Bab 1. Harus Kawin
"Kakek akan menyumbangkan seluruh harta yang Kakek punya ke yayasan sosial," ujar seorang pria tua seraya duduk dengan bersilang kaki.
"Jangan bercanda, Kek. Kakek masih punya saya,'' tegur Alvian. "Saya yang selama ini mengelola perusahaan Kakek, masa iya kakek mau menyumbangkan semuanya ke yayasan? Terus, bagaimana dengan saya?"
"Kalau kamu mau semua harta Kakek, menikahlah secepatnya. Kakek udah siapin jodoh yang pantas buat kamu, Alvian,'' pinta Abimanyu Syailendra pemilik perusahaan Company Corp, salah satu perusahaan besar di Indonesia.
"Saya sudah bilang, Kek. Saya gak mau menikah, maksud saya ... saya belum siap menikah!" sahut Alvian tegas dan penuh penekanan.
"Mau sampai kapan kamu jadi perjaka tua, hah?" Abimanyu menaikan nada suaranya geram. "Apa jangan-jangan kamu laki-laki gak normal yang gak doyan perempuan?"
Alvian mengerutkan kening. "Apa maksud Kakek? Kakek pikir saya boti, begitu?"
"Apa kamu gak tau, gosip tentang kamu udah tersebar di seluruh karyawan yang bekerja di perusahaan ini?" tanya Abimanyu menatap tajam wajah sang cucu. "Mereka pikir kamu itu punya hubungan spesial sama si Rizky asisten pribadi kamu itu."
Kedua mata Alvian seketika membulat seraya tersenyum lebar. "Hah? Maksud Kakek, saya penyuka sesama jenis dan punya hubungan sama si Rizky, begitu?"
Abimanyu menghela napas panjang lalu melempar secarik poto perempuan ke atas meja. "Namanya Yuanita, dia calon istri kamu," ujarnya datar. "Kalau kali ini kamu menolak juga, Kakek bakalan coret nama kamu dari ahli waris dan kamu bakalan jadi gelandangan. Buktikan sama Kakek kalau kamu benar-benar pria normal."
"Kakek," rengek Alvian seraya menghela napas panjang. "Saya 'kan udah bilang kalau saya--''
"Kalau kamu nolak, maka kamu harus angkat kaki dari perusahaan ini!" sela Abimanyu seraya memalingkan wajahnya ke arah lain.
Alvian mendengus kesal seraya meraih secarik poto yang tergeletak sembarang di atas meja. Seorang perempuan cantik nampak berpose seraya tersenyum lebar. Secantik apapun wanita yang dijodohkan oleh sang kakek sama sekali tidak membuatnya terpesona. Apa Alvian benar-benar kaum pelangi seperti apa yang dituduhkan oleh Abimanyu?
"Malam ini jam delapan malam temui dia di hotel Maradona, kalau tidak ... Kakek akan pecat kamu jadi cucu, paham?"
"Hah? Kenapa harus di hotel, Kek?" Alvian terkejut.
"Suka-suka Kakek dong, kalau kamu gak mau juga ya ... terserah."
"Astaga," decak Alvian seraya memejamkan kedua matanya.
"Pokoknya kamu harus kawin, titik!" tegas Abimanyu penuh penekanan. "Jangan lupa, kamar nomor 201 hotel Maradona, paham?"
Alvian hanya mengangguk pasrah.
"Buktikan sama kakek kalau kamu laki-laki normal, Alvian. Jangan mengecewakan Kakek lagi," batin Abimanyu seraya menyadarkan punggung berikut kepalanya di sandaran kursi.
***
Malam hari tepat pukul 20.00 WIB, Alvian sudah berdiri tepat di depan kamar nomor 201. Pria itu nampak ragu-ragu untuk mengetuk pintu. Rasanya benar-benar ganjil, mengapa Abimanyu meminta dirinya untuk menemui wanita itu di hotel? Bukankah mereka bisa saja bertemu di restoran atau di tempat lain? Ia bahkan tidak pernah menginjakan kaki di kamar hotel bersama seorang wanita.
Alvian hendak mengetuk pintu, tapi pintu bercat coklat itu sudah terlebih dahulu dibuka dari dalam membuatnya bergeming seraya mengangkat kepalan tangannya. Seorang wanita berdiri di belakang pintu seraya tersenyum lebar.
"Akhirnya kamu datang juga,'' ujar wanita tersebut. "Masuklah, aku udah siapin makan malam di dalem."
Alvian bergeming seraya menatap tubuh seksi wanita tersebut. Pakaian yang ia kenakan benar-benar seksi dengan dress hitam pendek memperlihatkan belahan d**a padat yang terlihat menantang juga bagian kaki jenjangnya nampak terekspos sempurna. Bagi seorang Alvin, wanita itu nampak sedang memakai pakaian tidur. Bukannya merasa terpesona, ia merasakan hal sebaliknya. Alvian merasa jijik melihatnya.
"O iya, kita belum kenalan," ujar wanita tersebut seraya mengulurkan telapak tangannya. "Namaku Yuanita, calon istri kamu.''
Alvian bergeming seraya tersenyum hambar. "Siapa bilang kamu calon istri saya?" tanya Alvian dingin tanpa menerima uluran tangan Yuanita membuat wanita itu kembali menurunkan telapak tangannya dengan perasaan agak kecewa.
"Masuk dulu, kita bicara di dalam," pinta Yuanita lalu berbalik dan berjalan memasuki kamar.
Dengan perasaan ragu, Alvian akhirnya memasuki kamar tersebut seraya menatap sekeliling. Ranjang besar nampak bertengger tepat di tengah-tengah ruangan dengan minim pencahayaan. Hawa dingin seketika terasa membasuh kulit tubuh seorang Alvian, rasanya benar-benar canggung dan risih. Terlebih, Yuanita nampak duduk di tepi ranjang seraya menyilangkan kakinya memperlihatkan kulit pahanya yang seputih bongkahan salju.
Alvian berdiri tepat di tengah-tengah ruangan seraya menatap wajah Yuanita dingin. "Langsung aja ke intinya, saya gak mau menikah sama kamu, Yuanita."
"Kamu beneran boti?''
"Jangan sembarangan kamu kalau ngomong, ya. Saya ini laki-laki normal," tegas Alvian penuh penekanan.
"Ya udah, coba buktikan kalau kamu beneran laki-laki normal," pinta Yuanita seraya berdiri tegak lalu berjalan menghampiri kemudian berdiri tepat di depan Alvian. Telapak tangannya perlahan mulai bergerak naik hendak menyentuh d**a bidangnya. "Aku denger dari kakek kamu kalau kamu--"
"Jangan berani-berani menyentuh saya, Yuanita!'' sela Alvian seraya menahan pergelangan tangan Yuanita.
"Oke, aku gak akan menyentuh kamu, Alvian. Astaga, kayaknya kamu beneran boti deh," decak Yuanita kesal. "Tapi, emangnya kamu baik-baik aja kalau seluruh harta kakek kamu itu disumbangin ke yayasan?"
Alvian bergeming.
"Hmm! Baiklah, kayaknya kamu lebih memilih melajang seumur hidup dan menjadi gembel!" sahut Yuanita seketika berbalik lalu berjalan ke arah meja. "Sebelum kamu pergi, minum dulu satu gelas anggur ini. Aku udah capek-capek nyiapin makan malam romantis buat kita lho. Tolong hargai usaha aku, Alvian. Kalau kamu gak makan juga gak apa-apa, tapi setidaknya minumlah, satu gelas aja." Yuanita meraih gelas berisi anggur merah lalu kembali berjalan mendekati Alvian.
Alvian bergeming dengan wajah datar seraya menatap cairan merah yang berada di dalam gelas tersebut.
"Kenapa? Kamu takut aku masukin apa-apa ke dalam minuman kamu ini?" tanya Yuanita.
Alvian masih bergeming.
"Baiklah, biar aku minum dulu minumannya," ujar Yuanita segera meneguk minuman tersebut hingga habis tidak bersisa. "Liat, kalau aku masukin apa-apa di minuman kamu ini, gak mungkin aku mau habisin."
Alvian menghela napas panjang lalu berjalan ke arah meja kemudian meraih gelas berisi minuman yang sama. Tanpa basa-basi lagi, pria tersebut meneguknya hingga gelas tersebut benar-benar kosong.
"Baiklah, saya udah melakukan apa yang kamu minta. Sekarang saya pergi dulu," ucap Alvian santai.
"Bagaimana dengan perjodohan kita?"
"Hmm! Kita pikirkan itu nanti,'' jawab Alvian dingin seraya meletakan gelas tersebut di atas meja. "Saya akan membahas masalah itu, tapi tidak di sini. Emangnya gak ada tempat lain buat ngobrol apa? Kenapa harus di kamar hotel?"
Alvian hendak melangkah, tapi pria itu seketika menahan langkahnya saat merasakan sesuatu yang aneh dengan tubuhnya. Hawa panas tiba-tiba saja menguasai jiwa seorang Alvian, pandangannya pun mulai meremang membuatnya sontak mengedipkan pelupuk matanya secara berkali-kali.
Yuanita yang menyaksikan hal tersebut seketika tersenyum puas seraya berjalan menghampiri. "Malam ini kamu milikku, Alvian," gumamnya mulai menurunkan dress hitam yang ia kenakan tepat di depan pria bernama Alvian.
Bersambung