02. Rumah Hantu

1529 Kata
Suara riuh rendah tidak berhenti-henti sejak Albert dan Resta masuk ke dalam angkot. Asap kendaraan, rokok, sinar matahari, debu, dan bau keringat menyatu. Membuat perut Albert sedikit mual. Apalagi Albert juga harus menahan rasa sakit di lehernya, akibat terus menunduk agar tidak terantuk. Entah si angkot memang pendek atau Albert yang ketinggian. Apa pun alasannya, Albert jelas mengumpat setiap kali tidak sengaja berantuk dengan langit-langit angkot. Senggolan Albert pada lengan Resta membuat Resta menoleh. Albert menatap dalam penuh arti. "Kenapa? Mister pusing, ya?" tanya Resta berbisik sambil mempersempit jarak mereka. Albert menggeleng tanpa berkata apa-apa. Resta kembali berucap, "Terus kenapa? Mister mau muntah? Enggak apa-apa, saya punya kantung plastik, nih." Resta mengangguk. Paham akan kode Albert ke anak laki-laki yang sudah hampir muntah. Resta menggeser tubuh, agar ada ruang untuk Albert sedikit menjaga jarak dari si anak laki-laki. "Enggak nyaman ya, Mister? Tahan sebentar, ya. Kita udah mau sampe, kok." Resta memberitahu, tatkala melihat Albert memijat-mijat leher sambil meringis. Albert hanya berdehem. Melirik Resta, perempuan yang sedang memeluk ransel itu menutup mulut dengan punggung tangan. "KIRI, BANG!" teriak Resta. Pijakan rem tak main-main dari sang sopir, membuat Albert terdorong ke depan. Mengimpit anak laki-laki tadi. Melihat anak itu membekap mulut, Albert cepat-cepat keluar. Dahinya sampai membentur pintu cukup kuat dan menjadi bahan tertawaan penumpang. Tepat ketika Resta turun dari angkot, anak itu menyemburkan isi perut yang sudah dia tahan sejak tadi. Beberapa penumpang memekik jijik. Albert mengeluarkan selembar uang ungu dan menyerahkan pada Resta. Bermaksud meminta tolong membayarkan ongkosnya dan Resta sekaligus. Selain itu, Albert memberi Resta tanggung jawab meminta sopir menurunkan koper dari atap angkot. Albert duduk lemas di trotoar. Pengalaman pertama naik angkot lumayan mengguncang mental Albert. Albert mendongak. Matahari masih tampak gagah memamerkan cahaya menyilaukan. Padahal, jam sudah menunjukkan pukul lima sore. "Ayo, Mister!" ajak Resta semangat. Menarik napas dalam-dalam, Albert berdiri. "Jangan panggil gue, Mister!" Mengambil alih kopernya, Albert berjalan lurus. "Oke, deh, tapi ... kosnya bukan ke sana. Masuk ke gang ini." Albert berdecak. "Kalau gitu lo jalan lebih dulu! Tunjukkan jalan ke kos lo." "Iya-iya, galak." Resta mengecilkan suara di akhir kalimatnya. "Apa lo bilang?" Resta menoleh ke belakang sambil mengernyit bingung. "Aku enggak ada bilang apa-apa, kok." Baru berjalan sebentar, Resta kembali berhenti. Dia menoleh pada Albert yang tampak kesulitan menarik dua buah koper. "Perlu bantuan?" "Tidak!" jawab Albert ketus. Resta mengedikkan bahu tak acuh. "Aku ada perlu sebentar di warung. Kamu mau langsung ke kosan atau mau nunggu aku dulu?" "Di mana?" "Itu, kelihatan, kan? Warungnya cat hijau. Enggak jauh, kok." Resta menunjuk warung tersebut. "Indekos," balas Albert penuh penekanan. "Oh, kos," ringis Resta nyengir, "kamu tinggal masuk ke gang di sana dan lurus aja. Nanti ketemu rumah berpagar, ada spanduk Kos Mamak Uci. Nah, itulah dia! Harusnya, sih, gampang ya ditemuin. Karena kos satu-satunya rumah berpagar di gang itu. Sama satu lagi, sebelum masuk jangan lupa baca doa. Biar enggak ketempelan!" "Aku mau selesaiin urusanku dulu. Lagi buru-buru, nih. Daah!" Tanpa menunggu respons Albert, Resta berlari kecil. Albert kembali melanjutkan langkah masuk ke gang yang ditunjuk Resta. Dia ingin cepat-cepat istirahat. Terserah bagaimana kondisi indekos itu, Albert hanya butuh tempat untuk tidur. Toh, dia juga hanya 6 bulan di Medan. Semua pemikiran untuk tidak peduli langsung sirna, begitu Albert berdiri di depan sebuah bangunan berlantai dua dengan rooftop. Mata Albert menemukan angka 18 yang terbuat dari kaleng berkarat di tiang pagar. Albert memasuki pekarangan indekos. Lapisan kerikil di tanah halaman sedikit menyusahkannya dalam menarik koper. Tanaman hias tak terawat, furnitur kayu, serta lentera di sekitar halaman cukup mampu memberikan kesan mistis. Apalagi spanduk bertuliskan 'Kos Mamak Uci' yang salah satu sisinya sudah lepas, terayun-ayun ditiup angin. "Ini ... serius kondisi indekosnya begini? Bukan tempat uji nyali yang dijadikan indekos?" tanya Albert meneguk ludah kasar. Saat mengamati sekeliling indekos, Albert merasakan bahunya ditepuk pelan. Hawa dingin terasa menyergap, membuat bulu kuduk Albert berdiri. Sepengetahuan Albert, hantu di Indonesia lebih menyeramkan daripada tempat asalnya. "Permisi?" panggilan suara berat dari belakang, kian menambah suasana mencekam. Pelan-pelan, Albert membalikkan tubuh dan segera bernapas lega setelah mengetahui siapa itu. Seorang wanita dengan rambut dicepol asal, mengenakan celana hitam longgar dan kaus lengan panjang berwarna hijau. Motor yang diduduki seorang remaja berseragam SMP di belakangnya, membuat Albert sadar bahwa dia terlalu memperhatikan sekeliling, hingga tidak menyadari suara motor. Wanita itu terlihat sangat kaget melihat wajah Albert. Dia langsung mendekati remaja perempuan di motor. Menyeret paksa untuk berhadapan dengan Albert. "Apa, sih, Mak? Sakit, tau!" protesnya. "Uci, kau ajak dulu Abang Bule ini ngomong. Mamak enggak pande!" Wanita tersebut berbicara dengan logat Medan yang khas. Remaja bernama Uci itu lantas menatap Albert sambil mesem-mesem genit. Cubitan emak berhasil menyadarkan dia dari halusinasi masa depan bersama si bule, Albert. Setelah berdehem, Uci mulai bicara, "Can I help you?" "Yes, you can. Are you owner this sharehouse?" "M-mak, apa katanya? Enggak tau aku, Mak. Enggak bisa bahasa Inggris," ujar Uci sedikit merengek. Uci sengaja tidak berbisik, pasti karena berpikir Albert tidak paham perkataannya. Albert sedikit bingung akan tingkah ibu dan anak di depan dia. Berdesis, wanitu itu berucap, "Kau pikir Mamak tau? Ngerti? Kek mananya kau. Percuma ko sering nonton drakor! Tapi enggak bisa bahasa Inggris!" "Ya drakor kan bahasa Korea, Mak. Bedalah. Lagian kalau nonton drakor ada subtitle bahasa Indonesia, kok," bisik Uci di ujung kalimatnya. "Menjawab teruslah kau!" Wanita itu mengangkat tangan seperti hendak memukul. Albert buru-buru berujar, "Saya bisa berbahasa Indonesia." Wanita tersebut tersenyum masam. "Kamu cari siapa, nak?" "Pemilik indekos ini, Bu," ucap Albert sopan. "Oh, itu saya sendiri. Ya udah, ayo, masuk dulu. Enggak enak bicara di luar sambil berdiri. Nanti rezekinya bisa berdiri aja, enggak mau singgah untuk duduk. Mari." Albert mengikuti langkah kaki wanita bertubuh gempal tersebut, sementara si anak memarkirkan motor di bawah pohon mangga. Pintu besi berkarat yang didesak agar terbuka menimbulkan suara derit keras. Wanita itu meminta maaf atas suara tak mengenakan dari pintu. Kemudian, dia mempersilakan Albert masuk dan duduk. Menurut, Albert duduk di single sofa merah marun, berhadapan dengan ibu pemilik indekos bersama putrinya. Mereka terhalang meja bundar yang permukaannya berlapis kaca gelap. "Sebelum pembahasan kita ke mana-mana, boleh Makde tau nama kamu?" "Mak-de?" beo Albert kesulitan. "Kalau Abang sulit ngomongnya, panggil Ibuk Nirma aja. Terus kalau awak, Abang bisa panggil Uci." Senyum Uci disambut Nirma dengan toyoran. "Jadi, boleh Ibuk tau nama kamu?" ulang Nirma. Albert mengangguk. "Saya Albert." "Oke, Albet—" "Mamak apa-apaan, sih?" potong Uci, "nama Abangnya Albert, A-l-b-e-r-t, bukan Albet." "Maaf, nak Albet. Ibuk payah bilangnya. Jadi, ada keperluan apa kamu mencari Ibuk?" "Saya mau mengekos di sini. Apa masih ada kamar yang kosong, Bu?" "Ada! Banyak, malah, tapi ini kos campuran. Anak cowok di lantai satu, anak cewek di lantai dua. Terus di kos ini enggak ada AC, cuma ada kipas angin. Fasilitas yang didapat kasur, lemari, jam, sama cermin dinding. Untuk kamar mandi, itu kamar mandi bersama. Satu kamar mandi di bawah untuk cowo, satu kamar mandi di atas untuk cewek. Dapur juga dapur bersama. Kalau mau lihat-lihat dulu, boleh." Nirma menjelaskan seperti seorang multi level marketing. Albert menggigit pipi bagian dalam. "Apa tidak ada kamar dengan toilet di dalam, Bu? Saya membutuhkannya. Saya juga akan membayar lebih untuk fasilitas toilet di dalam." "Oh, iya, ada! Tapi di rooftop dan di sana enggak ada kipas anginnya," ucap Nirma sambil memelototi Uci. "Tidak masalah, Bu. Saya tidak peduli pada hal lain, asalkan ada toilet di dalam kamar. Toilet yang bisa saya pakai sendri. Lalu, apa saya bisa masuk hari ini juga, Bu?" "Bisa. Banget!" Albert mengeluarkan dompet dari ransel sembari bertanya, "Kalau saya mau bayar sampai 6 bulan ke depan, totalnya berapa ya, Bu?" "Kalau kamar biasa, perbulan 280 ribu. Karena kamu ambil yang ada kamar mandi di dalam, hargamya 380 ribu. Jadi, total untuk enam bulan ke itu 2.280.000, ya." Albert menyerahkan sejumlah uang. Nirma dengan hati-hati menghitung uang merah bergambar Soekarno-Hatta tersebut. Nirma kemudian mengembalikan dua lembar uang tersebut ke Albert. "Ini, kelebihan. Dua juta dua ratus delapan puluh, bukan dua juta lima ratus." Albert kembali mendorong uang itu ke depan Nirma sambil menggeleng. "Itu rezeki Ibu hari ini." Sesudah penyerahan kunci, Nirma pulang bersama Uci yang mengomel entah apa. Albert sendiri memilih langsung naik ke lantai tiga, tempat kamarnya sekarang berada untuk 6 bulan ke depan. Di lantai dua, Albert melewati lorong temaram dengan deretan pintu kamar berwarna kecokelatan, kecuali salah satu pintu paling mencolok dengan warna pink neon. Mata Albert sedikit tak nyaman melihat itu. Albert sampai di lantai tiga, di sana terdapat satu-satunya pintu putih penuh tempelan stiker. Tak ingin memedulikan itu, Albert memutar hendel pintu dan masuk. "Aku benar-benar perlu mandi. Mengangkat dua koper ini sendirian ke lantai tiga ternyata cukup sulit. Entah untuk apa aku mendengarkan perkataan untuk membawa barang sebanyak ini," oceh Albert sembari mencari handuk di koper. Sangat ingin mengguyur tubuh dengan air, Albert tidak mengamati keseluruhan kamar. Benar-benar hal ceroboh yang biasanya tak dilakukan Albert. Membawa handuk dan baju ganti, Albert berjalan ke pintu biru muda di sudut kamar. Benar tebakan Albert, itu kamar mandi. Baru saja hendak melepas celana jeans sehabis meloloskan kemeja dan singlet, pintu kamar mandi terbuka tanpa aba-aba. Albert mematung dengan pupil membesar. Sepersekian detik kemudian, lengkingan suara orang tersebut menyadarkan Albert akan eksistensinya. ***
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN