Pagi itu, Sukma bangun lebih awal seperti biasa. Setelah menyiapkan sarapan sederhana-nasi putih, ayam goreng, dan sayur lodeh favorit Yudi-dia berniat membangunkan suaminya. Namun, langkahnya terhenti ketika melihat Rani keluar dari kamar tamu dengan mata masih setengah tertutup. Tanpa basa-basi, Rani langsung duduk di meja makan lalu meraih piring dan mulai menyendok nasi dengan lahap. Tidak cukup sampai di situ, tangannya dengan santai mengambil ayam goreng yang Sukma siapkan khusus untuk suaminya.
Sukma mematung, nyaris tak percaya dengan kelakuan adik iparnya itu. Dia gegas menghampiri meja makan. "Rani, itu ayam buat Masmu," katanya dengan suara tertahan.
Rani mendongak, mengunyah pelan, lalu menjawab dengan nada datar, "Kan masih ada telur ceplok. Mas Yudi juga nggak bakal keberatan."
"Ini bukan soal keberatan atau nggak," balas Sukma dengan nada mulai meninggi. "Kamu tamu di sini. Seharusnya kamu tahu sopan santun. Kalau kamu mau makan, bilang dulu. Jangan asal ambil makanan yang sudah disiapkan buat orang lain."
Rani meletakkan piringnya dengan keras, seolah merasa tersinggung. "Ya ampun, Mbak, cuma ayam doang! Pelit banget sih. Lagian, aku ini adik Mas Yudi. Apa salahnya kalau aku makan sedikit di rumah kakakku sendiri?"
"Ini rumahku juga!" Sukma menekankan kata-katanya. "Dan aku yang ngurus semuanya di sini. Jadi, kalau kamu nggak bisa menghargai aku, jangan seenaknya!"
Yudi yang baru saja keluar dari kamar menguap, dia menghentikan langkahnya mendengar pertengkaran itu. Dia menghela napas, lalu mencoba menengahi. "Sukma, sudahlah. Jangan terlalu keras sama Rani. Dia kan jarang ke sini."
Mata Sukma membelalak, menatap Yudi dengan tidak percaya. "Jarang ke sini? Dia sudah dua hari di sini, Mas! Dan lihat apa yang dia lakukan. Rumah kita jadi berantakan, makanan diacak-acak, dan kamu cuma diam aja?"
"Dia adikku, Sukma," jawab Yudi pelan. "Nggak ada salahnya kalau dia merasa nyaman di rumah kita."
Sukma hanya mendengus kesal, memilih diam agar tidak memperkeruh suasana pagi itu. Namun, di dalam hatinya, dia semakin muak dengan kelakuan Rani dan sikap Yudi yang selalu membelanya.
Setelah selesai sarapan, Sukma membersihkan rumah seperti biasa. Tapi hatinya sedikit terhibur ketika melihat pesanannya di aplikasi dagangnya semakin banyak. Dia merasa bangga karena usahanya semakin berkembang, tabungannya pun semakim gendut. Namun, ketenangannya tidak berlangsung lama. Dari ruang tamu terdengar suara tangisan anak-anak Rani. Terutama suara Toni, anak sulung Rani, merengek minta jajan.
"Ma, aku mau jajan. Mau ayam KFC, yang ada mainannya itu," kata Toni sambil menarik-narik baju ibunya.
Rani yang sedang sibuk dengan ponselnya mengerutkan kening. "Mama nggak punya uang! Jangan berisik!" bentaknya.
Tangisan Toni semakin keras. Rani yang kesal mendengarnya beranjak dari sofa dan menghampiri Sukma yang sedang duduk menghadap meja makan. "Mbak, pinjam uang 300 ribu, dong. Anak-anak pengen jajan ayam KFC."
Sukma menatap Rani dengan dingin. "Aku nggak punya uang, lagian kalau pengen beli yang di kaki lima aja, lebih murah."
Rani mendengus kesal. "Anak-anak nggak biasa makan ayam pinggir jalan, Sukma. Mereka cuma mau KFC."
Sukma mendekap tangan di d**a. "Kalau anak-anakmu nggak biasa, ya itu urusanmu,bukan aku. Uangku nggak buat ngidupin gaya hidupmu."
"Dasar pelit!" sergah Rani. "Pantes aja Mas Yudi jadi capek terus kerja, gara-gara kamu terlalu hemat buat keluarga sendiri. Kamu itu istri nggak guna!"
"Kalau gitu jadikan dirimu saudara berguna biar gak morotin Kakakmu terus. Buat foya-foya elit, buat diri sendiri pelit." Sukma langsung masuk ke kamar dan mengunci pintunya dari dalam. Puas rasanya mendengar Rani berteriak-teriak di luar. Sore hari Sukma memutuskan pergi ke rumah ibunya. Dia butuh ketenangan, jauh dari keributan sejak Rani datang. Sebelum pergi, Sukma dengan sengaja tidak membereskan rumah yang sudah dibuat berantakan oleh Rani dan anak-anaknya.
'Biar Yudi lihat sendiri,' pikir Sukma. 'Biar dia tahu bagaimana caraku bertahan menghadapi adik kesayangannya.'
Saat kembali dari rumah ibunya pukul delapan malam, Sukma merasa lega. Rumah terlihat sepi. Tidak ada suara anak-anak Rani atau teriakan-teriakan yang memekakkan telinga. Sukma masuk ke rumah setelah membuka pintu rumah. Dia dan Yudi memegang kunci masing-masing agar tidak tunggu-menunggu bila pulang. Sukma langsung menuju kamar, tetapi langkahnya terhenti ketika melihat pintu lemari sedikit terbuka. Perasaan tidak enak menyelinap di dadanya. Dia membuka lemari dengan tergesa-gesa dan mendapati isinya berantakan. Baju-baju yang tadinya tertata rapi kini berhamburan.
Sukma memeriksa kotak kecil di bagian bawah lemari, tempat dia menyimpan barang-barang berharganya. Tangannya gemetar saat membuka kotak itu. Kosong. Cincin mas kawinnya hilang. Uang tunai dua juta rupiah yang dia simpan untuk kebutuhan mendesak juga lenyap.
"Rani!" Sukma menjerit m4rah, sudah pasti dia pelakunya. Dadanya sesak, matanya panas menahan air mata.
Sukma yakin tak ada orang lain yang bisa melakukan ini selain Rani. Pintu rumah terkunci, kondisinya sangat baik, hanya pintu lemari pakaiannya saja yang dicongkel. Sukma lagi-lagi menggeram mar4h untuk melepaskan sesak di dadanya. Dia merogoh ponsel dari tas selempangnya lalu menghubungi Yudi. Namun, sebelum menekan tombol panggil, pintu rumah terbuka. Yudi masuk dengan wajah lelah.
"Ada apa, Sayang?" tanyanya heran, melihat istrinya berdiri di depan lemari dengan mata memerah.
Sukma menatap Yudi dengan tajam, suaranya bergetar saat berkata, "Cincin mas kawin kita hilang. Uang simpananku dua juta juga."
Namun, Yudi hanya mengerutkan kening, tampak bingung. "Apa maksudmu?"
Sukma mendekat, tatapannya seolah menu-suk d**a Yudi. "Tanya adik kesayanganmu apa yang dia lakukan di rumah ini!"