01. Kedatangan

1515 Kata
Tubuh dalam balutan kemeja putih dengan garis-garis biru itu berkeringat dingin. Dia berusaha keras menggulung lengan kemeja sampai siku, dalam kondisi tangan gemetar. Laki-laki itu mengedipkan mata dengan iris biru di kanan dan cokelat di kiri, saat merasakan setetes keringat masuk ke matanya. Albert, pemilik heterochromia iridium, berjalan sedikit menunduk dan gelisah. Sangat tidak nyaman dengan tatapan orang-orang. Jika bisa, sudah Albert pakai hoodie yang terikat tidak kencang di koper kecilnya. Namun, dia dilarang memakai topi dan hoodie. Tidak di bandara. Masih Albert ingat apa kata kembarannya. "Kamu tau kalau kita tampan, Vin. Jadi, jangan merasa insecure. Mata unik kamu itu keren," ucapnya menunjuk mata Albert yang terpantul di cermin. "Vince!" Albert berbalik. Seorang wanita yang mengenakan dress magenta selutut tengah melambaikan tangan. Albert kembali menunduk, guna menyembunyikan tatapan terluka kala wanita itu mendekat dengan langkah enggan. "Tidak perlu memaksakan diri untuk mendekat bila tidak ingin, Ma." Albert berkata dalam bahasa Indonesia. Meski fasih, tapi logat Spanyol Albert sangat kental. Wanita itu, Isabel, yang tak lain adalah mama kandung Albert terdiam. "Mama juga sampai tidak mau berbicara dengan saya?" tanya Albert karena Isabel tak kunjung bicara sepatah kata pun dalam waktu lama. Isabel gelagapan. Dia langsung menyerahkan sebuah kotak hitam mengilap. "Ini, bawalah." Albert mengenali logo berwarna keemasan itu. Bibirnya mengukirkan senyum kecil. Apalagi, melihat kartu ucapan bergambar kelinci mengepalkan tangan ke atas. Isabel termangu melihat Albert tampak senang. Menutup kotaknya kembali, Albert beralih menatap Isabel dan berkata, "Tolong sampaikan terima kasih saya pada Uncle ya, Ma. Lalu ... saya pamit. Mama baik-baik, jaga kesehatan. Titip salam untuk Papa." Albert yang sudah mengangkat tangan hendak menyalami tangan Isabel, menarik tangannya kembali. Karena melihat Isabel menampilkan tampang keberatan. Albert memilih memegang tarikan koper menggunakan tangannya yang bebas. "Jika keberatan, maka tolak saja, Ma. Itu lebih baik daripada Mama menunjukkan wajah begitu." Albert tersenyum kecil. "Saya pikir, ketika kita hanya berdua, sikap Mama akan berbeda. Saya pasti sangat bahagia bila setidaknya Mama pura-pura peduli, tapi saya lupa. Mama tetaplah Mama. Mama Isabel dan ketidakpeduliannya pada saya." Albert berjalan sambil mencengkeram pegangan koper sampai telapak tangannya terluka. Sementara Isabel, diam mematung. Tak sempat mengatakan apa-apa pada putra keduanya. Setelah berhasil masuk ke dalam pesawat, Albert mengembuskan napas berat. Segera mencari tempat duduk dengan pemandangan indah luar jendela. Memasukkan kotak tadi ke dalam ransel, Albert meletakkan ransel dan koper kecilnya di kabin pesawat. Sebelum menyamankan posisi duduk, Albert mengenakan hoodie dan masker terlebih dahulu. Kemudian, menyumpal telinga dengan headphone abu-abu yang sedari tadi menggantung di leher. Menyambungkan headphone itu ke ponsel pintarnya. Ketika lagu Bad Day oleh Justin Bieber mulai mengalun, Albert memejamkan mata seraya bersandar. Tentu saja sesudah menutup kepala dengan kupluk hoodie. Berusaha mengenyahkan pikiran akan sikap orang-orang di sekelilingnya. Sikap yang membuat Albert merasa perih. Memang tak mudah melalui semua hal, tapi Albert tidak mau menyerah. Demi kembaran yang tak ingin dia kecewakan. *** Langkah Albert berhenti di depan gerobak bakso pinggir jalan. Harum kuah bakso itu membuat perutnya meronta minta diisi. Memang, Albert belum mengisi makanan berat apa pun. Saat transit di bandara Soekarno-Hatta pun, dia hanya meminum segelas caramel macchiato. Panas matahari juga menendang Albert untuk rehat sejenak. Albert mendekati wanita berpakaian batik dan kerudung kuning yang berdiri di balik gerobak. Wanita itu sibuk mengaduk-aduk kuah bakso dalam panci besar, setelah memasukkan potongan daun. Albert menduga itu seledri. "Excuse me, Maam." "Ya?" "Maam, can I have the menu please?" "Hah?" Albert membuka masker dan membuangnya ke tempat sampah. "Can I have the menu please?" Ibu penjual bakso terbelalak. Sedangkan Albert merasa tak nyaman ditatap sampai begitu intens. Albert berdehem, membuat Ibu segera tersadar dari aksi memalukannya. "Ya Allah, bule ternyata. Sebelumnya mohon maaf, nih, Mas, tapi Ibuk enggak bisa bahasa bule," sahutnya bingung. "Bolehkah saya melihat menunya, Bu?" ulang Albert menggunakan bahasa Indonesia formal. "Oalah. Bisa bahasa Indonesia toh. Di sini enggak pake menu-menuan segala, Mas!" Ibu itu mengibas-ibaskan tangannya di udara. "Langsung pesen aja, Mas, adanya juga cuma bakso, mi ayam, sama mi ayam bakso. Enggak ada yang macem-macem kayak di tempat mewah." "Kalau begitu, saya pesan baksonya ya, Bu." Albert sedikit kesulitan saat mengatakan kata 'bakso.' "Minumnya mau apa, Mas? Ada teh manis, teh tawar, sama teh lemon. Bisa dingin, bisa panas." "Teh manis dingin ya, Bu, tolong." Albert menyunggingkan senyum kecil. "Ashiaaap! Duduk dulu, Mas." Albert mengangguk dan memilih bangku plastik tidak jauh dari si ibu. Membiarkan koper berdiri tegap di sebelahnya. Sembari menunggu makanan disiapkan, Albert mengamati sekitar. Tidak memedulikan tatapan kagum perempuan-perempuan yang berlalu-lalang. Ibu penjual bakso menyerahkan semangkuk bakso dan segelas teh manis dingin pada Albert. Karena tidak ada pelanggan, si ibu duduk memperhatikan Albert menghirup dalam-dalam aroma baksonya. Menyantap dengan perlahan. "Mas baru dateng dari jauh, ya? Dari negara mana, Mas?" tanya si ibu saat matanya menangkap satu koper hitam berukuran lumayan besar dan satu koper medium di sebelah Albert. Oh, jangan lupakan satu ransel berwarna senada. "Dari Spanyol, Bu." "Itu jauh banget ya, Mas?" "Lumayan, Bu. Omong-omong, apa Ibu tahu indekos di sekitar sini?" Perempuan paruh baya itu menggeleng. Albert menahan rasa kesal. Dia sudah jalan kaki mencari indekos. Tadinya naik taxi, tapi tiba-tiba saja sang sopir ada keperluan mendesak. Sehingga dengan sangat terpaksa meninggalkan Albert di pinggir jalan. "OH!" pekik si ibu dengan keras membuat Albert yang baru menyuap bakso ke mulut hampir saja menelannya bulat-bulat. Berdehem beberapa kali, Albert merasakan panas pada tenggorokannya sudah jauh lebih baik. Beralih menatap si ibu yang berbinar-binar dengan sebal. "Mas bisa tanya sama Resta. Setahu Ibu, dia mengekos. Mana tau, kan, masih ada kamar kosong," usul si ibu dengan senyum ramah. "Tapi saya tidak mengenalnya." Albert memasang tampang kebingungan yang kentara. "Resta selama kerja di tempat baru selalu naik angkot dari halte sebelah sana." Ibu itu mengarahkan ibu jari ke halte tidak jauh dari mereka. Albert mengangguk. Berharap Resta yang dibicarakan segera datang membawa berita bahagia. Seperti adanya kamar kosong di indekos yang dita tinggali. "Maaf, dia pulang kerja jam berapa ya, Bu?" Albert bertanya karena sudah dua jam menunggu, tapi Resta belum juga muncul. Albert mulai gelisah ditatap, sampai difoto diam-diam. Albert juga tidak tau mengapa warung bakso menjadi ramai secara mendadak. "Seharusnya jam segini udah pulang, Mas. Aduh, apa dia enggak masuk kerja, ya?" Albert menahan diri agar tidak mengumpat. Berdiri, Albert memandangi dua mangkuk bergambar ayam dan dua gelas kosong di tangannya. Hanya tersisa kuah berwarna kemerahan dengan sawi hijau yang mengambang di sana. Albert melepaskan mangkuk dan gelas dari tangan, hingga pecah berkeping-keping. Ibu dan beberapa pelanggan memekik kaget. Albert menunjukkan wajah terkejut dan bersalah. Kemudian, Albert berjongkok untuk memunguti pecahan kaca. "Maaf, Bu. Saya akan bayar ganti rugi mangkuk dan gelasnya. Berapa, Bu?" Ibu menyebutkan sejumlah angka, membuat Albert mengeluarkan dompet. Albert mematung menatap uang-uangnya. Dia beralih mengeluarkan ponsel pintar. Berkutat sebentar di sana, kemudian mengeluarkan selembar uang kertas merah bergambar bangunan melengkung dan jembatan. Menyerahkan pada Ibu yang kebingungan. "Ini mata uang Spanyol, Bu. Dari perkembangan terkini, saya lihat satu euro sama dengan 16 ribu rupiah lebih sedikit. Uang ini 10 euro, jadi kalau ditotalkan dalam rupiah menjadi sekitar 160 ribu rupiah." Ibu penjual bakso tersebut melongo. Ditatapnya uang merah di tangan dan wajah Albert secara bergantian. "Saya tidak berbohong, Bu. Ibu bisa menukarkannya melalui bank. Saya belum menukarkan semua uang saya ke rupiah. Saya lupa dan sekarang saya tidak tau letak bank terdekat." "Eh? Saya percaya, kok," sambar si ibu canggung, "tapi ini kebanyakan, Mas." "Nevermind. Itu rezeki Ibu." "Alhamdulillah, terima kasih, Mas. Ya Gusti Allah, lancarkanlah rezeki Mas ini." Albert mengaminkan seraya tersenyum kecil melihat Ibu memeluk uang di depan d**a. Si ibu tiba-tiba mengangkat telunjuk dan mengarahkan ke depan. Albert refleks mengikuti arah telunjuk tersebut, ke halte. Seorang perempuan mengenakan seragam perpaduan ungu muda dan putih, celana jeans hitam, tengah menarik-narik tali ransel. Dia menunduk, menatap lantai halte yang diinjak kaki berbalutkan sepatu biru muda. "Itu si Resta!" Ibu itu memberitahu. "RESTA!" Merasa namanya dipanggil, perempuan itu menoleh. Lalu, mengayunkan langkah untuk mendekat dengan senyum lebar. "Iya, Buk. Ada yang bisa Resta bantu?" suara rendah penuh keramahan keluar dari bibir keringnya. "Kamu masih mengekos, nak?" "Alhamdulillah, Buk. Masih belum diusir." Resta tetawa kecil. "Di kos-kosan kamu ada kamar kosong, enggak?" "Ada, Buk. Malah banyak yang kosong. Kenapa, Buk? Ibuk mau mengekos?" "Enggak. Ini, si Mas Bule lagi cari kos." "Oh, ya udah, tapi ya gitulah keadaan kosnya, Mas. Lebih baik Masnya ikut aja, deh, biar lihat bisa langsung," ucap Resta saat melihat koper di sana. "Nah, ikut aja sana, Mas. Kalau udah lihat langsung, kan Masnya bisa menilai, tertarik apa enggak. Lumayan, loh, Mas enggak perlu capek-capek nyari lagi kalau kebetulan sesuai di hati Mas." Albert mengangguk setuju. "Ha, apalagi? Pergilah, sana. Sama tadi Mas bule mau tukar duit ke bank, katanya. Sekalian kamu antar aja." "Oke, Buk. Siap." Setelah menukar uang euro ke rupiah, Albert menyeret koper mengikuti langkah Resta kembali ke halte. Wajah perempuan kurus itu tampak begitu kelelahan. Karena merasa kasihan, Albert mengajak membeli minum terlebih dahulu sembari menunggu angkutan kota. Entah karena memang benar-benar kelelahan atau merasa tidak enak menolak, Resta hanya menurut tanpa banyak bicara. Jadilah mereka membeli es kelapa muda yang terasa sangat segar begitu menyentuh kerongkongan. ***
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN