Gosip

1109 Kata
Sukma merapikan tudung saji dan memeriksa dapur sebelum berangkat ke rumah ibunya. Pagi ini suasana hatinya tidak baik-baik saja. Saat tahu angsuran yang harus dibayar sekitar tiga juga, kepalanya seketika terasa berat. Dulu saat Yudi membayar utang bank keliling Romi yang jumlahnya 800 ribu sebulan, dia hanya diberi nafkah satu juta per bulan. Dia pastikan ke depan mungkin Yudi akan kesulitan memberinya uang. Sukma berusaha menenangkan diri, walau dia punya penghasilan sendiri, bukan berarti tidak butuh nafkah dari Yudi. Dia memasukkan gamis, jilbab dan bahan makanan ke dalam tas kain untuk diberikan ke ibunya. Rumah yang ditempati ibunya sekarang bekas kontrakan mereka dulu. Dari usahanya berjualan online, Sukma mampu membeli rumah itu saat dia masih menimba ilmu di salah satu universitas. Rumahnya tidak terlalu besar, tetapi sangat nyaman. Bukannya tak pernah mengajak sang ibu tinggal bersama di kontrakannya, tetapi wanita itu selalu menolak untuk pindah. "Ibu di sini saja, Nak. Tempat ini penuh kenangan, meskipun sederhana." Begitu alasan yang sering kali diberikan. Sukma mengerti, tetapi tetap saja hatinya khawatir setiap kali meninggalkan ibunya sendirian. Setelah 30 menit perjalanan, Sukma tiba di depan rumah kontrakan ibunya. Dia mengetuk pintu pelan, lalu masuk begitu mendengar suara ibunya dari dalam. "Eh, Sukma. Tumben pagi-pagi ke sini?" Sukma mencium tangan ibunya dan meletakkan tas yang dibawanya di atas meja. "Aku kangen, Bu. Lagi pula ada yang mau aku ceritakan." Ibunya langsung menyuguhkan teh hangat sambil duduk di kursi yang berderit. "Ceritakan saja, Nak. Kalau ada beban di hati, jangan dipendam sendiri." Awalnya, Sukma ragu untuk memulai, tapi setelah didesak ibunya, dia mulai menceritakan semua yang terjadi. Perihal sikap mertua yang selalu memihak adik-adik Yudi, hingga bagaimana Yudi menjadi sosok yang tak bisa tegas pada keluarganya. Ibunya mendengarkan dengan tenang. Meski begitu raut wajahnya sesekali berubah mendung ketika Sukma bercerita soal beban utang yang ditanggung Yudi.dan perlakuan mertuanya. "Begini, Nak," ibunya mulai bicara setelah Sukma selesai. "Ujian dalam rumah tangga itu banyak bentuknya. Kadang datang dari orang luar, kadang dari keluarga sendiri. Selama Yudi itu tidak main perempuan, jud-i, mabuk-mabukan, masih ada alasan untuk bertahan." Sukma diam, menundukkan kepalanya. "Tapi, Bu, aku capek. Apa aku salah kalau ingin Yudi lebih tegas pada keluarganya? Kenapa semua orang menganggap aku ini penghalang antara Yudi dan ibunya? Padahal aku cuma ingin dia adil. Aku juga punya hak untuk bahagia, Bu." Ibunya menarik napas panjang, lalu menatap Sukma dengan lembut. "Kamu tidak salah, Sukma. Kamu hanya ingin suami memperhatikan istri, bukan hanya keluarga besarnya. Tapi ingat, menikah itu artinya menerima semua beban pasanganmu. Kalau kamu mundur sekarang, apa yakin hidupmu akan lebih tenang?" Sukma menghela napas. Kata-kata ibunya mengendap di kepalanya, tetapi tidak cukup untuk meredakan am4rahnya. "Aku tahu, Bu. Aku kasihan sama Mas Yudi. Keluargany menjadikan dia sapi perah, mereka tidak mau tahu Mas Yudi secapek apa, kalau ada maunya baru mulut manis mereka keluar." Ibunya mengangguk pelan. "Kalau begitu, kamu harus bicarakan ini lagi dengan Yudi. Jangan diam saja. Tapi, ingat, jangan sampai lidahmu jadi pisau yang meluk-ai. Kata-kata itu bisa lebih tajam dari apa pun, Nak." Setelah menghabiskan waktu hingga sore, Sukma berpamitan untuk pulang. Di perjalanan, dia memutuskan mampir ke warung kecil untuk membeli stok camilan. Saat sedang memilih roti dan mie instan, sayup-sayup dia mendengar suara yang sangat familiar. "Iya, Mbak. Sukma itu nggak pernah perhatian ke saya. Padahal rumahnya cuma di seberang sana, lho. Dekat banget" "Lho, bukannya Mbak Sukma sering ke rumah Bu Lilis? Saya sering liat tiap sore." "Iya, cuma lihat doang, tapi nggak ngasih apa-apa. Dia di rumah pun sibuk main ponsel. Basa-basi mau nitip belanja apa juga nggak. Padahal dia kan istrinya Yudi. Mestinya dia ikut tanggung jawab sama saya, minimal jangan pengaruhi anak saya buat benc1 saya." Sukma menajamkan telinga. Tidak salah, itu suara ibu mertuanya. "Iya, saya dengar Yudi sering sakit sekarang. Mungkin karena istri nggak berbakti," sahut seorang wanita lain. Sukma mengepalkan tangannya. Dia melangkah pelan ke arah mereka, sengaja menampakkan diri. Ibu mertuanya langsung terdiam begitu melihat Sukma berdiri dengan senyum tipis. "Oh, jadi saya kurang perhatian, ya?" Sukma bertanya dengan nada datar, sangat tenang meskipun ada nyala api di matanya. "Memangnya makanan yang Ibu makan setiap hari itu turun dari langit? Atau rumah Ibu bisa bersih sendiri tanpa saya yang membantu?" Ibu mertuanya salah tingkat, tetapi segera memasang wajah acuh tak acuh. "Kamu itu bicara apa, Sukma? Ibu cuma curhat, kok. Nggak usah tersinggung." Sukma tersenyum sinis. "Curhat, ya, Bu? Baiklah, lain kali kalau Ibu butuh bantuan, jangan lupa curhat ke orang lain juga. Jangan ke saya, soalnya saya menantu tidak berbakti." Wanita yang tadi berbicara dengan ibu mertuanya menunduk canggung, sementara Sukma membayar belanjaannya dengan tenang. Sebelum pergi, dia menoleh sekali lagi ke arah ibu mertuanya. "Ingat, Bu. Kalau memang saya ini istri yang nggak berbakti, Ibu bebas suruh Mas Yudi cari istri lain. Saya nggak akan keberatan." Sukma meninggalkan warung dengan langkah tegas, tetapi hatinya terasa panas. Dia tahu kata-katanya tadi bisa memicu masalah lebih besar, tetapi dia sudah terlalu muak. Bisa-bisanya yang dia lakukan selama ini untuk ibu mertua tidak dihargai sama sekali. Ketika tiba di rumah, Yudi sudah menunggu di meja makan. Melihat wajah suaminya yang lelah, Sukma merasa sedikit bersalah. Dia menahan diri agar tak mengadukan sikap ibu mertuanya tadi. Dia tak ingin menambah beban hati suaminya. "Darimana, Sayang?" Yudi bertanya dengan nada lembut. "Dari rumah Ibuku, trus belanja," jawab Sukma singkat, lalu berjalan ke dapur untuk menyimpan barang belanjaannya. Yudi mengikuti dari belakang. "Kamu nggak apa-apa? Tadi Ibu telepon, katanya kamu marah di warung." Sukma membalikkan badan dengan cepat. "Oh, jadi Ibumu sudah telepon duluan, ya? Hebat sekali. Dia cerita apa? Kalau aku ini menantu yang nggak tahu diri? Atau aku ini istri yang menghalangi anaknya berbakti?" Yudi terlihat bingung. "Sukma, jangan salah paham. Aku cuma tanya." Sukma memotong dengan suara yang lebih tinggi. "Mas, sampai kapan kamu akan terus jadi boneka keluargamu? Aku ini istrimu, tapi aku selalu dianggap orang luar. Apa aku harus menunggu sampai kamu kehilangan segalanya baru sadar?" Yudi tidak menjawab. Dia menundukkan kepala, tampak seperti orang yang kehilangan kata-kata. Sukma melanjutkan dengan suara yang lebih tenang tetapi tegas. "Aku sudah sabar, Mas, tapi sabar ada batasnya. Kalau kamu terus begini, aku nggak tahu sampai kapan bisa bertahan." Yudi mengangkat kepala dan menatap Sukma dengan sorot bersalah. "Maaf, ya, udah jangan dengarkan Ibu lagi. Sedapat mungkin hindari konfrontasi dengan Ibu." Sukma menatapnya lama, lalu menghela napas panjang. "Kamu tahu, Mas? Bukan hanya ada anak durhaka, tetapi ada juga Ibu durhaka yang membuat putranya lupa kewajibannya pada istri." Setelah berkata demikian, Sukma pergi ke kamar tanpa menunggu jawaban. Dia membiarkan Yudi berdiri sendirian di dapur. Yudi terduduk lemas di kursi dapur memikirkan kata-kata Sukma. Dia tahu istrinya benar, tapi, apa yang harus dia lakukan?
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN