.
"Enggak kok Lit, aku lewat jalan besar kok," jawabnya sembari menautkan kedua alisnya karena bingung.
"Emang kenapa Lit?" Ia ikut duduk didepanku.
"Ada yang memanggilku Mbak, minta tunggu, suara Mbak, aku tunggu hingga lima belas menit, tapi Mbak gak datang-datang, karena takut kesiangan akhirnya aku berangkat," ujarku memberi penjelasan.
Mbak Marwiah mendengarkan ceritaku dengan seksama. Kemudian ia menjelaskan sesuatu kepadaku dengan berbisik.
"Lit, lain kali kamu jangan lewat blok E, itu diperbatasan kebun sawit dengan lahan kosong milik warga, ada makam Anak keguguran," bisiknya seraya berbisik.
Aku jadi bergidik mendengarnya. Bulu romaku meremang seketika.
"Hei, jangan melamun, ayo kita kekantin!" Ia menarik tanganku.
"Enggak Mbak terimakasih, aku masih kenyang," dalihku untuk menolak ajakannya karena aku tak punya uang.
"Udah Lit, aku traktir, ayoo!" Ia menarikku kembali.
Begitu juga saat pulang dari sekolah.
Seringkali aku tak sadarkan diri, bangun sendiri, karena masuk paritan yang penuh dengan rerumputan.
Terasa panas dan gatal, ketika sadar, ternyata aku didalam parit.
Saat itu kesehatanku menurun, karena terlalu lelah.
Di tambah aku rindu tidak bertemu Bapak dalam tiga bulan.
Akhirnya aku ijin tidak masuk sekolah karena sakitku kambuh sampai satu bulan.
Dan sekarang sudah masuk tiga bulan.
"Assalamualaikum..,"
Terdengar ada tamu mengucap salam.
"waalaikumsalam," jawab Ibuku
"Silahkan masuk,"
ujar Ibuku mempersilahkan tamunya masuk.
"Terima kasih," jawab tamu Ibu.
"Dari mana ya Pak?" tanya Ibu.
"Oh ini Bu, saya guru dari sekolah putri Ibu.
"Untuk menanyakan kenapa sampai saat ini Putri Ibu, murid dari Sekolah kami belum ada kabar? Sedang surat ijin sudah melewati prosedur sekolah, Bu, dan saya membawa surat panggilan untuk Putri Ibu dan Ibu agar hadir ke sekolah," lanjutnya
"Aduh gimana ya Pak, anak saya, belum sembuh dan masih terbaring dikamar.
Mari saya antar kekamar Putri saya Pak.
Agar Bapak bisa melihat langsung keaadan Putri saya sekarang," ajak Ibu.
"Oh mari Bu," ucap Pak guru.
Dan sampailah Ibu dan Pak guru tadi didalam kamar.
"Astagfirullahallazimmm," ucap Pak Haryono guru wakil yang ditugaskan kerumah Lita.
"Lita, semoga cepat sembuh ya, Lita mendapat Salam dari dewan guru dan sahabat-sahabat Lita disekolah," ujar Pak Guru Haryono kepadaku.
"Iya Pak, terima kasih, Salam kembali buat mereka semua," aku memaksakan untuk tersenyum.
Dan Pak Haryono tersenyum lembut.
"Kenapa tidak dirawat saja Bu? kasihan Nak Lita sampai kurus kering begini," ujar Pak Haryono lagi menatap iba kepadaku.
"Ayo Bu kita keluar, biar Nak Lita istirahat," suara Pak Haryono mengecil saat melihatku tertidur.
"Mari Pak," mereka melangkah keluar menuju ruang tamu.
"Sebentar Pak," Ibu pamit untuk membuat minuman dan menghidangkan bakso untuk Pak Haryono.
"Ini diminum dulu Pak, silahkan dimakan baksonya juga, pasti Bapak lapar setelah melakukan perjalanan jauh," ujar Ibu.
"Wah, repot sekali Bu," ujarnya sembari menyesap kopi buatan Ibu.
Dan menyantap bakso dengan lahap.
"Nikmat sekali Bu baksonya, sudah lama ya Ibu berdagang bakso?" Pak Haryono memuji bakso Ibu.
"Lumayan lama ya Pak, dari sebelum pindah kemari, sejak Lita berusia tujuh tahun," Ibu mengingat pertama kali berdagang bakso dan lainnya.
"Oh, sudah lumayan lama ya," Pak Haryono manggut-manggut setelah selesai menyantap bakso.
"Jadi bagaimana Bu, kita kembali ke pokok permasalahan, bagaimana tentang sekolah Nak lita." Pak Haryono membahas tentang sekolahku.
"Kita lihat kedalam lagi Pak," Ibu melangkah kembali masuk kekamarku di iringi oleh Pak Haryono.
"Itulah pak saya sedang menunggu Bapaknya kerja merantau didaerah lain," Wajah Ibu selalu sendu melihatku terbaring tak berdaya begitu pun dengan Pak Haryono.
Sedangkan aku hanya bisa meneteskan air mata.
Bersambung