Pusing Tujuh Keliling

975 Kata
Sukma sedang sibuk menyiapkan sarapan di dapur ketika Yudi muncul dari kamar mandi dengan langkah berat. Wajah pria itu masih terlihat pucat, sisa demam semalam belum sepenuhnya hilang. Namun, aroma masakan yang memenuhi udara membuat perutnya keroncongan. Dia mendekati Sukma perlahan, lalu melingkarkan lengannya di pinggang wanita itu. "Maaf, Sayang," bisiknya pelan. Sukma berhenti mengaduk nasi goreng yang hampir matang. Meski hatinya melunak sedikit, dia tidak langsung menjawab. Semalaman dia tid-ur membelakangi suaminya. Bahkan, saat pria itu mencoba memeluk dia menepis. Yudi mempererat pelukannya, kepalanya bersandar di bahu Sukma. "Aku tahu aku salah. Aku terlalu sering menaruh beban keluargaku di atas pundak kita. Aku tahu itu menyakitimu." Sukma menarik napas dalam. "Mas, aku nggak keberatan membantu keluargamu, tapi mereka udah kelewatan. Ibumu terlalu memanjakan adik-adikmu. Aku ini istrimu, jangan sampai aku merasa hanya sebagai tamu dalam hidupmu." "Aku cuma nggak tega melihat Ibu dan adik-adikku kesulitan. Cuma aku tempat mereka bergantung Sukma," sahut Yudi. Mendengar Yudi masih keras kepala membela keluarganya, Sukma menoleh, menatap suaminya dengan mata tajam. "Mas, kesulitan apa? Mereka nggak kesulitan! Ibu masih sehat dan punya pemasukan dari tambak dan sawah yang dikelola orang. Adikmu, Rani, suaminya pegawai eselon di BUMN. Kamu dengar sendiri kan, suaminya baru beli motor. Liat story w******p Rani, motor yang dibeli Moge, harganya ratusan juta. Kalau mereka bisa hidup hedon, kenapa kamu yang harus nanggung semuanya? Kamu nggak merasa itu nggak adil?" "Aku nggak punya pilihan, Sukma. Sejak dulu aku terbiasa mengambil tanggung jawab keluarga. Jadi aku merasa itu kewajibanku kepada mereka." "Mas, jangan bilang nggak ada pilihan. Kamu selalu punya pilihan. Masalahnya, kamu nggak berani bilang 'tidak.' Kamu nggak berani mengecewakan mereka, tapi kamu malah tega membiarkan aku kecewa berkali-kali!" Yudi terdiam. Kata-kata Sukma seperti cambuk yang melecut dadanya. Dia tahu istrinya benar, tapi setiap kali melihat air mata ibunya, setiap kali Rani memohon, hatinya selalu luluh. "Aku nggak mau jadi anak durhaka, Sukma," ucap Yudi lirih. Sukma mendengus pelan, selalu alasan yang sama. Yudi menelan mentah-mentah doktrin sesat dari ibu mertuanya. "Mas, membantu keluarga itu mulia, tapi kalau sampai mengorbankan keluargamu sendiri, itu namanya egois. Apa pernah mereka bilang terima kasih atas semua yang kamu lakukan? Yang ada setiap ada masalah, kamu yang mereka salahkan!" Yudi tertunduk, dia tahu Sukma benar. Tidak ada ucapan terima kasih dari ibunya atau Rani. Bahkan ketika dia terlambat memberi u4ng, yang dia dapat hanyalah keluhan dan tuntutan. "Mas ...." Sukma menatap suaminya lekat. "Aku nggak mau kita hidup seperti ini terus. Aku ingin kita punya masa depan yang lebih baik. Selagi kita belum punya anak, kita bisa meerencanakan masa depan lebih baik, tapi kalau kamu terus seperti ini, aku nggak yakin kita bisa sampai ke sana. Mas harus berubah. Kalau nggak, siap-siap aja kamu kehilangan aku." Yudi terkejut mendengar kata-kata itu. "Sukma, jangan bicara begitu." "Aku serius, Mas." Sukma mengangguk mantap. "Aku nggak mau terus hidup di bawah bayang-bayang keluargamu. Kalau kamu nggak bisa memilih, aku yang akan memilih pergi." * Pagi itu, setelah sarapan, Yudi pergi ke bank seperti yang diminta ibunya. Dia membawa berkas-berkas yang kemarin diserahkan debt kolektor. Selama perjalanan, pikirannya penuh. Kata-kata Sukma terus terngiang di telinganya. Perasaan bersalah menyusup ke dadanya. Sejak menikah dia tidak pernah memberi nafkah yang layak. Sebagian besar gajinya habis untuk keperluan keluarga. Mereka sangat hapal hari dan jam dia gajian. Setelah tiba di bank, seorang petugas menjelaskan dengan detail tentang pinjaman yang ingin ia ajukan. "Jadi, untuk pinjaman sebesar enam puluh juta juta rupiah selama dua tahun, cicilan bulanannya tiga juta seratus ribu rupiah," jelas petugas itu ramah. "Tiga jutaan?" Yudi mengulang pelan, memastikan dia tidak salah dengar. Petugas itu mengangguk. "Benar, Pak. Itu belum termasuk bunga." Yudi merasa kepalanya semakin berat. Gajinya hanya lima juta per bulan. Setiap bulan ia memberi 1 juta 500 ribu untuk ibunya. Kalau dia membayar cicilan 3 jutaan, maka yang tersisa hanya 500 ribu. "Bagaimana, Pak? Setidaknya harus masuk minimal dua angsuran, kalau tidak saya tidak bisa bantu," ucap petugas itu. Yudi tersenyum tipis, mencoba menutupi kepanikannya. "Iya, saya akan usahakan." Dalam perjalanan pulang, Yudi lebih sering melamun. Bagaimana mungkin dia bisa bertahan dengan sisa uang 500 ribu per bulan? Lalu bagaimana dengan nafkah Sukma? Harusnya dia menzalimi istrinya lagi? Kepalanya benar-benar mau pec4h. Di sisi lain, di tahu ibunya akan sedih kalau rumah mereka di sita. Sesampainya di rumah, dia menemukan Sukma sedang menyusun paket-paket jualannya. Wajah istrinya terlihat serius, meski ada kelelahan yang tidak bisa disembunyikan. "Mas," Sukma memanggil tanpa menoleh. "Kamu sudah ke bank?" "Sudah." "Dan?" Sukma menghentikan kegiatannya, menatap Yudi dengan penuh harap. Yudi menghela napas panjang. "Cicilannya terlalu besar, Sukma. Aku nggak tahu bisa bayar atau nggak." "Mas ...." Sukma mendekat, menatap suaminya dengan tatapan memohon. "Apa kamu masih mau mengambil tanggung jawab pinjaman itu?" Yudi terdiam. Dia tidak tahu harus menjawab apa. "Kalau Mas tetap mau mengambil pinjaman itu, aku nggak tahu lagi harus berkata apa. Aku sudah bilang, Mas, cukup sampai di sini. Kalau Mas tetap memprioritaskan mereka, aku anggap kamu sudah nggak peduli sama aku." Yudi merasa dinding yang mengelilinginya semakin sempit. Dia tahu Sukma benar. Dia tahu harus mengambil keputusan, tapi bayangan wajah ibunya membuatnya bimbang. "Aku nggak mau lihat Ibu menderita. Rumah itu peninggalan Ayah, aku lahir dan besar di sana," ucap Yudi akhirnya. "Dan kamu rela aku yang menderita, Mas?" Sukma bertanya, suaranya bergetar. Pertanyaan itu seperti pukulan telah bagi Yudi, dia tidak tahu harus menjawab apa. Sukma menghela napas panjang, dia tersenyum getir, terlihat jelas dia kecewa dengan keputusan Yudi. "Mas, kalau kamu memang nggak bisa tegas, aku nggak tahu mesti ngomong apa lagi. Terserah!" Sukma kembali sibuk dengan pekerjaannya. Yudi hanya bisa menatap Sukma dengan tatapan nanar dan kosong. Hatinya hancur, tapi dia juga tidak bisa menyalahkan istrinya." Ponsel Yudi bergetar, dia memandangi ponselnya. Di layar, ada pesan dari Rani. "Mas, gimana u4ng untuk studi tour keponakanmu? Aku butuh uangnya tiga hari lagi." Yudi menutup matanya, kepalanya semakin berdenyut nyeri.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN