Alvian seketika memutar badan lalu menatap wajah Yuanita dengan kening yang di kerutkan. "Apa maksud kamu, Yuanita? Bukannya kecelakaan maut itu kecelakaan tunggal, ya?"
"Kecelakaan tunggal katamu?" Yuanita dengan nada suara lantang. "Ibuku mati gara-gara orang tua kamu, Alvian? Dia seorang pemulung, dia yang lagi bawa gerobak barang bekas ditabrak sama mobil yang dikendarai Ayah kamu!"
Alvian bergeming mencoba untuk mengingat kejadian 20 tahun lalu, di mana ia masih berusia 15 tahun kala itu. Ia sama sekali tidak tahu bahwasanya ada orang lain yang tewas juga dalam kecelakaan yang merenggut nyawa kedua orang tuanya. Apakah fakta yang satu itu sengaja ditutupi?
"Kenapa kamu diem aja, Alvian?" tanya Yuanita seraya berjalan mendekati suaminya. "Kamu pikir kenapa kakekmu menjodohkan kita?"
Alvian masih bergeming, pikirannya masih melayang mencoba untuk mengingat kejadian naas itu.
"Kakekmu berjanji ka--"
"Sudah cukup, saya lelah. Kita lanjutkan nanti," pinta Alvian akhirnya bersuara. "Kamar kita ada di atas."
Alvian kembali berbalik lalu melanjutkan langkahnya yang sempat beberapa kali tertahan. Nada suara pria itu pun sudah tidak selantang sebelumnya. Mungkin karena ia terlalu terkejut dengan fakta yang baru ia ketahui, 20 tahun sudah sejak ia ditinggalkan oleh orang tuanya dan ia baru mengetahui bahwasanya ada orang lain yang turut tewas dalam kecelakaan tersebut.
Yuanita yang emosinya sempat naik saat menceritakan apa yang menimpa orang tuanya segera mengikuti suaminya seraya mengusap kedua matanya yang sempat berair. Keduanya mulai berjalan menaiki satu-persatu anak tangga menuju lantai dua hingga akhirnya tiba di depan pintu kamar yang masih tertutup rapat. Yuanita berhenti tepat di belakang suaminya dan segera mengikuti pria itu saat Alvian mulai membuka pintu lalu masuk ke dalam kamar tersebut.
"Kenapa ada dua ranjang di sini?" tanya Yuanita menghentikan langkahnya sesaat setelah ia menginjakkan kaki di dalam kamar. Tatapan matanya tertuju kepada dua ranjang yang bertengger tepat di tengah kamar berukuran luas itu.
"Kenapa? Apa kamu pikir kita akan tidur di ranjang yang sama?" tanya Alvian tersenyum menyeringai seraya membuka jas hitam yang ia kenakan. "Jangan mimpi, Yuanita. Meskipun kita tinggal di kamar yang sama, tapi kita akan tidur di ranjang yang berbeda, paham?"
Yuanita mendengus kesal lalu berjalan ke arah ranjang miliknya yang terletak tepat di samping ranjang suaminya di mana satu buah meja kecil menjadi pembatas mereka. Wanita itu duduk di tepi ranjang seraya menepuk-nepuk bantal lalu kembali menatap wajah suaminya.
"Oke, gak masalah. Lagian aku juga lebih suka kita tidur terpisah kayak gini," decak Yuanita lalu berbaring seraya menutup sebagian tubuhnya menggunakan selimut tebal. "Tapi ngomong-ngomong, apa kita beneran akan melewatkan malam pertama kita?"
Alvian tersenyum menyeringai seraya berjalan mendekati istrinya. Telapak tangannya pun perlahan mulai bergerak membuka kancing kemeja yang ia kenakan lalu duduk di tepi ranjang di mana Yuanita tengah berbaring. Alvian menatap lekat wajah istrinya membuat Yuanita seketika merasa gugup.
"Malam pertama?" tanya Alvian, kancing kemeja yang ia pakai pun sudah berhasil ia lucuti memperlihatkan d**a bidangnya yang sedikit dipenuhi bulu-bulu halus. "Kamu yakin mau melakukan ritual malam pertama?"
Telapak tangan Alvian seketika mengusap satu sisi wajah Yuanita lembut membuat wanita itu seketika memejamkan kedua matanya. Jantungnya pun benar-benar berdetak kencang bahkan seperti hendak melompat dari tempatnya bersarang. Apalagi, ketika Alvian tiba-tiba saja mendekatkan wajahnya lalu berbisik di telinga Yuanita.
"Apa kamu lupa apa yang saya katakan tadi?" bisik Alvian membuat Yuanita kembali membuka kedua matanya. "Saya tidak menyentuh sembarang wanita, apalagi wanita seperti kamu, Yuanita."
Yuanita tertegun, napasnya seperti tertahan di tenggorokan. Ia pikir dirinya akan mendapatkan kecupan, tapi ternyata suaminya hanya membisikkan sesuatu yang membuat hatinya kembali terluka. Wanita itu seketika bergeming lalu menoleh ke arah samping di mana wajah Alvian berada sangat dekat dengannya bahkan hanya menyisakan beberapa centi saja.
"Kamu bukannya gak menyentuh sembarang wanita, tapi kamu emang gak doyan wanita, 'kan?" ujarnya sinis. "Kita lihat, bagaimana reaksi kakek kamu kalau dia sampe tahu masalah ini."
"Saya pria normal, Yuanita. Ucapan kamu itu--"
"Ya udah, buktikan kalau kamu emang pria normal, Alvian. Buktikan!" sela Yuanita bahkan sebelum Alvian sempat mengatakan apa yang hendak ia ucapkan.
"Bukannya kamu udah membuktikannya sendiri?" tanya Alvian setengah berbisik. "Atau jangan-jangan, gak pernah terjadi apapun malam itu?"
Yuanita semakin merasa gugup, wanita itu mendorong tubuh suaminya lalu duduk tegak dengan perasaan canggung dan sedikit gelagapan. "Aku gerah, aku mau mandi dulu," ujarnya lalu bangkit kemudian turun dari atas ranjang.
"Jawab saya, Yuanita. Sebenarnya tidak terjadi apa-apa malam itu, 'kan?" tanya Alvian tiba-tiba saja merasa penasaran. "Kalau kita memang melakukan hubungan intim, saya pasti mengingatnya barang sedikit, atau setidaknya junior saya menunjukkan tanda-tanda kalau kita udah--"
"Kalau kamu emang penasaran, kenapa gak kamu ingat-ingat lagi, Mas Alvian yang terhormat?" jawab Yuanita seraya berjalan ke arah kamar mandi lalu menghentikan langkahnya tepat di depan pintu. "Kalau masih gak ingat juga, coba kamu tanya sama sosis jumbo kamu itu!"
Alvian sontak memegangi area pribadinya dengan kedua mata membulat. "Apa? Sosis jumbo?" tanyanya merasa geli sendiri.
"Iya, sosis jumbo," jawab Yuanita seraya tersenyum cengengesan. "Ukurannya lumayan besar dan bikin nagih," celetuknya sebelum akhirnya membuka pintu kamar mandi lalu masuk ke dalam sana.
Alvian bergeming seraya mengusap juniornya merasa tidak percaya bahwa Yuanita akan menjadikan junior kebanggaannya sebagai lelucon. Pria itu bahkan mengintip ke dalam celana yang ia kenakan di mana juniornya bersemayam di dalam sana.
"Sosis jumbo?" umpatnya seraya menatap barangnya sendiri. "Dia menyebut kamu sosis jumbo? Emang iya, ya? Sejumbo itukah kamu, Junior?"
Tanpa diduga junior miliknya tiba-tiba berdiri tegak membuat kedua mata Alvian seketika terbelalak. Benda kesayangannya itu bahkan tidak pernah berdiri setegak ini membuat celana boxer yang ia kenakan dibalik celana bahan seketika terasa sesak.
"Astaga, kenapa kamu jadi tegang gini, Junior? Cuma gara-gara mendengar istilah sosis jumbo kamu berdiri kayak gini?" decaknya seraya mengelusnya mencoba untuk memenangkan. "Jangan sekarang, ya. Saya mohon!"
Alvian membuka celana bahan yang ia pakai hingga menyisakan boxer berwarna merahnya saja. Pria itu kembali mengusap sosis jumbo miliknya seraya menghela napas panjang mencoba untuk menahan sesuatu yang membuat jiwanya gelisah. Namun, junior kebanggaannya itu tidak kunjung tenang. Ia semakin tegak berdiri hingga menonjol seolah ingin ditenangkan oleh sesuatu yang lain.
"Kamu lagi ngapain, Mas?" tanya Yuanita tiba-tiba sudah keluar dari dalam kamar mandi hanya mengenakan handuk berwarna putih yang melingkar menutupi bagian atas tubuh polosnya.
Alvian sontak menatap wajah istrinya dengan perasaan gugup dan salah tingkah. Sialnya, junior yang tersembunyi di balik celana boxer yang ia kenakan masih berdiri tegak dan menonjol. Tatapan mata seorang Yuanita seketika turun menatap bagian tubuh suaminya yang terlihat menonjol membuatnya seketika tertawa nyaring merasa lucu.
"Itu ... itu kenapa sosis jumbonya tegang gitu, Mas? Hahahaha!"
Bersambung