bab 3

1010 Kata
3. PERNIKAHAN DINI Ingin Sekolah Penulis:Lusia Sudarti Part 3 *** "Ibu, tiga bulan lagi aku naik kelas dua Bu!" lirihku disela isak tangis. Kembali direngkuhnya didalam dekapan Ibu, diusap air mataku ... Keesokan paginya aku terbangun saat adzan shubuh,. Pusing sekali kepalaku. Ternyata terlalu lama menangis membuat kesehatanku terganggu. Perlahan aku bangun dan duduk disisi pembaringan. Sambil berfikir apa yang akan kulakukan untuk mengisi hari-hariku setelah putus sekolah...! Yaa Allah," ucapku lirih. Semoga kelak ada jalan untukku melanjutkan sekolah," Aku pun segera bangkit menuju kamar mandi untuk mandi dan mengambil wudhu' dan melakukan kewajibanku. Setelah tenggelam dalam doa segera kuakhiri sholatku,.. Kudengar didapur Ibu melakukan ritual memasaknya. aku mengambil sapu lidi, aku bergegas keluar untuk menyapu halaman. Hari ini seperti janjinya, aku dan Ibu pergi kepasar membeli apa pun yang aku mau. "Lit kok enggak sekolah?" kata tetanggaku depan rumah melihatku heran. Yang bersiap hendak berangkat ke pasar bersama Ibu. Aku terdiam sesaat. "Enggak Bulek, namaku dicoret." jawabku. "Owalah sing sabar yo Nduk, sekarang mau kemana udah rapi?" ujarnya lagi sambil tersenyum. "Njih Bulek, makasih, ini mau kepasar sama Ibu." jawabku. "Mau beli celana sama baju bulek," sahut Ibu. "Oh iya, hati-hati dijalan," ujarnya seraya tersenyum dan mengangguk. Setelah melakukann perjalanan selama dua jam menggunakan bus akhirnya kami sampai. "Ayo Nduk, kita masuk ke toserba itu," Ibu menunjuk toko serba ada yang bernama harmonis, disini toko itu yang paling besar dan lengkap. Aku sibuk memilih celana dan kaos berlengan panjang juga kemeja laki-laki, satu pasang sandal new era, topi dan kacamata hitam yang lucu dan cantik. Kemudian aku memberikan semua kepada Ibu. Setelah membayar dikasir kami pun pulang, setelah beliau membeli perlengkapan warung yang mulai habis. ??? Hari-hari yang ku lalui hanya mengurung diri, membantu pekerjaan alakadarnya. Sejak saat aku tidak sekolah aku dikamar dan keluar jika terpaksa harus keluar saja. Saat aku berdiri dijendela kamarku ada sahabatku semenjak sekolah dasar. Baru pulang dari sekolah, mengayuh sepedanya.. Aku berteriak memanggilnya. "Hai Sum, baru pulang?" Sapaku. Sumi pun menoleh dan tersenyum. "Iya Lit, yuk kerumah!" Ajak Sumi. "Iya Sum, nanti aku main!" ucapku. "Ku tunggu ya?" teriaknya. Aku pun melambaikan tangan. Rumahku dan Sumi hanya bersebrangan jalan... "Assalamualaikum, Sum!" kuketuk rumahnya. Tok! Tok! Tok! "Waalaikumsalam, masuk Lit!" ajak Sumi. "Iya Sum makasih," jawabku. "Ayo duduk mau minum apa?" tanya Sumi kepadaku. "Enggak usah repot Sum, aku baru minum es dirumah. kebetulan hari ini panas banget," tolakku. "Iya nih Lit, aku sampai ngos-ngosan mengayuh sepeda." seloroh Sumi sembari memonyongin bibirnya agar aku tertawa. Mungkin karna melihatku murung, jadi ingin menghiburku. Karna Sumi memang Anak humoris, dan hatiku pun sedikit terhibur. Kami bersenda gurau bersama. Tanpa sadar ternyata ada sepasang mata yang memperhatikanku dari ruang tamu. Sedangkan kami diteras dapur. Entah mengapa, rasa hati ini merasa ada yang memperhatikan. Sontak aku menoleh kearah ruang tamu yang terlihat dari samping. Dan netraku bersirobok dengan seseorang, ia membuang pandangan setelah ketahuan mencuri pandang. Aku langsung pada pokok kedatanganku kerumah Sumi. "Sum,..bolehkah aku pinjam buku cetakmu ?" kataku. "Boleh Lit emang kamu mau sekolah lagi?" tanyanya. "Mau sih Sum, kesekolah kamu aja biar kita bisa bareng!" jelasku. "Seriusss Lit?" katanya sembari melihat kepadaku seakan tak percaya. "Iya Sum gak apa, walau harus kelas satu lagi yang penting aku bisa sekolah," ujarku. "Kenapa Lit, kamu keluar dari sekolah kamu," aku dikejutkan suara bariton dibelakangku. "Iya, aku sakit kemaren," aku menjawab acuh, mataku tetap fokus membaca. "Oh," hanya itu jawabannya. "Sum, buku-buku cetak kelas satu masih kamu simpankan?" aku menoleh kepada Sumi yang sedang membongkar tumpukan buku dilemari. "Masih Lit, ini sedang aku cariin." teriaknya dari dalam. Sedang Kakak Sumi mendekati aku. Ia seolah mencari perhatian. Tapi takku hiraukan. "Serius banget sih Lit, sini tak bantuin," Ia duduk tak jauh dariku dan menawarkan diri untuk membantu mengumpulkan makalah-makalah untuk kliping. "Boleh, sini Kak," jawabku, tanpa menoleh. Mungkin sedikit kesal atau bagaimana, karena aku selalu acuh. Buku yang ada ditanganku direbutnya dengan paksa. Aku tersentak... Lalu kualihkan pandanganku kepadanya. Seolah tanpa dosa, ia malah tersenyum. Semakin berani mendekati aku. 'Duh, harus bagaimana ini ya?" Aku berusaha mengambil kembali buku yang direbutnya. "Kok semakin hari kamu semakin manis Lit," ujarnya lembut dan bibir tak henti mengulas senyum. Aku yang tak menyangka ia akan berbicara begitu pun tersedak tanpa minum. 'Uhuk, uhuk," aku meraih air minum yang disuguhkan Sumi tadi dan kusesap hingga tandas. Sementara itu Sumi keluar membawa sepelukan buku-buku yang kupinta. "Lit, pilih saja buku yang kamu mau," ia berbicara dan bibirnya mengulas senyum misterius. "Kenapa kamu senyum-senyum gitu Sum," aku heran melihat sikap Sumi. Ia malah ikut menggodaku. Netranya menatapku dan bergantian menatap Kakaknya. Sampai disini aku baru faham dan mengerti. "Oo, aku tau sekarang, kamu senang ya kalau aku enggak sekolah," ujarku cemberut. Ia malah terkekeh mendengar ucapanku. "Ish, ish, kamu ini Lit, hahaha," ia terbungkuk karena tertawa. "Sini ku kasih tau," ia berjalan mendekatiku dan berbisik ditelingaku. "Itu, Kakakku menyukaimu," ia tersenyum menatap kedua netraku. "Oh, he he, ups," aku menutup mulutku menahan senyum. Sejenak hatiku terhibur, sedikit melupakan kesedihanku. "Lit, yang ini mau?" Kakak Sumi menunjukkan sebuah buku. Aku membaca tulisannya disampul, PPKN. "Mauu Kak," aku mengangguk. Entah sampai berapa jam aku, Sumi juga Kakaknya membantuku memilih buku untukku. Setelah itu aku pamit pulang. "Sum, sudah cukup. Ini mau aku kliping ya? Makasih ya Sum, Kak." Aku mengucap terima kasih dan pamit untuk pulang. "Iya sama-sama Lit, jangan sungkan ya," ujar Sumi. Dan Kakaknya selalu mengulas senyum. Lita menjadi sangat malu melihat Mario yang selalu tersenyum kepadanya. "Ihh senyum-senyum terus sih Kak," aku menatapnya heran. "Kamu semakin cantik Lit," balasnya spontan. Aku menjadi gregetan tau," gumamku, aku menunduk tersipu malu, kemudian aku menengadahkan kepala menatapnya sesaat. "Kak, yang namanya cewek ya cantik kali, nah kalau Kak Mario baru aneh, masak iya cowok binti cewek," ujarku sengit. Baik Sumi atau pun Kakaknya, tertawa terpingkal-pingkal mendengar kata-kataku. "Iya ya, hahaha," "Udah ah, capek aku, makasih Sum," Aku memeluk Sumi Dan aku pun menangis, diraihnya pundakku dalam pelukannya. Sabar Lit!" katanya. "Makasih ya Sum," lirihku. "Iya Lit. Sekali lagi gak usah sungkan!" balasnya dengan diiringi senyuman. Bersambung. Bagaimana ya Mak, kali Mak penulis ini seperti Mak nya Lita?
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN