Jemari Devid mulai keram, sedangkan lelehannya semakin terasa memilukan, cahaya lampu jalan yang menembus gorden berwarna krem di samping membuat Devid menahan ringisan—darahnya menetes di atas punggung Acha yang gemetar. Rasa pening di kepala kembali menyerang, hidungnya dibekam oleh jemari yang bergetar. Perlahan, Devid melonggarkan pelukannya, untung saja kamar tak terang. Membuat Devid leluasa keluar dengan santai, agar Acha tak mencurigai tangan yang membekam hidungnya dalam-dalam. Acha mendongak, Devid sudah keluar dari kamarnya. Tangisnya semakin keras, semua orang tak ada yang peduli, termasuk Devid. Ia membenturkan kepalanya ke lantai. Harapan hidupnya mulai pupus, tak ada yang peduli. Haruskah ia mati? Pikirnya. Seluruh badannya gemetar, menuruni anak tangga yang seakan diperm

