"Hei, Boss!" Aji menepuk bahu Deenan yang sengaja membuat kopinya menunggu lama, nyaris dingin. Pemiliknya lantas menggeser cangkir menjauh dan bertindak seolah tidak melamun, menyapa Aji balik. "Gimana liburannya di London?" Bahkan itu nggak terasa seperti liburan. "Good," jawab Deenan singkat dan tentu saja Aji kurang percaya karena pemuda itu memasang ekpresi meledek. "Gue ke sana bukan honeymoon, Ji. Berhenti berpikir berlebihan." "Gue nggak berpikir apa-apa, Boss!" Sekarang Aji memasang wajah serius. "Tapi kalau misalnya mau honeymoon juga nggak pa-pa kan sama istri sendiri." Melihat Deenan diam saja, Aji jadi merasa salah bicara. "Hubungan gue sama istri nggak baik-baik aja, Aji. Boro-boro honeymoon, dia terus minta cerai." Deenan juga pusing memikirkannya. "Dia mungkin emang be

