Bab 2. Laki-laki Perkasa

1141 Kata
Keesokan harinya, Alvian mengedipkan pelupuk matanya pelan dan beraturan. Dahinya pun nampak mengernyit saat sinar matahari yang berasal dari celah gorden yang sedikit terbuka terasa hangat membasuh wajahnya. Tubuh seorang Alvian seketika menggeliat seraya membuka mulutnya lebar-lebar. "Huaaa! Jam berapa ini?" gumamnya perlahan mulai membuka kedua matanya. "Saya di mana?" Alvian bergeming, tatapan matanya nampak lurus menatap langit-langit kamar di mana lampu LED begitu terang menyilaukan mata. Pria itu pun seketika terperanjat saat menyadari seorang wanita tengah berbaring dengan tubuh polos tidak jauh dari tempatnya berada saat ini. Siapa lagi jika bukan Yuanita, wanita yang dijodohkan dengannya. "Astaga," decak Alvian seketika membuka selimut di mana tubuh polosnya tersembunyi di dalam sana. "Apa yang terjadi semalam?" "Kamu udah bangun, Sayang?" samar-samar terdengar suara Yuanita yang baru saja membuka kedua matanya. Alvian sontak menoleh dengan wajah kesal. "Kamu apakan saya semalam, hah?" bentaknya murka. "Kamu memperkosa saya?" Yuanita seketika tertawa nyaring mendengar pertanyaan pria berusia 35 tahun itu. "Hah? Hahahaha! Apa gak kebalik? Seharusnya cewek yang nanya kayak gitu, Alvian. Astaga! Mana ada cewek yang merkosa cowok? Dasar lawak.'' Alvian seketika bangkit lalu berdiri tegak seraya menarik selimut tebal yang juga menutupi Yuanita, tubuh polos wanita itu sontak terekspos sempurna. Tanpa rasa malu, Yuanita menopang kepalanya menggunakan kepalan tangannya sendiri seraya tersenyum menggoda tidak peduli meskipun tubuh langsingnya benar-benar terlihat oleh kedua mata Alvian. "Semalam kamu benar-benar hebat, Alvian. Aku mesti laporan sama Kakek kamu kalau gak ada yang perlu dia khawatirkan. Kamu ini pria perkasa, sangat, sangat perkasa." Alvian yang tengah menunduk mencoba untuk melilitkan selimut di pinggangnya seketika menatap ke arah Yuanita. "Astaga, wanita ini!" decaknya sontak memutar badan dengan jantung yang berdetak kencang. "Kenapa, Alvian? Gak usah malu gitu dong. Toh semalam kamu udah mencicipi tubuh aku ini," lirih Yuanita. "Darahnya bahkan masih ada di sini lho." "Darah?" gumam Alvian, hendak memutar badan, tapi pria itu sontak kembali berbalik saat menyadari bahwa Yuanita masih dalam keadaan polos tanpa sehelai benang pun. "Eu ... tolong, pake baju kamu, Yuanita. Apa kamu gak malu telanjang di depan laki-laki? Emangnya kamu cewek murahan apa?" Yuanita mendengus kesal. "Cih, buat apa aku malu telanjang di depan calon suamiku sendiri?" Wanita itu perlahan mulai bangkit lalu mencari pakaian miliknya. Yuanita kembali mendengus kesal saat menyadari bahwa dress berwarna hitam miliknya berada tepat di bawah kaki Alvian. Ia pun segera berjalan mendekat masih dengan tubuh polosnya. "Astaga, kenapa dress aku kamu injek-injek, Alvian? Kamu gak tau berapa harga dress ini, hah?" Alvian sontak menunduk menatap kedua kakinya sendiri. "Aduh kenapa dress ini bisa ada di sini?" decaknya lalu memundurkan langkahnya. Lagi-lagi tanpa rasa malu, Yuanita berdiri tepat di depan Alvian sebelum akhirnya berjongkok kemudian meraih pakaian miliknya dengan perasaan kesal membuat pria itu seketika bergeming. Kedua matanya nampak tajam menatap gadis berambut sebahu itu. Tubuhnya yang indah tanpa sehelai benang pun sama sekali tidak membuat Alvian bergetar apalagi terangsaang. Siapa wanita itu sebenarnya? Mengapa ia begitu berani bersikap seperti ini di depan laki-laki? Apa kakeknya sengaja menyewa seorang p*****r untuk menguji seberapa perkasanya ia? Batin Alvian mulai bertanya-tanya. "Siapa kamu sebenarnya?" tanya Alvian dingin, sementara Yuanita mulai mengenakan dress tersebut tanpa rasa sungkan. "Apa kamu p*****r yang disewa kakek saya buat menguji seberapa normalnya saya?" Yuanita sontak menahan gerakan tangannya lalu balas menatap wajah Alvian. "p*****r?" tanyanya kesal. "Kamu terlihat seperti orang yang berpendidikan, tapi ucapan kamu kasar banget tau. Enak aja ngatain aku pelacur." "Kalau kamu wanita baik-baik, kamu gak mungkin berbuat kayak gini, Yuanita. Berapa kakek saya membayar kamu, hah?" bentak Alvian mulai naik pitam. "Kalau kamu mau tau berapa kakek kamu membayar aku, kenapa gak kamu tanya sendiri sama dia?" Yuanita balas bertanya. "Yang jelas, kamu harus bertanggung jawab dan ngawinin aku secepatnya. Paham?" "Saya gak ngerasa berbuat apa-apa sama kamu, Yuanita. Saya gak ingat apapun." "Yakin? Coba kamu ingat-ingat lagi." Alvian seketika bergeming seraya menaikan selimut yang melingkar di pinggangnya. Otaknya dipaksa untuk mengingat kejadian semalam. Apakah mereka benar-benar melakukan hubungan intim layaknya suami istri? Alvian menoleh dan menatap sprei berwarna putih di mana bercak darah terlihat jelas dan masih segar. Namun, ia tetap tidak mengingat apapun. Kejadian terkahir yang ia ingat adalah saat dirinya meneguk anggur merah, setelahnya ia sama sekali tidak tahu apa yang terjadi. Mengapa dirinya bisa berakhir seperti ini? "Sekarang jawab pertanyaan saya, kamu kasih apa minuman yang saya minum semalam? Obat perangsang, obat tidur atau obat lainnya yang membuat saya kehilangan akal sehat saya?'' Yuanita tersenyum menyeringai lalu menyentuh d**a bidang Alvian seraya menatapnya genit. "Kamu tanyakan juga hal itu sama kakek kamu, ya." "Kakek?" "Iya, karena aku dapet pil itu dari kakek kamu." "Astaga, Kakek!" decak Alvian seraya mengusap wajahnya kasar. Ia benar-benar tidak menyangka bahwa kakeknya akan melakukan hal sejauh ini. "Terus, dibayar berapa kamu sama dia, hah?" Bukannya menjawab pertanyaan Alvian, yang dilakukan oleh Yuanita adalah meraih tas miliknya yang ia letakkan di atas sofa. "Oke, sekian untuk hari ini. Kita pasti akan ketemu lagi, calon suami," pamit Yuanita dengan nada suara manja lalu berjalan ke arah pintu. "Tunggu saya, Yuanita. Jawab dulu pertanyaan saya. Jangan pergi dulu," pinta Alvian berjalan mengejar. Namun, pria itu terpaksa menahan langkahnya tepat di depan pintu yang sudah dibuka oleh Yuanita. Wanita itu pergi begitu saja tanpa menimpali pertanyaan demi pertanyaan yang dilontarkan oleh Alvian Syailendra. Alvian mendengus kesal. "Siapa dia sebenarnya? Kenapa kakek tega ngelakuin ini sama saya?" gumamnya merasa kecewa kepada sang Kakek. *** Siang hari tepatnya pukul 13.00, Alvian berjalan memasuki kediamannya dengan rahang mengeras kesal juga kedua tangan mengepal. Langkahnya pun terhenti tepat di depan tangga yang menghubungkan antara lantai satu dan lantai dua. "Kakek!" teriak Alvian memekikkan telinga. Suaranya bahkan terdengar membahana juga memantul di udara. "Ada apa sih teriak-teriak?" tanya Abimanyu berjalan menghampiri dari arah samping tangga. Alvian sontak memutar badan lalu menatap wajah sang kakek tajam. "Kakek sengaja ngejebak saya tidur sama p*****r itu?" "Dia bukan p*****r, Alvian. Dia calon istri kamu," jawab Abimanyu balas menatap wajah sang cucu. "Tidak, saya gak mau nikah sama w************n kayak dia." "Tapi kamu udah tidur sama dia, Alvian. Kamu harus bertanggung jawab!" "Saya dijebak, Kek. Saya gak berniat buat tidur sama dia!" "Mau niat atau gak niat, kamu udah merenggut kesucian wanita itu. Bulan depan kamu harus kawin sama dia, paham?" "Kakek!" bentak Alvian penuh emosi. "Kakek mohon, Alvian. Kakek mohon ikuti kemauan Kakek kali ini aja. Kakek udah tua, Kakek gak tau kapan malaikat maut bakalan jemput kakek dan Kakek gak akan mati dengan tenang sebelum melihat kamu kawin dan punya keturunan." "Tapi kenapa harus sama p*****r itu?" "Alvian!" bentak Abimanyu. "Jangan panggil dia p*****r, dia calon istri kamu. Kakek gak peduli siapapun wanita itu, mau p*****r, Kek. Mau wanita jalanan, kek. Yang penting kamu kawin dan melahirkan penerus keluarga kita. Paham?" "Sebenarnya dari mana Kakek kenal Yuanita? Apa dia beneran p*****r? Jika iya, tega sekali kakek mencarikan saya istri wanita seperti itu," batin Alvian benar-benar merasa kecewa kepada sang Kakek. Bersambung
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN