bab 5

1124 Kata
5. PERNIKAHAN DINI Frustasi Penulis:Lusia Sudarti Part 5 *** "Iya Kak," aku termangu mengenang masa aku bekerja saat liburan sekolah, banyak kenangan. Keseruan bersama teman-teman membuatku rindu. Naik mobil truck karyawan, naik menara penjaga setinggi lima belas meter. Yang serunya, ngintip orang pacaran he he he." "Lit, Kakak pulang dulu ya," Mario membuyarkan lamunanku lagi dan lagi, terus melamun pokok e. "Aa-apa Kak, nggak denger," aku menatap malu karena asyik melamun, sehingga tak mendengar ucapan Mario barusan. "Kakak mau pulang dulu he he he." Ia terkekeh melihatku seperti orang linglung. "Oh iya Kak," jawabku. Ia pun berpamitan kepada Kakak dan teman-temannya. "Ciieee, ada yang di apeli Mario nih, he he he," goda Bayu dan disambut gelak tawa yang lain. "Iihh enggak ya," protesku cemberut. "Ha ha ha, lucu kalau kamu cemberut Lit," gantian Wahyu yang ngledek. Aku auto tambah manyun. "Sini aku yang main gitar," aku ambil paksa gitar ditangan Wahyu dan aku menjauh dari mereka, supaya enggak digodain terus. Wahyu, Bayu juga Kakakku hanya geleng-geleng melihat tingkahku yang begitu kekanak-kanakan. Hari-hari kulalui terlalu membosankan, menyakitkan, dan sejak kuputus sekolah, aku mulai banyak berubah." Aku jadi perokok, bahkan suka mabuk-mabukan. Tentu saja itu membuat murka kedua orang tuaku." "Mau jadi apa kamu hah? merokok dan minum-minuman." bentak Bapak. Ketika mengetahuiku menghisap sebatang rokok. Aku diam seribu basa, hanya dalam hati aku menjawab. 'Aku hanya mau sekolah Pak...," Bukan berhenti setelah ketahuan tapi malah menjadi-jadi, Lita seolah menjadi Anak yang paling pembangkang, gaya seperti cowok, slengek an, kebut-kebutan, entahlah pokoknya mau jadi apa! Tetapi jika sore hari Lita selalu belajar mengaji dirumah ustadz. Belajar apa pun Lita selalu cerdas, dahulu baru tiga bulan ia belajar mengaji menggunakan turutan, sudah naik di Alqur'an. Begitu pun disekolah, meski hanya ranking dua atau tiga, namun selalu bertahan. Puncaknya ketika kelas enam, ia mampu meraih juara satu. Memang Dewi fortuna belum berpihak padanya. Kini hanya penyesalan yang menghiasi dirinya. Siang itu ada motor Bapak diparkir disamping rumah. Cepat ku engkol motor RX 100, aku mencari tempat untuk menyendiri, untuk mengusir galau hati dan membuang stres. Aku berhenti disebuah balai desa, kuparkir motor dibawah pohon albasia yang besar dan rindang. Aku duduk diteras balai desa seorang diri. Dari sini aku bisa melihat tempat yang jauh. Pandanganku tak terlepas sedetik pun dari sana, tetapi anganku lebih jauh menerawang, entah mengembara kemana. Angin sepoi-sepoi menerpa wajahku dan membuat rambutku melambai-lambai. Tak terasa, air mata meleleh dikedua belah pipinya, yang terlihat begitu tirus. Cita-citanya terlalu tinggi untuk diraih, bukan tak mampu, tetapi takdir yang tak mengijinkannya. Entah menghabiskan waktu berapa jam lamanya aku disini. Aku bingung dengan keadaanku. Satu laki-laki bisa kuhindari, datang lagi yang lainnya, sedang aku hanya terfikir sekolah saja. Bukan yang lainnya. Entah apa yang ada dalam fikiran mereka para laki-laki, apa mereka tidak bisa melihat, antara wanita dewasa, ABG dan remaja. Mengapa mereka berlomba untuk mendapatkan anak bau kencur? Apa didaerah kalian para pembaca setiaku sama dengan yang ada dicerita ini? Apa karena memang kehidupan desa? Aku juga enggak tau!" Akhirnya aku memutuskan diri untuk pulang, ketika hari beranjak senja. Seperti itulah hari-hari yang kujalani. ** Hari berganti, minggu berganti bulan, dan bulan berganti tahun. Masih seperti dahulu, tiada perubahan. Akhirnya, aku mendapat info, bahwasanya waktu dan kesempatan akan datang. Seperti saat ini aku, mendapat info untuk ikut kejar paket. "Di desa tetangga mengadakan program KEJAR PAKET B. Aku, Masku dan Mas Yakub ikut dalam program paket.. Selama beberapa minggu kami ikut program dan tinggal menunggu kelulusan. Suatu siang, ketika Bapak sedang asik menikmati secangkir kopi diruang tamu. "Pak minta rokok?" pintaku kepada Bapak. kamu ini merokok terus enggak baik buat kesehatan kamu," kata Bapak kepadaku, sembari menatapku dengan tajam. Aku hanya diam dan menyulut rokok kretek Bapak. "Enak filter Pak," kataku sambil mematikan rokok yang kuhisap tadi. "Aku mau beli filter dulu ah," ucapku. Bapak hanya geleng-geleng kepala. "Bulek beli rokok surya," panggilku. "Berapa Bulek?" tanyaku. "Oh Lita, kamu kok jadi perokok sih?" ucapnya seraya menatapku heran. "Pusing Bulek dari pada stres lebih baik aku merokok," tegasku. "Lit-Lit kamu ini, ya?" katanya sambil geleng-geleng. "Udah Bulek aku pulang dulu," pamitku. "ini kembaliannya lima ribu," sergahnya. Setelah mengambil kembalian aku melangkah pulang, menyulut dan menikmati rokok dengan begitu nikmat. Senikmat lidah mertua. Usiaku empat belas tahun, karena putus sekolah aku jadi anak brutal. Perokok, peminum, kebut-kebutan dijalan. Aku tak memikirkan apa pun, kecuali diriku sendiri. Apa yang ingin kulakukan akan tetap kulakukan, tak perduli walau dilarang oleh siapa pun. Kalau menurut orang jawa, sak karepe dewe wae. Semakin keras aku dilarang, semakin aku lakukan. Suatu ketika aku berkendara dengan dua orang sahabatku yang semuanya perempuan, tomboy pula. Aku mengenakan pakaian laki-laki, pakai topi rambut panjang dan kemeja, sendal new era. Kami masing-masing mengendarai motor RX King, dijalan kebut-kebutan. Tak kugiraukan orang-orang yang memandangku dengan wajah sinis. Kadang aku lelah sendiri. Jika sudah demikian, aku mengurung diri dikamar. Seharian pun enggan untuk keluar, makan pun nggak. Malas mau ngapa-ngapain nih, bosan sekali," gumamku. "Bu, kalau ada yang cari Lita, bilang saja nggak ada dirumah ya," ucapku suatu siang. "Mangnya mau kemana kamu Lit?" Ibu balik tanya. "Enggak kemana-mana Bu, lagi males aja," "Kamu ini Lit," Ibu geleng-geleng kepala menatapku yang berlalu dari sampingnya yang sedang membuat bumbu kuah bakso didapur. Aku membuka daun pintu kamarku dan masuk. "Ya Bu," setengah tubuhku keluar lagi melongok Ibu yang masih menatapku. Akhirnya beliau pun mengangguk. "Makasih Bu," teriakku dari kamar, aku tersenyum melihat Ibu mengangguk. Di ruang depan aku mendengar ada orang yang bertamu kerumah, dari ruang tamu dan kamarku hanya bersekat dinding papan, jadi aku bisa mendengar dengan jelas aktivitas di ruang tamu mau pun diluar ruang rumah. Tok! tok! tok! "Assalamualaikum, siang Bu," ternyata ada tamu. "Waalaikumsalam, siang juga," jawab Ibu dari dalam. Beliau tergopoh-gopoh keruang depan menyambut tamu. 'Heemm siapa lagi itu. Seperti bukan orang sini?" bathinku berbisik mendengar ada tamu yang berkunjung siang-siang begini. 'Ahh mungkin orang mau minta tolong urut." Ceklek! Ibu membuka daun pintu. "Silahkan masuk Pak," ujar Ibu mempersilahkan tamunya masuk. Aku menguping dari balik pintu kamar, dan melihat dari celah kunci. Penasaran sama tamu yang baru saja datang. 'Mau apa sih orang itu?" pikirku dalam hati, sembari mengintip. 'Tapi tunggu dulu, kenapa sepertinya mencari aku," gumamku, pendengaran segera kutajamkan untuk mengetahui maksud kedatangan orang asing itu. Ibu seolah berfikir, siapa yang bertamu. karena belum pernah bertemu sebelumnya. "Ada perlu apa ya Pak?" Ibu menatap tamunya penuh tanda tanya. "Begini bu,..oh iya perkenalkan, nama saya Aditya." sambil mengulurkan tangan untuk berjabat. "Saya Maria, silahkan duduk Pak," jawab Ibu serta mempersilahkan tamunya untuk duduk. "Apakah Ibu mempunyai Anak perempuan yang sudah enggak sekolah lagi Bu? Saya sedang mencari pegawai untuk dipekerjakan sebagai tukang masak (pembantu) di bascamp gimana Bu? Apakah Ibu mempunyai Anak yang bisa memasak dan gak sekolah?" ujar Pak Aditya. "Ada Pak." jawab Ibu. Bersambung
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN