Kesabaran yang Diuji

900 Kata
Dua hari terakhir, Sukma merasa ada yang janggal. Yudi pulang larut malam hampir setiap hari. Ketika ditanya, jawabannya selalu sama. "Aku ambil pekerjaan tambahan. Kita harus segera melunasi utang bank." Mendengar itu, Sukma tidak bisa memprotes. Dia tahu Yudi melakukannya demi keluarga, tetapi dalam hati, dia sedih dan muak. Lagi-lagi, suaminya harus berkorban untuk menanggung beban yang sebagian besar adalah ulah adik-adiknya. Sukma berusaha mengendalikan dirinya, mengingat nasihat ibunya tentang kesabaran. 'Aku ingin lihat sampai di mana dia bisa bertahan jadi b***k keluarganya,' Sukma membatin sembari menahan kekesalan yang sudah menumpuk. Dia tidak ingin berdebat lagi, apalagi menambah beban pikiran Yudi. Masalah dengan ibu mertua di warung juga mengendap sendiri. Sejak hari itu Sukma tak pernah datang lagi mengunjungi mertuanya. Dia tahu apa pun yang dia lakukan, di mata wanita itu tetap salah. Siang itu, setelah mengantar barang dagangannya ke ekspedisi, Sukma pulang dengan pikiran yang sedikit lega. Namun, begitu sampai di pintu rumah, Sukma tertegun. Rumah yang pagi tadi dia tinggalkan dalam keadaan rapi kini berantakan. Bekas bungkus makanan berserakan di atas meja. Sepatu dan sandal bertebaran di teras. Plastik camilan tergeletak sembarangan di sofa. Dari dalam, terdengar suara tawa dua anak kecil. Sukma melangkah masuk dan menemukan Rani, adik perempuan Yudi, sedang duduk santai sambil memakan keripik dari stok camilan yang Sukma simpan di lemari. "Rani?" Sukma berusaha menahan nada kesalnya. "Kenapa kamu ada di sini? Siapa yang bukain pintu?" Toni, anak tertua Rani, yang sedang bermain dengan adiknya, menjawab tanpa rasa bersalah, "Paman yang bukain pintu. Kita mau nginep dua hari, Bude." "Nginep?" Sukma mengernyit. "Kenapa nggak di rumah Ibu aja?" Sukma menatap tak suka ke Rani. Rani mengangkat bahu dengan ekspresi datar. "Aku nggak mau di sana. Rumah ibu kan udah kayak mau roboh. Anak-anak nggak betah. Lagi pula, aku mau ketemu Mas Yudi. Dia janji mau kasih uang buat study tour Toni." Sukma mengerutkan kening, menatap Rani tajam. "Study tour? Kamu nggak dengar yang aku bilang kemarin? Apa nggak cukup Romi aja yang bikin masalah? Kenapa harus datang ke sini dan ngacak-ngacak rumah orang?" Rani berdiri sambil melipat tangan di d**a, menatap Sukma balik dengan pandangan meremehkan. "Rumah ini kan dibayar sama Mas Yudi. Jadi, aku rasa aku punya hak buat tinggal di sini kalau aku mau." Sukma mengepalkan tangan, menahan diri agar tidak meledak. "Dengar ya, Rani. Aku nggak pernah larang kamu ketemu Kakakmu atau minta tolong sama dia. Kamu datang tiba-tiba, ngambil makanan dari lemari tanpa bilang, lalu bikin rumah ini berantakan. Apa itu sopan?" Rani mendengus. "Ya ampun, cuma camilan doang, Mbak. Pelit banget sih. Lagian, aku ini adiknya Mas Yudi. Kamu itu cuma numpang. Jadi, jangan sok berkuasa di rumah ini." Kata-kata Rani seperti men4mpar wajah Sukma. Amar4hnya nyaris tak terbendung. "Numpang? Kamu dengar baik-baik, Rani. Aku ini istri Yudi. Aku yang ngurus rumah ini, bersihin, masak, bahkan bantu bayar utang keluarga kalian. Jadi kalau ada yang numpang di sini, itu kamu, bukan aku. Kamu dan adikmu tidak tahu diri!" Rani berdiri dari sofa, mendekati Sukma dengan tatapan menantang. "Kamu berani ngusir aku? Apa kamu lupa kalau Mas Yudi nggak akan pernah biarin aku pergi tanpa kasih uang buat anak-anak?" Sukma ingin membalas, tetapi suara Yudi tiba-tiba terdengar dari dapur. "Sudah, sudah, jangan ribut." Sukma menoleh, matanya membelalak melihat Yudi keluar membawa piring berisi nasi goreng. "Ini buat anak-anak, Rani. Mereka pasti lapar." "Mas!" Sukma berseru dengan nada tinggi. "Kamu bela-belain pulang dari pabrik agar bisa masak buat mereka? Rani itu ibunya. Harusnya dia yang urus anak-anaknya sendiri, bukan kamu!" Yudi menghela napas panjang, mencoba menenangkan Sukma. "Sayang, tolong jangan besar-besarkan. Mas udah ijin pulang cepat. Rani cuma mau nginap dua hari. Rumah Ibu memang sudah nggak layak buat anak-anak." Sukma melipat tangan di d**a, menatap suaminya dengan kecewa. "Kamu serius, Mas? Rumah Ibu nggak layak, tapi rumah kita ini layak untuk diacak-acak? Apa kamu nggak lihat rumah ini jadi seperti kapal pecah gara-gara mereka?" Rani menyela dengan nada santai. "Ya ampun, Mbak, kalau rumah ini kotor, tinggal dibersihin aja. Bukannya itu tugas kamu sebagai istri?" Kata-kata itu seperti b3nsin yang disiramkan ke api am4rah Sukma. Ia mendekati Rani dengan tatapan seperti hendak menguliti adik iparnya. "Dengar, Rani. Aku ini bukan pembantu kamu. Aku nggak punya kewajiban buat bersihin rumah setelah kamu berbuat seenaknya. Kalau kamu nggak bisa menghargai aku, lebih baik kamu pergi!" Rani tertawa kecil, seolah tak terpengaruh oleh kemarahan Sukma. "Aku nggak akan pergi sampai Mas Yudi kasih uang study tour Toni. Jadi, kalau kamu nggak suka, itu urusanmu." Yudi mencoba menengahi lagi. "Sukma, tolong tenang. Aku janji, mereka cuma dua hari di sini." "Dua hari?" Sukma menatap Yudi dengan mata berkilat. "Baru beberapa jam saja dia bikim rumah ini seperti kandang kambing? Mas mau aku jadi apa? Pembantu untuk adikmu dan anak-anaknya?" Yudi terdiam, tak mampu menjawab. Di sisi lain, Rani tampak menikmati situasi itu. Dia tersenyum puas, seolah merasa menang dalam perdebatan. Sukma akhirnya menyerah. "Baiklah. Kalau memang ini maumu, Mas, aku akan lihat sampai di mana kamu bisa bertahan dengan adikmu yang nggak tahu diri ini. Tapi ingat, aku nggak akan tinggal diam kalau dia melanggar batas lagi." Sukma berbalik masuk ke kamar, membanting pintu dengan ker4s. Di dalam kamar, dia duduk di tepi ranjang, menahan air mata yang hampir tumpah. Sayup-sayup terdengar suara tawa Rani dan anak-anaknya di ruang tamu. Alih-alih menenangkan sang istri, Yudi malah ikut bercengkerama dengan keponakannya. Sukma mengepalkan tangannya, berbisik pada dirinya sendiri, 'Sampai kapan aku harus menahan ini semua?'
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN